Sejarah Kota Padang (18): Ida Loemongga, Perempuan Indonesia Pertama Bergelar Ph.D (1931); Like Mother, Like Daughter

shape image

Sejarah Kota Padang (18): Ida Loemongga, Perempuan Indonesia Pertama Bergelar Ph.D (1931); Like Mother, Like Daughter

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Kota Padang dalam blog ini Klik Disin

Pada lepas 22 Maret 1905 dalam Padang, pasangan Haroen Al Rasjid

Ida Loemongga, saat sidang terbuka di Amsterdam, 1932
Prins Hendrik-school sekolah paling elit di Batavia menerima pendaftaran murid baru (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 14-05-1918). Untuk afdeeling-B HBS (SMA jurusan IPA), dari ratusan siswa yang diterima dari berbagai kota, antara lain: sebagai berikut: Padang: A. de Bruin, S. Le Febvre, JW. Meijer, S. Quittner, J. Ch. van Reenen, EH. Westerbeek (m.), F. van Alphen, HA. de .Tongh Swemor, Lie Lee Sian Nio (m.), SG, Evers (m.), FC. Alexander (m.), J. Kroegmans (m.), Corie Oeij (in.), A. Davies (m.), AW. Ch. Bouwmeester (m.), EV, Koodering Clemens (m.), AHF. Geertsema Beckering (m.) en C. Kromhout (m.); Medan: E. Bonebakker (m.), AM. Scrvaas (m.), JC. Hoppe (m.), HL. Fliers (m.), FH. Doornik (m.), E. Baume (m.), EPJ. Duson, A. Everaars, EH. Vorster, V. Th. Holl, TA. Swamhuysen, M. Th. van Rijck, en WF. Fliers. Te1ok Betong: M. G.. van Hunink (m.), en Haroen al Rasjad Ida Loemongga (ms.).

Pada tahun 1922 Ida Loemongga lulus afdeeling-B (IPA) di Prins Hendrik School, lantas diterima ujian masuk di STOVIA. Namun karena Ida Loemongga tergolong cerdas, maka Ida Loemongga termasuk yang direkomendasikan langsung untuk melanjutkan pendidikan ke Negeri Belanda. Keluarga Ida Loemongga tidak keberatan dan sangat mendukung. Ida Loemongga yang diterima di Universiteit Utrecht didukung semua keluarga besar. Ida Loemongga lantas berangkat sendiri pada tahun 1923.

Ida Loemongga kemudian berhasil memperoleh gelar sarjana kedokteran pada tahun 1927 di Universiteit Utrecht. Setelah dipromosikan menjadi dokter di universitas tersebut, Ida Loemongga pada tahun berikutnya mengambil dokter spesialis di Universiteit Lieden. De Tijd :godsdienstig-staatkundigdagblad, 21-03-1929: 'Mij. I. Rasjid kelahiran Padang Sidempoean (tercetak, seharusnya Padang) dinyatakan lulus dan berhak sebagai dokter. Lantas kemudian, Ida Loemongga ternyata diminati oleh banyak institute. Setelah beberapa waktu sebagai asisten Dr. Caroline Lang, Ida Loemongga meneruskan pendidikan doktoral di Universiteit Amsterdam.

De Indische courant, 20-04-1932.
Pada tahun 1931, Ida Loemongga dipromosikan sebagai doktor di bidang kedokteran dengan promotor Dr. Lang sendiri. Bataviaasch nieuwsblad, 20-01-1931 memberitakan bahwa Nona Haroen Al Rasjid yang dalam hal ini Mej. I.L. Haroen Al Rasjid yang menandai dari sisi adat sebagai perempuan pribumi pertama yang meraih doktor di bidang kedokteran. Di dalam berita ini disebut Mej. Haroen adalah putri seorang dokter pribumi di Padang Sidempoean (mungkin mengacu pada tempat lahir Dr. Haroen Al Rasjid).

Pada tahun-tahun ini juga di koran-koran Belanda, nama Padang Sidempoean beberapa kali disebut. De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 08-05-1931 memberitakan bahwa Aminoedin Pohan (lahir di Sipirok) dipromosikan menjadi dokter (spesialis) dengan judul tesis: ‘Abortus, voorkomen en deproefshrift’ (Aborsi, pencegahan dan pengobatan’. Dalam beberapa bulan kemudian Algemeen Handelsblad, 17-12-1931 memberitakan bahwa di Leiden, dipromosikan menjadi dokter (spesialis), Diapari Siregar (lahir di Sipirok). Bataviaasch nieuwsblad (edisi 18-12-1931) memberitakan Parlindoengan Loebis (lahir di Batangtoroe) diterima sebagai mahasiswa dalam bidang kedokteran di Universiteit Leiden.

Het nieuws van den dag voor NI, 27-11-1902

Siswa-siswa asal Padang Sidempoean (afdeeling Mandailing en Angkola), sesungguhnya sudah sejak dari doeloe menjadi langganan sekolah kedokteran. Ini dimulai tahun 1854 dua siswa asal Mandailing en Angkola diterima di Docter Djawa School di Batavia (yang merupakan siswa-siswa pertama yang diterima dari luar Jawa). Dua tahun berikutnya menyusul dua siswa asal Mandailing en Angkola diterima. Demikian seterusnya, secara berkala siswa-siswa asal padang Sidempuan diterima di Docter Djawa School. Ada yang sekelas dengan Dr, Wahidin, ada yang sekelas dengan Dr. Tjipto (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-11-1902).

Het nieuws van den dag voor NI, 29-11-1902

Haroen Al Rasjid (ayah Ida Loemongga) dan Mohamad Hamzah (Harahap) lulus Docter Djawa School tahun 1902. Pada tahun ini jumlah siswa asal Kota Padang Sidempoean di Docter Djawa School yang terbanyak dari semua kota-kota. Bahkan kuota tahun 1899 sempat kuota Padang Sidempoean habis lalu kekosongan kuota di Kota Padang diisi oleh siswa asal Padang Sidempoean, sehingga jumlah siswa asal Kota Padang Sidempoean di Docter Djawa School berjumlah tiga orang dalam satu kelas yang sama (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 29-11-1902).

Perempuan Indonesia Pertama Bergelar Doktor

Gelar doktor pertama diraih oleh Hussein Djajadiningrat di Universiteit Leiden pada Mei 1913 di bidang sastra (De Telegraaf, 31-12-1934). Desertasi Djajadiningrat berjudul ‘Critische beschouwingen van di Sadjarah Banten’. Orang kedua yang mendapat gelar doktor adalah Mr. Gondokoesoemo pada tahun 1922. Judul desertasinya adalah ‘Vernietiging van Desabeslissingen in Indie’. Dr. Mr. Gondokoesoeno adalah yang pertama pribumi di bidang hukum meraih gelar doktor. Pada tahun ini juga, dilaporkan Mr Li Tjoan Kiat meraih gelar doktor di bidang kedokteran dengan predikat cumlaude, anak seorang Letnan Cina di Djombang (De Sumatra post, 28-08-1922), Namun Li Tjoan Kiat tidak kembali ke tanah air, dan lebih memilih berkarir di Eropa.

Orang ketiga bergelar doktor adalah Radja Enda Boemi. Anak Batang Toroe, Padang Sidempoean ini memperoleh gelar doctor (PhD) di bidang hukum di Leiden 1925 dengan desertasi berjudul: ‘Het grondenrecht in de Bataklanden: Tapanoeli, Simeloengoen en het Karoland’. Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi adalah sarjana (ahli) hukum pertama dari Tanah Batak dan kedua dari Sumatra dan salah satu dari delapan ahli hukum pribumi yang ada di Nederlancsh-Indie kala itu. Orang keempat adalah DJ Apituley di Amsterdam dengan desertasi berjudul: 'Onderzoekingen over de histiogenese van émail en mambraan van Nasmyth' (lihat De Tijd: godsdienstig-staatkundig dagblad, 10-07-1925). Orang kelima adalah Poerbatjaraka pada bidang sastra di Universiteit Leiden dengan desertasi berjudul 'Agastya in den Archipel' (lihat Rotterdamsch nieuwsblad, 11-06-1926).

Orang keenam yang meraih gelar doktor adalah Ida Loemongga. Pada tahun 1931, Ida Loemongga dipromosikan sebagai doktor di bidang kedokteran dengan desertasi berjudul ‘Diagnose en prognose van aangeboren hartgebreken’ (Bataviaasch nieuwsblad, 20-01-1931). Ida Loemongga Nasution kelahiran Padang, anak dari Dr. Harun Al Rasjid adalah perempuan Indonesia pertama yang bergelar doktor. Sidang terbuka Ida Loemongga digelar pada tahun 1932 di Amsterdam (lihat foto di atas).  Pada tahun 1934 Ida Loemongga pulang ke tanah air dan setelah mendapat lisensi dari pemerintah membuka praktek di Batavia.

Orang ketujuh Indonesia yang meraih gelar doktor seperti telah disebut di atas adalah Soetan Goenoeng Moelia dalam bidang sastra dan filsafat di Universiteit Leiden dengan desertasi berjudul: ‘Het primitieve denken in de moderne wetenschap', Mr. Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, lahir di Padang Sidempoean (Algemeen Handelsblad, 09-12-1933). Soetan Goenoeng Moelia setelah lulus sarjana pulang ke tanah air dan beberapa tahun berkarir jadi guru di berbagai tempat, kembali ke Belanda untuk melanjutkan studi ke tingkat doktoral.

Ida Loemongga Nasution adalah perempuan Indonesia pertama bergelar doktor (Ph.D). Dari tujuh orang Indonesia pertama bergelar doktor tampaknya tiga orang berasal dari afdeeling Padang Sidempoean (nama sebelumnya: Afdeeling Mandailing en Angkola): Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi; Ida Loemongga Nasution dan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia.

Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia, anak seorang guru di Padang Sidempoean yang berangkat ke Belanda tahun 1911 untuk studi (pendidikan sarjana). Soetan Goenoeng Moelia aktif sebagai pengurus Perhimpunan Indonesia (Indisch Vereeniging) dan salah satu pendiri Sumatranen Bond di Belanda tahun 1917. Soetan Goenoeng Moelia pernah sebagai anggota Volksraad dan Menteri Pendidikan RI yang kedua (setelah Ki Hadjar Dewantara).

Ida Loemongga dan Alimatoe Saadiah: Like Mother, Like Girl

Alimatoe Saadiah bisa diklaim sebagai perempuan pribumi yang pertama yang mengecap pendidikan ala Eropa di Padang dan Fort de Kock. Ayahnya adalah seorang paling terkenal di Padang. Pada tahun 1903 Alimatoe Saadiah menikah dengan seorang dokter lulusan Docter Djawa School di Batavia, Dr. Haroen Al Rasjid. Putri mereka kelahiran Padang pada tahun 1930 meraih gelar doktor (PhD) di bidang kedokteran di Universiteit Leiden, yang menjadikan dirinya sebagai perempuan pribumi pertama di Indonesia yang bergelar doktor (PhD).

Leeuwarder courant, 22-06-1903
Pendidikan Alimatoe Saadiah diungkapkan pertama kali oleh wartawan yang mewawancarai dan dimuat pada Leeuwarder courant, 22-06-1903. Alimatoe Saadiah lahir tahun 1885, memasuki ELS di Padang tahun 1892 kemudian masuk Sekolah Radja bidang pendidikan di Fort de Kock tahun 1899. Pada saat itu tentu saja tidak mudah bagi orang pribumi masuk sekolah Eropa (ELS), kecuali ayahnya sebagai orang terpandang, terpelajar dan terkaya. Ayah Alimatoe Saadiah adalah satu-satunya orang pribumi paling terpandang, terpelajar dan terkaya tidak hanya di kota Padang, tetapi juga di seluruh Province Sumatra's Westkust.

Setelah menikah, Alimatoe Saadiah tersita banyak waktunya untuk mengurus keluarga dan terutama untuk membesarkan dan mendidik anak-anaknya. Waktunya semakin berkurang untuk kegiatan di luar rumah, karena Alimatoe Saadiah setia mendampingi suaminya yang bertugas berpindah-pindah tempat: dari Padang, pindah ke Sibolga dan kemudian setelah pension keluarga Alimatoe Saadiah pindah dan menetap di Lampoeng. Baru setelah di Tandjong Karang, Alimatoe Saadiah terlibat bidang pekerjaan untuk membantu suami ketika mereka membuka klinik kesehatan. Klinik kesehatan ini tidak hanya ditujukan untuk orang-orang Eropa tetapi juga untuk penduduk pribumi.

Diantara kesibukan ikut membantu suami dalam pengembangan klinik kesehatan di Tandjong Karang dan Bandar Lampoeng, Alimatoe Saadiah tidak lupa untuk mempersiapkan pendidikan anak-anaknya. Putrinya yang pertama dimasukkan ke ELS Tandjong Karang. Lalu pendidikan putrinya dilanjutkan ke Batavia, di Prins Hendrik School (afdeeling-B/IPA). Setelah lulus tahun 1922, putrinya melanjutkan studi kedokteran ke Belanda (hingga meraih gelar PhD tahun 1931). Ida Loemongga tampaknya dididik dengan baik oleh seorang perempuan yang juga berpendidikan yang baik (like mother, like girl).

Friesche courant, 27-03-1943
Konon, di Tapanoeli, para ibulah yang mendorong putra-putrinya untuk bersekolah sekalipun itu jauh. Mereka beranggapan bahwa putra-putrinya adalah permata baginya: ‘anakkon hi do hamoraon di ahu’ (anakku adalah kekayaanku). Semangat para ibu ini telah diteliti dengan sangat teliti oleh Masdoelhak dalam desertasinya yang berjudul ‘De plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij’ (Tempat perempuan dalam masyarakat Batak). Masdoelhak Nasoetion, asal Padang Sidempoean meraih gelar doktor di Utrecht (Rijksuniversiteit) dengan predikat suma cumlaude pada tahun 1943 (Friesche courant, 27-03-1943).

Alimatoe Saadiah adalah seorang istri yang setia terhadap suaminya dan berhasil mendidik anak-anaknya hingga sekolah tinggi, setinggi-tingginya. Alimatoe Saadiah adalah anak seorang mantan guru yang menjadi editor surat kabar dan pemilik percetakan dan toko buku dan sekolah swasta  di Padang. Ayahnya bernama Hadji Dja Endar Moeda. Ayah Alimatoe Saadiah dan suaminya Dr. Haroen Al Rasjid sama-sama lahir di afdeeling Padang Sidempoean, Residentie Tapanoeli, Province Sumatra’s Westkust. Ayahnya, Saleh Harahap gelar (Mangara)Dja Endar Moeda alumni Kweekschool Padang Sidempoean tahun 1884.

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang