Sejarah Bandung (35): Sungai Cikapundung, Air Mengalir Dari Curug Dago Sampai Dayeuh Kolot; Riwayatmu Kini

shape image

Sejarah Bandung (35): Sungai Cikapundung, Air Mengalir Dari Curug Dago Sampai Dayeuh Kolot; Riwayatmu Kini

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Curug Dago, Lukisan Groneman 1860

Sungai Tjikapoendong merupakan sungai terbesar pada Kota Bandoeng yg mengalir berdasarkan utara ke selatan. Batas paling utara berdasarkan sungai Tjikapoendong merupakan Tjoeroeg Dago

Kota Bandoeng dalam hal ini adalah kota yang dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1829 ketika kali pertama Controleur ditempatkan di Bandoeng. Lalu dalam perkembangannya, sejak 1946, ketika Asisten Residen Bandoeng ditempatkan, kota Bandoeng berkembang semakin pesat. Saat itu, sungai Tjikapoendoeng sebagai sungai terbesar di Kota Bandoeng masih tampak deras, jernih dan indah. Sungai Tjikapoendoeng saat itu airnya disodet di hulu dengan membangun kanal-kanal untuk mengairi perkebunan dan persawahan yang dikerjakan oleh penduduk di bawah arahan Bupati Bandoeng.

Sungai Cikapundung dari Curug Dago hingga Dayeuh Kolot

Jembatan Bambu di atas sungai Tjikapoendoeng di Tjitjendo

Pada tahun 1929 di atas sungai Tjikapoendoeng dibangun jembatan permanen yang merupakan bagian dari proses pembangunan jalan pos trans-Java yang baru (jalan ini kelak menjadi Groote post weg dan kini menjadi Jalan Asia Afrika dan Jalan Jend. Sudirman). Di hulu maupun di hilir jembatan pos trans-Java beberapa jembatan yang terbuat dari bahan bamboo dibangun penduduk . Salah satu jembatan bamboo tersebut yang cukup terkenal terdapat di desa Tjitjendo. Pada tahun 1896 pemerintah membangun jembatan ini dengan jembatan kayu (kini jembatan di atas sungai Tjikapoendoeng, ruas jalan Suniaraja).

Kampong Dajeuh Kolot, Lukisan Groneman 1860

Pada saat controleur sudah beribukota di jalan pos trans-Java (sisi timur sungai Tjikapoendong) yang kelak menjadi Bandoeng (baru), Bupati Bandoeng masih berkedudukan (ibukota) di Bandoeng (lama). Ibukota Bandoeng (lama) baru pindah ke Bandoeng (baru) pada tahun 1846. Sejak perpindahan bupati inilah nama Bandoeng (lama) disebut Dajeuh Kolot. Seorang dokter yang ditempatkan di Bandoeng bernama Groneman mangabadikan kampong Dajeuh Kolot ini pada tahun 1860 dalam sebuah lukisan. Lukisan lain yang diabadikannya adalah Tjoeroeg Dago. Ini dengan sendirinya, Groneman telah mengabadikan sungai Tjikapoendoeng baik di hulu maupun di hilir.

Peta Bandoeng, 1920

Kota Bandoeng yang sekarang, sesungguhnya di arah utara lebih kering, tetapi di arah selatan hingga ke sungai Tjitaroem lebih basah. Area-area yang basah ini banyak terdapat rawa-rawa. Sejak pembangunan jalan pos trans-Java yang baru (1929), area-area yang basah ini secara bertahap dikeringkan dengan pembuatan drainase dan kanal-kanal sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan kota Bandoeng. Salah satu kanal yang dibuat dengan menyodet sungai Tjikapoendoeng adalah sungai yang melalui Pieters Park (kini Taman Balai Kota). Peta Bandoeng 1920

Satu lagi lukisan abadi Groneman adalah lanskap cekungan Bandoeng yang dilihat dari rumahnya di Tjioemboeloeit di lereng gunung Tangkoeban Prahoe. Lanskap cekungan  Bandoeng tampak di selatan gunung Malabar. Dalam lukisan ini terlihat di tengah cekungan beberapa titik bangunan yang diduga sebagai kota Bandoeng. Kampong Dajeuh Kolot sendiri berada di selatan di lerang gunung Malabar.

Sungai Cikapundung Riwayatmu Kini

Taman Pieters Park, 1901

Seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan kota dan perluasan perkebunan di Bandoeng utara, penggundulan hutan juga sering terjadi. Akibatnya debit air sungai Tjikapoendoeng makin lama makin kecil. Pada masa kini debit air sungai Tjikapoendoeng semakin menyusut seakan menjadi selokan tempat muara dari pembuangan limbah rumah tangga dan industri. Foto kanal di Pieter Park 1901

Lagu Bengawan Solo adalah juga representasi sungai-sungai yang berada di kota-kota besar, juga termasuk sungai Tjikapoendoeng di Bandoeng. Coba renungkan lirik lagu Bengawan Solo untuk membayangkan sungai Tjikapoendoeng di masa lampau.

Bengawan Solo..

Rihwayatmu ini

Sedari dulu jadi perhatian insani

Musim kemarau

Tak s'brapa airmu

Di musim hujan air meluap sampai jauh

Mata airmu dari Solo

Terkurung gunung seribu

Air mengalir sampai jauh

Akhirnya ke laut

Itu perahu

Rihwayatmu dulu

Kalau pendatang s'lalu naik itu perahu

Mata airmu dari Solo

Terkurung gunung seribu

Air mengalir sampai jauh

Akhirnya ke laut

Itu perahu

Rihwayatmu dulu

Kalau pendatang s'lalu naik itu perahu

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe

© Copyright 2020 Jasa Whatsapp Blast | Adwordsgoogle.site

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang
close
Jual Software Whatsapp Bulk Sender Blaster Anti Banned