Sejarah Jakarta (72): Sejarah Ancol dan Jeremis van Riemsdijk; Benteng Ancol di Sungai Antjol, Akses Baru ke Weltevreden

shape image

Sejarah Jakarta (72): Sejarah Ancol dan Jeremis van Riemsdijk; Benteng Ancol di Sungai Antjol, Akses Baru ke Weltevreden

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Ancol pada masa ini haruslah dibilang menjadi taman impian warga Jakarta saat akses ke laut begitu sulit didapat. Tetapi cerita-cerita tentang Ancol yang membentuk pengunjung terasa terhenyak waktu berada pada Ancol bukan soal wahananya. Yang poly dibicarakan justru yg aneh-aneh misalnya kisah ?Si Manis Jembatan Ancol?. Tetapi terdapat satu hal, namun nisbi jarang dipertanyakan yakni soal mengapa ada benteng kuno di Ancol. Pertanyaan mengapa dan bagaimana benteng itu belum ada yang mampu menjawabnya.

Benteng (fort) Antjol, 1656
Tempat wisata Ancol dibangun sejak era kemerdekaan Indonesia. Konon, sejak kepulangan Presiden dari Amerika Serikat, 1856 gagasan pembangunan Ancol dimulai. Pembangunan Ancol dimaksudkan untuk meniru Disneyland Amerika Serikat, Setelah land clearing, pembangunannya sempat tersendat. Pembangunan tempat rekreasi Ancol baru dilanjutkan dan selesai pada era Presiden Soeharto. Kini, tempat rekreasi Ancol yang disebut Taman Impian Jaya Ancol yang dikelola oleh PT Pembangunan Jaya masih eksis. Namun tidak lagi menjadi impian seperti dulu. Itu semua karena pertanyaan tentang mengapa ada benteng di Ancol belum terjawab.

Lantas seperti apa sejawah awal Ancol? Itu dia yang juga ynag harus diimpikan. Satu sejarah awal terpenting di Ancol adalah keberadaan benteng (fort) Antjol. Berdasarkan catatan sejarah tertulis, benteng ini sudah eksis pada tahun 1656. Suatu benteng yang dibangun untuk basis pertahanan dalam melindungi kota (stad) Batavia. Sejak adanya benteng ini, area Antjol mulai dikembangkan. Salah satu pengembang terkenal di (land) Antjol adalah Jeremias van Riemsdijk (yang kemudian menjadi Gubernur Jenderal VOC). Untuk menambah pengetahuan kita, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Benteng-benteng di Batavia (1619-1699)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*. Foo udara 1943

Benteng (Fort) Antjol

Pasca serangan Mataram ke Batavia tahun 1628, Pemerintah VOC/Belanda mulai memperkuat perahanan dengan membangun sejumlah benteng: Selain Kasteel Batavia dan benteng Pulau Onrust yang sudah ada, benteng baru yang dibangun adalah benteng (fort) Jacatra, fort Rieswijk, fort Noordwijk, fort Vijfhoek, fort Angke dan fort Antjol. Secara teknis dengan tujuh benteng berada di luar Kasteel Batavia, kota (stad) Betavia dapat dianggap sudah aman.

Area antara kota (stad) dengan benteng-benteng tersebut kemudian dikembangkan kanal-kanal. Fungsi kanal-kanal tersebut selain untuk pengendali banjir di kota, juga berdungsi sebagai moda transportasi air, tentu saja dapat dianggap semacam barier pertahanan. Kanal-kanal ini juga berfungsi untuk drainase (pengeringan rawa-rawa) dan pembentukan irigasi untuk pengembangan lahan-lahan pertanian terutama perkebunan tebu, perkebunan kelapa dan produksi padi/beras (pencetakan sawah).

Peta 1788
Dalam perkembanganya dari Kasteel Batavia dibuat kanal sejajar pantai ke Fort Antjol. Kanal ini kemudian dihubungkan dengan sungai Antjol [Kanal ini kini di atasnya dibangun jalan tol, tepat berada di depan pintu masuk Taman Impian Jaya Ancol]. Sungai Antjol ini pada dasarnya adalah percabangan sungai Soenter menuju pantai/laut. Sementara itu di arah hulu antara Fort Noordwijk dan fort Riswujk dibangun kanal dengan menyodet sungai Tjiliwong di fort Noordwijk dengan mengalirkannya ke arah barat menuju sungai Krokot di fort Riswijk. Kanal ini kini dikenal sebagai kanal yang berada di antara jalan Juanda dan jalan Veteran. Lokasi fort Noordwijk ini pada masa ini area masjid Istiqla, sedangkan fort Riswijk kini menjadi area gedung kantor pusat BTN (di Harmoni).

Pada tahun 1665 kebijakan pemerintah VOC/Belanda berubah dari kegiatan perdagangan yang longgar di pantai-pantai (pelabuhan di berbagai pulau) menjadi kebijakan yang mana penduduk pribumi dijadikan sebagai subjek (inilah awal kebijakan kolonisasi VOC/Belanda). Di satu pihak, Pemerintah VOC mulai menjalin kerjasama dengan para pemimpin pribumi, dan di pihak lain menginisiasi investor untuk mengelola lahan-lahan di seputar Batavia. Persil-persil lahan di antara kanal-kanal itulah yang ditawarkan kepada swasta (koopman) untuk diusahakan pertanian. Sejak itu mulai diperkenal status lahan sebagai tanah partikelir (land). Salah satu land terkenal adalah land Briel.

Mansion/villa Parra di Weltevreden (1770-1771)
Persil lahan di tenggara benteng (fort) Noordwijk diketahui kali pertama dimiliki oleh Briel. Lahan ini kemudian dibeli oleh oleh Anthonij Paviljon yang lalu kemudian dibeli oleh Cornelis Chastelein. Dalam perkembangannya Chastelein membeli lahan di Seringsing pada tahun 1695 (kini Sereng Sawah) dan beberapa tahun berikutnya 1704 di Depok. Lahan Chastelein di dekat benteng Noordwijk dibeli oleh Justinus Vinck yang selain mengembangkan lahan juga mendirikan pasar yang disebut Pasar Vincke (kini Pasar Senen). Lahan ini kemudian dibeli oleh Jacob Mossel dengan membangun mansion yang indah. Lalu kemudian mansoin Mossel ini dibeli oleh van der Parra. Akhirnya lahan ini kemudian diakuisisi oleh pemerintah di era Daendels untuk dijadikan ibu kota yang baru (Weltevreden). Villa.mansion dimana peranh bertempat tinggal van der Parra pada masa ini lokasinya di RSPAD.

Land terkenal lainnya adalah land yang dimiliki oleh van Horn. Land ini berada di sisi barat kanal Goenoeng Sahari (area ini kini masuk area Gunung Sahari barat). Dr sebelah barat daya benteng Riswijk lahan subur dikuasai oleh Dalzigt (yang kini dikenal sebagai Tanah Abang). Sementara itu lahan di sekitar benteng (fort) Antjol dikuasai oleh Jeremias van Riemsdijk. Sebelum Riemsdijk menempati land Antjol terdapat tiga pemilik yakni Justinus Vinck, Johannes Pels dan Symon van der Briel (lihat Peta 1727). Briel juga diketahui adalah pemilik awal land Weltevreden.

Kanal Antjol dan Estate van Riemsdijk di Antjol, 1772
Dalam perkembangannya nanti, Jeremias van Riemsdijk memperluas lahannya ke Maroenda dan daerah aliran sungai (DAS) Bekasi. Jeremias van Riemsdijk juga kemudian diketahui membeli land Tjiampea. Sepeninggal Riemsdijk lahan-lahan tersebut diteruskan oleh istri dan anak-anaknya. Anak-anak dan cucu-cucu Riemsdujk termasuk yang sukses di bidang pertanian. Land terkenal lainnya dari keluarga Riemsdijk adalah Tandjong Oost (kini Pasar Rebo), Tjibinong, Tapos, Tjilodong, Kraggan dan Tjiboeboer Pada era Pemerintahan Hindia Belanda, keluarga (dinasti) Riemsdijk termasuk salah satu yang tersukses. Satu keluarga yang dapat dikatakan mengikuti jejak keluarga Riemsdijk ini adalah keluarga van Motman yang pernah menguasai land Dramaga, Kedong Badak, Nanggoeng dan lainya.

Jeremias van Riemsdijk awalnya membangun mansion kecil di dekat benteng Antjol. Namun dalam perkembangannya Riemsdijk membuka lahan pertanian yang luas dengan menyulap sebagian rawa menjadi lahan yang produktif. Kanal antara Kasteel Batavia dan Fort Antjol dijadikan Riemsdijk sebagai jalur lalu lintas yang bagus untuk mengangkut komoditi. Posisi mansion ini berada di sisi selatan kanal. Sementara di dua sisi kanal Riemsdijk juga membangun jalan yang bagus agar kereta kudanya mampu berjalan mulus. Jeremias van Riemsdijk seperti pemilik land lainnya juga menggunakan tenaga kerja dengan mendatangkan budak belian dari berbagai tempat. Mansion Antjol divermak dengan membangun villa yang lebih besar.

Muara/Sungai Antjol, 1772
Pada tahun 1775 Jeremias van Riemsdijk dipilih dan diangkat sebagai Gubernur Jenderal VOC untuk menggantikan Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra yang meninggal di Weltevreden pada tanggal 28 Desember 1775. Namun seperti disinggung di atas, Jeremias van Riemsdijk tidak berumur panjang dan meninggal pada tahun 1777. Seperti halnya Mossel dan Parra, Riemsdijk juga meninggal saat masih menjabat Gubernur Jenderal VOC.

Berdasarkan peta land yang dikeluarkan Pemerintah VOC pada  tahun 1788, tanah-tanah partikelir ini sudah mencapai sungai Karawang/Tjitaroem di timur dan sungai Tangerang/Tjisadane di barat. Ke arah hulu land-land ini sudah mencapai Tjiampea di hulu sungai Tjisadane; Tjisaroea di hulu sungai Tjiliwong; Tjibaroesa di hulu sungai Tjibeet (anak sungai Tjitaroem); dan Tjitrap di hulu sungai Bekasi/Tjilengsi serta Tjikaow di hulu sungai Tjitaroem. Pemilik land Tjiampea diketahui adalah keluarga Riemsdijk.

Villa/mansion van Riemsdijk, 1780
Sebaran land-land ini dari kota (stad) Batavia mengikuti jalur-jalur berikut: (1) Struiswijk (Salemba), Meester Cornelis, Tandjong (Pasar Rebo), Tjimanggies, Tjibinong hingga Buitenzorg; (2) Meester Cornelis, Tjipinang, Pondok Kalapa, Pondok Gede, Makassar, Kranggan dan Tjilengsi dan Kalapa Noenggal; (3) Tjipinang, Poelo Gadoeng, Pondok Poetjoeng/Tamboen, Bekasi, Tjikarang dan Kedoeng Gede dan Tandjoeng Poera; (4) Angke, Soedimara, Tjipoetat; (5) Angke, Tjengkareng, Tangerang, ke arah hilir, ke arah hilir mencapai Karawatji, Serpong, Koeripan, Tjiampea dan Tjiomas serta Leuwiliang; (6) Menteng, Kampong Melajoe, Seringsing, Pondok Tjina, Depok, Pondok Terong/Titajam, Bojong Gede dan Tjileboet serta Kedong Badak; (7) Tanah Abang, Pal Merah, Kebajoran, Pondok Laboe, Tjinere dan Sawangan ; (8)  Antjol, Tjilintjing, Maroenda, Karatan hingga Moeara Bekasi dan Moeara Tjitaroem; (9) Tjilintjing, Toegoe, Soekapoera, Tjakoeng. Sebelum land-land baru yang lebih jauh dari Stad Batavia dikemmbangkan sudah terlebih dahulu dibangun benteng-benteng baru seperti di Buitenzorg, Meester Cornelis, Tangerang, Serpong, Tjiampea, Tandjoeng (Pasar Rebo), Bekasi dan Tandjong Poera (Krawang).

Jeremias van Riemsdijk (lahir 1712) menikah dengan Martina van den Briel (lahir 1720). Besar dugaan Martina adalah putri dari Symon van der Briel, salah satu pemilik land di Antjol. Atas dasar ini diduga menjadi sebab Jeremias van Riemsdijk membangun mansion di Antjol dan kemudian mengakuisisi seluruh land yang berada di Antjol dalam rangka membangun estate yang luas.

Setelah ketegangan mereda di daerah hulu sungai Tjisadane, pengembangan wilayah kembali diteruskan. Pada tahun 1778 pemerintah VOC/Belanda membentuk sejumlah land baru di hulu sungai Tangerang. Beberapa land yang dibentuk adalah land Dramaga dan land Tjiampea. Lalu kemudian land Tjiomas, land Tjiboengboelan dan land Panjawoengan (kelak disebut daerah Leuwiliang).

Seperti disebutkan sebelum ini, Jeremias van Riemsdijk meninggal saat menjabat Gubernur Jenderal pada tahun 1777. Salah satu anaknya bernama Willem Vincent Helvetius van Riemsdijk (lahir 1753) diketahui telah memiliki land Tjiampea pada tahun 1780. Besar dugaan Willem Vincent Helvetius van Riemsdijk adalah pembeli pertama land Tjiampea. Keluarga Riemsdiejk juga diketahui membeli sejumlah land di daerah aliran sungai (DAS) Bekasi.

Pemerintahan VOC/Belanda mulai rapuh. Pada tahun 1795 Batavia diduduki oleh militer Prancis. Situasi menjadi tidak menentu. Pada akhirnya VOC/Belanda pada tahun 1799 VOC/Belanda dinyatakan bangkrut. Lalu VOC/Belanda diakuisisi oleh kerajaan Belanda dengan membentuk Pemerintah Hindia Belanda.

Akses Baru ke Weltevreden: Kanal Goenoeng Sahari dan Kanal Antjol

Pemerintah Hindia Belanda yang secara legal formal dimulai tahun 1800, baru pada era Gubernur Jenderal Daendels terjadi kebijakan/progam (pembangunan) yang radikal. Dua program unggulannya adalah pembangunan jalan pos Trans-Java dari Batavia ke ujung barat di Anjer dan dari Batavia ke ujung timur di Panaroekan. Program kedua adalah pemindahan ibu kota dari Kota (stad) Batavia ke Welvreden.

Bataviasche koloniale courant, 14-09-1810
Daendels melaksanakan program pembangunan jalan dengan bekerjasama dengan pemimpin lokal (pribumi) seperti para bupati, pangeran dan sebagainya. Para pemimpin lokal disertakan dalam sistem pemerintah yang baru. Untuk program kedua, untuk membangun kota-kota, Daendels terpaksa harus mengakuisisi (membeli) lahan dari pihak swasta termasuk land (tanah partikelir) Weltevreden dan land Bloeboer (Buitenzorg). Di atas lahan inilah Daendels membangun gedung kantor/layanan pemerintah. Pada saat yang bersamaan juga Daendels harus menjual lahan dengan status tanah partikelir (land) seperti di sisi barat sungai Tangerang/Tjisadane dan sisi timur sungai Krawang/Tjitaroem. Jumlah persisl/luas land bukanya berkurang tetapi justru bertambah. Ringkasnya Daendels tidak konsisten. Sebab seharusnya semua lahan harus dimiliki oleh pemerintah tetapi sebaliknya justru tetap membiarkan pidak swasta menguasai lahan dalam bentuk (status) land (semacam negara dalam negara).

Pembangunan jalan ala Daendels ini juga termasuk jalan menuju Antjol (lihat Bataviasche koloniale courant, 14-09-1810). Disebutkan pemerintah menawarkan untuk memperbaiki, meningkatkan dan memperluas jalan; dari bekas rumah kayu Wilgenburg atau Dwars di jalan menuju Antjol, dan pelebaran dan peningkatan jembatan di atas kanal yang ada di bekas fortje (benteng) Antjol. Bagi peminat silahkan mengajukan lamaran rencana, profil dan spesifikasi. Dari keterangan ini benteng (fort) Antjol sudah lama tidak digunakan dan ditinggalkan. Namun tidak lama kemudian terjadi pendudukan militer Inggris (1811-1816).

Peta 1824 (insert: Peta 1840)
Besar dugaan bahwa lahan dan properti (keluarga) Riemsdijk di Antjol telah dijual. Boleh jadi hasil penjualan ini pada masa lalu menjadi alasan untuk membeli land Tjiampea yang lebih mahal, lebih subur dan lebih sejuk. Pada tahun 1818 diberitakan keluarga Riemsdijk menjual sejumlah properti dan lahan, enam diantaranya berada di Bekasi (lihat Bataviasche courant, 24-10-1818). Land-land tersebut adalah (1) land Poelo Mamandang, Bogor, Rawa Bogor dan Babelan yang berbatasan dengan kampong Toeri, di sebelah timur berbatasan sungai Bekasi; di sebelah barat berbatasan dengan land Oedjoeng Menteng, di sebelah selatan berbatasan dengan land Kabalen dan di sebelah utara berbatasan dengan lahan-lahan sewa perseorangan,

Peta 1866
(2) land Moeara Bekasi atau Pondok Doea, di sebelah utara berbatasan dengan sungai Bekasi, di sebelah barat dan selatan berbatasan sungai Bekasi dan pantai; sebelah timur berbatasan dengan sungai Sambilangan; (3) land Sambilangan, di sebelah utara dan barat laut berbatasan dengan sungai Bekasi dan sungai Sambilangan, di sebelah selatan berbatasan dengan land Bandongan, sebelah timur berbatasan dengan kepemilikan J Bonte Cs; dan sebelah selatan berbatasan dengan land Cratan milik kaptein Konne; (4) land Tandjong, di sebelah timur, barat dan utara berbatasan sungai Bekasi; di sebelah selatan berbatasan dengan kepemilikan J Bonte Cs; (5) land Soengie Boeaja, di sebelah utara berbatasan dengan pantai, di sebelah barat daya dan barat laut berbatasan dengan sungai Bekasi; di sebelah timur berbatasan dengan land milik kapt Konne dan land milik J Wolff Cs; (6) Soengie Laboe, di sebelah barat sungai Bekasi, di sebelah utara, barat dan selatan berbatasan sungai Bekasi, di sebelah selatan dan timur milik kapt Konne. Penjualan lahan di Bekasi ini boleh jadi riwayat keluarga Riemsdijk di pantai utara (Antjol dan hilir sungai Bekasi) berakhir sudah dan kemudian telah memusat di hulu sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane. Pada tahun 1820 diberitakan Scipio Isebrandus Helvetius van Riemsdijk membeli land yang baru dijual pemerintah (lihat Bataviasche courant, 11-03-1820). Scipio Isebrandus Helvetius van Riemsdijk adalah anak dari Willem Vincent Helvetius van Riemsdijk atau cucu Jeremias ban Riemsdijk.

Ketika area di sekitar Weltevreden mualai ramai, pada awal tahun 1820an (berdasarkan Peta 1824) Area Antjol tampak begitu lengang. Tidak lagi seramai pada era Jeremias van Riemsdijk. Pada peta terlihat di kejauhan di arah timur, area Tandjong Priok tidak teridentifikasi apa pun kecuali jalan setapak (tampaknya jalan menuju Tandjoeng Priok masih melalui air (laut). Pembangunan moda transportasi jalan diduga masih terbatas hingga (bekas() Fort Antjol. Gambaran ini kurang lebih masih sama dengan Peta 1840. Pada Peta 1866 situasi dan kondisi di Antjol sudah tampak lebih jelas lagi yakni terdapat tiga perkampongan dan area perkebunan di utara kanal (ke arah laut).

Pada tahun 1867 pemerintah membangun kanal dari sungai Tjitaroem ke hilir sungai Bekasi. Pembangunan kanal ini untuk moda transporasi dari Tandjoeng Poera ke (pelabuhan) Batavia (lihat Bataviaasch handelsblad, 29-04-1867). Rencana pembangunan kanal ini simultan dengan pembangunan kanal Antjol dari pantai ke kanal Goenoeng Sahari. Dengan begitu pedagang-pedagang dari Karawang dan Bekasi tidak lagi menersukan barang dagangannya ke (pelabuhan) Kali Besar tetapi mengepulnya di gudang-gudang komoditi di Pasar Baroe. Pada proses pembangunan kanal ini terjadi kerusuhan di Tamboen (1869). Proses kanalisasi moda transportasi ini menjadi prioritas.

Pembangunan kanal Antjol/Goenoeng Sahari menjadi pemicu baru untuk perkembangan lebih lanjut di area Antjol. Moda transportasi sudah semakin lancar, tidak lagi menuju Batavia tetapi lebih mengarah ke tempat yang lebih dekat di Weltevrenden (ibu kota yang baru).

Peta 1890
Dibangunnya kanal Antjol/Goenoeng Sahari melalui laut memunculkan rencana baru untuk memperbaiki kembali kanal Antjol yang lama dengan memperpanjangnya hingga Tjilintjing (melalui) Tandjoeng Priok. Sehubungan dengan pembangunan jalur kereta api tahun 1869 Batavia-Meester Cornelis, juga dimulainya pengembangan pelabuhan ke Tandjoeng Priok dengan menambah moda transportasi kereta api. Area Antjol yang sempat redup beberapa dekade kembali menggeliat lagi. Pelabuhan Tandjoeng Priok pada tahun 1883 sudah beroperasi.

Sejak adanya kanal terusan Antjol ke Tandjoeng Priok/Tjilintjing, praktis sungai Antjol kelahilangan sumber air dari arah hulu. Semua sungai bermuara ke kanal Antjol/Tandjoeng Priok. Situasi dan kondisi di area Antjol di sekitar benteng Antjol lambat laun terjadi perubahan lingkungan. Tekanan air yang datang dari hulu (sungai) yang melemah menyebabkan tekanan air pasang (rob) mengubah ekologi di area Antjol. Lahan-lahan pertanian semakin berkurang, yang bertambah adalah tambak-tambak perikanan laut. Tingkat salinitas semakin meningkat. Area Antjol kembali sepi sendiri meski dilintasi oleh lalu lintas yang sibuk dari Batavia (jalan raya dan jalur kereta api).

Dimana Posisi GPS Fort Antjol?

Pada masa ini situs benteng (fort) Antjol masih dapat dilihat, kurang terawat dan kurang dikenal secara umum. Arena Taman Impian Jaya Ancol yang modern seakan tidak ingin berbagi keramaian di tempat dimana masih ditemukan (sisa) Fort Antjol. Benteng kuno ini tampaknya kesepian di bawah pepohonan yang sepi sendiri. Padahal benteng inilah yang mengawali sejarah di area tersebut hingga terbentuknya Taman Impian Jaya Ancol. Sehubungan dengan hal tersebut apakah sisa benteng yang sekarang adalah benteng yang eksis pada tahun 1665? Jawabannya, iya.

Fort Antjol (Peta 1890)
Pada masa lampau (era VOC/Belanda), Fort Antjol berada sisi selatan sungai Antjol (lihat Peta 1656) dan sisi barat sungai Doeri. Sungai Doeri bermuara ke sungai Antjol. Secara teknis posisi GPS benteng ini dibangun dengan mempertibangkan dua sungai. Lalu kemudian dibangun kanal dari kota (stad) Batavia ke Fort Antjol yang berujung di sungai Doeri. Antara titik pertemuan kanal dan sungai Doeri dengan titik muara sungai Doeri di sungai Antjol diperlebar. Dalam hal ini posisi benteng berada di timur sungai Doeri yang diperlebar. Untuk melindungi benteng dari sisi timur, sungai Doeri dipindahkan dengan mengikuti sisi timur benteng dan kemudian dihubungkan dengan sungai Antjol. Dengan demikian benteng Antjol menjadi terlindung dari tiga sisi air (kanal, sungai Doeri dan sungai Antjol).

Pada masa ini tentu saja sungai Antjol tidak ditemukan lagi. Sungai ini karena menjadi kali mati maka lambat laun akan hilang dengan sendirinya. Namun kanal tersebut pada masa ini masih eksis (kali yang diatasnya dibangun jalan tol). Sungai Doeri juga masih eksis yang bermuara ke kanal. Sisa sungai Antjol yang masih ada adalah muara sungai yang masuk ke laut (kini Danau Ancol). Gambaran ini juga masih sesuai dengan peta satelit

Area Fort Antjol pada masa kini
Lantas dimana posisi GPS benteng Antjol tersebut sekarang?  Saya sendiri belum pernah melihatnya secara langsung. Berdasarkan informasi yang dihimpun dari internet lokasi benteng tersebut adalag sebagai berikut: Berada di Jalan Pasir Putih II, Ancol, Jakarta Utara, tak jauh dari pintu masuk perumahan elite Ancol Timur (kawasan wisata Taman Impian Jaya Ancol). Dari keterangan ini tampaknya sesuai dengan hasil analisis (yang diberi tanda bintang pada peta satelit).

Dengan demikian, dimana posisi GPS benteng Antjol tempo doeloe dari perspektif sejarah besar dugaannya berada di tempat dimana kini ditemukan bekas (situs) benteng di sebelah timur pintu masuk Taman Impian Jaya Ancol (tidak jauh dari pintu gerbang perumahan). Situs benteng Antjol besar kemungkinan adalah situs paling utuh dari sejumlah benteng VOC/Belanda di seputar Jakarta. Usia benteng ini sekarang paling tidak sudah 363 tahun.

Fort Antjol (1656)
Untuk sekadar informasi di dalam blog ini juga ada artikel lain tentang benteng-benteng VOC/Belanda yang lain: Benteng Tangerang dan benteng Sampoera (Serpong) dan benteng Tjiampea serta benteng Pulau Onrust dalam serial artikel sejarah Tangerang; benteng VOC/Belanda di Sukabumi dalam serial artikel Sukabumi; benteng VOC/Belanda di Bogor dalam artikel serial sejarah Bogor; benteng Noordwijkm benteng Riswijk dan benteng Meester Cornelis pada serial artikel Jakarta. Pada kesempatan lain akan dilacak dan dibuat artikel sendiri tentang benteng Bekasi, benteng Tandjoeng (Pasar Rebo), benteng Jacatra (Mangga Dua), benteng Angke dan benteng Tandjoeng Poera (Krawang).

Demikianlah sejarah panjang Ancol secara singkat, Anda ingin rekreasi ke Taman Impian Jaya Ancol? Jangan lupa mampir sebentar ke situs kuno, benteng Antjol.

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang