Sejarah Bogor (22): Kronologis Terbentuknya Kota Bogor; Fort Padjadjaran Menjadi Istana Buitenzorg dan Kantor Residen Menjadi Ibukota (Hoofdplaats)

shape image

Sejarah Bogor (22): Kronologis Terbentuknya Kota Bogor; Fort Padjadjaran Menjadi Istana Buitenzorg dan Kantor Residen Menjadi Ibukota (Hoofdplaats)

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disin

Kota Bogor memiliki kedekatan dengan Istana Bogor. Demikian pula pada masa lampau, Istana Buitenzorg memiliki keterkaitan dengan keluarnya Kota Buitenzorg.

Fort Padjadjaran Menjadi Istana Bogor (lukisan Jhos Rach, 1772)
Hari ini mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama berkunjung ke Kota Bogor dan diterima Presiden Joko Widodo di Istana Bogor. Tidak lama memang, tetapi kunjungan ini cukup efektif. Setelah berada beberapa saat di dalam istana, Joko Widodo membawa tamunya melihat kebun raya yang diakhiri ‘ngopi’ di cafe yang berada di sisi utara Kebun Raya, Grand Garden Cafe. Dalam jalan-jalan di seputar kebun raya ini, Joko Widodo dan Obama satu kendaraan mobil golf. Itulah magnit Istana dan Kebun Raya Bogor yang menjadi elemen paling penting tentang Kota Bogor.

Istana Bogor sendiri memiliki sejarah yang panjang. Lokasi Istana Bogor ini awalnya sebuah benteng yang didirikan VOC, suatu benteng yang dibangun setelah tim ekspedisi yang dipimpin Sersan Scipio tahun 1687 menemukan lokasi yang tepat berada di titik persinggungan terdekat antara sungai Tjiliwong dan sungai Tjisadane. Benteng ini disebut Fort Padjadjaran. Di lokasi benteng inilah awalnya dibangun villa Gubernur Jenderal lalu ditingkatkan menjadi Istana Buitenzorg.

Kota Buitenzorg tentu saja belum ada ketika Istana Buitenzorg sudah lama eksis. Kota Buitenzorg muncul dan berawal ketika Residentie Buitenzorg dibentuk dan berkedudukan di Buitenzorg. Ibukota (hoofdplaat) Buitenzorg ini dimulai dari Kantor Residen Buitenzorg yang berada tepat di depan Istana Buitenzorg. Dari sinilah (origin) Kota Buitenzorg berkembang, baik secara geografis (tata kota) maupun secara administratif (tata hukum).

Berikut kronologis keberadaan Kota Bogor hingga sekarang, yang dimulai sejak kali pertama orang-orang Eropa (VOC) menemukan lokasi yang menjadi cikal bakal Kota Bogor yang sekarang.

Tahun

Keterangan

Sumber

1687

Ekspedisi pertama VOC ke hulu sungai Tjiliwing yang dipimpin Scipio dan mendirikan benteng Fort Padjadjaran

Lantkaat van Batavia na de Zuyd, zee door den Sergt Scipio, 1695

1701

Ekspedisi kedua dipimpin Michiel Ram dan Cornelis Coops

1703

Ekspedisi ketiga dipimpin oleh Abraham Jan van Riebeeck

1705

Priangan diserahkan kepada VOC (dilepasakan) oleh Pangeran Aria Tjirebon

1710

Abraham Jan van Riebeeck memperkenalkan tanaman kopi di Buitenzorg

Almanak van Nederlandsch Indie voor het jaar 1871

1721

Pengiriman pertama kopi ke Belanda

1730

Demang pertama di Buitenzorg diangkat pada tahun 1730 yaitu Demang Kampoengbaroe

1744

Villa Gubernur Jenderal dibangun

1745

Gubernur General van Imhoff  memisihkan sisi luar Buitenzorg sebagai kabupaten (schappen).

1752

Villa hancur dalam perang melawan raja Banten.

1767

Nama Buitenzorg sebagai nama suatu tempat dilaporkan: ‘Een plaifante nette en welgeleg«n buiten plaats, genaamd Buitenzorg met deszelfs Heeren-Huizinge’

Oprechte Haerlemsche courant, 07-03-1767

1769

Gambaran tentang Villa dan sekitar. Villa ini dibangun di dua sisi Fort Padjadjaran

Lukisan Johs Rach

1770

Jembatan bambu yang menjadi cikal bakal Jembatan Otista terdeteksi

Lukisan Johs Rach

1800

Land Bloebor dibeli oleh pemerintah dimana land tersebut dijadikan pusat pemerintahan di Buitenzorg. Dalam pembelian ini tanah tersebut, Daendles memiliki sepersepuluh secara pribadi dalam 54 persil tanah yang terletak di sejumlah tempat.

Nederlandsche staatscourant, 02-11-1866

1810

Buitenzorg menjadi bagian dari rencana jalan pos berdasarkan Aturan Umum tanggal 1 Januari tahun 1810

Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810

Pemerintah Hindia Belanda dibentuk

Bataviasche koloniale courant, 06-04-1810

1811

Pemerintah Hindia Belanda digantikan Inggris (Letnan Gubernur Jenderal Raffles): Jawa dibagi ke dalam 16 Residentie

Residen pertama Buitenzorg Th. Mc. Quoid

Java government gazette, 19-12-1812

1813

Ibukota negara pindah dari Batavia ke Buitenzorg

Java government gazette, 19-12-1812

1815

Residen M Quoid digantikan oleh F Hardy dan sebagai Asisten residen J van Bokholst

Java government gazette, 28-10-1815

1818

F Hardy digantikan oleh CSW van Hagendorp

Bataviasche courant, 05-09-1818

1819

Losmen pertama milik M. Franks di Buitenzorg diiklankan

Bataviasche courant, 10-07-1819

1920

Losmen kedua milik Cobben di Buitenzorg diiklankan. 1925 Mr. Cobben memasang iklan ingin menjual logementnya berikut perabotannya (Bataviasche courant, 14-12-1825)

Bataviasche courant, 08-07-1820

1923

Residenti Buitenzorg statusnya diturunkan menjadi asisten residen dan dimasukkan ke dalam residenti Batavia. Asisten residen yang ditunjuk di Buitenzorg adalah SLG van Schuppen

Leydse courant, 19-09-1823

1829

Asisten residen berikutnya adalah R de Fillienttaz Bousquet

Javasche courant, 18-07-1829

1830

Kultuurstelsel diperkenalkan

G. H. VAN SOEST, 1869

1834

Istana Buitenzorg runtuh akibat gempa besar

1835

Disebutkan kanal di Kampong Empang telah dibangun. Ini bermula ketika Pemerintah Hindia Belanda (era Daendles) dan pemerintah lokal (Bupati) mulai merencanakan perluasan sawah di Panaragan dan Kedong Badak

Johannes Olivier dan K. van Hulst, 1835

1843

Asisten Residen Buitenzorg, DCA van Hogendorp mengumumkan perbaikan jembatan yang berada di dekat rumah Bupati. Jembatan yang dimaksud ini di kampong Empang adalah jembatan di atas sungai Tjisadane. Bupati Bogor diduga telah pindah ke kampong Empang pada tahun sebelum ini (dalam rangka koffistelsel).

Javasche courant, 18-02-1843

1850

Istana Buitenzorg dibangun kembali

1853

Hotel Bellevue diakusisi oleh W. Hamstra. Hotel ini diduga hotel pertama di Buitenzorg. Melihat lokasi tempatnya, Hotel Bellevue merupakan losmen Mr. Cobben yang dijual pada tahun 1925. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 21-05-1853 melaporkan adanya losmen di Kota Batoe.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 05-01-1853

1855

Keberadaan Roode Brug (Jembatan Merah) terdeteksi

Java-bode, 18-07-1855

1860

T. Kuijt, di dalam iklannya, menyatakan Hotel Buitenzorg akan dibuka tangga 1 Maret. Hotel ini letaknya dua rumah setelah Kantor Residen Buitenzorg. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 15-08-1860 Hotel ini terintegrasi dengan stasion kereta kuda (paardenposterij) untuk melayani kereta (wagen) dan kuda (paarden). Stasion kereta kuda Buitenzorg ini terhubungan dengan stasion kereta kuda di Batavia yang berada di Hotel Des Indies. Bataviaasch handelsblad, 15-07-1865 memuat iklan bahwa Logement bernama Hotel Buitenzorg, selain stasion kereta kuda juga melayani tempat tinggal (huis), kandang kuda (stal) dan kandang kuda di luar (bijgebouwen). Sejak 1890 keberadaan Hotel Buitenzorg tidak pernah terdengar kabar berita lagi dan menghilang selamanya. Hotel Buitenzorg ini berada persis di lokasi Balai Kota Bogor yang sekarang.

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 18-02-1860

1861

Regentschappen (Kabupaten) Buitenzorg memiliki lima district (kecamatan), yakni: Buitenzorg, Paroeng, Tjibinong, Jassinga dan Tjibaroessa. Di Regentschappen Buitenzorg terdapat 62 tanah (landerien) dan 1.030 kampong. Jumlah penduduk sebanyak 341.083 jiwa (tidak termasuk  orang Eropa/Belanda sebanyak 759 jiwa). District Buitenzorg sendiri terdiri dari 12 landerien dengan jumlah kampong sebanyak 262 buah. Jumlah penduduk sebanyak 78.607 jiwa. Jumlah penduduk yang terbilang banyak (di atas 10.000 jiwa) berada di land Tjiawi, Land Tjidjeroek en Srogol, Land Bloeboer dan Land Tjiomas.

Statistiek der Assiten Residentie Buitenzorg, 1861

1866

Tanah-tanah swasta (partikelir) eks tanah Daendels dibebaskan dan dibeli pemerintah. Disebutkan tanah pemerintah di Buitenzorg dengan struktur baru adalah sebagai berikut: Di sisi utara berbatasan dengan Land Kedoeng Badak: mulai dari sungai Tjiliwong, jembatan sepanjang sungai Pekantjilan oleh tujuh tiang, bersama dan melalui desa Paledang, tepi kiri sungai Pekantjilan di kompleks Tjiwaringin; di tepi kanan dari Tjikoman, di Paboearan, kampung Tjilandak, untuk tepi kanan sungai Tjidani yang lima belas tiang semuanya disemen. Di sisi selatan, mulai dari sungai Tjiliwong di mulut sungai Tjiboedik, ke arah barat 42 derajat selatan ke sungai Tjiawi, dan bersama mereka ke utara ke mulut sungai Tollok Pinang; lingkup barat 9 derajat selatan, ke sungai Tjiretek, sampai sungai Tjidani, pemisahan dari Land Tjoetak Tjawi. Di sisi timur dikelilingi oleh jalannya sungai Tjiliwong, membuat pemisahan Land Kampong Baru. Di sisi barat ditentukan sungai Tjidani, membuat pemisahan antara Land Tjoetak, Tjireroek, Tjiomas dan Sendang-Barang serta Dermaga. Dengan demikian ibukota Buitenzorg baru tahun 1866 sepenuhnya dikuasai oleh Negara yang dalam hal ini pemerintah di Buitenzorg (Asisten Residen).

Nederlandsche staatscourant, 02-11-1866

Gubernur Jenderal pada tanggal 27 April memberi izin kepada pengusaha Mr. LJ A. Tollens untuk mendirikan pabrik kopi utama di Soekasari, Buitenzorg

De locomotief, 26-12-1866

1872

Hotel du Chemin de Fer  kali pertama dilaporkan (iklan)

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-07-1872

Untuk menambah debut air yang melalui kanal baru di kampong Empang, sungai Tjisadane dibendung. Air yang kini lebih tinggi di empang sungai dialirkan menuju kanal baru melalui muara sungai Tjipakantjilan. Empang dan kanal baru ini selesai pada tahun 1872

Berdasarkan perbandingan peta, foto dan sumber lainnya

1889

Jembatan Panaragan di atas sungai Tjisadane dibangun permanen

Bataviaasch handelsblad, 20-05-1889

1900

Ibukota (hoofdplaats) Buitenzorg terdiri dari tiga desa, yaitu: desa Paledang, desa Babakan Pasar dan desa Bondongan. Desa-desa ini terdiri dari subdivisi (nama kampong lama dan nama pemukiman baru). Desa Paledang terdiri dari kampong dan area: Kebon Djahe, Djambatan Merah, Mantarena. Kampong Kramat, Gardoe, Tjiwaringin, Gedong Sawah, Pondok Asem dan Istal Gedong Besar. Desa Babakan Pasar: Tjingtjauw, Tengah, Rawa sedek, Poelau pasar, Jalan Roda dan Bong. Desa Bandongan: Kaoem Hilir, Empang, Kaoem Oedik, Kebon Gede, Sindang Rasmi, Kampung Apoe dan Lajong Sari.

Peta Buitenzorg, 1900

1905

Gemeente Buitenzorg dibentuk dan anggota dewan kota (gemeenteraad) diangkat

Staatsblad Tahun 1905 No. 208; Direvisi berdasarkan Staatsblad Tahun 1926 No. 368

1913

Pada tahun 1913 di sekitar/depan Istana Buitenzorg muncul hotel baru, namanya Hotel Pension ‘Simon’ Hotel ini dimiliki oleh G. Th. Simon. Alamatnya Djalan Besar (dalam bahasa Melayu) t/o ‘sLandsplantentuin.

De Preanger-bode, 28-08-1913

1918

NV American Hotel didirikan dengan kapital f200.000. NV American Hotel ini akan membangun hotel baru di lokasi Hotel Pension Simon milik G. Th. Simon & Co. De Preanger-bode, 25-07-1919 Perusahaan baru ini dengan susunan pengurus: Jhr. EA Dibbets sebagai Director; E, Lankhout dan G. Th. Simon masing-masing sebagai Commisaaris

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 15-10-1918

1920

Wali Kota (Burgemeester) Pertama A. Bagchus Diangkat Tahun 1920

Bataviaasch nieuwsblad, 31-01-1920

Hotel du Chemin de Fer dan Hotel Bellevue telah dibeli di Buitenzorg oleh Perusahaan Kereta Api Negara, Staatsspoorwegen (SS).

Algemeen Handelsblad, 12-11-1920

1923

Hotel ™ Dibbets te Buitenzorg. Pada hari Senin pertama di Buitenzorg Hotel Dibbets Hotel yang baru dan indah dibuka. Tampanya kepemilikan hotel telah beralih sepenuhnya kepada Jhr, EA Dibbets. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-01-1925 melaporkan Jonkheer EA Dibbets telah meninggal dunia. Sejak meninggalnya Dibbets diduga telah beralih kepemilikan kepada yang lain. Hal ini karena namanya menjadi Bellevue-Dibbets. Hotel Bellevue sendiri sudah ditutup sebelumnya. NI Escompto Maatschappij (perusahaan milik  negara) yang selama ini berkantor di Bellevue telah pindah ke Dibbets Hotel.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 21-05-1923.

1924

Province West Java dibentuk yang juga meliputi Buitenzorg (gewest dan gemeente)

Staatsblad Tahun 1924 No. 378

1925

Hotel hotel du Chemin de Fer  ditutup.

Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 20-08-1925

1930

Pembagian administrasi Hindia Belanda berdasarkan Sensus Penduduk 1930 di (pulau) Jawa terdiri dari tiga wilayah (gewest): West, Midden dan Oost. West Java terdiri dari beberapa afdeeling. Sementara Afdeeling terdiri dari beberapa regenschap, lalu regenschap terdiri dari beberapa distrik dan distrik terdiri dari beberapa onderdistrik. Onderdistrik Buitenzorg, Distrik Buitenzorg, Regenschap Buitenzorg. Afdeeling Buitenzorg adalah Kota Buitenzorg. Nama-nama desa di onderdistrik Buitenzorg (Kota Buitenzorg) adalah sebagai berikut: Bantardjati, Batoetoelis. Bandoengan, Goedang, Pabaton, Panaragan. Pledang, Tadjoer. Tegallega dan Tjipakoe.

Sensus Penduduk 1930

1932

Hotel Bellevue akan ditutup. Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 28-04-1933 eks Hotel Bellevue ini telah digunakan sebagai Gedung Dewan Afdeeling Buitenzorg (Regentschapsraad).

Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 15-09-1932

1945

Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus

1948

Hotel yang berada di Grootr weg No. 8 telah berubah nama menjadi Hotel Salak dengan alamat Jalan Raya No.8

Het dagblad: uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 26-02-1948

1950

Nama Kota Bogor menggantikan nama Kota Buitenzorg. Pengumuman nama resmi Kota Bogor disampaikan oleh Menteri Pendidikan, A. Mononutu dalam konferensi pers. Nama Buitenzorg secara resmi dimulai tahun 1810

De vrije pers: ochtendbulletin, 21-01-1950

Kota Besar Bogor

UU No. 16 Tahun 1950

1957

Kota Praja Bogor

UU No. 1 Tahun 1957

1974

Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor

UU No. 5 Tahun 1974

1999

Kotamadya Daerah Tingkat II Bogor diubah menjadi Kota Bogor.

UU No. 22 Tahun 1999

Tunggu daftar lengkapnya

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang