Sejarah Bogor (15): Gemeente Buitenzorg Dibentuk 1905; Wali Kota Pertama A. Bagchus Diangkat Tahun 1920

shape image

Sejarah Bogor (15): Gemeente Buitenzorg Dibentuk 1905; Wali Kota Pertama A. Bagchus Diangkat Tahun 1920

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disin

Setelah Gemeente Batavia dibuat tahun 1903, Kota Buitenzorg

Daftar Wali Kota Bogor
Pada tahun 1927 dua pejabat penting diangkat di Buitenzorg, yakni: Residen Buitenzorg FWW Slangen dan Burgemeester Buitenzorg Mr. Wesseling (Bataviaasch nieuwsblad, 10-06-1927). Dengan wali kota baru ini, Buitenzorg telah memiliki wali kota yang kedua sejak diangkatnya wali kota Buitenzorg yang pertama tahun 1920, A. Bagchus (Bataviaasch nieuwsblad, 31-01-1920).

Selama belum diangkat wali kota (burgemeester) di Buitenzorg, peran wali kota dilakukan oleh Asisten/Residen Buitenzorg. Hal serupa ini juga yang terjadi di kota-kota lain. Kota Bandung menjadi gemeente tahun 1906 sementara wali kota definitif baru diangkat pada tahun 1817. Demikian juga di Kota Medan yang menjadi gemeente tahun 1909 baru memiliki wali kota definitif pada tahun 1918.

Mengapa tidak seragam? Pengangkatan wali kota (burgemeester) adalah pertanda bahwa gemeente harus dipimpin oleh wali kota secara otonom. Ini menunjukkan suatu kota sudah bisa melakukan pengaturan sendiri dengan pembiayaan yang bersumber dari kota. Kota Medan misalnya, baru diubah statusnya menjadi gemeente tahun 1909, tetapi sudah memiliki wali kota definitif tahun 1918. Hal ini karena Kota Medan memiliki potensi pendapatan yang besar.

Sejak suatu kota diresmikan sebagai gemeente, dewan kota (gemeenteraad) dengan sendirinya dibentuk. Dewan ini bekerja untuk membuat undang-undang kota yang akan dijalankan oleh para eksekutif (Asisten/Residen atau burgemeester). Ketua dewan kota adalah Asisten/Residen atau burgemeester.

Dewan kota terdiri dari orang-orang Eropa/Belanda, Tionghoa dan pribumi. Dalam perkembangannya anggota dewan kota pribumi semakin banyak. Pemilihan anggota dewan kota untuk golongan Tionghoa dan pribumi didasarkan pada suatu pemilihan (pilkada) yang mana yang berhak memilih adalah individu yang didasarkan pada pendapatan tertentu (tidak semua warga kota).

Sebaran Dewan di Hindia Belanda

Sampai tahun 1921 di seluruh Hindia Belanda hanya terdapat 53 dewan, termasuk gemeenteraad Buitenzorg. Uniknya, hanya satu dewan yang berada di level onder-afdeeling (kecamatan), yakni Angkola en Sipirok (kini Padang Sidempuan). Sementara di level afdeeling juga hanya terdapat satu yakni di Minahasa (lihat Tabel-1). Selebihnya terbagi ke dalam sejumlah kota (gemeente) dan sejumlah kabupaten (afdeeling atau regentschap).

Tabel-1. Jumlah anggota dewan pribumi/timur asing (non-Eropa)

di Hindia Belanda

No

Nama Daerah

Bentuk administrasi

Jumlah anggota dewan pribumi

(non-Eropa)

Angkola en Sipirok

( afd. Padang Sidempoean)

Onder-afdeeling

23

Bandjermasin

Gemeente

12

Bandoeng

Gemeente

13

Bantam (Banten)

Gewest

12

Banjoemas

Gewest

13

Basoeki

Gewest

15

Batavia

Gemeente

17

Batavia

Gewest

22

Bindjei

Gemeente

6

Blitar

Gemeente

9

Buitenzorg (Bogor)

Gemeente

14

Cheribon (Cirebon)

Gemeente

7

Cheribon (Cirebon)

Gewest

16

Fort de Kock (Bukittinggi)

Gemeente

7

Kediri

Gemeente

9

Kediri

Gewest

19

Kedoe

Gewest

26

Komering Ilir

Gewest

17

Lematang Ilir

Gewest

17

Madioen

Gemeente

11

Madioen

Gewest

13

Madura

Gewest

12

Magelang

Gemeente

11

Makasser

Gemeente

12

Malang

Gemeente

12

Medan

Gemeente

10

Menado

Gemeente

9

Minahasa

Afdeeling

37

Mr. Cornelis (Jatinegara)

Gemeente

12

Modjokerto

Gemeente

8

Ogan Ilir

Gewest

23

Oostkust Sumatra

(Sumtra Timur)

Gewest

21

Padang

Gemeente

15

Padang Pandjang

Gewest

20

Palembang

Gemeente

12

Pasoeroean

Gemeente

9

Pasoeroean

Gewest

25

Pekalongan

Gemeente

12

Pekalongan

Gewest

11

Pematang Siantar

Gemeente

8

Preanger Regentschappen

Gewest

28

Probolinggo

Gemeente

12

Rembang

Gewest

16

Salatiga

Gemeente

8

Sawah Loento

Gemeente

5

Semarang

Gemeente

16

Semarang

Gewest

27

Soekaboemi

Gemeente

10

Soerabaja

Gemeente

19

Soerabaja

Gewest

24

Tandjong Balei

Gemeente

6

Tebing Tinggi

Gemeente

9

Tegal

Gemeente

10

Total

767

Catatan:

-Koefisien Pemilu adalah 50

-Gemeente=kota

-Gewest=Terdiri dari beberapa afdeeling

-Afdeeling=Terdiri dari beberapa onder-afdeeling

Sumber: De Preanger-bode, 01-02-1921

Uniknya lagi, di Residentie Tapanoeli dewan hanya terdapat di onder-afdeeling Angkola en Sipirok. Jumlah kursi di dewan di onder-afdeeling Angkola en Sipirok sebanyak 23 kursi. Sementara di Province Sumatra’s Oostkust (Sumatra Timur) terdapat dewan di lima kota (gemeente): Kota Medan (10 kursi), Kota Tandjong Balai (6 kursi), Kota Pematang Siantar (8 kursi), Kota Bindjei (6 kursi), Kota Tebingtinggi (9 kursi). Selain itu masih terdapat satu kabupaten (geweest) yang memiliki dewan dengan jumlah kursi untuk pribumi/timur asing sebanyak 21 orang (lebih sedikit dibandingkan dengan onder-afdeeling Angkola en Sipirok).

Nama-nama anggota dewan di Onder-afdeeling Angkola en Sipirok antara lain dapat dilihat pada Bataviaasch nieuwsblad, 20-08-1926. Mereka ini adalah anggota dewan pengganti: ‘Gewestelijke en Plaatselijke Baden. Pada tanggal 17 Agustus 1926 diangkat menjadi anggota plaatselijken raad di ondcrafdeeling Angkola en Sipirok: golongan Belanda, G.H. van Nie1, adm. der onderneming Simarpinggan dan S. Radersma, adm. der onderneming Sigalagala; golongan penduduk lokal, Ma'moer Al Rasjid (Nasoetion), dokter di Padang Sidempoean, Peter Tamboenan, zendelingleeraar di Sipirok, Mangaradja Goenoeng, pedagang di Padang Sidimpoean, MJ Soetan Naga, pedagang di Batang Toroe; Dja Saridin, pedagang di Batang Toroe,  Soetan Josia Diapari, pedagang di Padang Sidempoean, Mangaradja Dori, pedagang di Padang Sidimpoean, Dja Oloan, pedagang di Padang Sidempoean dan Hadji Mohamad Thaib, pedagang di Padang Sidcmpoean; golongan timur asing, Kim Hong Boh, pedagang di Padang Sidempoean’.:

Mungkin anda bertanya-tanya, mengapa di onder-afdeeling Angkola en Sipirok, sebuah kecamatan pula justru terdapat dewan. Jawabnya adalah bahwa di onder-afdeeling Angkola en Sipirok terdapat ibukota afdeeling Padang Sidempuan yakni Padang Sidempuan. Selain itu, di onder-afdeeling (kecamatan) Angkola en Sipirok terdapat belasan perusahaan perkebunan (maschappij) seperti halnya di Sumatra Timur. Pertimbangan lainnya, Padang Sidempoean adalah kota tua (didirikan tahun 1844) dan sejak 1870 menjadi ibukota afdeeling Mandailing en Angkola (menjadi afdeeling Padang Sidempuan sejak 1905). Kota Padang Sidempuan sendiri sejak tahun 1870 sudah memiliki fasilitas lengkap: sekolah Eropa (ELS), sekolah guru pribumi (kweekschool) dan tiga sekolah dasar negeri (pribumi),

Ketika Medan masih kampung, Padang Sidempuan sudah kota
Medan sendiri pada tahun 1870 masih terbilang sebuah kampong. Sedangkan Padang Sidempuan sudah menjadi kota besar. Onder-afdeeling Medan baru dibentuk tahun 1875 dengan menempatkan seorang controleur di Medan. Sedangkan di Padang Sidempuan sejak 1870 sudah menjadi ibukota afdeeling Mandailing en Angkola tempat dimana asisten residen berkedudukan. Sejak dibukanya sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempuan tahun 1879, perkembangan kota berlangsung cepat. Alumni Kweekschool menyebar dan menjadi guru di Tapanoeli en Nias, Sumatra Timur, Riau dan Atjeh. Ketika Kweekschool Padang Sidempuan melakukan wisuda guru pertama tahun 1883, belum ada sekolah dasar di Medan.

Alumni sekolah dasar Padang Sidempuan banyak yang berkiprah sebagai angggota dewan di berbagai tempat di Hindia Belanda, tidak hanya di Dewan Angkola en Sipirok di Padang Sidempoean, tetapi juga di Kota Medan, Kota Tandjong Balai, Kota Pematang Siantar, Kota Bindjei, Kota Tebingtinggi tetapi juga di Kota Padang dan Kota Soerabaja. Kota Padang Sidempuan tidak pernah naik statusnya menjadi gemeente di era Hindia Belanda tetapi tiga alumninya menjadi walikota pribumi pertama di tiga kota berbeda: Kota Medan (Mr. Loeat Siregar), Kota Padang (Dr. Abdoel Hakim Nasoetion) dan Kota Surabaya (Dr. Radjamin Nasoetion).

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber ang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang