Sejarah Tangerang (16): Prof. Dr. Hussein Djajadiningrat dan Indische Vereeniging di Belanda; Doktor (Ph.D) Indonesia Pertama

shape image

Sejarah Tangerang (16): Prof. Dr. Hussein Djajadiningrat dan Indische Vereeniging di Belanda; Doktor (Ph.D) Indonesia Pertama

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini

Tidak masih ada kata terlambat. Demikianlah adagium dalam bidang pendidikan. Dua wilayah kurang pandai dalam bidang pendidikan di era Hindia Belanda, dalam Banten

St. Casajangan (duduk tengah); H. Djajadiningrat (berdiri tengah)
Kota Serang adalah suksesi kota Banten. Di kota Serang, Pemerintah Hindia Belanda mengintroduksi pendidikan modern (aksara Latin) pada tahun 1851. Seorang guru Belanda, AG van Veldhuijzen dikirim ke Serang untuk mengajar. Hanya di Serang didirikan sekolah, satu-satunya di wilayah Residentie Banten. Bahkan di Residentie Batavia (Batavia, Buitenzorg, Tangerang dan Bekasi) belum diselengggarakan pendidikan modern bagi pribumi. Beberapa tahun sebelumnya pendidikan sudah diselengarakan di sejumlah kota seperti di Soerakarta dan Fort de Kock. Bersamaan dengan penyelenggaraan pendidikan di Afdeeling Serang juga diselenggarakan di Afdeeling Mandailing en Angkola (kini Tapanuli Bagian Selatan), Introduksi pendidikan modern inilah yang menjadi awal bagi penduduk pribumi menuntut ilmu meski jauh ke negeri Belanda.

Bagaimana Hussein Djajadinigrat bisa meraih pendidikan setinggi itu? Sementara penyelenggaraan pendidikan di Residentie Banten terbilang tidak berkembang. Pertanyaan ini jelas tidak mudah dijawab. Akan tetapi jawaban pertanyaan ini tetap ditunggu. Itulah tantangan pertanyaan ini. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Indische Vereeniging: Soetan Casajangan dan Hussein Djajadiningrat

Raden Hoessein Djajadiningrat, demikian tertulis, lulus ujian akhir HBS lima tahun di Weltevreden (lihat Soerabaijasch handelsblad, 13-06-1904). Hussein Djajadiningrat segera bergegas untuk melanjutkan studi ke Belanda. Dengan kapal ss Sindoro, pada tanggal 14 Juni berangkat dari Tandjoeng Priok menuju Amsterdam via Padang (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-06-1904). Singgah di Marseille dan berangkat lagi tanggal 25 Juli dari Marseille (lihat  Haagsche courant, 27-07-1904).

Dalam manifest kapal, hanya Hussein Djajadiningrat yang bernama lokal tertulis sebagai Raden Hoessein Djajadiningrat. Namun ada satu nama yang dalam hal ini dapat dianggap penting, yakni CH Douwes Dekker bersama istri dan dua anak. Dalam manifes CH Douwes Dekker tercatat sebagai Controleur b/h binnenlandsch bestuur. Beberapa tahun kemudian Camile Hugo Douwes Dekker dipindah menjadi Controleur di Bekasi. Sebagaimana diketahui Eduard Douwes Dekker pernah menjadi Asisten Residen di Afdeeling Lebak, Residentie Banten, Semua orang Banten tahu pahlawan itu. Eduard Douwes Dekker adalah kakek buyut Camille Hugo Douwes Dekker.

Hussein Djajadiningrat di Leiden mengikuti matrikulasi dan dinyatakan lulus ujian akhir (lihat Verzameling van verslagen en rapporten behoorende bij de Nederlandsche Staatscourant, 01-01-1905). Kuliah matrikulasi bertujuan untuk memperoleh sertifikat kompetensi untuk belajar di universitas di Belanda. Hussein Djajadiningrat mengikuti matrikulasi dan ujiannya di Openbaar Gymnasium te Leiden.

Di Belanda, saat Hussein Djajadiningrat tiba baru beberapa calon mahasiswa dan mahasiswa. Salah satu yang pertama adalah Raden Kartono, alumni HBS Semarang tiba di Belanda tahun 1896 dan mengikuti program diploma di politeknik di Delft. Namun gagal, tetapi mengikuti program studi yang lain. Raden Kartono adalah abang dari RA Kartini. Tahun 1903 telah tiba dua orang untuk bekerja sebagai staf majalah Bintang Hindia. Mereka itu adalah Dr. Abdul Rivai, alumni Docter Djawa School dan Djamaloedin Rasad, alumni sekolah guru (kwekschool) di Fort de Kock. Dalam perkembangannya mereka juga melanjutkan studinya di Belanda.

Pada bulan Juli 1905 menyusul tiba di Belanda Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan, seorang guru, alumni Kweekschool Padang Sidempoean. Soetan Casajangan melanjutkan studi di Belanda untuk mendapat akte sarjana pendidikan untuk meningkatkan peluang untuk menjadi direktur kweekschool. Saat kedatangan Soetan Casajangan jumlah calon mahasiswa dan mahasiswa baru lima orang. Mereka inilah pionir kuliah di Universitas (di Hindia belum ada universitas).

Mahasiswa pribumi pertama studi ke Belanda adalah Sati Nasution. Berangkat ke Belanda tahun 1857 dan berhasil lulus dan mendapat beslit guru di Haarlem tahun 1860. Pada tahun 1861 Sati Nasution alias Willem Iskander pulang ke tanah air dan membuka sekolah guru di kampongnya di Tanobato (Afdeeling Mandailing en Angkola) tahun 1862. Kweekschool Tanobato adalah sekolah guru negeri ketiga setelah Soeracarta dan Fort de Kock. Salah satu siswa pertama Willem Iskander adalah Maharadja Soetan (ayah Soetan Casajangan). Pada tahun 1874 Willem Iskander berangkat lagi studi lebih lanjut ke Belanda dengan membawa tiga guru muda (Barnas Lubis dari Tapenoeli, Raden Soerono dari Soeracarta dan Raden Ardi Sasmita dari Madjalengka). Selama Willem Iskander di Belanda Kweekschool Tanobato ditutup. Sepulang dari studi, Willem Iskander akan diproyeksikan pemerintah sebagai sekolah guru yang lebih besar di Padang Sidempoean. Namun satu per satu guru yang dibawa Willem Iskander meninggal sebelum menyelesaikan studi. Willem Iskander yang sudah menyelesaikan studi, sebelum pulang ke tanah air dikabarkan meninggal dunia di Belanda. Pada tahun 1879 Kweekschool Padang Sidempoean dibuka. Salah satu guru yang terkenal di Kweekschool Padang Sidempoean adalah Charles Adrian van Ophuijsen (selama delapan tahun di Padang Sidempoean, lima tahun terakhir sebagai direktur). Ayah Charles Adrian van Ophuijsen adalah pendiri Kweekschol Fort de Kock tahun 1856. Charles Adrian van Ophuijsen adalah guru Soetan Casajangan. Pada saat Soetan Casajangan tiba di Belanda tahun 1905 yang pertama ditemuinya adalah Prof. Charles Adrian van Ophuijsen (yang telah menjadi guru besar di Universiteit Leiden). Prof. Charles Adrian van Ophuijsen adalah penyusun Tata Bahasa Melayu (yang menjadi cikal bakal Tata Bahasa Indonesia pada masa ini).

Hussein Djajadiningrat yang berhasil program Matrikulasi dengan Diploma nilai A, selama mengikuti studi di Universiteit Leiden cukup lancar. Pada bulan Juni 1908 Hussein Djajadiningrat lulus ujian kandidat (candidaats-examen) dengan nilai Cum Laude (lihat Algemeen Handelsblad, 10-06-1908).

Soetan Casajangan diterima dan mengikuti kuliah program sarjana pendidikan di Rijkskweekschool di Haarlem. Rijkskweekschool adalah semacam IKIP pada masa ini. Di kampus di Haarlem inilah tempo hari Willem Iskander mengikuti pendidikan sebelum meninggal. Untuk sekadar catatan: Sati Nasution alias Willem Iskander adalah kakek buyut Prof Dr. Ir, Andi Hakim Nasoetion (Rektor IPB Bogor, 1978-1987).

Surat kabar Telegraaf mewawancara Soetan Casajangan di Amsterdam yang dilansir Bataviaasch nieuwsblad, 02-07-1907 (hanya mengutip beberapa saja di sini): ‘…Mengapa Anda mengambil risiko jauh studi kesini (Belanda) meninggalkan kesenangan di kampungmu, calon koeria (raja), yang seharusnya sudah pension jadi guru dan Anda juga harus rela meninggalkan anak istri yang setia menunggumu?…Anda tahu untuk masyarakat saya, masih banyak yang perlu dilakukan, kami punya mimpi, kami diajarkan dengan baik oleh guru [Charles Adrian van] Ophuijsen….tapi kini masyarakat kami sudah mulai menurun dan melemah pada semua sendi kehidupan (akibat penjajahan)... Saya punya rencana pembangunan dan pengembangan lebih lanjut dari penduduk asli di Nederlandsch Indie (baca: bangsa Indonesia)...Saya mengajak anak-anak muda untuk datang ke sini (Belanda) agar bisa belajar lebih banyak...Anda tahu dalam filosofi Batak kuno, kami yakin bahwa jiwa itu berada di kepala, dan karenanya kami harus tekun agar tetap intelek.

Jumlah mahasiswa pribumi di Belanda dari waktu ke waktu semakin bertambah. Mereka yang berpendidikan Docter Djawa School bahkan sudah ada yang menyelesaikan studinya di Universiteit Amsterdam dan mendapat gelar dokter penuh seperti Raden Asmaoen dan Abdul Rivai. Dua bersaudara alumni Dokter Djawa School Tehupelory sudah tahap promosi di Universiteit Amsterdam.

Pada tanggal 25 Oktober 1908 Soetan Casajangan mengundang semua mahasiswa dan sarjana pribumi di Belanda untuk datang ke rumahnya di Leiden. Soetan Casajangan berinisiatif untuk membentukan perhimpunan mahasiswa. Jumlah mahasiswa hingga Oktober 1908 ini sudah mencapai sebanyak 20 orang. Disepakati dibentuk organisasi mahasiswa dengan nama Indische Vereeniging (Perhimpoenan Hindia). Secara aklamasi rapat pembentukan ini menunjuk Soetan Casajangan sebagai Presiden. Sebagai sekretaris Soetan Casajangan meminta kesediaan Hussein Djajadiningrat. Indische Vereeniging adalah organisasi mahasiswa Indonesia pertama. Kelak nama IndIsche Vereeniging diubah Mohamad Hatta dkk dengan nama Perhimpoenan Indonesia.

Akhirnya Hussein Djajadiningrat berhasil menyelesaikan studinya pada program studi Taal en Letterkunde voor den Oost-Indischen Archipel pada bulan Oktober 1910 (lihat De Maasbode, 19-10-1910). Hussein Djajadiningrat meraihnya dengan predikat cum laude (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 17-11-1910). Hussein Djajadiningrat tidak segera pulang ke tanah air tetapi melanjutkan studi ke tingkat doktoral (Ph.D).

Di antara mahasiswa yang terus berdatangan dari tanah air untuk melanjutkan studi di Belanda terdapat dua calon mahasiswa dari Padang Sidempoean. Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon mengambil program studi Hukum dan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia di bidang pendidikan (seperti Hussein Djajadiningrat). Kelak, Mengaradja Soangkoepon menjadi anggota Volkstaad selama empat periode dan Soetan Goenoeng Moelia selain anggota Volksraad menjadi Menteri Pendidikan RI yang kedua (menggantikan Ki Hadjar Dewantara).

Seperti Hussein Djajadiningrat yang suka menulis terutama dalam bidang sastra dan sejarah, Soetan Casajangan sebagai seorang guru banyak menulis di media tentang upaya-upaya peningkatan pendidikan pribumi. Soetan Casajangan yang sudah diketahui umum di Belanda, karena itu Soetan Casajangan diundang oleh Vereeniging Moederland en Kolonien (Organisasi para ahli/pakar bangsa Belanda di negeri Belanda dan di Hindia Belanda) untuk berpidato dihadapan para anggotanya. Dalam forum yang diadakan pada tahun 1911, Soetan Casajangan, berdiri dengan sangat percaya diri dengan makalah 18 halaman yang berjudul: 'Verbeterd Inlandsch Onderwijs' (peningkatan pendidikan pribumi): Berikut beberapa petikan penting isi pidatonya.

Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen).

..saya selalu berpikir tentang pendidikan bangsa saya...cinta saya kepada ibu pertiwa tidak pernah luntur...dalam memenuhi permintaan ini saya sangat senang untuk langsung mengemukakan yang seharusnya..saya ingin bertanya kepada tuan-tuan (yang hadir dalam forum ini). Mengapa produk pendidikan yang indah ini tidak juga berlaku untuk saya dan juga untuk rekan-rekan saya yang berada di negeri kami yang indah. Bukan hanya ribuan, tetapi jutaan dari mereka yang merindukan pendidikan yang lebih tinggi...hak yang sama bagi semua...sesungguhnya dalam berpidato ini ada konflik antara 'coklat' dan 'putih' dalam perasaan saya (melihat ketidakadilan dalam pendidikan pribumi).

Seperti Hussein Djajadiningrat yang telah menyelesaikan tingkat sarjananya pada bulan November 1911, akhirnya Soetan Casajangan juga berhasil meraih gelar sarjana pada tahun 1912. Berita kelulusan Soetan Casajangan ini dimuat di koran De Sumatra Post yang terbit tanggal 26 September 1912. Soetan Casajangan sendiri adalah mahasiswa non Belanda yang pertama kali diizinkan berkuliah di Rijkskweekschool di Haarlem. Kota Haarlem terkenal dengan universitas pendidikannya.

Soetan Casajangan setelah lulus tidak segera pulang tetapi diminta mengajar bahasa Melayu di Amsterdam (untuk orang-orang Belanda yang akan ditempatkan di Hindia) dan juga merangkap sebagai editor majalah Bintang Perniagaan. Soetan Casajangan memiliki pengalaman sebagai asisten dosen untuk mengajar bahasa Melayu di Universiteit Leiden dalam membantu gurunya sewaktu di Padang Sidempoean yang kini menjadi guru besar di Universiteit Leiden Prof. Charles Adrian van Ophuijsen. Untuk sekadar catatan: Charles Adrian van Ophuijsen kali pertama mempelajari (tata bahasa) bahasa Melayu di Padang Sidempoean. Charles Adrian van Ophuijsen yang fasih berbahasa Batak ini banyak meneliti sastra dan bahasa Batak. Boleh jadi Charles Adrian van Ophuijsen termotivasi menyusun tata bahasa Melayu (cikal bakal bahasa Melayu) karena sebelumnya (1860) N van der Tuuk telah berhasil menyusun tata bahasa Batak (buku tata bahasa pertama di Hindia).

Nama Hussein Djajadiningrat sudah cukup lama tidak terdengar (tidak terpublikasikan di medan). Boleh jadi Hussein Djajadiningrat sangat sibuk dengan disertasinya. Memang benar. Namun segera menjadi kenyataan nama Hussein Djajadiningrat menjadi terpublikasikan dan menjadi viral dui media surat kabar di Belanda dan di Hindia. Hussein Djajadiningrat pada bulan Mei dinyatakan berhasil meraih gelar doktor (Ph.D) dalam bidang bahasa dan sastra (lihat Het nieuws van den dag : kleine courant, 03-05-1913). Disebutkan promosi Hoesein Djajadiningrat di Universitas Leiden sebagai Ph.D dalam bidang linguistik dan sastra Nusantara dengan desertasi berjudul ‘Critiscke beschouwing van de Sadjarah Banten. Bijdragen ter kenschetsing van de Javaansche geschiedschrijving’. Hoesein Djajadiningrat geboren te Kramat Watoe (Bantam).

Het nieuws van den dag : kleine courant, 03-05-1913
Soetan Casajangan (dari Padang Sidempoean, Tapanoeli) dan Hussein Djajadiningrat (dari Serang, Banten), dua non Melayu, yang justru orang pertama yang memberi kontribusi dalam bidang pengajaran dan penelitian bahasa Melayu. Hussein Djajadiningrat sebagai peneliti (gelar doktor) bahasa Melayu dan Soetan Casajangan (gelar Meester) sebagai guru bahasa Melayu.

Singkat kata, dua sekawan Hussein Djajadiningrat dan Soetan Casajangan akhirnya pulang ke tanah air pada tahun 1913. Hussein Djajadiningrat yang sudah hampir sembilan tahun di Belanda dan belum pernah pulang segera bergegas memesan tiket pulang. Hussein Djajadiningrat berangkat dari pelabuhan Asmterdam dengan menumpang kapal ss  Vondel tanggal 10 Mei tujuan Batavia (lihat Algemeen Handelsblad, 09-05-1913).

Berdasarkan manifes kapal yang jumlahnya hampir 200 orang tidak ada nama Soetan Casajangan dan juga tidak ada nama pribumi lainnya. Hussein Djajadiningrat hanya sendiri berkulit coklat. Ada satu nama penumpang yang cukup dikenal luas yakni M Joustra, seorang peneliti yang khusus meneliti kebudayaan Batak. Charles Adrian van Ophuijsen dan M Joustra mendirikan Bataksche Instituut di Leiden (1905). Charles Adrian van Ophuijsen fokus kajian Batak di selatan (Mandailing en Angkola) dan M Joustra fokus di utara (Toba).

Soetan Casajangan baru kembali ke tanah air bulan Juli 1913. Sebelum pulang, buku Soetan Casajangan diterbitkan dengan judul 'Indische Toestanden Gezien Door Een Inlander' (Negara Hindia Belanda Dari Sudut Pandang Pribumi). Buku ini diterbitkan di (kota) Baarn oleh Percetakan Hollandia-Drukkerij. Boleh jadi buku ini ada buku pertama yang terbit di Eropa/Belanda yang ditulis oleh orang Indonesia.

Sebelum pulang ke tanah air Soetan Casajangan dan Hussein Djajadiningrat Menteri Koloni (di Belanda) telah menerbitkan beslit keduanya untuk jabatan di Hindia. Hussein Djajadiningrat diangkat sebagai Ambtenaar voor de Beoefening der Indische tale (lihat De Maasbode, 11-05-1913) sedangkan Soetan Casajangan diangkat menjadi direktur sekolah guru (kweekschool) di Fort de Kock. Namun sambil menunggu pergantian Soetan Casajangan mengajar dua bulan di ELS Buitenzorg. Pada bulan Oktober Soetan Casajangan ke Fort de Kock.

Pada akhir tahun 1913 empat pemuda berangkat studi ke Belanda. Dua dari pemuda ini adalah guru muda dari Fort de Kock yang boleh jadi rekomendasi Soetan Casajangan yakni guru Dahlan Abdoellah dan guru Ibrahim Datoek Tan Malaka (kelak lebih dikenal sebagai Tan Malaka). Satu lagi adalah Sorip Tagor Harahap kelahiran Padang Sidempoean, asisten dosen di sekolah kedokteran hewan (Veartsenschool) di Buitenzorg (kelak dikenal sebagai ompung dari Risty dan Inez Tagor serta Deisti, istri Setya Novanto). Dan, satu lagi adalah Raden Loekman Djajadiningrat yang tidak lain adalah adik Hussein Djajadiningrat. Empat pemuda ini dan senior Soetan Goenoeng Moelia kemudian cukup berpengaruh di Indische Vereeniging. Sepulang Soetan Casajangan dan Hussein Dajajadiningrat ke tanah air, marwah Indische Vereeniging diserahkan untuk dijaga kepada Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia.

Perkembangan Pendidikan: Hussein Djajadiningrat di Banten dan Soetan Casajangan di Batavia

Trio bersaudara dari Banten (Ahmad, Hassan dan Hussein Djajadiningrat) telah memberi pengaruh besar di Banten. Ketiganya adalah sama-sama berpendidikan. Ahmad Djajadinigrat lulusan Osvia Bandoeng yang menjadi Bupati di Banten, Hassan Djajadinigrat lulusan sekolah pertanian di Buitenzorg dan yang menaruh minat dalam bidang pengembangan pertanian dan perdagangan di Banten, dan Hussein Djajadiningrat alumni Belanda yang lebih terkonsentrasi di pusat (di Batavia). Selama ini jumlah sekolah untuk penduduk masih terbatas di Banten. Trio berpendidikan ini tentu sangat menyadari arti pendidikan bagi penduduk Banten hingga ke pelosok.

Sekolah dasar selama ini hanya terdapat di tempat-tempat yang populasinya besar seperti Serang, Rangkasbitoeng, Tjilegon, Anjer. Di kota Serang selain terdapat sejumlah sekolah dasar juga terdapat sekolah dasar Eropa (ELS). Juga sekolah OSVIA (opleidingsschool voor inl. Ambtenaren) sudah dibuka di Serang. Yang kurang adalah sekolah guru. Sebab sekolah guru Normaal School di Batavia sangat terbatas menghasilkan guru untuk wilayah yang luas di Residentie Batavia dan Residentie Banten. Noormaal School adalah padanan untuk sekolah guru Kweekschool. Untuk menambah guru, selain kweekschool yang ada, sejak 1890an Normaal School mulai diadakan di kota-kota besar seperti Batavia, Semarang dan Soerabaja.

Pada tahun 1914 sekolah guru Normaal School dibuka di Serang (lihat De Sumatra post, 21-04-1914). Tampaknya dalam hal ini pengaruh Hussein Djajadiningrat terasa. Dengan adanya sekolah Normaal School di Serang diharapkan akan bertambah jauh dan bertambah luas jangkauan pendidikan di Residentie Banten. Harapan Soetan Casajangan seperti yang pernah diutarakannya di Belanda tahun 1911 di hadapan para ahli Belanda mulai terasa,

Dalam perkembangannya di beberapa kota yang jauh dari keberadaan kweekschool dibuka normaal school seperti di Chirebon, Blitar, Poerwokerto dan Poerwakarta. Pada tahun 1918 normaal school yang baru dibuka di Garoet, Pematang Siantar, Salatiga, Padang Pandjang serta Makassar.

Sementara sekolah Normaal School diperbanyak, muncul kebijakan baru bahwa sekolah dasar Eropa (ELS) hanya diperuntukkan bagi orang Eropa. Hussein Djajadiningrat tempo dulu adalah lulusan ELS Serang dan melanjutkan studi ke HBS lima tahun di Batavia. Sebagai pengganti ELS bagi pribumi adalah dibentuk sekolah semi Eropa (HIS) yang dimulai tahun 1914. Pendirian sekolah HIS dimulai di kota-kota besar termasuk di Padang Sidempoean (gedungnya eks Kweekschool Padang Sidempoean dimana dulu Soetan Casajangan bersekolah).

Nama-nama Ketua Indische Vereeniging di Belanda
Pada tahun 1915 Hussein Djajadiningrat yang sebelumnya menjabat sebagai ambt. voor de beoefening van Indische talen diangkat menjadi anggota de commissie voor de volkslectuur (lihat De Preanger-bode, 08-07-1915). Dua bidang sebelum dan sesudah tersebut masih berkaitan. Yang pertama di bidang penerapan bahasa penduduk, sedangkan yang sekarang di bidang bacaan penduduk. Ini berarti Hussein Djajadiningrat akan ikut menentukan jenis dan konten bacaan untuk buku-buku yang diperlukan umum dan siswa-siswa di sekolah. Di sini pula keterkaitan hubungan kerja Hussein Djajadiningrat dengan Soetan Casajangan. Yang satu memilih konten buku bacaan yang satu lagi mengajarkannya di sekolah-sekolah (penelitian dan pengajaran saling mendukung). Komisi dimana Hussein Djajadiningrat terlibat kelak menjadi cikal bakal Balai Poestaka.

Pada akhir tahun 1915 adik Hussein Djajadiningrat di Belanda, Raden Loekman Djajadiningrat terpilih sebagai ketua Indische Vereeniging (lihat Nieuwe Rotterdamsche Courant, 11-01-1916). Satu program baru organisasi mahasiswa pribumi ini adalah menerbitkan majalah bulan yang diberinama Hindia Poetra. Penerbitan majalah ini merupakan salah satu wujud untuk mencerdaskan rakyat. Sementara itu, Soetan Casajangan di Fort de Kock yang kerap pulang ke kampongnya di Padang Sidempeoan juga pada tahun 1915 ini menerbitkan surat kabar (minggguan) yang diberi nama Poestaha (Pustaka, yang juga menjadi nama blog ini).

Dengan ditutupnya ELS di Serang, para siswa yang ingin melanjutkan studi ke Belanda seperti Hussein Djajadiningrat melalui jalur ELS dan HBS menjadi terhambat dan harus ke Batavia (untuk memperoleh pendidikan HIS). Tentu saja akan  sulit bagi siswa usia tujuh tahun jauh dari keluarga jika harus ke sekolah HIS di Batavia. Dalam hal ini secara umum pendidikan bagi pribumi memang dibuka kran ke bawah (memperbanyak Normaal School) tetapi menutup kran ke atas (dihambatnya pribumi memasuki ELS). Ini menjadi persoalan tersendiri di Banten terutama di kota Serang (sekolah HIS terdekat hanya di Batavia).

Sekolah dasar Eropa ELS guru-gurunya harus lulusan Eropa. Soetan Casajangan sempat mengajar di ELS Buitenzorg sambil menunggu pergantian direktur Kweekschool di Fort de Kock. Untuk sekolah dasar semi Eropa HIS guru-gurunya sebagian besar pribumi yang bisa berbahasa Belanda dan direkturnya harus alumni Eropa. Menyelenggarakan pendidikan HIS di Serang tentu sulit mendapatkan guru. Umumnya guru-guru HIS adalah guru-guru senior yang umumnya lulusan sekolah Kweekschool.

Pada tahun 1918 Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia menyelesaikan studinya di Belanda (tiba di Belanda tahun 1910). Oleh karena Soetan Goenoeng Moelia mengambil program studi pendidikan (sarjana pendidikan), Soetan Goenoeng Moelia yang tida di tanah air ditempatkan sebagai direktur HIS yang baru dibuka di Kotanapoan (dekat Padang Sidempoean). Ini berarti di Afdeeling Mandailing en Angkola terdapat dua sekolah HIS (sementara di Residentie Banten belum ada). Soetan Goenoeng Moelia adalah alumni ELS Padang Sidempoean, anak seorang guru alumni Kweekschool Padang Sidempoean. Soetan Goenoeng Moelia dan Mangaradja Soeangkoepon setelah lulus ELS langsung ke Belanda untuk lanjut ke sekolah menengah sebelum masuk universitas (HBS tidak/belum ada di Sumatra).

Hussein Djajadiningrat sebagai ilmuwan terus meneliti. Penelitiannya yang terkenal salah satu dan yang pertama (di luar desertasi) adalah tentang Atjeh. Sementara Soetan Casajangan telah pindah beberapa kali untuk meningkatkan mutu sekolah guru (kweekschool dan Normaal School termasuk ke Dolong Sanggoel dan Ambon). Pada tahun 1918 Soetan Casajangan dipindahkan ke Batavia dan kemudian menjadi Direktur Normaal School di Meester Cornelis (kini Jatinegara). Soetan Goenoeng Moelia adalah direktur HIS pertama dari pribumi dan Soetan Casajangan adalah direktur Normaal School pertama dari pribumi.

Tidak lama setelah Soetan Goenoeng Moelia sebagai direktur Normaal School di Kotanapon, seorang wartawan muda di Medan, Parada Harahap pulang kampung ke Padang Sidempoean. Parada Harahap menangani surat kabar Poestaha (yang dulu didirikan oleh Soetan Casajangan). Parada Harahap juga menerbitkan surat kabar yang lebih radikal dengan nama Sinar Merdeka (lihat  Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-09-1919). Empat pemuda yang dulu berangkat ke Belanda juga dalam kongres mahasiswa Hindia (Belanda, Tionghoa dan pribumi) mulai mengusulkan nama Hindia Belanda menjadi nama Indonesia. Di Batavia, Hussein Djajadiningrat yang terpilih sebagai anggota dean kota (Gemeenteraad) terus berjuang. Di Volkraad yang baru pertama kali tahun 1918 juga para pribumi mulai bersuara keras. Beberapa anggota Volksraad adalah Dr. Abdul Rivai (anggota Indische Vereeniing), Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo dan Achmad Dajajadiningrat (Bupati Serang, abang dari Husein Djajadiningrat).

Soetan Casajangan, Direktur Normaal School di Meester Corbnelis  kembali diundang oleh para ahli Belanda untuk berpidato di hadapan para angggota Vereeniging Moederland en Kolonien pada tanggal 28 Oktober 1920 dengan makalah 19 halaman yang berjudul :'De associatie-gedachte in de Nederlandsche koloniale politiek (modernisasi dalam politik kolonial Belanda). Forum ini juga dihadiri oleh Soeltan Jogjakarta. Soetan Casajangan tetap dengan percaya diri untuk membawakan makalahnya. Berikut beberapa petikan isi pidatonya:

Geachte Dames en Heeren! (Dear Ladies and Gentlemen).

....saya berterimakasih kepada Mr. van Rossum, ketua organisasi...yang mengundang dan memberikan kesempatan kembali kepada saya...di hadapan forum ini....pada bulan 28 Maret 1911 (sekitar sepuluh tahun lalu)...saya diberi kesempatan berpidato karena saya dianggap sebagai pelopor pendidikan bagi pribumi...ketika itu saya menekankan perlunya peningkatan pendidikan bagi bangsa saya...(terhadap pidato itu) untungnya orang-orang di negeri Belanda yang respek terhadap pendidikan akhirnya datang ke negeri saya..dan memenuhi kebutuhan pendidikan (yang sangat diperlukan bangsa) pribumi. Gubernur Jenderal dan Direktur Pendidikan telah bekerja keras untuk merealisasikannya..yang membuat ribuan desa dan ratusan sekolah telah membawa perbaikan..termasuk konversi sekolah rakyat menjadi sekolah yang mirip (setaraf) dengan sekolah-sekolah untuk orang Eropa (HIS, red).

...Sekarang saya ingin berbicara dengan cara yang saya lakukan pada tahun 1911...saya sekarang sebagai penafsir dari keinginan bangsaku..politik etis sudah usang..kami tidak ingin hanya sekadar sedekah (politik etik) dalam pendidikan...tetapi kesetaraan antara coklat dan putih...saya menyadari ini tidak semua menyetujuinya baik oleh bangsa Belanda, bahkan sebagian oleh bangsa saya sendiri...mereka terutama pengusaha paling takut dengan usul kebijakan baru ini...karena dapat merugikan kepentingannya..perlu diingat para intelektual kami tidak bisa tanpa dukungan intelektual bangsa Belanda..organisasi ini saya harap dapat menjembatani perlunya kebijakan baru pendidikan. saya sangat senang hati Vereeniging Moederland en Kolonien dapat mengupayakannya...karena anggota organisasi ini lebih baik tingkat pemahamannya jika dibandingkan dengan Dewan (Pemerintah Hindia Belanda)..

Boleh jadi Hussein Djajadiningrat sumringah membaca pidato sobatnya Soetan Casajangan. Hussein Djajadiningrat sendiri belum lama diangkat (merangkap) menjadi Tijd. Adj -adviseur voor Inl. Zaken (lihat De Telegraaf, 24-06-1920). Hussein Djajadiningrat sebagai peneliti yang juga bagian dari penasehat pribumi.

Jabatan ini sebagai penasehat pribumi, lembaga yang dulu pernah dipimpin oleh Abendanon). Kini lembaga ini dijabat oleh DA Rinkes. Pada periode 1917-1918 Soetan Casajangan menjadi Adjunct-adviseur JH Nieuwenhuys dan DA Rinkes (penasehat urusan pribumi). Oleh karena itu Soetan Casajangan dalam pidatonya menyebut dirinya sebagai ‘penafsir dari keinginan bangsaku’. Soetan Casajangan dalam hal ini guru yang juga bagian dari penasehat pribumi.

Memang itulah pidato seorang guru yang berjuang demi bangsanya dengan kalimat-kalimat bijak. Hussein Djajadiningrat di pemerintahan yang juga bersentuhan dengan kebutuhan pribumi berjuang dengan caranya sendiri. Pidato ini juga sedikit menyindir pemerintah yang baru saja membuka universitas pertama, Technische Hoogeschool (kini ITB) di Bandoeng. Dalam daftar mahasiswa yang diterima di THS, jatah orang pribumi hanya tiga orang. Lihat kembali isi pidato Soetan Casajangan yang menginginkan kesetaraan, tidak sekadar sedekah jatah tiga mahasiswa:

‘orang-orang di negeri Belanda yang respek terhadap pendidikan akhirnya datang ke negeri saya [mendirikan THS]..dan memenuhi kebutuhan pendidikan (yang sangat diperlukan bangsa) pribumi. Gubernur Jenderal dan Direktur Pendidikan telah bekerja keras untuk merealisasikannya...saya sekarang sebagai penafsir dari keinginan bangsaku..politik etis sudah usang..kami tidak ingin hanya sekadar sedekah (politik etik) dalam pendidikan [hanya jatah 3 mahasiswa]...tetapi kesetaraan [jumlah] antara coklat dan putih...saya menyadari ini tidak semua menyetujuinya baik oleh bangsa Belanda, bahkan sebagian oleh bangsa saya sendiri.

Kegalauan lain dari Soetan Casajangan boleh jadi dihubungkan dengan pendirian dan perluasan sekolah. Pada tahun 1914 telah didirikan HIS sebagai upaya menghalangi masuk ELS, tetapi celakanya lulusan HIS tidak bisa masuk HBS. Memang sudah mulai diperkenalkan MULO tetapi jumlahnya masih terbatas sekali. Misalnya lulusan HIS Padang Sidempeoan (Tapanoeli) harus ke Padang (West Sumatra) dan yang paling runyam HIS belum ada di Banten (harus ke Batavia). Sejumlah daerah telah meminta didirikan MULO tapi tidak ada alokasi anggaran dari pusat. Di Den Haag sebuah mosi diajukan ke Tweede Kamer oleh pegiat pendidikan untuk memperluas jangkauan MULO. Namun kalah suara 42 lawan 21. Pemerintah hanya bersedia mensubsidi sekolah teknik (lihat De Preanger-bode, 28-03-1917). Sementara THS telah didirikan di Bandoeng, tetapi hanya lulusan HBS yang diterima. Lulusan MULO sangat ketat untuk diterima di HBS, sementara AMS baru didirikan satu buah di Jogjakarta yang dibuka pada tanggal 6 Juli 1919 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 05-07-1919). Kegalauan ini semakin menjadi-jadi ketika muncul statement pemerintah akan menambah jumlah perguruan tinggi, selain THS juga sekolah hukum tahun 1922 dan sekolah kedokteran tahun 1923 (lihat De Preanger-bode, 04-09-1920). Semua perguruan tinggi ini hanya menerima lulusan HBS. Dalam hal inilah protes Soetan Cajangan disampaikan ke forum ahli Belanda ‘kami tidak ingin hanya sekadar sedekah (politik etik) dalam pendidikan [hanya sampai MULO]...tetapi kesetaraan [jumlah] antara coklat dan putih, yaitu membuka kran HBS lebih banyak atau mendirikan sekolah menegah atas yang setara (yang dikhususkan bagi pribumi seperti halnya HIS atau MULO).

Technische Hoogeschool (THS) sendiri dibuka secara resmi tanggal 3 Juli 1920 oleh Gubernur Jenderal (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 03-07-1920). Dalam pembukaan THS ini turut hadir Bupati Serang yang juga menjadi anggota Volksraad Raden Achmad Djajadiningrat (abang Hussein Djajadiningrat).

Bataviaasch nieuwsblad, 03-03-1921
Mr. Hussein Djajadiningrat, Ph.D berkabung. Abangnya, Raden Hassan Djajadiningrat meninggal dunia pada tanggal 20 Desember 1920 di Weltevreden (lihat De Preanger-bode, 30-12-1920). Hasan Djajadiningrat adalah ketua (partai) Sarikat Islam di Residentie Banten sebagai penyeimbang di dalam keluarga. Abang paling tua Achmad Djajadiningrat sebagai Regent Banten, dan dua adiknya di dalam pemerintahan, yakni Hussein Djajadiningrat pejabat Indisch Talen dan Loekman Djajadiningrat. Sang bungsu, Loekman Djajadiningrat baru pulang studi dari Belanda dan belum lama diangkat sebagai komisi redaktur di kantor Gubernur Jenderal di Batavia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 29-09-1920).

Dalam perkembangannya, untuk mengisi kekosongan 'kursi' dewan yang ditinggalkan, untuk sidang di Volksraad, terhitung 17 Mei 1921 Soetan Goenoeng Moelia akan menjadi Volksraad di Batavia (lihat juga Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-05-1921). Pengangkatan Soetan Goenoeng Moelia, direktur Normaal School di Kotanopan menjadi anggota Volksraad untuk mewakili bidang pendidikan. Penetapan ini sudah diumumkan pada bulan Maret (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 03-03-1921).

Het Vaderland, 23-01-1921
Soetan Goenoeng Moelia, seperti halnya Soetan Casajangan adalah sarjana pendidikan. Tampilnya Soetan Goenoeng Moelia di Pedjambon (kini di Senayan) akan memperkuat barisan pro-pendidikan pribumi. Sebab Soetan Goenoeng Moelia dan Raden Achmad Djajadiningrat akan saling mendukung. Sementara di luar dewan Hussein Djajadiningrat dan Soetan Casajangan terus mempromosikan peningkatan pendidikan bagi pribumi.

Raden Achmad Djajadiningrat telah memulainya beberapa waktu sebelum ini dengan berpidato di Volksraad dengan menggunakan bahasa Melayu (lihat Het Vaderland : staat- en letterkundig nieuwsblad, 23-01-1921). Achmad Djajadiningrat pada dasarnya sangat fasih berbahasa Belanda, tetapi seperti yang disebutkannya bahwa ia merasa berhak untuk menggunakan bahasa Melayu. Disamping itu Achmad Djajadiningrat berpendapat bahwa orang-orang di luar ruang sidang lebih memahami dan juga agar minat pengunjung dan kandidat Volksraad yang tidak bisa berhasa Belanda tidak menjadi terhalang. Untuk menghindari kesulitan, Achmad Djajadiningrat berpendapat tidak harus dengan bahasa Melayu tinggi tetapi cukup dengan bahasa Melayu rendah.

Beberapa tahun sebelumnya, tepatnya pada tahun 1917 dalam kongres mahasiswa Hindia di Belanda (yang dipimpin van Mook) pentolan Indisch Vereeniging seperti Dahlan Abdoellah, Sorip Tagor Harahap dan Soetan Goenoeng Moelia sudah menyodorkan nama Indonesia untuk merujuk pada Nedeelandsche Indie. Kanyataannya forum juga tidak terlalu mempermasalahkannya. Oleh karena itu pada kepengurusan Dr. Soetomo dan kawan-kawan (1921) nama Indische Vereeniging telah diubah menjadi Indonesiasche Vereeniging. Dengan demikian penggunaan nama Indonesia di forum resmi dimulai di Belanda oleh para pengurus Indische Vereeniging; dan penggunaan bahasa Melayu di Volksraad dimulai di Batavia oleh Raden Achmad Djajadiningrat.

Pidato Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan tampaknya kembali manjur, apalagi disokong oleh dua anggota dewan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia dan Raden Adipati Aria Achmad Djajadiningrat. Pada tahun ajaran kedua yang dimulai pada bulan Juli 1921 jumlah mahasiswa di Technische Hoogeschool Bandoeng telah bertambah signifikan termasuk diantaranya Soekarno (kelak menjadi Presiden RI).

Raden Achmad Soekarno masuk THS melalui jalur ELS dan HBS lima tahun di Soerabaja. Jalur yang tempo doeloe dilalui Hussein Djajadiningrat dari ELS di Serang ke HBS lima tahun di KW School Batavia (1899-1904). Juga jalur yang dilalui oleh Soetan Goenoeng Moelia dari ELS di Padang Sidempoean (lulus 1910) ke HBS lima tahun di Belanda. Berbeda dengan jalur yang dilalui oleh Mohamad Hatta yakni setelah HIS lanjut ke MULO di Padang (1916-1919) lalu lanjut HBS lima tahun di Prins Hendrik School Batavia (1919-1922) dan seterusnya ke Universiteit Rotterdam. Sedangkan Achmad Djajadiningrat dari sekolah rakyat ke sekolah OSVIA (di Bandoeng) dan Soetan Casajangan dari sekolah rakyat ke Kweekschool (di Padang Sidempoean) dan lanjut ke Rijkskweekschool di Haarlem.

Ketika Soetan Casajangan Harahap, Hussein Djajadiningrat, Soetan Goenoeng Moelia Harahap plus Achmad Djajadiningrat berjuang untuk untuk membuka akses ke pendidikan yang lebih tinggi dan memperluas jangkauan pendidikan bagi pribumi, Soewardi Soerjaningrat di Jogjakarta berjuang dengan caranya sendiri. Soewardi Soerjaningrat melihat daya tampung sekolah pemerintah yang sangat terbatas berinisiatif dengan mendirikan sekolah untuk rakyat dengan metode dan kurikulum sendiri pada tahun 1922. Sekolah ini disebut Taman Siswa. Soewardi Soerjaningrat kelak dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara.

Pada tahun 1923 Dr. Sardjito di Belanda dinyatakan berhasil mempertahankan desertasi di bidang kedokteran. Dr. Sardjito adalah alumni STOVIA tahun 1918. Pada tahun 1918/1919 Dr. Sarjito dan Hussein Djajadiningrat sama-sama menjadi anggota dewan kota (gemeeteraad) Batavia. Pada tahun ini juga di Pematang Siantar Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soangkoepon, alumni Belanda terpilih menjadi anggota dewan kota (gemeenteraad). Pada tahun 1919 Dr. Sardjito bersama Dr. Soetomo dan Dr. Mohamad Sjaaf melanjutkan studi kedokteran di Belanda. Setelah berhasil mendapat sarjana kedokteran, Dr. Sardjito dan Dr. Mohamad Sjaaf melanjutkan ke tingkat dokteral. Pada saat Dr. Sardjito dkk tiba di Belanda Dr. Sarwono baru saja meraih gelar Doktor (Ph.D). Dalam hal ini Dr. Sarwono, Ph.D adalah doktor pribumi kedua setelah Hoessein Djajadiningrat. Dr. Sardjito, Ph.D adalah pribumi kelima yang meraih gela Ph.D (yang ketiga adalah Mr. Gondokoesoemo di bidang hukum 1922; keempat Mr. RM Koesoema Atmadja juga di bidang hukum 1922). Dr, Sardjito, Ph.D kelak dikenal sebagai Presiden/Rektor UGM yang pertama.

Pada tahun 1922 dilakukan pemilihan anggota Volksraad. Kuota dari Sumatra hanya satu kursi. Dalam pemilihan ini dimenangkan oleh Abdul Muis dengan selisih beda jumlah suara yang mengalahkan pesaingnya seorang dokter di Panjaboengan Dr. Abdul Rasjid Siregar (adik Mangaradja Soangkoepon). Untuk golongan pendidikan, kembali Soetan Goenoeng Moelia ditunjuk pemerintah ke Volksraad.

Pada pemilihan Volksraad tahun 1926 kuota Sumatra menjadi lima kursi: dua kursi untuk West Sumatra, satu kursi untuk Zuid Sumatra dan masing-masing satu kursi untuk dapil Oost Sumatra dan Noord Sumatra. Dalam hal ini Noord Sumatra merupakan gabungan Residentie Tapanoeli dan Atjeh. Yang terpilih dari Noord Sumatra adalah Dr. Alimoesa Harahap sedangkan dari Oost Sumatra yang terpilih adalah Mangaradja Soangkoepon. Soetan Goenoeng Moelia menurut berita Bataviaasch nieuwsblad, 15-03-1927 termasuk salah satu anggota dewan yang ditunjuk (kembali) mewakili bidang pendidikan.

Pada tahun 1927 Soetan Casajangan mengundurkan diri sebagai Direktur Normaal School karena mulai lelah dan sakit. Permintaan Soetan Casajangan kemudian dikabulkan dan diberhentikan dengan hormat sebagai Direktur Normaal School di Meester Cornelis (Jakarta) yang dimuat di koran De Indische Courant yang terbit tanggal 18-03-1927.

Tidak lama kemudian, tersebar luas Soetan Casajangan pada tanggal 2 April 1927 telah menghembuskan nafas terakhir, meninggal dunia karena stroke. Berita meninggalnya Soetan Casajangan dimuat di koran De Indische Courant yang terbit tanggal 08-04-1927.

Sementara itu, Soetan Goenoeng Moelia juga adalah guru kelas-1 dengan sertifikat guru Eropa, seperti halnya pangkat terakhir Soetan Casajangan. Bataviaasch nieuwsblad, 26-07-1927 memberitakan bahwa Soetan Goenoeng Moelia diperbantukan untuk membantu Direktur Normaal School di Meester Cornelis, Batavia. Hal ini karena Soetan Casajangan yang telah lama menjabat Direktur di sekolah tersebut telah meninggal dunia pada bulan April 1927.

Pada bulan Mei 1929 Soetan Goenoeng Moelia resmi diangkat menjadi Direktur di Normaal School di Meester Cornelis (lihat Soerabaijasch handelsblad, 29-05-1929).

Berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal, tanggal 28 November 1927 dibentuk Hollandsch lnlandsch Onderwljs  Commissie. Komisi ini diketuai oleh Prof. BJO Schrieke anggota terdiri dari 10 orang termasuk diantaranya Dr. Mr. Soetan Goenoeng Moelia. Komite ini dibentuk untuk memberikan saran tentang kebutuhan sosial untuk pendidikan dasar yang pengajarannya dengan bahasa Belanda bagi penduduk pribumi (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-03-1929).

Pada akhir tahun 1929 Sutan Goenoeng Moelia meminta dengan hormat mengundurkan diri karena ingin sekolah dan dikabulkan terhitung 1 Desember 1929 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 18-01-1930).

Pada tahun 1933 Soetan Goenoeng Moelia berhasil mempertahankan desertasinya di Belanda dan mendapat gelar doktor (Ph.D). Hingga tahun 1933 jumlah orang Indonesia yang meraih gelar doktor (Ph.D) di luar negeri baru sebanyak 26 orang dan hanya satu orang perempuan yakni Ida Loemongga Nasution. Orang Indonesia pertama yang meraih gelar doktor (Ph.D) adalah Husein Djajadiningrat pada tahun 1913.

Daftar orang Indonesia peraih gelar doktor (Ph.D) selanjutnya adalah sebagai berikut: (2) Dr. Sarwono (medis, 1919); (3) Mr. Gondokoesoemo (hukum 1922); (4) RM Koesoema Atmadja (hukum 1922); (5) Dr. Sardjito (medis, 1923); (5) Dr. Mohamad Sjaaf (medis, 1923); (7) R Soegondo (hukum 1923); (8) JA Latumeten (medis, 1924); (9) Alinoedin Siregar gelar Radja Enda Boemi (hukum, 1925); (10) R. Soesilo (medis, 1925); (11) HJD Apituley (medis, 1925); (12) Soebroto (hukum, 1925); (13) Samsi Sastrawidagda (ekonomi, 1925); (14) Poerbatjaraka (sastra, 1926); (15) Achmad Mochtar (medis, 1927); (16) Soepomo (hukum, 1927); (17) AB Andu (medis, 1928); (18) T Mansoer (medis, 1928); (19) RM Saleh Mangoendihardjo (medis, 1928); (20) MH Soeleiman (medis, 1929); (21) M. Antariksa (medis, 1930); (22) Sjoeib Proehoeman (medis, 1930); (23) Aminoedin Pohan (medis, 1931); (24) Seno Sastroamidjojo (medis, 1930); (25) Ida Loemongga Nasution (medis, 1931); (26) Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia (sastra dan filsafat, 1933).

Jumlah doktor terbanyak berasal dari (pulau) Djawa, yang kedua dari Residentie Tapanoeli. Cetak tebal adalah doktor-doktor asal Afdeeling (kabupaten) Padang Sidempoean, Residentie Tapanoeli.

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang