Sejarah Tangerang (12): Sejarah Mauk, Jauh di Mata Dekat di Hati; Pusat Perdagangan di Pantai Utara Tangerang Tempo Doeloe

shape image

Sejarah Tangerang (12): Sejarah Mauk, Jauh di Mata Dekat di Hati; Pusat Perdagangan di Pantai Utara Tangerang Tempo Doeloe

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Tangerang pada blog ini Klik Disini

Sejarah Mauk belumlah lama , namun juga nir baru. Namanya mulai dikenal di publik dari tahun 1829. Ini sehubungan dengan perubahan perbatasan (residentie) Batavia. Mauk sebelumnya masuk daerah Residentie Banten. Berdasarkan beslit lepas 7 Februari 1829 No. 180 batas wilayah Batavia merupakan sungai Tjikande, Mauk sebagai bagian menurut wilayah Batavia. Sejak itu namanya semakin dikenal, lebih-lebih sehabis dijadikan sebagai tanah swasta (land). Tetapi malang terjadi dalam tahun 1883, land Mauk tenggelam disapu tsunami, gelombang bahari yg tinggi imbas meletusnya gunung Krakatau.

Mauk, jauh di mata dekat di hati
Sebelum dilakukan perubahan batas Batavia di sebelah barat, pada tahun 1818 telah dilakukan perubahan batas Batavia. Lahan-lahan yang berada di sebelah barat sungai Tjitaroem masuk wilayah Batavia. Lahan-lahan tersebut antara lain Tjabangboengin, Tjikarang, Kedoeng Gede, dan Tjibaroesa. Sebelumnya wilayah ini masuk Residentie Krawang. Dengan adanya penambahan wilayah Mauk maka wilayah Batavia berada diantara sungai Tjitaroem di sebelah timur dan sungai Tjikande di sebelah barat. Batas wilayah Batavia di sebalah barat ini pada masa kini menjadi batas wilayah Kabupaten Tangerang.

Pada masa ini, Mauk seakan wilayah terbelakang, padahal di masa lampau Mauk adalah wilayah terdepan. Pelabuhan Mauk bahkan pelabuhan yang setara dengan pelabuhan Tanara dan Tangerang, pelabuhan Bekasi, dan pelabuhan Tjikarang. Perubahan haluan ini seiring dengan semakin intensnya arus perdagangan di sepanjang jalan Trans-Java Daendels (Batavia-Anjer) melalui Tangerang, Balaraja, Serang dan Tjilegon. Kejayaan masa lalu tamat. Kini, Mauk hanya sebatas jauh di mata dekat di hati. Namun demikian, Mauk adalah Mauk, kota yang memiliki sejarah. Untuk memahami sejarah Mauk, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pelabuhan Mauk: Pusat Perdagangan

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang