Sejarah Menjadi Indonesia (41): Sejarah Pelayaran di Indonesia 1595-1950; Dispach di Tambora 1815, Loudon di Krakatau 1883 - JagoMarketing | Jasa Whatsapp Blast

Sejarah Menjadi Indonesia (41): Sejarah Pelayaran di Indonesia 1595-1950; Dispach di Tambora 1815, Loudon di Krakatau 1883

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia dalam blog ini Klik Disini

Sejarah pelayaran pada Indonesia sesungguhnya gambaran sejarah pelayaran dalam era kolonial 1595-1945. Selama 350 tahun kapal-kapal Belanda kemudian lalang pada Hindia Timur (baca: Indonesia) buat mengangkut barang

Serah terima angkatan laut dari Belanda ke Indonesia, 1950
Di antara kapal-kapal yang lalu lalang di Indonesia (1595-1950) ada dua kapal yang sangat berani yakni Kapal Dispach dan Kapal Loudon. Dua kapal ini tidak menghadapi perang, tetapi sedang berada di lokasi dimana dua gunung meletus. Kapal Dispach sedang patroli di Indonesia Timur ketika gunung Tambora meletus 1815; sedangkan Kapal Loedon tengah berlayar di pantaii barat Sumatra ketika gunung Krakatau meletus 1883. Kapal Dispach yang memastikan bahwa gunung Tambora telah meletus; dan kapal Loudon yang memastikan gunung Krakatau telah meletus.

Sayangnya sejarah kapal era kolonial tersebut kurang terinformasikan dalam sejarah pelayaran di Indonesia. Boleh jadi informasi ini tidak penting-penting amat, tetapi kenyataannya sejarah pelayaran Indonesia sendiri sejatinya adalah kelanjutan sejarah pelayaran era kolonial. Dalam hal ini, memahami sejarah pelayaran era kolonial di Indoneia sebenarnya adalah suatu pendekatan (proksi) untuk memahami sejarah pelayaran Indonesia itu sendiri. Dengan demikian, sejarah pelayaran di Indonesia sesungguhnya adalah sejarah yang panjang, yakni suatu aktivitas pelayaran yang dalam hal ini dibatasi sejak kehadiran Belanda di laut Indonesia tahun 1696. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Cornelis de Houtman Memimpin Pelayaran Pertama Belanda ke Hindia Timur. 1595

Sejarah pelayaran di Indonesia sebenarnya sudah ada sebelum kedatangan orang-orang Belanda, bahkan sebelum kedatangan orang-orang Portugis. Namun masalahnya sangat sulit mendapatkan data dan informasinya. Oleh karena sejarah kehadiran orang-orang Belanda terdokumentasi cukup baik di dalam berbagai buku, majalah dan surat kabar, maka untuk memahami sejarah pelayaran di Indonesia dapat dibatasi pada era 1595-1950. Dalam hal ini orang Belanda yang ada di Hindia datang dari Belanda ke Hindia menggunakan pelayaran jarak jauh.

Tidak itu saja, di Hindia sebagai wilayah kepulauan, pelayaran adalah moda transportasi utama. Oleh karenanya, orang-orang Belanda di Hindia sangat pasih betul tentang urusan pelayaran. Berita berbagai kejadian dalam pelayaran menjadi pembicaraan semua orang.

Sehubungan dengan sejarah pelayaran itu, sumber-sumber ini disusun secara kronologis. Namun demikian, tidak semua kejadian yang terkait dalam pelayaran dirangkum disini. Sumber-sumber yang dirangkum disini hanyalah sebagian dari sumber-sumber yang pernah disajikan dalam artikel-artikel lain dalam blog ini. Sedangkan sumber-sumber baru disebutkan sumbernya dalam artikel ini. Dalam hal ini, sejarah pelayaran di Indonesia dapat kita mulai dari pelayaran Cornelis de Houtman dalam memimpin pelayaran pertama Belanda ke Hindia Timur yang dimulai pada tahun 1595.

Pos VOC/Belanda di Ambon (1605)
Dalam ekspedisi pertama VOC/Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman (1595-1597), Frederik de Houtman turut serta yang bertindak sebagai ahli bahasa. Dalam ekspedisi ini Frederik de Houtman terlebih dahulu mempelajari bahasa Melayu di Madagaskar, sebelum ekspedisi yang dipimpin Cornelis de Houtman melanjutkan pelayaran ke Hindia.

Laporan ekspedisi yang dipimpin Cornelis de Houtman (1595-1597) dapat dibaca dalam Journael vande reyse der Hollandtsche schepen ghedaen in Oost Indien, haer coersen, strecking hen ende vreemde avontueren die haer bejegent zijn, seer vlijtich van tijt tot tijt aengeteeckent (yang diterbitkan tahun 1598). Disebutkan di dalam laporan. ekspedisi di Hindia berakhir di Bali sebelum kembali ke Belanda. Meski begitu, dua orang ditinggalkan di Bali.

Ekspedisi Belanda pertama ke Hindia ini dimulai dari Amsterdam April 1595. Pada bulan Februari 1596 di Madagaskar, Juni di Sumatra dan Agustus di Banten, November di Sunda Calapa, Januari 1597 di Madura, Februari di Bali, seterusnya ke St. Helena dan pelayaran berakhir tiba di Belanda pada bulan Agustus 1597.

Dalam ekspedisi kedua, kembali dipimpin oleh Cornelis de Houtman. Namun  Cornelis de Houtman tewas terbunuh. Sementara adiknya, Frederik de Houtman ditawan di Atjeh. Selama ditawan di Atjeh dari 1599 hingga 1602 Frederik de Houtman menyelesaikan kamusnya di Goede Hoop dan kembali ke Belanda, Kamus bahasa Melayu Frederik de Houtman diterbitkan tahun 1603. Kamus inilah kemudian yang menjadi pedoman standar bagi pelaut-pelaut dan pedagang VOC/Belanda yang berikutnya yang datang dan tinggal di Hindia.

Batavia 1619 dan Kapal-Kapal VOC dari Texel: Generaal Specx, 1623

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kapal-Kapal Belanda Menaklukkan Portugis di Malaka, 1640

Tunggu deskripsi lengkapnya

Admiral Cornelis Spelman dan Perang Gowa, 1667

Tunggu deskripsi lengkapnya

Tsunami di Ambon 1674

Tunggu deskripsi lengkapnya

Ekspedisi Scipio dan Pelayaran ke Pantai Selatan Jawa 1687

Pembangunan Benteng dan Pelabuhan di Jawa 1706

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kapal-Kapal Jung dari Tiongkok dan Pembantaian Orang Tionghoa di Batavia 1740

Tunggu deskripsi lengkapnya

Persaingan Belanda, Inggris dan Prancis di Pantai Barat Sumatra, 1770

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pendudukan Prancis di Batavia, 1795

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kapal Perang Dispatch di Era Inggris dan Meletusnya Gunung Tambora, 1815

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kapal Perang Menaklukkan Sultan Palembang, 1821

Tunggu deskripsi lengkapnya

Orang Indonesia Ikut Berlayar ke Belanda, 1831 dan 1857

Tunggu deskripsi lengkapnya

Perang Atjeh 1874

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kapal Gouverneur Generaal Loudon dan Meletusnya Gunung Krakatau, 1883

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pelaut-Pelaut Tual Berlayar ke Soerabaja, 1888

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pelayaran Haji ke Mekkah dan Buku Panduan Haji 1900

Tunggu deskripsi lengkapnya

Tenggelamnya Kapal Titanic, 1912

Tunggu deskripsi lengkapnya

Tenggelamnya Kapal van der Wijck, 1920

Tunggu deskripsi lengkapnya

Tujuh Revolusioner Indonesia dengan Kapal Panama Maru ke Jepang 1933

Tunggu deskripsi lengkapnya

Pendudukan Jepang, Evakuasi Kapal-Kapal Belanda ke Australia, 1942

Tunggu deskripsi lengkapnya

Berakhirnya Kapal-Kapal Belanda dan Angkatan Laut Indonesia, 1950

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Dapatkan Info Produk Terbaru Kami

Masukan Alamat Email Kamu Disini

Gabung bersama media kami.