Sejarah Menjadi Indonesia (24): Alip Ba Ta Gitaris Fingerstyle Mendunia; Ambassador dalam Penyusunan Sejarah Musik Indonesia

shape image

Sejarah Menjadi Indonesia (24): Alip Ba Ta Gitaris Fingerstyle Mendunia; Ambassador dalam Penyusunan Sejarah Musik Indonesia

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia pada blog ini Klik Disini

**Baca pula: Sejarah Menjadi Indonesia (27): From Javaansche Rhapsody (1909) to Bohemian Rhapsody (1975); Fenomena Alip Ba Ta (2019)

***Baca pula: Sejarah Menjadi Indonesia (35): Pemusik Indonesia, Dari Follower Menjadi Leader; Alip Ba Ta Buka Jalan Musik Dunia Maya

*Baca jua: Sejarah Jakarta (79): Orangtua EDDIE van Halen Menikah dalam Jakarta, 1950; Ibu Lahir di Rangkasbitung, Nenek Asli Purworejo

**Baca pula: Sejarah Bandung (46): Eddy Chatelin 1957, Pionir Musik Rock?N Roll (Crazy Rockers); Kelahiran Bandung, Nenek Moyang Padang

***Baca pula: Sejarah Kota Surabaya (25): Sech Albar--Ayah Ahmad Albar--Pionir Musik Gambus; Ucok AKA Harahap, Pionir Musik Rock

Alif Gustakhiyat dengan nama pop Alip Ba Ta pada channel Youtube sudah menyita perhatian publik musik Indonesia. Alip Ba Ta bermusik dengan gaya fingerstyle yang hanya mengandalkan gitar tunggal mampu membunyikan senar dengan sound yg variatif. Gaya yg memainkan senar gitar dengan variatif sebagai karakteristik spesial Alip Ba Ta diantara para gitaris global. Lagu country Leaving On a Jet Plane yg diciptakan & dinyanyikan John Denver mampu digubahnya sesuai jiwa lagu tadi.

Lantas apa hubungannya Alif Gustakhiyat alias Alip Ba Ta menggunakan sejarah musik Indonesia? Alip Ba Ta telah membuka perhatian kita pada dunia musik. Sementara kita telah sejak lama memiliki musik global (world music), tetapi nir pernah populer diseluruh dunia. Alip Ba Ta memakai karya-karyanya diperlukan supaya para musafir musik dunia balik menyambangi Indonesia. Indonesia nir hanya kaya asal daya alam

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Fenomena Alif Ba Ta

Alif Gustakhiyat alias Alip Ba Ta telah memiliki komunitas penggemar sendiri. Saat ini, di akun Youtube Alip Ba Ta yang telah melakukan subscribe sudah mencapai angka 620. Angka ini akan terus meningkat. Untuk kepuasan penonton dapat diukur misalnya dengan mengambil lagu Leaving On a Jet Plane by Jhon Denver pada hari pertama diupload sudah ditonton sebanyak 141 rbx (baca ribu kali). Dengan waktu pencatatan pada tengah malam, pada hari kedua jumlah telah meningkat menjadi 245 rbx, lalu pada hari ketiga telah mencapai 310 rbx. Inilah fenomena Alif Ba Ta.

Talenta musisi Indonesia: Desy, Judika dan Alip Ba Ta
Dalam tiga hari sudah ditonton sebanyak 301 kali, ini menunjukkan para penggemarnya sudah menunggu. Dengan kata lain para penggemar telah memiliki tingkat layalitas yang tinggi. Itulah modal tambahan Alip Ba Ta. Tentu saja pada modal utama, dengan skill yang ada berbagai variasi baru terus dikembangkan. Dengan semakin banyaknya peminat dari luar negeri, bahkan sekelas uncle Igor dan Lim Jeong-hyun alias Funtwo sudah memberi comment, maka sudah memposisikan Alip Ba Ta di dalam peta musik fingerstyle. Dengan demikian, Alip Ba Ta sudah dengan sendirinya telah bertindak sebagai ambassador musik Indonesia.

Alif Ba Ta adalah suatu introduction, tiga huruf awal terpenting dalam memperkenalkan musik Indonesia dan musisi Indonesia ke tangga musik dunia. Dalam hal ini, Alif Ba Ta akan menjadi titik tolak kita untuk menulis sejarah musik Indonesia.

Sejarah musik Indonesia sesungguhnya belum pernah ditulis. Paling tidak di Wikipedia belum ada yang ‘berani’ menulisnya. Memang ada yang mencoba mulai menulinya tetapi, isinya terkesan karangan belaka (imajinasi). Namun demikian, sejarah musik Indonesia seharusnya terdokumentasi dengan baik dan benar, selengkap mungkin dan seakurat mungkin. Itu menjadi tugas seluruh anak bangsa. Sejarah musik Indonesia ini terdiri dari tiga artikel (tiga era yang berbeda) yang dibuat terpisah dan diupload secara serial. Mari kita mulai dengan artikel pertama.

Sejarah Musik Tradisi: Gamelan dan Gordang

Sudah barang tentu musik tradisi sudah eksis sejak lampau di berbagai tempat di Indonesia. Itu terekam dalam berbagai dimensi terutama dalam relief candi-candi. Namun alat-alat musik tersebut tidak diketahui secara jelas digunakan dalam assembel musik apa, bagaimana asal-usul dan karakteristiknya dan dalam hubungan apa digunakan. Semua itu gelap gulita dan baru mendapat titik terang ketika orang-orang Belanda tempo doeloe mulai mencatatnya dan dapat kita pahami pada masa ini.

Musik tradisi tetaplah musik tradisi, tetapi musik tradisi juga mengalami transformasi membentuk musik pop lokal (daerah) dan musik pop global (universal). Dari sinilah kontribusi musik tradisi ke musik dunia (world music). Dari berbagai musik tradisi yang bertransformasi membentuk musik pop dan digemari komunitasnya antara lain musik Jawa, musik Batak, musik Minang dan musik Sunda. Produksi musik pop daerah dari tiga etnik boleh jadi ini karena supply-demand yang tinggi.

Musik tradisi Jawa, yang disebut gamelan, kali pertama keberadaannya dicatat pada tahun 1827 (lihat Bataviasche courant, 17-01-1827). Disebutkan ‘kami baru saja memasuki gerbang ketika para penari dan pemain ang[k]long, yang telah menemani kami tepat waktu, mengucapkan selamat datang kepada kami dengan teriakan nyaring, dan kemudian digantikan oleh penari yang baik, yang memainkan senar dan musik gamelan, salendro dan pelog, menyanyikan lagu-lagu melodi mereka, sementara di bawah pondok (panggung) kecil, tampak menari dengan cara biasa, tanpa merasakan indra mereka, mereka mempersiapkan sosok-sosok yang ramah. Nyanyiannya, kadang-kadang harmonis, tetapi kebanyakan keras dan tidak menyenangkan bagi (telinga) orang Eropa..’.

Catatan musik ini boleh jadi yang pertama untuk musik tradisi Indonesia. Memperhatikan konteks beritanya, musik tradisi tersebut dimainkan di daerah Soenda. Ini juga diperkuat dalam penggunaan alat musik angklung. Gamelan di daerah Soenda juga disebut degung. Dalam permainan musik ini juga terindikasi adanya penggunaan senar yang boleh jadi alat musik ini adalah kecapi. Dalam penggambaran musik gamelan (degung) ini juga dinyatakan dalam sistem nada salendro (tujuh nada) dan pelog (lima nada dalam satu oktaf). Dalam permainan musik ini juga ada indikasi bahwa musik dan tarian dipentaskan bersamaan (komplemen).

Sumber-sumber Belanda tertua seperti catatan harian Kasteel Batavia (Daghregister, 1659-1807) tidak satu pun ditemukan kata muzijk (musik) dan fluit (suling), bahkan untuk kata gong, gamelan, angklung, gondang sekali pun tidak muncul. Tentu saja juga tidak ditemukan dalam buku atau laporan kuno seperti dokumen Marcopolo, Mendes Pinto, de Baros dan jurnal Cornelis de Houtman.

Berdasarkan informasi ini, paling tidak kita telah mengenali lebih awal tiga ensambel musik yang dimainkan oleh penduduk Indonesia: gamelan, angklung dan kecapi (plus seruling). Seperti bahasa, agama, musik (tradisi) juga diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya tanpa mengalami perubahan yang radikal.

Tentu saja tempo doeloe tidak ditemukan musik pop. Musik tradisi adalah dominan, sebab musik tradisi adalah bagian dari budaya, bagian yang memperkaya kehidupan itu sendiri. Namun sangat disayangkan pencatatan musik tradisi ini tidak berkesinambungan dan juga tidak mencakup semua musik tradisi yang ada yang tersebar di berbagai pulau-pulau dan wilayah. Boleh jadi musik tradisi kita berbeda di telinga orang Eropa/Belanda, karena itu mereka kurang menikmatinya dan akibatnya mereka kurang memperhatikan yang pada gilirannya musik-musik tradisi yang hidup di masayarakat lokal kita tidak terdokumentasi secara baik. Ini dengan sendirinya banyak catatan-catatan musik tradisi kita yang hilang. Sudah barang tentu catata-catatan musik tempo doeloe diperlukan pada masa kini untuk mengetahui seberan musik tradisi, untuk melihat seberapa tua keberadaan satu musik tradisi di suatu daerah. Misalnya, kecapi diduga kuat berasal dari Tiongkok, tetapi karena minimnya catatan, kita tidak tahu sejak kapan musik kecapi diintroduksi ke lingungan budaya Sunda, Lalu akhirnya kita juga kehilangan informasi dimana kali pertama musik gamelan tumbuh berkembang: apakah di Jawa, di Sunda atau di Bali dan Lombok.

Setelah sekian lama tidak ditemukan catatan musik tradisi, pada tahun 1846 TJ Willer di dalam laporannya menulis tentang musik tradisi. Musik tradisi Batak di Mandailing dicatat oleh TJ Willer. Disebutkan TJ Willer pertama kali melihat musik tradisi Batak dihadirkan ketika ada satu keluarga mengalami musibah yang mana sesepuh mereka meninggal dunia (tidak disebutnya dimana apakah di Mandheling, Angkola atau Pertibie). Kehadiran musik ini disebutnya untuk mengusir begu. Selanjutnya TJ Willer mendeskripsikan musik tradisi tersebut sebagai berikut:

‘Akhirnya muzijk bergabung di sini (dalam suatu kemalangan). Para pemain bermain satu melodi yang tidak menyenangkan yang diiringi oleh (alat perkusi) drum, banyak variasi dalam drum dari segi ukuran ditambah dengan kekuatan gong, untuk membuat suara mengusir roh jahat dan instrumen begitu melengking di udara. Ini kita bisa menyebut satu mandolin Batak yang juga berasal dari instrumen lainnya. (Lebih lanjut Willer menguraikan) perihal instrument musik tradisi Batak tersebut sebagai berikut: Musik instrumental berpusat pada pasangan drum dengan ukuran yang berbeda, yang biasa tergantung di dalam rumah seorang pamoesoek (radja). Juga tampak gong dan simbal. Sebuah gong besar menjadi bagian dari kekayaan radja. Seroeneh of hobo; rabab of viool (biola), dari nama menunjukkan asal asing; asopi of mandoline, yang terbuat dari wadah kayu, dengan sisi lebar bawah dan sisi sempit ke  atas, leher seperti gitar, di sentuhan dibelah dua dan disediakan sekrup, string kawat, hanya dua jumlahnya, yang dimainkan dengan pena. Dibanding instrumen lain, asopi tampak banyak daya invention dengan kesempurnaan, bahwa alat ini bisa diragukan atau justru alat yang mungkin berasal (asli) Batak. Alat lainnya berupa fluite yang disebut sordam dan oejoep-oejoep; juga gendang boeloe (bamboo), dimana kulit seperti dipotong menjadi string yang dengan kedua ujung tetap melekat pada ujung bamboo yang disangga dengan kayu agar string tegang dan alat itu digunakan dengan tongkat kecil. Musik tersebut mengiringi tarian, dan harus diakui bahwa Batak dengan semangat sejati seni, dimana ras ini cukup piawai paduan suara baik laki-laki maupun perempuan. Mereka kerap terlihat menari oleh lima atau enam gadis-gadis muda yang diantaranya adalah seorang pemuda dengan gerakan pendek. Pertunjukkan mereka sangat jarang terlihat karena memang tidak pernah diadakan dalam upacara publik, sehingga orang Eropa jarang memiliki kesempatan untuk melihatnya. Manortor atau tarian yang bersemangat yang saya tahu paling penuh perhatian dari banyak orang. Gambaran ini seperti tarian yang lama dari Skotlandia, gerakan pendek, sangat cepat dan agak kaku tidak seperti dalam gerakan tarian Jawa maupun Bali. Di dala Batak permainan menghibur dengan pantomim. Saya beberapa kali hadiri ini sudah cukup efektif untuk kepentingan rakyat karena begitu sedikit hiburan yang dimiliki. Namun hal itu perlu dilakukan rehabilitasi agar hiburan di Batak ini cukup tersedia, tapi dengan dominasi penganut agama Mahomedaansche sudah sangat jauh berkurang kegiatan pertunjukannya’.

Catatan musik tradisi dari Tapanoeli ini telah menambah pemahaman kita tentang sebaran musik tradisi. Catatan musik tradisi di Mandailing en Angkola ini merupakan catatan tertua tentang keberadaan musik (tradisi) di daerah Batak di wilayah Tapanoeli.

Seperti halnya catatan musik tradisi tahun 1827 tentang keberadaan (ensambel) musik gamelan, angklung dan kecapi, diberitakan karena bagian tak terpisahkan dari berita dimana dilakukan suatu penyambutan pejabat, hal itu juga yang terdapat dalam laporan Asisten Residen Mandailing en Angkola TJ Willer ((1840-1845). Laporan ini dipublikasikan pada tahun 1846 dengan judul: 'Verzameling der Battahsche Wetten en Instellingeb in Mandheling en Pertibie, Gevolgd van een Overzigt van Land en Volk in die Streken' yang dimuat di dalam Tijdschrift voor Nederlandsch-Indie, 1846. TJ Willer berakhir masa jabatannnya sebagai asisten residen di Afdeeling Mandailing en Angkola (Residentie Tapanoeli). Laporan TJ Willer ini semacam laporan pertanggungjawaban Walikota atau Bupati pada masa ini di hadapan anggota dewan setiap tahun atau ketika berakhirnya masa kepemimpinannya. TJ Willer memasukkan perihal musik tradisi di dalam laporan karena musik tradisi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari penduduk. Sudah barang tentu tidak setiap Asisten Residen memasukkan perihal musik tradisi di dalam laporannya karena setiap daerah yang memiliki musik tradisi, intensitasnya berbeda-beda sehingga musik tradisi tidak dianggap penting di dalam laporan pertanggungjawaban yang dibuat. Musik tradisi di Afdeeling Mandailing en Angkola dianggap sangat penting.

Upaya Pendokumentasian Musik Tradisi

Seiring dengan semakin intensnya kegiatan pemerintah Hindia Belanda dan semakin meluasnya pengaruh kekuasaan Belanda di Hindia Belana (baca: Indonesia), para pelancong juga semakin banyak yang berdatangan. Para pelancong ini bahkan berani datang ke suatu wilayah dimana belum pernah datang sebelumnya orang Eropa. Laporang-laporan perjalanan mereka dipublikasikan di media surat kabar dan hasil lukisannya diikutkan dalam suatu pemeran seni.

AJ van der Ae, 1846
Mereka ini tergolong kontributor pertama dalam pendokumentasian musik, tari dan bentuk pertunjukan lainnya. Demikian juga para pejabat-pejabat pemerintah Hindia Belanda yang memulai kegiatan pemerintahan, termasuk di wilayah yang baru, pada akhir masa jabatan menulis laporan seperti yang disebut di atas laporan TJ Wiler di Afdeeling Mandailing en Angkola pada tahun 1846. Adakalanya para pejabat ini selama mereka bertugas mengirim tulisan-tulisan ke surat kabar. Laporan-laporan inilah yang kemudian menjadi rintisan dalam penulisan buku dimana di dalamnya terbaca catatan-catatan yang terkait dengan aspek sejarah.

Dalam buku yang dirangkum oleh AJ van der Ae berjudul Neerlands Oost-Indië, of Beschrijving der Nederlandsche bezittingen in Oost-Indie yang dipublikasikan pada tahun 1846 sudah teridentifikasi berbagai hal di Hindia Belanda termasuk keberadaan musik tradisi, aneka permainan rakyat seperti catur, sastra dan bahasa serta berbagai bentuk seni dan budaya penduduk. Buku ini terdiri dari rangkuman yang dibagi ke dalam seksi juga dilampirkan artikel-artikel yang ditulis oleh plancong maupun pejabat pemerintah baik yang sudah diterbitkan dalam jurnal maupun yang belum . Buku ini seakan telah bertindak sebagai ensiklopedia pertama tentang Indonesia (baca: Hindia Belanda).

Dalam buku ini yang terkait denga musik disarikan keberadaan wayang yang dikaitkan dengan musik gamelan, fungsi dalang, identifikasi ganmelan pelog, gamelan salendro, sinden, topeng, pantomim dan ronggeng serta angklong. Juga diidentifikasi tarian seperti Srimpi bahkan tentang konstum para pelakon. Namun bagaimana musik gamelan dimainkan dan alat-alat apa saja yang digunakan tidak dijelaskan secara eksplisit. Tampaknya relasi antara satu hal dengan hal yang lain yang diutamakan seperti relasi gamelan dan tarian dan sinden. Dalam buku ini tentang musik gamelan alat musiknya disebut sebagai berikut: gambang, ketjer, gonggong, bonang. Ketipoeng, kendang, tjelempong, soeling dan rabab. Satu hal yang khusus dalam buku ini dicatat keberadaan alat musik trwangsa dari Soenda (semacam rabab). Satu-satunya sumber yang mendeskripsikan alat-alat musik yang digunakan secara terperinci adalah tulisan TJ Willer di Afdeeling Mandailing dan Angkola. Dalam tulisan TJ Willer sudah merinci ukuran variasi gendang dan beberapa ukuran alat musik dari metal. Satu yang khas dalam tulisan TJ Willer adalah musik tiup yang dicatatnya sebagai sordam dan musik tiup lainnya sejenis trompet yang dicatatnya sebagai saroeni. Juga TJ Willer mencatat keberadaan alat musik petik yang disebut asapi (semacam gitar bersenar dua).

Pengaruh Musik Barat Terhadap Musik Tradisi

Musik barat masuk ke Indonesia (baca: Hindia) melalui orang-orang Eropa/Belanda. Elemen musik Barat hadir sebagai musik di kalangan militer. Musik militer ini kerap dipertunjukkan dalam acara-acara resmi di dalam kalangan militer atau pemerintahan. Jika sebelumnya tercatat ketika menyambut pejabat pemerintah (Belanda), pejabat lokal menyajikan musik tradisi. Di dalam pemerintahan dan militer Belanda yang dihadirkan adalah ensambel musik yang dimainkan oleh para tentara. Musik militer juga mengiringi parade (militer).

Musik militer terdiri dari instrumen musik yang sudah dimodernisasi seperti alat musik tabuh (drum, perkusi), simbal, alat musik tiup dari metal seperti trompet dan seksofon. Tentu saja adakalanya disertakan alat musik gesek seperti biola, tapi jarang atau tidak pernah menghadirkan alat musik petik seperti gitar. Alat-alat musik petik dan alat musik gesek boleh jadi dimainkan secara individu atau grup di dalam rumah atau acara pertujukan di dalam ruangan seperti di gedung societeit. Saat musik Barat ini semakin intens dilakukan dan semakin meluas ke berbagai wilayah, musik tradisi tetap hidup di tengah-tengah masyarakat lokal.

Pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) mulai digagas oleh para pensiunan militer untuk mendirikan klub sosial (societeit). Gedung klub sosial pertama dibangun di Riswijk, Batavia tahun 1817 yang disebut gedung Societeit Harmonie. Di gedung inilah sebagaian para anggota membentuk klub musik (seperti klub berburu, klub pacuan kuda dan sebagainya). Klub musik ini menjadi bagian dari kegiatan-kegiatan yang diselanggarakan seperti acara tahunan, acara ulang tahun dan bahkan acara perkawinan. Klub musik ini terus hidup, berganti orang berganti generasi, dan alat-alat musik yang digunakan juga semakin berkembang (sesuai dengan perkembangan di Eropa).

Klub-klub sosial juga didirikan di kota-kota besar dan kota-kota utama di pedalaman. Klub sosial didirikan tahun 1834 di Padang lalu menyusul klub sosial di Soerabaja dan Semarang. Lalu klub sosial di Batavia berkembang, klub Harmoni menjadi klub umum dan muncul klub militer di Weltevreden yang disebut societeit Concordia. Dalam perkembangannya klub sosial Concordia dibuka juga di Bandoeng dan Soerabaja. Di Medan pada tahun 1887 didirikan klub sosial de Witte.

Pada awal tahun 1870 sudah mulai ada konser musik dengan kedatangan pemusik-pemusik dari Eropa (umumnya Eropa Timur dan Italia) yang datang ke Jawa. Di Semarang kedatangan concert van Mm. Mendelssohn en Signor Orlandini (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 18-04-1878). Di Soerabaja kedatangan pemusik dan artis dari Italia (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-09-1878).

Besar kemungkinan tiga kota besar di pantai utara Jawa (Batavia, Semarang dan Soerabaja) kedua grup musik mancanegara ini mengunjunginya. Grup musik militer juga masih mendapat tempat yang digelar di Concordia dengan berbagai variasi musik yang dimainkan termasuk musik klasik (Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 04-01-1879).

Para pemain musik dan penikmat musik di Hindia Belanda tidak kekurangan informasi tentang perkembangan musik Eropa. Surat kabar di Hindia Belanda uga terus melansir berbagai analisis-analisis musik di Belanda. Sebagai contoh Bataviaasch handelsblad, 24-01-1879 mengulas konser-konser di Belanda seperti pemain biola JJ Koert yang melakukan konser musik klasik dibandingkan dengan pemusik klasik ternama dari Italia dan Jerman. Ini mengindikasikan bahwa surat kabar juga terus menambah pengetahuan musik para penikmat musik di klub-klub musik di Jawa.

Untuk sekadar diketahui, penikmat-penikmat musik di Jawa cukup banyak dari kalangan orang kaya, para pengusaha dan pejabat-pejabat. Pengusaha-pengusaha di Jawa yang bermukim di Batavia, Semarang dan Soerabaya tidak kalah dengan kekayaan pengusaha-pengusaha di Eropa. Oleh karenanya pengusaha-pengusaha ini lewat klub musik di Sociteit tidak akan kesulitan mendatangkan pemusik dari Eropa. Dan tentu saja para pemusik-pemusik Eropa ini sangat antusias datang karena musik adalah musik, selagi peminatnya masih ada sekalipun jauh ke negara-negara di timur. Ada tantangan bagi mereka yang datang jauh naik kapal layar ke negeri jauh. Kombinasi inilah, pemusik yang tertantang dan audiens yang kaya raya bertemu di gedung konser. Pertemuan ini semakin memperkaya apresiasi musik di kalangan peminat dan penikmat musik baik di Batavia, Semarang maupun Soerabaja. Konser-konser pemusik lokal di Batavia juga megutip tiket f2.4 entree per persoon (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 13-11-1879). Ini mengindikasikan bahwa pasar (industri) musik juga telah merambah kota-kota di Jawa.

Musik mudah ditularkan. Hal ini karena mudah dinikmati dan dicerna telinga. Penilaian (apresiasi) musik makin lama makin tinggi. Itu berarti masyarakat musik juga berkembang seperti halnya di kota-kota di Jawa. Pada tahun 1881 di Soerabaja, seorang guru musik dengan anak didik sebanyak 60 orang telah memulai babak baru dengan memberanikan menggelar konser di Societeit (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 26-02-1881).

Grup musik instrumen alat tiup di Sipirok, 1890
Ini mengindikasikan bahwa stakeholder makin bertambah, tidak hanya penonton yang semakin antusias dengan pemusik dari militer maupun pemusik yang didatangkan dari Eropa, tetapi juga sudah muncul dari kalangan sekolah-sekolah musik (guru dan murid-muridnya). Tentu saja itu tidak hanya di kalangan orang-orang Eropa, tetapi juga termasuk di kalangan penduduk lokal yang mana orang-orang Jerman telah mengintroduksi (alat-alat) musik modern di kalangan pemuda di Sipirok, Tapanoeli (1880). Pada tahun 1882 di Batavia terdapat maklumat di surat kabar bahwa musik sudah waktunya diintroduksi sebagai bagian dari kurikulum sekolah (De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 20-02-1882).

Dalam sejarah awal musik di Indonesia (baca: Hindia Belanda) tampak banyak cara untuk menghadirkan musik di dalam kota. Peran para anggota komunitas musik (Muziek Verbond) tampak strategis. Musik hadir tidak hanya untuk kebutuhan internal komunitas, tetapi juga berkolaborasi dengan pemerintah untuk menghadirkan musik untuk memenuhi kebutuhan hiburan bagi warga. Hal yang bersifat sinergis terjadi: komunitas musik sebagai penyelenggaran dapat meraih keuntungan hasil penjualan karcis (setelah membayar kontrak para pemusik), pemerintah setempat mendapat nilai pajak hiburan.

De locomotief, 08-12-1891
Situasi dan kondisi ini menyebabkan lahirnya industri musik di Hindia Belanda. Para penikmat musik makin meluas dan beragam, grup-grup dan sekolah musik bermuculan, materi musik masuk kurikulum sekolah, penyelenggaraan konser musik makin kerap dilakukan, para pemudik Eropa semakin kerap melakukan tour ke Hindia, toko-toko menjual alat-alat musik dengan harga terjangkau dan muncul rumah-rumah produksi untuk menghasilkan alat-alat musik yang lebih berkualitas. Penjualan piringan hitam dan perangkannya semakin marak. Semua itu bersinergi, dan mendapat dukungan dari pemerintah, yang memandang musik sebagai hiburan warga Eropa dan penduduk lokal. Industri musik telah hadir di Indonesia (baca: Hindia Belanda). Tradisi musik militer dan musik tradisi telah diperlengkapi dengan hadirnya musik pop dari Eropa. Dalam fase inilah musik tradisi mendapat pengaruh dari (alat) musik Barat (Eropa).

Javaansche Rhapsodie by Paul Seelig (1909) Lebih Tua dari Bohemian Rhapsody by Queen (1975): Bismillah! We Will Not Let You Go

Upaya memformulasikan musik tradisi (Indonesia) dengan musik modern (Eropa) sesungguhnya sudah lama dilakukan. Adalah Paul Seeling yang dapat dibilang sebagai yang pertama yang membuat eksprimen kolaborasi musik tradisi dan musik Eropa pada tahun 1909. Hasilnya sangat bagus. Kolaborasi ini disebut Paul Seelig sebagai Javaansche Rhapsodie (lihat De Preanger-bode, 03-05-1923).

Paul Seelig lahir 23 Februari 1876 di Breda. Ayahnya, Mr Seelig adalah seorang kapelmeester (director of a choir or orchestra) di Breda, yang setahun setelah kelahirannya, pindah ke Hindia Belanda (baca: Indonesia), dimana sang ayah memegang posisi serupa di Batavia dan Semarang. Di Semarang, sang ayah berkenalan dengan orang istana Solosche, yang kelak akan sangat penting bagi (Paul) Seelig.

Paul Seelig (1876-1945)
Paul Seelig tahun 1888 kembali ke Eropa memulai pendidikan musiknya di Leipziger Conservatorium, yang mana sebagai gurunya Klengel, Reinicke dan Jadasson. Paul Seelig kemudian berguru di Munich dibawah arahan Thuille. Setelah selesai studi musik di Eropa, Paul Seelig kembali ke Indonesia. Lalu setelah tiga tahun tinggal di Semarang, Paul Seelig kembali lagi ke Jerman dibawah arahan Weingartner (seorang pemain cello), dan pada 1898 Paul Seelig di Essen. Pada tahun 1899, Paul Seelig telah kembali berada di Indonesia untuk seterusnya. Alasan untuk ekspedisi barunya ke Jawa adalah permintaan dari Daniël de Lange, yang ingin menulis buku teks baru tentang harmoni dan membutuhkan informasi tentang musik Jawa untuk itu; atas permintaannya, Paul Seelig datang ke Hindia dan menghabiskan waktu yang lama di Bali, dimana Paul Seelig hidup sepenuhnya sebagai penduduk asli dan mengatur sebanyak mungkin terlibat dalam keseharian masyarakat untuk mengenal sepenuhnya musik Bali. Kemudian dia pergi ke Solo dan menetap sebagai guru musik, sementara Paul Seelig juga bertanggung jawab atas orkestra Eropa yang dimiliki oleh Soenan. Kematian ayahnya membuat Paul Seelig harus kembali ke Eropa (untuk mengelola bisnis peninggalan ayahnya).

De Preanger-bode, 03-05-1923
Paul Seelig berbagi waktu untuk bisnis dan seni. Berkat ketekunannya yang luar biasa, Paul Seelig berhasil mengimbangi musiknya; contoh dari hal ini adalah Paul Seelig memasukkan elemen harpa  dalam orkestranya. Sebagai seorang komposer, Paul Seelig merasa terpanggil untuk menjadi mediator antara musik Jawa (musik tradisi) dan musik Barat (musik modern) yang disebutnya sebagai Javaansche Rhapsodie (pada tahun 1909). Tidak itu saja, Paul Seelig juga dalam program aransemennya memadukan elemen gamelan yang diselingi dengan irama musik gambus Arab. Karya Javaansche Rhapsodie ini kali pertama ditampilkan dalam sebuah pagelaran musik di Utrecht dibawah label Hutschenruyter. Berkat kesegarannya yang menawan, komposisi itu telah menempatkan karier musiknya di tempat terhormat di Eropa dan terutama di Amerika.

Setelah sukses di Eropa dan Amerika, Paul Seelig (kembali) datang ke Hindia Belanda (baca: Indonesia). Paul Seelig akan manggung di gedung societeit Concordia, Bandoeng pada hari Jumat tanggal 4 Mei 1923. Paul Seelig dengan orkestranya didatangkan dengan biaya yang sangat mahal oleh pegiat dan penikmat musik di Hindia Belanda yang tergabung dalam Het Kunstkringconcert. Pengurus (bestuur van den Kunstkring) telah mengambil risiko dengan menanggung biaya mahal untuk mendatangkan Paul Seelig untuk tampil di Bandoeng.

Pada masa ini, dalam soal Javaansche Rhapsodie kita teringat grup musik rock Wueen yang membawakan lagu hitnya Bohemian Rhapsody yang pada liriknya terdapat kalimat ‘Bismillah! We Will Not Let You Go’. Lagu Bohemian Rhapsody yang dibawahkan grup Queen yang diciptakan oleh Freddie Mercury (1975). Lagu ini pula yang kini dirilis kembali oleh Alip Ba Ta dalam format fingerstyle.

Paul Seelig diundang Kunstkring Bandoeng sehubungan dengan momen peresmian stasion radio telegrafi di Malabar, Bandoeng. Gubernur Jenderal de Graeff akan meresmikan stasion radio terkuat di dunia ini pada tanggal 5 Mei 1923. Sebelum peresmian, Gubernur Jenderal yang dijadwalkan sudah berada di Bandoeng pada hari Jumat malam tanggal 4 Mei 1923 Kunstkring Bandoeng menyelenggarakan konser musik selain untuk menyambut kehadiran Gubernur Jenderal di Bandoeng, juga dalam rangka mensukseskan peresmian stasion radio Malabar esok harinya. Dalam konser yang hikmat dimana Paul Seelig sebagai primadona benar-benar membuat Gubernur Jenderal dan para hadirin lainnya puas. Paul Seelig kembali menghadirkan genre musik baru ciptaannya Javaansche Rhapsody.

Gubernur Jenderal kemarin malan menghadiri konser musik di Societetit Concordia dan juga telah berbicara dengan Paul Seelig dengan menyatakan kepuasannya atas karya sang komponis tersebut. Karya Paul Sieleg yang ditampilkan salah satu diantaranya Javaansche Rhapsody (lihat De Preanger-bode, 05-05-1923).

Peresmiaan stasion radio telegrafi Malabar Bandoeng ini menandai era baru dalam penyiaran radio. Stasion Malabar akan terhubung melalui komunikasi radio dengan Belanda dan negara-negara Eropa untuk kali pertama. Radio-radio amatir di Batavia dan Bandoeng yang telah menyiarkan lagu-lagu barat akan dengan sendirinya pendengar radio akan disuguhi oleh musik-masik bari di Eropa/Amerika terbaru. Musik tradisi sendiri masuk radio baru terdeteksi pada tahun 1834 [Bersambung: Sejarah Menjadi Indonesia (27): From Javaansche Rhapsody (1909) to Bohemian Rhapsody (1975); Fenomena Alip Ba Ta (2019)]

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang