Sejarah Kota Medan (67): T. Amir Hamzah, ‘Anak Langkat’, Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Persatuan Kita (The Untold Story) - JagoMarketing | Jasa Whatsapp Blast

Sejarah Kota Medan (67): T. Amir Hamzah, ‘Anak Langkat’, Bahasa Melayu Menjadi Bahasa Persatuan Kita (The Untold Story)

*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini

Siapa Tengku Amir Hamzah sudah sejak lama kisahnya secara panjang lebar telah diriwayatkan dan dipersepsikan secara umum. Tengku Amir Hamzah memulai kiprahnya sebagai Ketua Panitia Kongres Indonesia Muda di Batavia (1917). Tengku Amir Hamzah telah dipanggil Sultan untuk ‘berjuang’ menjaga kelangsungan kesultanan. Kepulangannya dari rantau kembali ke kraton menjadi akhir perjalanan hidupnya dalam tragedi Revolusi Sosial di Sumatra Timur (1946). Para pemuda pejuang curiga Tengku Amir Hamzah menjadi antek Belanda. Ketika arus gelombang menginginkan Sumatra Timur bebas dari Belanda, apakah Tengku Amir Hamzah telah mengingkari upaya pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)?



Amir Hamzah (kiri) dan Masdoelhak (kanan) di Belanda, 1932
Sejarah Tengku Amir Hamzah sudah banyak diriwayatkan. Namun siapa Tengku Amir Hamzah sebenarnya kurang mendapat tempat di dalam sejarah yang diceritakan di Indonesia. Profil seseorang seharusnya diurai dari dua sisi (both side). Sejarah yang tidak diceritakan (the untold story) tentang Tengku Amir Hamzah sangat berlimpah. Banyak catatan sejarah Tengku Amir Hamzah yang telah ditulis tidak tepat.


Lantas siapa sebenarnta Tengku Amir Hamzah? Riwayat ini yang akan dideskripsikan dalam artikel ini. Tengku Amir Hamzah (jika boleh dikata) adalah sosok unik dalam sejarah sastra dan bahasa Indonesia. Tengku Amir Hamzah bukanlah tokoh berkpribadian ganda, tetapi justru figur berkpribadian tunggal (unik). Riwayat Tengku Amir Hamzah yang asli inilah yang tidak ditemukan dalam sejarah (kontemporer) di Indonesia. Mari kita telusuri.


Revolusi Sosial di Sumatra Timur: Amir Hamzah Dibunuh


Amir Hamzah memulai pendidikan menengah (MULO) di Medan pada tahun 1927 (lihat De Sumatra post, 17-05-1929). Beberapa teman sekelasnya adalah Mahadi, Johan Siregar, Abdul Wahab, Aboe Bakar, Sori Goenoeng, Abdoel Gani, Abbas Siregar dan Panjahatan Siregar. Amir Hamzah melanjutkan pendidikannya ke Jawa. Amir Hamzah menekuni bidang sastra di sela-sela pendidikannya di bidang hukum. Amir Hamzah juga disebut aktif dalam kegiatan kepemudaan.




Pesta Amir dan Kamaliah (De Sumatra post, 28-03-1938)
Amir Hamzah kemudian pulang ke Langkat. Kraton Langkat memanggil. Amir Hamzah akan dinikahkan dengan putri pamannya Sultan Langkat bernama Tengku Kamaliah. Pada tanggal 9 April 1937 Tengku Amir Hamzah bertunangan pada tanggal yang sama Sultan dan permaisuri menikah pada dua puluh tahun yang lalu (De Sumatra post,    10-04-1937). Antara dua sepupuan ini akan dinikahkan pada tanggal 21 Maret 1938. Di Tandjong Poera sudah disiapkan satu komite untuk menyiapkan pesta pernikahan yang lebih dahulu akan dimeriahkan dengan pasar malam (lihat De Sumatra post, 28-02-1938). Acara puncak pesta pernikahan juga dihadiri oleh Asisten Residen Langkat, sultan-sultan dari Deli, Serdang, Asahan dan Kwaloe serta otoritas sipil dan militer. Tengkoe Amir Hamzah mendapat gelar Tengkoe Indera Putera (lihat De Sumatra post, 28-03-1938).



Amir Hamzah menjadi salah satu korban dalam tragedi Revolusi Sosial di Sumatra Timur tahun 1946. Revolusi Sosial dalam hal ini merujuk pada penyerangan terhadap keluarga kesultanan di Sumatra Timur dengan dalih sebagai antek dari Belanda (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 04-03-1949). Amir Hamzah termasuk salah satu korban yang dibunuh pada tanggal 20 Maret 1946.


Revolusi sosial adalah terminologi yang digunakan oleh pers berbahasa Belanda di Indonesia. Revolusi sosial tidak hanya di Sumatra Timur. Pada bulan September 1945 terjadi revolusi sosial di Depok. Para penyerang menawan orang-orang Depok yang berafiliasi dengan Belanda. Di Lampung juga pernah terjadi revolusi sosial yang mana Residen Mr. Abbas Siregar dan para pejabat pemerintah RI yang sah digulingkan oleh kelompok tertentu. Revolusi ini tanpa pertumpahan darah (lihat Limburgsch dagblad, 09-10-1946). Revolusi sosial juga terdapat di daerah yang lainnya. Dalam revolusi sosial di Sumatra Timur telah ditangkap semua sultan, kecuali Sultan Deli, istananya dijaga oleh pasukan Inggris (Het nieuws : algemeen dagblad, 12-03-1946).


Setelah Belanda kembali dan terbentuk Negara Sumatra Timur dilakukan peringatan revolusi sosial. Peringatan revolusi sosial tersebut diadakan di gedung AMVJ pada tanggal 4 Maret 1949. Dalam peringatan ini hadir Sultan Deli, Sultan Asahan dan anak-anak Sultan Serdang (Het nieuwsblad voor Sumatra, 04-03-1949). Dari pertemuan ini muncul satu resolusi untuk memanggil Dr. Amir yang saat ini berada di Belanda untuk datang ke Medan untuk didengar sehubungan dengan banyaknya pembunuhan dan penghancuran yang dilakukan selama revolusi sosial Maret 1946. Dr. Amir saat itu adalah Gubernur Republik Indonesia di Sumatra Timur (Nieuwe Apeldoornsche courant, 11-03-1949). Soekarno menginginkan dilakukan penyelidikan  tentang ‘revolusi sosial’ (Het nieuwsblad voor Sumatra, 28-09-1949).


Tunggu deskripsi lengkapnya


Armijn Pane, Amir Hamzah dan Sanoesi Pane: Riwayat Awal Bahasa Indonesia


Amir Hamzah telah tiada, tetapi Amir Hamzah meninggalkan karya sastra. Suatu kumpulan (koleksi) puisi yang diberi judul Njanji Soenji dan Setanggi Timoer (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 01-12-1950). Njanji Soenji diterbitkan oleh (majalah sastra) Poedjangga Baroe pada bulan November 1937. Puisi-puisi yang terdapat dalam buku Njanji Soenji ini tidak mencantumkna nama tempat dan tanggal. Buku ini diterbitkan setelah pertunangannya dengan Tengku Kamaliah pada tanggal 21 Maret 1937. Boleh jadi Amir Hamzah telah menulis puisi-puisi tersebut diantara bulan Maret dan bulan November 1937 atau hari-hari sebelum pertunangannya.


Sejak pernikahannya (1938), Amir Hamzah menetap di Langkat. Ketika Sultan Langkat berangkat ke Belanda untuk mengikuti perayaan ratu (cukup lama), di Langkat diangkat dewan yang terdiri dari tiga pangeran. Salah satu anggota dewan itu adalah Tengkoe Pangeran Indra Poetra (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 18-07-1938). Ketika Gubernur Jenderal datang ke Langkat tahun 1940, Amir Hamzah turut menyambut dengan hikmat. Amir Hamzah sebagai Loehakhoofd dari Boven Langkat, Pangeran Indra Putera (De Sumatra post, 05-03-1940). Langkat sangat penting saat itu karena ada pertambangan minyak yang diusahakan BPM. Dengan kesibukan Amir Hamzah ikut mengurus negeri Langkat, waktunya menjadi terbatas untuk ikut memperjuangkan Indonesia di pusat di Batavia.


Hubungan Amir Hamzah dan Armijn Pane cukup dekat. Mereka awalnya bertemu di Jawa. Amir Hamzah dari Medan ke Jawa , sedangkan Armijn Pane BTL dari Padang Sidempoean. Setelah menyelesaikan pendidikan MULO di Medan, Amir Hamzah berangkat ke Jawa tahun 1930 untuk melanjutkan studi (AMS). Pada tahun 1934 Amir Hamzah memulai kuliah di Rechthoogeschool di Batavia.


Pada tahun 1924 Sanoesi Pane masih berada di AMS. Sanusi Pane diberitakan naik dari kelas dua ke kelas tiga (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 17-05-1924). Sementara Armijn Pane di tahun yang sama kuliah di STOVIA. Armijn diberitakan pada tingkat persiapan naik dari kelas satu ke kelas dua (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 26-05-1924). Kakak kelas Armijn Pane adalah Soeleman Siregar (tingkat persiapan dari kelas dua ke kelas tiga); Gindo Siregar (tingkat lanjutan naik dari kelas satu ke kelas dua; Amir Hoesin Siagian dari kelas tiga ke kelas empat; Aminoeddin Pohan dan Djabangoen Harahap, keduanya dari kelas lima ke kelas enam. Armijn Pane keluar dari sekolah kedokteran dan mengikuti jalur abangnya Sanusi Pane di AMS jurusan sastra dan bahasa. Armin Pane masuk AMS di Soerakarta. Di sekolah inilah Armijn Pane dan Amir Hamzah bersua. Amir Hamzah masuk tahun 1930 dan Armijn Pane lulus tahun 1931. Pada tahun 1933 majalah sastra Poedjangga Baroe didirikan oleh Takdir Alisjahbana, Amir Hamzah dan Armijn Pane (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 01-12-1950).


Ketika manajemen pusat De Jong Islamieten-Bond dipindahkan ke Semarang tahun 1935, Amir Hamzah terpilih sebagai sekretaris dan Gani sebagai bendahara. Salah satu anggota adalah Soegondo (Bataviaasch nieuwsblad, 12-11-1935). Pada tahun ini Amir Hamzah masih kuliah di Rechthoogeschool.




Bataviaasch nieuwsblad, 04-06-1936
Pada tahun 1936 Sanusi Pane memimpin terbitnya majalah Kebangoenan (Bataviaasch nieuwsblad, 04-06-1936). Sanusi Pane bekerjasama dengan Amir Sjarifoeddin. Beberapa bulan sebelumnya telah dibentuk komite intelektual Indonesia (Bataviaasch nieuwsblad, 11-04-1936). Anggota formatur komite ini adalah Poerbatjaraka. Mohammad Yamin. Amir Sjarifoeddin, Sanoesi Pane, Dr. Soebroto dan Miss Maria Ulfah. Pada tahun 1937 didirikan partai Gerindo sebagai ketua A Gani. Turut bergabung para pemimpin partai terkenal, esk Partindo diantaranya Mr. Sartono, Mr. Amir Sjarifoedin, Mr. Moh. Yamin dan Sanoesi Pané (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-05-1937). Pada tahun 1941 diadakan kongres Taman Siswa (Bataviaasch nieuwsblad, 23-09-1941). Beberapa pembicara adalah Poerbatjaraka, Amir Sjarifoeddin (membawakan makalah Verband tusschen national onderwijs en maatschappij) dan Sanusi Pane (dengan makalah berhudul Verschillende 'meeningen over de Indonesische taal).





Foto Algemeen Handelsblad, 13-04-1938
Setelah Amir Hamzah pulang kampung di Langkat menjadi Radja di Boven Langkat, praktis Amir Hamzah tidak pernah terlibat lagi dengan pengembangan sastra dan bahasa Indonesia. Namun dua sahabatnya, Armijn Pane dan Soetan Takdir Alisjahbana dari Tapanoeli terus bergiat bersama Sanusi Pane. Anak Melayu, boleh jadi satu-satunya dari etnik Melayu, Amir Hamzah yang diharapkan turut menggali sastra Melayu ke dalam sastra Indonesia, hanya tinggal kenangan. Amir Hamzah telah menutup diri. Namun demikian, tiga rekannya yang bukan etnik Melayu tetapi (justru) berasal dari Tapanoeli (Armiijn, Soetan Takdir Alisjahbana dan Sanusi Pane) melanjutkan perjuangan untuk membangun fondasi sastra dan bahasa Indonesia.



Soetan Takdir Alisjahbana asli Natal lahir di Natal, Afdeeling Padang Sidempoean (sebelumnya bernama afdeeling Mandailing dan Angkola). Kota Natal adalah kota pantai yang menjadi pelabuhan di onderafdeeling Mandailing. Dua bersaudara Sanusi Pane dan Armijn Pane asli Sipirok Angkola lahir di Moeara Sipongi, Mandailing. Ayah mereka bernama Soetan Pangoerabaan Pane (lahir di Sipirok) adalah guru dan menjadi kepala sekolah di Moeara Sipongi. Soetan Pangeorabaan Pane adalah sastrawan lokal di Afdeeling Padang Sidempoean dengan roman/nevel terkenalnya berjudul Tolbok Haleon (saya masih sempat membacanya di perpusatakaan SMP tempo dulu). Sutan Pangoerabaan Pane tidak hanya mantan guru dan sastrawan tetapi juga pengusaha di bidang media cetak dan penerbitan buku di Padang Sidempoean. Boleh jadi, dari sang ayah, Soetan Pangoerabaan Pane menurun ke anak Sanusi Pane dan Armijn Pane menjadi sastrawan terkenal.


Sastra dan bahasa Melayu di Afdeeling Mandailing dan Angkola bukanlah baru. Bahkan sastra dan bahasa Melayu dalam aksara Latin di Mandailing dan Angkola jauh lebih dulu eksis jika dibandingkan di Sumatra Timur. Sati Nasution alias Willem Iskander, pendiri sekolah guru (Kweekschool) di Tanobato, Mandailing sudah mempraktekkan pengajaran (proses pembelajaran) dalam tiga bahasa sekaligus: Batak, Belanda dan Melayu. Praktek ini diakui oleh Inspektur Pendidikan di Batavia, Crijs yang pernah berkunjung ke Kweekschool Tanobato pada tahun 1863.


Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels, nieuws- en advertentieblad, 20-03-1865: ‘Izinkan saya mewakili orang yang pernah ke daerah ini. Di bawah kepemimpinan Godon daerah ini telah banyak berubah, perbaikan perumahan, pembuatan jalan-jalan. Satu hal yang penting tentang Godon telah membawa Willem Iskander studi ke Belanda dan telah kembali kampungnya. Ketika saya tiba, disambut oleh Willem Iskander, kepala sekolah dari Tanabatoe diikuti dengan enam belas murid-muridnya, Willem Iskander duduk di atas kuda dengan pakaian Eropa murid-muridnya dengan kostum daerah….Saya tahun lalu [1863] ke tempat dimana sekolah Willem Iskander didirikan di Tanobato…siswa datang dari seluruh Bataklanden…mereka telah diajarkan aritmatika, ilmu alam, prinsip-prinsip fisika, sejarah, geografi, matematika…bahasa Melayu, bahasa Batak dan bahasa Belanda….saya sangat puas dengan kinerja sekolah ini’.


Willem Iskander juga adalah sastrawan yang andal di jamannya. Willem Iskander sudah mulai menyadur buku (buku pelajaran dan buku cerita) dan diterbitkan di Batavia tahun 1862. Buku terkenalnya berjudul Siboeloes-boeloes, Siroemboek-roemboek yang diterbitkan di Batavia 1871 (bayangkan, kota Medan saat itu belum ada). Buku ini berisi puisi dan prosa dalam bahasa Batak Angkola-Mandailing. Dalam dua bait terdapat puisi yang menetang Belanda. Ketika sekolah guru yang lebih besar dibukan di Padang Sidempoean (1879) muncul seorang guru yang sangat peduli sastra dan bahasa Batak bernama Charles Adriaan van Ophuijsen. Selama menjadi guru delapan tahun (lima tahun terakhir menjadi direktur sekolah guru Padang Sidempoean, Charles Adriaan van Ophuijsen mengajarkan sastra dan bahasa Melayu. Charles Adriaan van Ophuijsen adalah penulis tatabahasa Melayu yang pertama secara komprehensif.


Ada dua siswa Charles Adriaan van Ophuijsen di sekolah guru Padang Sidempoean yang sukses menjadi guru dan aktif memperjuangkan bahasa Melayu di Nederlandsch Indie (baca: Hindia Belanda) di tengah penggunaan bahasa daerah (bahasa etnik) dan bahasa Belanda, yakni bernama Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda dan Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan. Dja Endar Moeda adalah penulis roman pertama dari kalangan pribumi yang berjudul Hikajat Tjinta Kasih Sajang (penerbit Otto Bäumer di Padang, 1895). Pada tahun 1897, Dja Endar Moeda menawarkan roman keduanya kepada Percetakan Winkeltmaatschappij (sebelumnya Paul Baiimer en Co). Judulnya Hikajat Dendam Ta' Soedah, Kalau Soedah Merewan Hati. Percetakan Winkeltmaatschappij adalah penerbit koran berbahasa Melayu di Padang bernama Pertja Barat. Editor Pertja Barat (orang Belanda) menganggap romannya Dja Endar Moeda ini layak diterbitkan (lihat Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 25-10-1897). Sementara itu Soetan Casajangan adalah pendiri perhimpunan pelajar Indonesia di Belanda (Indisch Vereeniging) tahun 1908. Sejak Charles Adriaan van Ophuijsen diangkat menjadi guru besar di Universiteit Leiden untuk pengajaran sastra dan bahasa Melayu, Soetan Casajangan menjadi asistennya. Pada tahun 1910, Soetan Casajangan bersama Mangaradja Soeangkoepon  mendirikan Julianafonds untuk mempelajari bahasa Indonesia di Belanda (lihat De Indische courant, 08-04-1927).


Pengaruh Charles Adriaan van Ophuijsen sangat besar di dalam sastra dan bahasa Batak serta sastra dan bahasa Melayu di dalam perkembangan sastra dan bahasa di Padang Sidempoean. Soetan Pangoerabaan Pane dan Parada Harahap adalah dua tokoh penting yang berkenaan dengan ini selanjutnya.


Parada Harahap memulai karir sebagai editor di surat kabar yang terbit di Medan pada tahun 1918. Parada Harahap juga pernah menjadi editor surat kabar Pewarta Deli (surat kabar yang didirikan oleh Dja Endar Moeda di Medan pada tahun 1909).. Pada tahun 1919 Parada Harahap menerbitkan surat kabar berbahasa Melayu di Padang Sidempoean bernama Sinar Merdeka. Saat itu sudah ada surat kabar berbahasa Batak di Padang Sidempoean bernama Poestaha (didirikan oleh Sortan Casajangan tahun 1915). Pada tahun 1923 Parada Harahap hijrah ke Batavia dan mendirikan surat kabar Bintang Hindia (1923); mendirikan kantor berita pribumi pertama bernama Alpena (1925) dan surat kabar Bintang Timoer (1926).


Rangkaian inilah yang menjadikan kedudukan Padang Sidempoean sebagai basis pengembangan awal bahasa Melayu di Hindia Belanda. Rangkaian ini pula satu sama lain terhubung: Willem Iskander, Charles Adriaan van Opuijsen, Dja Endar Moeda, Soetan Casajangan, Soetan Pangoerabaan Pane, Parada Harahap hingga Merari Siregar, Armijn Pane, Soetan Takdir Alisjahbana, Sanusi Pane. Jejak pendahulu ini diikuti oleh Madong Lubis, Mochtar Lubis, Ida Nasution dan Ashadi Siregar.


Willem Iskander memperkenalkan bahasa Melayu dalam pengajaran di Kweekschool Tanobato sejak 1862. Ini bukan tidak disadari oleh Willem Iskander, ternyata kemudian alumni Kweekschool Tanobato banyak dikirim menjadi guru di luar Mandailing dan Angkola di daerah Riaouw, Oostkust Sumatra dan Atjeh. Lalu seorang Indo, anak mantan Controleur di Natal, Charles Adriaan van Ophuijsen, seorang pejabat (poziener) di Panjaboengan melepaskan tugasnya dan mempelajari sastra dan bahasa Batak dan Melayu (1875). Setelah dua tahun Kweekschool Padang Sidempoean dibuka (1879), Charles Adriaan van Ophuijsen diangkat menjadi guru di ekolah pengganti Kweekschool Tanobato tersebut. Charles Adriaan van Ophuijsen selama di Padang Sidempoean, selain mengajar bahasa (Batak dan Melayu) juga mempelajari (riset) sasstra/bahasa Batak/Melayu. Setelah menjadi direktur Kweekschool Padang Sidempoean selama lima tahun, van Ophuijsen diangkat menjadi Inspektur Pendidikan di Pantai Barat Sumatra (Sumatra’s Westkust). Salah satu alumni Kweekschool Padang Sidempoean (murid Charles Adriaan van Ophuijsen) yakni Dja Endar Moeda setelah pensiun guru menjadi editor dan pemilik surat kabar serta percetakan di Padang. Dja Endar Moeda, editor surat kabar Pertja Barat mengusulkan agar di sekolah pribumi, bahasa pengantarnya adalah bahasa Melayu, bukan bahasa Belanda (Sumatra-courant: nieuws-en advertentieblad, 25-03-1898). Alasannya adalah bahwa sangat sulit bagi pribumi untuk bisa berbahasa Belanda. Mungkin inspirasi ini bersumber dari kiprah  C.A. van Ophuysen adalah orang Belanda, berbahasa Belanda mengajar bahasa Melayu di Padang Sidempoean. Pernyataan Dja Endar Moeda ini membuat petinggi di Batavia tersentak. Suratkabar Sumatra Courant juga memuat hasil wawancara korespondennya di Batavia yang menanyakan langsung kepada Menteri Pendidikan. Koresponden: ‘Apakah penggunaan bahasa kita (maksudnya Belanda) dalam pendidikan akan dihentikan?”. Menteri menjawab: ‘Jangan sampai terjadi, nanti tidak ada ajaran yang lebih mengikat seperti sebelumnya yang terjadi di sekolah guru’. Lalu, Soetan Casajangan (adik kelas Dja Endar Moeda di Kweekschool Padang Sidempoean) di Leiden (bersama Abdul Firman Siregar gelar Mangaradja Soeangkoepon) tahun 1910 mendirikan Julianafonds untuk mempelajari bahasa Indonesia di Belanda. Saat itu, Soetan Casajangan menjadi asisten dari Prof. Charles Adriaan van Ophujisen dalam pengajaran sastra dan bahasa Melayu di Universiteit Leiden. Pada tahun 1925 pers Eropa memberi penilaian terhadap wartawan pribumi yang mana Parada Harahap sebagai wartawan terbaik (lihat De Indische courant, 23-12-1925). Parada Harahap adalah pemilik/editor surat kabar Bintang Hindia dan pendiri Kantor Berita Alpena (dengan editor WR Supratman)  Pada tahun 1927 Parada Harahap mempelopori didirikannya supra organisasi yang disebut (Permoefakatan Perhimpoenan-perhimpoenan Politiek Kebangsaan Indonesia disingkat PPPKI (Bataviaasch nieuwsblad, 26-09-1927). Dalam pembentukan itu hadir Soetan Casajangan, Direktur Normaalschool di Meester Cornelis dan Mangaradja Soeangkoepon, anggota Volksraad; pembentukan ini diadakan di rumah Prof. Husein Djajadiningrat, dosen di Recgtschool; Husein Djajadiningrat pada tahun 1908 pernah menjadi sekretaris Soetan Casajangan di Indisch Vereeniging. Parada Harahap, sekretaris PPPKI menjadi pembina Kongres Pemuda 1928. Dua tokoh muda dalam kongres tersebut adalah Amir Sjarifoeddin Harahap dan Mohammad Jamin. Kongres ini menghasilkan keputusan: Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa (Bahasa Indonesia). Dalam kongres ini diperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya karya WR Supratman (anak buah dan tinggal bersama di rumah Parada Harahap). Surat kabar pribumi terbaik menurut pers Eropa adalah milik Parada Harahap, Bintang Timur (Soerabaijasch handelsblad, 05-11-1931). Pada tahun 1933 Armijn Pane, Soetan Takdir Alisjahbana dan Amir Hamzah mendirikan majalah sastra Poejangga Baroe. Parada Harahap memimpin tujuh tokoh politik ke Jepang (De Sumatra post, 16-10-1933). Salah satu diantaranya Mohammad Hatta. Parada Harahap di Jepang membuat pers di Belanda mulai khawatir keberadaan bangsa Belanda di Indonesia (Algemeen Handelsblad, 14-02-1934),  (Sepulang dari Jepang) Parada Harahap mengatakan bahwa Nederlandsch (Negeri Belanda) tidak ada apa-apanya (De banier: staatkundig gereformeerd dagblad, 16-02-1934). Parada Harahap mempertanyaan khalayak umum mengapa tidak menyebut Bahasa Indonesia dan masih menyebut bahasa Melayu (1935). Parada Harahap mendirikan organisasi wartawan (PERDI) tahun 1935. Parada Harahap mendirikan Akademi Wartawan (1952). Parada Harahap pendiri Kopertis. Parada Harahap memimpin Tiga Windu Sumpah Pemuda (1952). Pada tahun 1954 diadakan Kongres Bahasa Indonesia di Medan (diketuai oleh Madong Lubis).

Amir Hamzah di Rechthoogeschool di Batavia, Masdoelhak di Rechthoogeschool di Leiden

Amir Hamzah pernah kuliah di Rechthoogeschool tahun 1934. Amir Hamzah lulus ujian kandidat bagian pertama (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 11-05-1934). Pada saat Amir Hamzah masuk kuliah, Amir Sjarifoeddin tengah dalam proses pengadilan. Amir Hamzah masih tercatat namanya di Rechthoogeschool tahun 1936. De Indische courant, 02-03-1936 memberitakan Amir Hamzah lulus untuk ujian ujian tingkat 2. Setelah tahun ini namanya tidak pernah muncul lagi sebagai mahasiswa Rechthoogeschool.


Kakak kelas Amir Hamzah yang berasal dari Medan di Rechtschhol adalah Amir Sjarifoeddin Harahap. Amir memulai studi pada tahun 1927 (lihat De Indische courant, 12-07-1928). Amir Sjarifoeddin adalah bendahara Kongres Pemuda 1928. Sejak kongres, Amir banyak berkaitan dengan politik. Dalam kongres Partai Indonesia. Amir sebagai mahasiswa turut sbagai pembicara (De Indische courant, 18-04-1933). Amir Sjarifoeddin tidak hanya pemimpin Partai Indonesia, juga direktur Volksuniversiteit di Gang Kenari dan kepala editor majalah Banteng. Soerabaijasch handelsblad, 02-06-1933 melaporkan Amir akan dituntut berdasarkan pasal 153 dan 154, mengikuti sebuah artikel di "Banteng" 30 Maret, yang berjuduk "Aksi massa di Indonesia." Padahal Amir akan segera menjalani sidang. akan melakukan ujian terakhirnya di Sekolah Hukum pada bulan Juli. Lalu kemudian Amir diadili di Landraad (De Sumatra post, 30-06-1933). Amir untuk sementara tidak ditahan (masih dalam proses penyidikan). Amir terus mengikuti kuliahnya. Amir lulus ujian akhir (Bataviaasch nieuwsblad, 06-12-1933). Dalam persidangan lanjutan, Amir dijatuhkan vonnis penjara satu setegah tahun (Bataviaasch nieuwsblad, 03-05-1934). Amir Sjarifoedidin meski dalam fase perjuangan (kemerdekaan) dalam kenyataannnya berhasil dalam studi.


Pada tahun 1937 muncul nama Amir Hamzah. Namun Amir Hamzah ini bukan anak Medan. Amir Hamzah ini adalah seorang mahasiswa Rechtschool di Leiden, karena mungkin alasan tertentu, ditransfer ke Rechtschool di Batavia. Di Leiden, Amir Hamzah adalah adik kelas Masdoelhak Nasution. Amir Hamzah berhasil lulus ujian akhir tahun 1940 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 30-08-1940). Amir Hamzah lulus bersama dengan HR Silitonga.


Masdoelhak adalah anak Padang Sidempoean kelahiran Siboga. Nama lengkapnya Masdoelhak Nasoetion gelar Soetan Oloan, cucu dari Soetan Abdoel Azis dari Goenoeng Toea, Mandailing. Ayah Masdoelhak bernama Nazar Samad Nasoetion gelar Mangaradja Hamonangan (lahir di Padang Sidempoean) dan ibunya bernama Namora Siti Aboer br Siregar (lahir di Padang Sidempoean). Masdoelhak, anak keenam dari tujuh bersaudara ini setelah menyelesaikan pendidikan dasar Belanda (ELS) di Siboga berangkat sekolah MULO di Medan dan kemudian dilanjutkan ke AMS di Jawa dan tinggal bersama abangnya Makmoen Al Rasjid (dokter lulusan STOVIA). Pada tahun 1930, Masdoelhak anak seorang pengusaha di Residentie Tapanoeli ini lulus ujian AMS. Dari 55 kandidat lulus 42 orang dan Masdoelhak salah satu dari lima siswa terbaik yang direkomendasikan melanjutkan ke pendidikan tinggi di Negeri Belanda (lihat, Soerabaijasch handelsblad, 19-05-1930). Masdoelhak berangkat dari Batavia dengan menumpang kapal s.s. Prins der Nederland’ menuju Amsterdam tanggal 4 Oktober 1930  dengan nama pada manifest kapal,  Masdoelhak Hamonangan (lihat De Telegraaf, 01-10-1930). Di Universiteit Leiden, Masdoelhak mengambil bidang hukum. Selama kuliah Masdoelhak yang terbilang cerdas ini juga aktif dalam organisasi ekstrakurikulir. Masdoelhak dan kawan-kawan di Universitas Leiden menggagas didirikannya himpunan mahasiswa untuk mempromosikan Indonesia dengan nama  Studentenvereniging ter bevordering van de Indonesische Kunst (SVIK). Menurut Pasal 2 Anggaran Dasar organisasi ini dinyatakan bertujuan untuk mempromosikan seni rupa Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran akan seni rupa Indonesia dan ekspresi lain dari budaya Indonesia. Organisasi mahasiswa yang diresmikan tanggal 1 November 1935 ini sebagai ketua disebut Masdoelhak Hamonangan gelar Soetan Oloan (lihat De tribune : soc. dem. Weekblad, 23-11-1935). Setelah lulus tingkat sarjana di Universiteit Leiden, Masdoelhak tidak pulang melainkan melanjutkan pendidikan ke tingkat doktoral di Utrecht (Rijksuniversiteit). Pada tahun 1943 Masdoelhak lulus ujian doctoral sebagaimana dilaporkan  Friesche courant, 27-03-1943. Masdoelhak berhasil mempertahankan desertasinya yang berjudul ‘De plaats van de vrouw in de Bataksche Maatschappij’ (Tempat perempuan dalam masyarakat Batak). Setelah berhasil menjadi doktor hukum, Masdoelhak pulang kampung. Pada saat pulang ke tanah air, Indonesia di bawah pendudukan Jepang.


Amir Hamzah Dibunuh dalam Revolusi Sosial di Langkat, Masdoelhak Dibunuh dalam Agresi Militer Belanda II


Pada saat pemerintahan RI dibentuk pasca proklamasi kemerdekaan RI, Amir Hamzah diangkat sebagai Bupati di Langkat. Sementara Masdoelhak Nasution diangkat sebagai Residen Sumatra Tengah yang berkedudukan di Bukittinggi.


Abdul Abbas Siregar anak Medan diangkat sebagai Residen di Lampung. Abdul Abbas Siregar lulus Rechthoogeschool di Batavia sebelum pendudukan Jepang. Abdul Abbas Siregar adalah kakak kelas Amir Hamzah dari Langkat. Setelah lulus, Abdul Abbas tidak pulang kampung ke Medan tetapi memilih menjadi pengacara di Lampung. Abdul Abbas Siregar termasuk salah satu anggota PPKI (satu-satunya dari Sumatra Utara). Sebelumnya anggota BPUPKI adalah Parada Harahap (satu-satunya dari Sumatra Utara). Pada saat pembentukan awal pemerintahan diangkat tiga orang Sumatra untuk memulai pemerintah, yakni: Mr. Mohammad Hasan, Dr. Amir dan Mr. Abdul Abbas Siregar. Lalu kemudian Muhammad Hasan menjadi Gubernur Sumatra dan Amir menjadi Wakil Gubernur. Abdul Abbas Siregar menjadi Residen di Lampung. Senior mereka Amir Sjarifoeddin menjadi Menteri. Amir


Masing-masing mereka belum lama menjabat muncul Belanda (membonceng dibelakang  sekutu/ Inggris). Pada saat kehadiran Belanda ini rakyat Indonesia bereaksi keras. Namun sebagian rakyat di Sumatra Timur malahan sebaliknya (ingin berkolaborasi dengan Belanda). Akibatnya tidak terelakkan terjadi kerusuhan yang di dalam pers berbahasa Belanda sebagai revolusi sosial. Dalam revolusi sosial di Sumatra Timur telah ditangkap semua sultan, kecuali Sultan Deli, istananya dijaga oleh pasukan Inggris (Het nieuws : algemeen dagblad, 12-03-1946).


Amir Hamzah termasuk salah satu korban yang dibunuh pada tanggal 20 Maret 1946. Amir Hamzah ssat itu masih menjabat sebagai wakil pemerintah RI di Langkat.


Beberapa bulan kemudian di Lampung juga terjadi revolusi sosial yang mana Residen Mr. Abdul Abbas Siregar dan para pejabat pemerintah RI yang sah digulingkan oleh kelompok tertentu. Revolusi ini tanpa pertumpahan darah (lihat Limburgsch dagblad, 09-10-1946). Mr. Abdul Abbas Siregar kemudian ditarik ke pusat di Djakarta. Namun tidak lama kemudian, pasca revolusi sosial di Sumatra Timur, Residen terdahulu dicopot dan digantikan oleh Mr. Abdul Abbas Siregar sebagai Residen Sumatra Timur. Ketika terjadi Agresi Militer Belanda pertama (1947) Republiken terdesak dari Medan dan mengungsi ke Pematang Siantar. Dalam fase perang ini Dr. Gindo Siregar diangkat sebagai Gubernur Militer Sumatra Utara.


Belanda lambat laun semakin menguat. Negara RI yang belum lama terbentuk menemui banyak rintangan dengan semakin bernafsunya Belanda untuk menguasai seluruh Indonesia. Pemerintahan di pihak RI menjadi silih berganti: Dari PM Sutan Syahrir berganti ke PM Amir Sjarifoeddin. Lalu kemudian pemerintahan oleh Mohammad Hatta. Dalam pemerintahan Mohammad Hatta ini terjadi revolusi sosial di Madiun. PKI berupaya membentuk negara komunis di Madiun. Amir Sjarifoeddin dituduh terlibat lalu ditangkap. Tepat pada saat Agresi Militer Belanda II dimulai, tanggal 19 Desember 1948 Amir Sjarifoeddin ditembak mati tanpa penyelidikan lebih dahulu. Mohammad Hatta menyetujui eksekusi ini tetapi Soekarno tidak menyetujuinya.


Tekanan militer Belanda terus berlanjut sehingga TNI dan para republiken bergeser ke Tapanoeli. Gubenur Militer Dr. Gindo Siregar lalu beribukota di Padang Sidempoean. Dalam fase ini juga terjadi revolusi sosial di Tapanoeli. Di Padang Sidempoean terjadi pertumpahan darah, Komandan TNI Padang Sidempoean, Kapten Koima Hasiboean dibunuh.


Het nieuwsblad voor Sumatra, 17-09-1948: ‘Revolusi Sosial di Tapanoeli. Di Republik Tapanoeli hari ini terjadi revolusi sosial. Pada tanggal 10 September pemberontak melawan tentara republic (TNI) dan pejabat administrasi republik. Terjadi pertempuran di Padang Sidempuan, yang mana Komandan TNI Padang Sidempoean, Kapten Koima Hasiboean dibunuh. Selain itu, sejumlah pemimpin Republik (Indonesia) terkemuka, termasuk Mr. Abbas Siregar, Mayor M. Panggabean, Maj. R. Sahian, Maj. AH Siagian dan Mr. Amir Hoesin Siagian telah ditangkap oleh para pemberontak. Mantan Gubernur Militer Tapanoeli, Dr. Gindo Siregar, dan Lt. Kol. P. Sitompoel, komandan pasukan Republik (Indonesia) di wilayah ini berhasil bersembunyi. Di Sibolga, Mr. H. Silitonga, Dr. Loehoet Loembantobing, Elam Artitonang dan M. Pangariboean ditangkap oleh pemberontak.Ini disebut revolusi social kedua yang berlangsung di Tapanoeli.


Mr. Abdul Abbas Siregar lalu menjabat sebagai Ketua Presidium Republik di Tapanuli Selatan yang berkedudukan di Padang Sidempoean. Kedaulatan Republik Indonesia di Tapanuli tetap terjaga. Semua infiltrasi dapat dicegah. Republik Indonesia adalah harga mati. Tidak ada tawar menawar. Tokoh utama dalam mempertahankan Republik Indonesia di Tapanoeli adalah Mr. Abdul Abbas Siregar. Sementara di Sumatra Timur telah berubah menjadi Negara Sumatra Timur (negara boneka Belanda).


Dalam Agresi Militer Belanda II (19 Desember 1948) di Djogjakarta, intel dan militer Belanda menculik sejumlah tokoh Indonesia. Dalam pencarian intel/militer Belanda, Madoelhak menjadi target pertama. Lalu setelah berhasil Masdolhak diculik lalu beberapa hari kemudian ditembak mati oleh militer Belanda di Pakem. Dewan Keamanan PBB marah besar. Pimpinan organisasi bangsa-bangsa yang berkantor di New York meminta sebuah tim netral di Belanda untuk melakukan penyelidikan segera atas kematian Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion di Yogyakarta 21 Desember 1948. Reaksi cepat badan PBB ini untuk menanggapi berita yang beredar dan dilansir di London sebagaimana diberitakan De Heerenveensche koerier : onafhankelijk dagblad voor Midden-Zuid-Oost-Friesland en Noord-Overijssel, 01-02-1949. Koran ini mengutip pernyataan pers dari kepala kantor Republik Indonesia di London yang pernyataannya sebagai berikut: ‘sejumlah intelektual terkemuka di Indonesia, diantaranya Masdulhak, seorang penasihat pemerintah dibunuh hingga tewas tanpa diadili’. Mengapa PBB demikian marahnya atas kasus ini? Masdoelhak adalah seorang intelektual paling terkemuka di jajaran inti pemerintahan Republik Indonesia. Masdoelhak adalah akademisi muda bergelar doktor di bidang hukum lulusan Eropa. Masdoelhak juga menjadi adviseur der regering (penasehat pemerintah), penasehat pimpinan republik (Soekarno dan Hatta). Masdoelhak adalah satu-satunya sarjana bergelar doktor di lingkaran satu pemerintahan Republik Indonesia. Inilah alasan mengapa petinggi Belanda (van Moek dan Spoor)  menaruh nama Masdoelhak pada baris pertama dalam list orang yang paling dicari sesegera mungkin (wanted): dead or alive. Koran ‘De waarheid’ (waarheid=truth=‘kebenaran’) melihat kasus ini selama ini sengaja ditutup-tutupi. Awalnya resolusi Dewan Keamanan hanya menuntut Belanda bahwa semua tahanan politik harus dibebaskan, malahan membunuh dengan cara keji begini. Koran ini memberi judul beritanya sebagai metode teror fasis (Fascistische terreur-methoden). Desas-desus yang sebelumnya diterima Dewan Keamaman PBB yang membuat mereka marah dan meminta dilakukan penyelidikan secara tuntas akhirnya terungkap di pengadilan. Hasilnya penyelidikan yang diungkapkan oleh koran ‘kebenaran’ ini sebagai: pembunuhan keji para intelektual, pembunuhan secara pengecut dan penggunaan metode fasis.


Para Pahlawan: Siapa Pahlawan Sejati?


Dengan ketetapan pemerintah, Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 106/ tahun 1975, tanggal 3 November 1975, Amir Hamzah ditabalkan menjadi Pahlawan Nasional.


Gubernur Marah Halim Harahap waktu itu memerlukan tokoh pahlawan dari etnik Melayu di Sumatra Utara. Marah Halim Harahap coba menahan diri untuk tidak mengusulkan seniornya menjadi pahlawan yakni Gubernur Abdul Hakim Harahap. Boleh jadi ini dimaksudkan Marah Halim Harahap untuk membangkitkan semangat etnik Melayu yang menjadi layu setelah terjadinya revolusi sosial tahun 1946. Selain itu, Marah Halim menyadari bahwa pahlawan dari etnik Batak sudah ada yakni Sisingamangaradja (1961), Dr. Ferdinand Lumban Tobing (1962),  dan Mayor Jenderal DI Pandjaitan (1965). Pada masa ini daftar pahlawan asal Provinsi Sumatra utara semakin bertambah, yakni: Adam Malik Batubara (1998), Jenderal Abdul Haris Nasution (2002), Kiras Bangun (2005), Jenderal TB Simatupang (2013) dan Letjen Djamin Ginting (2014).


Namun belakangan ini nama Amir Hamzah sebagai pahlawan nasional diragukan oleh sejumlah pihak. Majalah Tempo bahkan mengindikasikan status kepahlawanan Amir Hamzah bersifat kontroversi.


Mr. Masdoelhak Nasution, Ph.D setelah sekian lama baru dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Dalam buku 'Gele Harun: Residen Perang' (2014) yang ditulis Mulkarnaen Gele Harun Nasution, Kaidir Asmuni, Umar Bakti dan Nihara Dalimonthe, disebutkan bahwa Dr. Mr. Masdoelhak Nasoetion gelar Soetan Oloan pada tahun 2008 mendapat gelar Pahlawan Nasional. Dr. Mr. Masdoelhak adalah sepupu Letkol Mr. Gele Harun dan satu lagi sepupu mereka yakni Mr. Egon Hakim berjuang di Sumatera Barat yang ketiganya adalah cucu dari Soetan Abdoel Azis Nasoetion di Padang Sidempoean. Kapan Gele Harun, Residen Pertama Lampung  menjadi pahlawan nasional? Mari kita tunggu.


Perjuangan Amir Hamzah sesungguhnya tak perlu diragukan. Demikian juga perjuangan Amir Sharifoeddin Harahap tak perlu diragukan. Senior Amir Sjarifoeddin Harahap yakni Tan Malaka sudah ditabalkan menjadi Pahlawan Nasional. Perjuangan Amir Hamzah dengan dua sahabatnya Armjin Pane dan Sanusi Pane di bidang sastra menjadi jaminan.


Armijn Pane dan Sanusi Pane adalah teman sejarah sastra dan bahasa Indonesia dari Amir Hamzah. Meski dua bersaudara Pane (Armijn dan Sanusi) tidak mendapat anugerah pahlawan nasional, tetapi adik mereka Lafran Pane telah mendapat gelar Pahlawan Nasional (2017). Lafran Pane adalah Pahlawan Nasional asal etnik Batak tetapi tidak melalui p-engusulan dari Provinsi Sumatra Utara. Hal ini juga dengan Masdoelhak Nasution (2006) tidak melalui Sumatra Utara. Demikian juga dengan Pahlawan Nasional Zainul Arifin Pohan (1963) dan Tuanku Tambusai dengan nama kecil Hamonangan Harahap (1995).


Daripada mempermasalahkan gelar kepahlawanan Amir Hamzah, lebih baik errgi dicurahkan untuk mengusulkan lebih banyak lagi pahlawan nasional yang pantas dari asal Provinsi Sumatra Utara. Mereka itu yang dianggap tokoh-tokoh nasional yang memiliki kriteria  menjadi Pahlawan Nasional, diantaranya Mr. Amir Sjarifoeddin Harahap, Mr. Abdul Abbas Siregar, Mr. SM Amin Nasution dan Dr. Gindo Siregar. Tentu saja jangan lupa tokoh-tokoh kebangkitan bangsa yakni Dja Endar Moeda, Soetan Casajangan, Parada Harahap dan Abdul Hakim Harahap. Tentu saja ke dalam daftar ini termasuk Willem Iskander serta dua bersaudara Armijn Pane dan Sanusi Pane sahabat Amir Hamzah.


Tunggu deskripsi lengkapnya


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.































































































































































Dapatkan Info Produk Terbaru Kami

Masukan Alamat Email Kamu Disini

Gabung bersama media kami.