Sejarah Kota Medan (63): Sejarah Sepak Bola MEDAN Lebih Tua dari Polandia; Lechia GDANSK, Klub Egy Maulana Vikri - JagoMarketing | Jasa Whatsapp Blast

Sejarah Kota Medan (63): Sejarah Sepak Bola MEDAN Lebih Tua dari Polandia; Lechia GDANSK, Klub Egy Maulana Vikri

*Semua artikel Sejarah Kota Medan dalam blog ini Klik Disini

Kota Gdansk pada Polandia tiba-tiba menjadi populer pada Indonesia. Hal ini karena pemain sepak bola berasal Medan, Egy Maulana Vikri sekarang bermain bersama klub Lechia di Kota Gdansk. Kehadiran Egy Maulana Vikri dalam Gdansk menciptakan kita di Indonesia gembira, karena Egy Maulana Vikri satu-satunya pemain Indonesia yang berkecimpung pada Eropa. Tetapi pada Kota Gdansk, kehadiran Egy Maulana Vikri masih terdapat pro-kontra. Tapi kelihatannya, suporter sepak bola di Kota Gdansk belum tahu sepak bola pada Medan, berasal Egy Maulana Vikri.

Klub sepak bola pertama pada Kota Medan didirikan tahun 1900. Klub tadi bernama Medan Sporting Club. Sementara klub pertama di Polandia bernama Lechia pada Lwow (Lechia Lwow) didirikan dalam tahun 1903. Pada tahun 1905 belum terdapat kompetisi dalam seluruh kota-kota di Polandia, namun di Kota Jakarta (baca: Batavia) telah digulirkan kompetisi sepak bola pertama. Lechia Gda?Sk sendiri, klub Egy Maulana Vikri baru didirikan dalam tahun 1945. Bandingkan dengan hanya mengambil sampel: klub PSM Makassar didirikan tahun 1915, Persebaya Surabaya 1927


Lechia Gdansk


Lechia Gdansk adalah klub dari Kota Gdansk di Polandia. Nama Lechia sendiri adalah nama puitis untuk Polandia, seperti halnya Indonesia disebut Nusantara. Pembentukan klub Lechia di Kota Gdansk bermula tahun 1945 oleh orang-orang dari Kota Lwów, yang merupakan pendukung tim sepak bola Lechia Lwów. Sedangkan Lechia Lwow sendiri adalah klub tertua di Polandia yang didirikan tahun 1903.


Di Kota Medan, sejak tahun 1900 sudah berdiri klub Medan Sport Club (lihat Sumatra Post 29-03-1900). Klub Medan Sport Club (disingkat Medan Sport) diyakini sebagai salah satu klub terawal yang didirikan di Nusantara (Indonesia). Lalu setahun kemudian berdiri klub Langkat Sport Club (lihat Sumatra Post 20-12-1901). Pada tahun 1903 didirikan klub Toengkoe (orang-orang Melayu) dan klub Letterzetter (orang-orang Mandailing dan Angkola, Tapanoeli). Pada tahun 1906 didirikan Voortswaart Club dan Tapanoeli Club. Pada tahun 1907 dimulai kompetisi yang pertama secara resmi di Kota Medan. Sementara di Batavia (baca: Jakarta) sudah sejak 1905 dimulai kompetisi resmi, salah satu diantaranya adalah klub Docter Djawa Club.


Pada tahun 1905 belum ada kompetisi sepak bola tersendiri di Polandia. Klub-klub Polandia yang dibentuk, seperti Lechia Lwów berkompetisi (nebeng) di Liga Sepak Bola Austria. Hal ini mirip dengan klub Brunai berkompetisi di Liga Malaysia atau klub Monaco berkompetisi di Liga Prancis. Ketika kompetisi digulirkan di Kota Medan tahun 1907, di Kota Gdansk belum satupun klub yang terbentuk. Ini mengindikasikan bahwa sepak bola Kota Medan jauh lebih awal dari pada Kota Gdansk.


Suporter sepak bola di Kota Medan sudah mendukung klubnya sejak 1900. Sementara di Kota Gdansk entah kapan dimulai dukungan suporter terhadap sebuah klub. Pada masa ini di Kota Medan terdapat sebuah klub besar PSMS Medan. Sementara di Kota Gdansk kini terdapat satu klub besar, Lechia Gdansk, klub dimana Egy Maulana Vikri bermain, Semoga saja Egy Maulana Vikri di Gdansk berprestasi. Tunjukkan kepada suporter di Gdansk bahwa anak Medan mampu berprestasi di klub Lechia, klub kebanggaan warga Kota Gdansk. Tunjukkan kepada suporter di Gdansk, bahwa Egy Maulana Vikri datang dari Kota Medan, kota yang memiliki tradisi dan warisan sepak bola yang hebat.

PSMS Medan Mendukung Egy Maulana Vikri di Lechia Gdansk

Hubungan sepak bola Indonesia dan Polandia bukanlah baru. Dua rival utama PSMS Medan yakni Persija Jakarta dan Persib Bandung pernah menggunakan jasa pesepakbola asal Polandia untuk kali pertama. Marek Janota pernah menjadi pelatih klub Persija, Jakarta pada Kejuaraan Antar Perserikatan tahun 1978/1979. Marek Janota memang orang Polandia pertama terhubung dengan sepak bola Indonesia. Meski yang pertama, Marek Janota langsung membawa Persija merebut juara Kejuaraan Antar Perserikatan. Marek Janota juga pernah menjadi pelatih Timnas Indonesia dan juga pernah menjadi pelatih di Persib Bandung. Tidak hanya itu, Persib Bandung yang sejak 1994 malu-malu kucing untuk menggunakan pemain asing, pada Liga Indonesia 2003 langsung merekrut empat pemain asal Polandia. Para pemain tersebut adalah Maciej Dolega, Piotr Orlinski, Mariusz Murcharski dan Pavel Bocjian.


Kini, empat orang Polandia yang pernah bermain di Persib Bandung tersebut, berdasarkan pelacakan di internet bermikim di Polandia. Tentu saja berita kehadiran Egy Maulana Vikri membela klub Lechia Gdansk akan mengingatkan mereka pernah bermain di Indonesia.


PSMS Medan tidak pernah terhubung dengan pelatih/pemain sepak bola Polandia. Akan tetapi beberapa orang-orang Polandia yang bermain di klub Austria pernah melawat ke Medan. Pada tahun 1954 klub GAK-Graz (Grazer AK), klub papan atas Liga Austria dibantai oleh PSMS di Medan dengan skor 3-0 (lihat De nieuwsgier, 28-07-1954). Tidak hanya itu, klub papan atas Liga Austria, Salzburg (SV Austria Salzburg) juga pernah melawat ke Medan. Salzburg  bermain imbang 2-2 melawan PSMS Medan (Algemeen Indisch dagblad: de Preangerbode. 04-07-1955).




Medan di Selat Malaka dan Gdansk di Laut Baltik
Pada masa ini Negara Polandia yang berada di Eropa Tengah berbatasan langsung dengan sejumlah negara: Jerman di sebelah barat, Ceko dan Slowakia di sebelah selatan, Rusia dan Lituania di sebelah timur;  dan Belarus dan Ukraina di sebelah barat. Hubungan Polandia dan Austria memiliki sejarah yang sangat panjang dimana Austria pernah berkuasa di Polandia. Setelah Perang Dunia II, Austria dan Polandia menjalin hubungan baik. Diantara negara-negara besar di sekitar Polandia di era dulu (Austria, Jerman dan Rusia), Austria adalah negara yang paling toleran terhadap Polandia. Hal inilah yang menyebabkan banyak orang Polandia di Austria. Klub-klub sepak bola di Austria banyak yang berasal dari Polandia. Orang-orang Polandia juga banyak yang bermigrasi ke Jerman. Pemain sepak bola Jerman asal Polandia yang terkenal antara lain Miroslav Klose dan Lukas Podolski.




Oleh karena itu, pada dasarnya sepak bola Polandia dan sepak bola Indonesia, khususnya sepak bola di Medan sudah terhubung sejak lama, namun kemudian sepi hingga kehadiran Egy Maulana Vikri di klub Lechia di Kota Gdansk di Polandia. Kehadiran Egy Maulana Vikri di Polandia di era milenial ini membuat heboh. Kehebohan tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Polandia. Kehadiran Egy Maulana Vikri di Polandia tidak hanya merajut kembali hubungan Polandia dan Indonesia tetapi juga secara khusus dapat memungkinkan menjalin hubungan sister City antara Kota Medan dan Kota Gdansk utamanya di bidang sepak bola.




Warna Jerseys PSMS Medan dan Lechia Gdansk
Kota Gdansk (penduduk 1 juta jiwa) memiliki klub besar bernama Lechia, klub Egy Maulana Vikri yang sekarang. Klub Lechia Gdansk didirikan pada tahun 1945 (pasca Perang Dunia II) setelah Republik Polandia diproklamirkan. Kota Medan juga memiliki klub besar bernama PSMS, klub yang menantikan Egy Maulana Vikri kapan diinginkannya. Lechia Gdansk belum pernah menjadi juara Liga Polandia. Hanya sekali pernah menjadi juara Plisch Cup pada tahun 1983. Sementara Kota Medan (penduduk 2 juta jiwa) memiliki klub besar bernama PSMS Medan. PSMS Medan, sendiri didirikan tahun 1950 (pasca pengakuan kedaulatan RI oleh Belanda). Pada tahun 1983 PSMS Medan adalah juara nasional (Kejuaraan Antar Perserikatan). Lalu pada tahun 1985 kembali PSMS menjadi juara, Tim yang dikalahkan di Final oleh PSMS pada kejuaraan 1983 dan 1985 adalah Persib Bandung. PSMS Medan juga pernah juara pada tahun 1967, 1971 dan 1975. PSMS Medan pernah menjadi runner-up tahun 1954 dan 1957 serta 1979 dan 1992.






Stadion di Jakarta, Indonesia dan Stadion di Warsawa, Polandia
Harus diakui bahwa sepak bola Polandia telah tumbuh dan berkembang dengan baik. Sepak bola Polandia terbilang kuat di benua Eropa. Sudah beberapa kali Timnas Polandia berpartisipasi dalam Piala Dunia. Sebaliknya, sepak bola Indonesia baru mulai berkembang kembali setelah lama berjalan di tempat. Mimpi sepak bola Indonesia adalah membentuk tim kuat di benua Asia agar bisa kembali ke Piala Dunia. Mimpi sepak bola Medan adalah berkontribusi untuk melahirkan pemain-pemain andal di dalam Timnas Indonesia, seperti Egy Maulana Vikri. Ke depan Indonesia dan Polandia dapat besaing dalam sepak bola. Modal Indonesia dalam urusan sepak bola tidak kalah dengan Polandia. Stadion kebanggaan rakyat Polandia di Warsawa baru dibangun tahun 2010, sedangkan stadion Indonesia di Jakarta sudah dibangun pada tahun 1962. Untuk sekadar diketahui, Indonesia dan Polandia sama-sama memulai (debut) di Piala Dunia 1938 di Prancis. Boleh jadi Timnas Indonesia dan Timnas Polandia akan bertemu di Piala Dunia 2022.




Indonesia dan Polandia kali pertama di Piala Dunia pada tahun 1938. Namun kedua negara hanya pada Round-1 saja. Indonesia dan Polandia dikalahkan oleh lawan-lawannya. Polandia dikalahkan Brazil dan Indonesia dikalahkan oleh Hungaria. Sama-sama kemasukan enam gol. Bedanya: Indonesia (baca: Hindia Belanda) tidak berhasil mencetak gol, sedangkan Polandia bisa mencetak lima gol. Sejak itu, Indonesia tidak pernah lagi ke Piala Dunia, sedangkan Polandia sudah beberapa kali. Pencapain terbaik Polandia di Piala Dunia adalah juara ketiga pada tahun 1974 dan 1982. Atas dasar ini, orang-orang Polandia, ketika melihat kedatangan Egy ke Gdansk, Egy diangap datang dari negara sepakbola dunia ketiga. Okelah. Harapan kita hanya: semoga Egy Maulana Vikri bisa menunjukkan diri bahwa Egy Maulana Vikri datang dari negara yang termasuk dalam peringkat lima besar ekonomi terkuat dunia saat ini. Negara Polandia entah di peringkat ke berapa. Selain itu, Indonesia di dalam pemeringkatan daya saing berada pada peringkat ke-36 dunia, sedangkan negara Polandia hanya berada di peringkat ke-39. Kedekatan peringkat Indonesia dan Polandia hanya pada pemeringkatan investasi. Negara Polandia adalah negara terbaik ketiga di dunia untuk berinvestasi, sementara negara Indonesia berada pada posisi kedua terbaik dunia.


Ayo Egy. Buktikan!


PSMS Medan dan Lechia Gdansk adalah dua klub beda benua, tetapi memiliki dukungan suporter yang sama-sama fanatik. Tim Ayam Kinantan (julukan PSMS Medan) setiap bermain di stadion Teladan Medan akan selalu membahana.Tim  Gedanian Lions (julukan Lechia Gdansk) setiap bermain di Stadion Energa Gdansk (PGE Arena) juga selalu membahana. Kini, suporter PSMS Medan menitipkan Egy Maulana Vikri kepada para suporter Lechia Gdansk.




Stadion Teladan, Medan, 1953
Stadion Energa Gdansk (PGE Arena) adalah homebase klub Lechia Gdansk, Stadion ini selesai dibangun pada tahun 2011, stadion dimana Egy Maulana Vikri bermain pernah menjadi ajang Piala Eropa tahun 2012. Stadion PGE Arena (berkapasitas 43.000 penonton) di jaman sekarang termasuk stadion megah di Polandia. Di Medan, stadion yang menjadi homebase PSMS Medan adalah Stadion Teladan, Stadion ini selesai dibangun pada tahun 1953 (masih eksis hingga sekarang). Pada tahun 1953, Stadion Teladan Medan (berkapasitas 30.000 penonton) adalah stadion termegah di Indonesia.




Ayo Egy. Tunjukkan bakatmu di hadapan suporter Lechia Gdansk. Buktikan bahwa Egy MV numero 10 adalah warisan sepak bola Medan yang hebat. Suporter PSMS Medan mendoakanmu agar sukses. Ribak Sude lawan-lawanmu. Lechia Gdansk bukanlah Barcerlona FC atau MU. Lechia Gdansk hanyalah klub sekelas Indonesia. Dalam daftar peringkat FIFA, klub Lechia Gdansk berada di peringkat 764 dunia, sementara Persija berada pada peringkat 672, Arema FC 712 dan Persipura 374. Ini artinya Persija sekitar 100 peringkat di atas Lechia Gdansk dan Persipura sekitar 400 peringkat di atas Lechia Gdansk. Ayo Egy. Dalam segi apapun kita tidak kalah dari mereka.


Sejarah Singkat Lechia Gdansk


Nama Lechia Gdansk sejatinya baru muncul dalam pemberitaan sepak bola Eropa pada tahun 1983. Ini bermula ketika Lechia Gdansk menjadi kampiun Polands Cup 1982/1983. Di partai Final, 22 Jun 1983 Lechia Gdansk mengalahkan Piast Gliwice dengan skor 2-1 (lihat De Volkskrant, 24-06-1983).


Lechia Gdansk langsung berada di Putaran-2. Dalam partai ini Lcchia Gdansk mengalahkan klub Start Radziejów dengan skor 3-2. Di Putaran-3 Lechia Gdansk mengalhkan Olimpia Elbląg dengan skor 2-0. Pada partai Per 16 Final Lechia Gadansk mengalahkan Widzew Łódź dengan skor 5-4 adu penalti setelah sebelumnya kedudukan 1-1. Di Partai Per 8 Final Lechia Gdansk mengalahkan Śląsk Wrocław dengan skor 3-0. Lechia Gdansk mengalahkan Zagłębie Sosnowiec dengan skor 1-0. Di Partai Semi Final Lechia Gdansk mengalahkan Ruch Chorzów dengan adu penalte 4-3 (sebelumnya 0-0). Semenetara di semi final lainnya Lech Poznan dikalahkan Piast Gliwice dengan skor 0-1.


Lechia Gdansk sebagai juara Polands Cup berada di liga kedua dan  Piast Gliwice di liga ketiga. Yang menjadi juara liga utama pada tahun sama adalah klub Lech Poznan. Pada tahun berikutnya Lechia Gdansk promosi ke liga utama (kini Ekstraklasa). Dalam debut liga utama pada tahun 1984/1985 Lechia Gdansk berada di posisi 12 (dari 16 klub).


Lechia Gdansk terdegradasai pada tahun 1987/1988. Lechia Gdansk baru kembali ke Ekstraklasa pada musim 2009/2010. Tingkat pencapaian tertinggi Lechia Gdansk pada musim 2016/2017 pada posisi keempat. Namun pada musim ini 2017/2018 Lechia Gdansk dalam posisi terancam yang berada pada posisi harus melakukan play off.

Masih adakah harapan Lechia Gdansk tetap bertahan di liga Ekstraklasa? Kita tunggu saja. Namun jika Lechia Gdansk benar-benar turun kelas, ada baiknya Egy Maulana Vikri dipinjamkan kepada klub lain yang menjadi sahabat Lechia Gdansk (yang ikhlas menerima Egy Maulana Vikri). Atau boleh juga ke Inter Milan (biar ketemu Erick Thohir).

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.














































































Dapatkan Info Produk Terbaru Kami

Masukan Alamat Email Kamu Disini

Gabung bersama media kami.