Sejarah Jakarta (97): Petunduan, Kampong Orang Melayu Tempo Doeloe, Tamat 1962; Digusur Bangun Stadion Gelora BungKarno - JagoMarketing | Jasa Whatsapp Blast

Sejarah Jakarta (97): Petunduan, Kampong Orang Melayu Tempo Doeloe, Tamat 1962; Digusur Bangun Stadion Gelora BungKarno

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Ada nama kampong tempo doeloe dianggap Petunduan. Nama kampong ini telah lenyap ditelan bumi. Di atas eks kampong Petoendoean tersebut kemudian dibangun Stadion Gelora Bung Karno (Stadion GBK) tahun 1962 buat keperluan penyelenggaraan Asian Games. Nama Petoendoean akan permanen tak pernah mati sepanjang stadion megah itu permanen tidak pernah mati. Ingat Stadion GBK pada Senayan, ingat Kampong Petoendoean.

Dalam proyek pembangunan komplek olah raga tadi, kampong yang digusur nir hanya kampong Patoendoean, tetapi jua kampong Senajan. Kampong Bendoengan Ilir & kampong Bendoengan Oedik hanya sebagian. Jika posisi GPS kampong Petoendoean adalah Stadion GBK maka posisi GPS kampong Senayan termasuk lapangan parkir timur Senayan. Seementara kampong Bendoengan Oedik yang tergusur termasuk Hotel

Sebuah dangau di tengah sawah (iklan RCTI)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Kampong Petoendoean dan Kampong Senajan: Kampong Orang Melajoe

Kampong Petoendoean tepat berada dimana kini komplek Stadion Gelora Bung Karno (Stadion GBK) berada. Jika kita sedang menonton sepak bola di Stadion GBK, kita bisa bayangkan di tengah lapangan yang hijau, dulunya adalah persih sawah dari penduduk kampong Petoendoean. Mereka membajak tanah, menanam, menyiangi, menghalau burung dan memanen beramai-ramai. Bayangkan pula tepat di titik tengah lapangan hijau, tempat dimana bola bermula kick-off, adalah suatu dangau (pondok, gubuk) pemilik/penyewa lahan sawah tersebut. Itulah romantisme sejarah kampong persawahan Kampong Petoendoean di masa lampau di tengah lapangan Stadion GBK.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Dapatkan Info Produk Terbaru Kami

Masukan Alamat Email Kamu Disini

Gabung bersama media kami.