Sejarah Jakarta (85): Juara Bulu Tangkis Jakarta Kali Pertama Then Giok Soei, 1934; Juara Badminton Surabaya S. Loebis, 1935

shape image

Sejarah Jakarta (85): Juara Bulu Tangkis Jakarta Kali Pertama Then Giok Soei, 1934; Juara Badminton Surabaya S. Loebis, 1935

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta pada blog ini Klik Disini

Ferry Sonneville & Rudi Hartono jago bulu tangkis Indonesia? Jangan geer dulu. Permainan olahraga bulu tangkis (badminton) belumlah lama . Itu baru ada dalam tahun 1908. Pertandingan bulu tangkis kali pertama diadakan pada Jakarta (Batavia) waktu diadakan Kejuaraan badminton seluruh West Java (Jawa Barat) dalam tahun 1934. Juaranya merupakan Then Giok Soei. Untuk junior jagonya pada Batavia merupakan Indra Loebis. Setahun lalu dilakukan kejuaraan bulu tangkis pertama pada Oost Java (Jawa Timur) dalam Soerabaja dalam tahun 1935. Juaranya merupakan S. Loebis. Mereka ini adalah jago-jago bulu tangkis terawal dalam Indonesia (saat Ferry Sonneville masih bayi dan Rudi Hartono belum lahir).

Lantas bagaimana sejarah permainan olah raga bola tepok ini bermula pada Jakarta? Itu harus dimulai ketika kali pertama diadakan kejuaraan badminton seluruh West Java yg diadakan pada Batavia (baca: Jakarta) pada tahun 1934. Sejak itulah permainan olah raga bulu tangkis ini populer

Kejuaraan Badminton West Java, 1934: Then Giok Soei dan Indra Loebis

Permainan badminton (bulu tangkis) sangat populer di Medan. Boleh jadi itu karena faktor Inggris. Hal ini karena kedekatan Medan dengan wilayah Semenanjung (Penang dan Singapoera), wilayah kekuasaan Inggris. Faktor lain juga karena populasi orang Inggris terbanyak di Hindia berada di Province Oost Sumatra, utamanya di Medan. Permainan badminton sangat populer di Inggris.

Pada bulan Maret 1932 di Medan diselenggarakan turnamen badminton yang disebut Badminton Kampioenschappen 1932 (lihat De Sumatra post, 24-11-1931). Turnamen ini disponsori oleh jaringan toko orang Inggris Rose & Co di Medan, yang berpusat di India (Inggris). Turnamen ini dapat dianggap sebagai pertandingan pertama badminton di Hindia (baca: Indonesia).

Boleh jadi karena turnamen badminton di Medan ini, setidaknya 14 klub badminton orang Tionghoa di Batavia disatukan dalam satu federasi pada tahun 1933. Federasi ini disebut Batavia Chinese Badminton Federation. Di bawah payung federasi pada tahun 1934 diselenggarakan kejuaraan yang pertama yang diberi nama Badminton Om West-Java Kampioenschap (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 05-09-1934). Disebutkan kejuaraan ini bersifat terbuka (open) yang dibagi ke dalam dua kategori singel dan double. Pertanidngan akan dilangsungkan pada tanggal 14 September di lapangan klub badminton Hua Chiao (Hua Chiao Institute) di jalan Prinsenlaan No. 18 Batavia.

Peserta yang mendaftar sangat banyak, tidak hanya dari Batavia tetapi juga dari luar Batavia termasuk pemain terbaik dari Buitenzorg Badminton League (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-09-1934). Jumlah yang mendaftar tidak kurang dari 60 orang. Disebutkan perserta termasuk beberapa yang telah berkompetisi di luar negeri dalam satu atau lebih kompetisi utama. Mereka itu berasal dari Medan dan Singapoera.

Dalam pertandingan pada babak pertama (Round-1) yang dibuka pada tanggal 14 September semua pemain Eropa/Belanda berguguran dan tak satu pun yang melangkah ke babak selanjutnya. Level permainan mereka sangat rendah. Hal ini karena pemain-pemain Eropa/Belanda belum ada yang membentuk klub (asosiasi). Babak kedua akan dilanjutkan pada hari Minggu berikutnya.

Di antara hari-hari penyelengaraan kejuaraan West Java, juga berlangsung kompetis antar klub internal Batavia Chinese Badminton Federation, Juga direncanakan akan diadakan pertandingan beregu antara antara tim Batavia Chinese Badminton Federation (kelas-2) dan tim Buitenzorg Badminton League (kelas-1).

Pada babak kedua pertandingan semakin seru dan penonton semakin banyak. Ada beberapa satu pertandingan yang harus menyelesaikan babak pertama karena minggu sebelumnya ditunda (dihentikan) karena gelap. Dalam babak kedua ini sudah disediakan penerangan dan pertandingan dapat dilangsungkan pada malam hari. Semua pertandingan dapat diselesaikan dan hanya menyisakan pertandingan semifinal dan final yang dijadwalkan tanggal 7 Oktober untuk singer dan tanggal 14 Oktober untuk double (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 24-09-1934).

Hasil dari pertandingan babak semifinal Albert KG Lim dari Singapoera mengalahkan Sjarifoedin dari Medan dan Sharif (juga dari Medan) dikalahkan oleh Then Giok Soei (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 08-10-1934). Dalam perebutan tempat ketiga Sjarifoedin berhasil mengalahkan Sjarif dengan kedudukan terakhir 15-13, 5-15 dan 15-12. Yang menjadi juara adalah Then Giok Soei setelah mengalahkan Albert KG Lim dikalahkan Then Giok Soei dengan skor 6-15, 13-13 (5-3) dan 3-15. Sang juara menerima piala besar dari Lie Kwie Seng, piala dari perusahaan Faroka dan tiga piala lainnya yaitu dari surat kabar harian Siang Po, dari Liem Coan Lian dan dari Albert KG Lim dari Singapura. Pemenang kedua Albert KG Lim menerima piala dari Alfa Sports.

Usai pertandingan final tunggal ini diselengarakan pertandingan antara tim Batavia dan tim Buitenzorg. Tim Batavia turun dengan juara-juara kategori 2, sedangkan tim Buitenzorg dengan juara-juara kategori-1. Hasilnya adalah sebagai berikut.

Bataviaasch nieuwsblad, 08-10-1934
Pada kategori singel Batavia vs Buitenzorg: Thio Leng Cak - Yap Nie Joe 5-15. 15-11. 11-15; Indra Loebis - The Tjoen Pie 15-8, 15-7; Tan Hong Tjan - Tan Djin Ho 8-l5, 2-15. Pada kategori double Batavia vs Buitenzorg: Kwa Tjeng Ho / Khouw Hon Soei - Yap Nie Joe / The Tjoen Pie 18-21, 20-20 (2-3). Thio Tiang Tjoe / Tjan Kim Tjin - Tan Djin Ho / Kwee Keng Djin 21-19. 21-3. Secara keseluruhan tim Batavia untuk kategori singel hanya dimenangkan oleh Indra Loebis dan untuk kategori double imbang (satu pasangan menang dan satu pasangan yang lainnya kalah). Dari lima pertandingan ini tim Buitenzorg mengalahkan tim Batavia (3-2).

Yang menarik dari pertemuan antara tim Batavia dan tim Buitenzorg ini terselip satu pemain non Tionghoa (Indra Loebis). Indra Loebis meski dikategorikan sebagai pemain kelas-2 namun dari segi umur masih belia (termuda). Indra Loebis berasal dari dari Afdeeling Padang Sidempoean (Zuid Tapanoeli), setelah menyelesaikan pendidikan dasar Eropa (ELS) di Medan tahun 1932 melanjutkan sekolah menengah (SMP) di Koningin Wilhelmina School (KWS) di Batavia. Indra Loebis diberitakan lulus ujian masuk dan diterima di KWS Batavia tahun 1932 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 10-05-1932). Dalam hal ini Indra Loebis berumur sekitar  16 tahun. Besar dugaan Indra Loebis sudah bermain dan ikut kompetisi di Medan (sebelum melanjutkan studi di Batavia).

Bataviaasch nieuwsblad, 15-10-1934
Pada pertandingan terakhir kejuaraan badminton West Java yang dilangsungkan pada tanggal 14 Oktober juara kedua adalah Sjarifoeddin yang berpasangan dengan Adri (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 15-10-1934). Di partai semi final Sjarifoeddin/Adri mengalahkan pasangan Pek Tek Hap dan The Beng Hok. Pada partai final Sjarifoeddin/Adri dikalahkan oleh pasangan Yap Eng Ho dan Then Giok  Soei. Ini menunjukkan bahwa Then Giok Soei adalah radja badminton Batavia, selain memenangkan tunggal juga memenangkan double. Sementara Sjarifoeddin gelar Baginda Mangaradja Moeda asal Medan juga terbilang radja badminton kedua, selain juara ketiga untuk tunggal juga juara kedua untuk double.

Indra Loebis telah menunjukkan bakatnya di dalam permainan olah raga badminton, meski masih belia sudah mampu mengalahkan pemain senior dari Buitenzorg. Apakah prestasi Indra Loebis akan berlanjut? Kita lihat nanti.

Kompetisi Badminton Bond Batavia: Indra Loebis

Kampioenschap voor West-Java sudah digunakan dalam berbagai kegiatan khususnya di bidang olah raga, seperti balap kuda, sepak bola dan catur. Dalam hal ini, West-Java adalah suatu wilayah provinsi yang dibentuk sejak 1921 yang mana sebagai ibu kota adalah Batavia. Di provinsi West Java dimana terdapat ibu kota Pemerintah Hindia Belanda, Batavia kerap muncul gagasan untuk dijadikan sebagai kompetisi skala regional (di luar Batavia) sebagai pendahulu dalam kejuaraan yang lebih luas (nasional). Itulah mengapa Batavia Chinese Badminton Federation membuat perhelatan yang meniru kejuaraan-kejuaraan yang lain sebelumnya.

Seperti yang sudah-sudah, kegiatan Kampioenschap voor West-Java diinisiasi oleh orang-orang Belanda seperti balap kuda, sepak bola dan catur, Namun karena permainan badminton kurang diminati oleh orang Belanda, maka inisiatif penyelenggaraan kejuaraan West Java dilakukan oleh federasi Tionghoa. Sebagaimana disebutkan di atas, Kampioenschap voor West-Java untuk bidang badminton ini ternyata peminatnya sangat beragam, ada Eropa/Belanda dan juga ada pribumi. Atas dasar ini, para pengurus Batavia Chinese Badminton Federation mulai mendapat masukan dari berbagai pihak agar sifat asosiasinya lebih terbuka (tidak hanya terbatas untuk orang/klub badminton Tionghoa).

Segera setelah penyelenggaraan Kampioenschap voor West-Java, pengurus Batavia Chinese Badminton Federation melakukan rapat umum (kongres). Sebagaimana disebut di atas, federasi ini dibentuk tahun 1933, maka rapat umum ini adalah rapat evaluasi tahunan pertama dari federasi yang juga menyampaikan laporan tahunan dan pemilihan pengurus baru. Kampioenschap voor West-Java adalah salah satu program tersukses dari pengurus pertama dari federasi.

Het nieuws van den dag voor NI, 22-10-1934
Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 22-10-1934: ‘Pada pertemuan umum Batavia Chinese Badminton Federation yang terkenal, proposal dewan diadopsi untuk mengubah nama Batavia Chinese Badminton Federation diubah menjadi Badminton Bond Batavia, yang namanya dianggap lebih cocok,  karena sarikat terbuka untuk semua anak bangsa’.

Dalam perubahan nama federasi ini, selain ada masukan dari pegiat badminton dari orang-orang Belanda dan pribumi di Batavia, juga diduga ada arahan dari pemerintah kota (gemeente) Batavia untuk menggunakan terminologi federation (yang berbau Inggris) menjadi bond (berbau Belanda). Federasi-federasi lainnya yang sudah ada seperti voetbal dan catur menggunakan terminologi bond (sarikat). Era baru dunia badminton di Batavia dimulai.

Salah satu klub badminton di Batavia yang menanggapi perubahan konfigurasi organisasi bndminton di Batavia ini adalah para pemain badminton yang berasal dari Medan (yang umumnya bersekolah di Batavia) termasuk di dalamnya Lauw Soen Hoat. Sebelumnya para pemain Medan ini ikut bergabung dengan klub-klub terdekat dari tempat tinggalnya. Dengan adanya perubahan ini tampaknya semua pemain asal Medan membentuk asosiasi (klub) sendiri. Klub badminton asal Medan di Batavia ini diberi nama Family Club. Dua pemain asal Medan yang sudah dikenal sebelumnya ikut bergabung, mareka itu adalah Sjarifoedin (senior) dan Indra Loebis (junior). Dalam daftar pemain Family Club juga termasuk nama Boerhan Loebis (junior).

De Indische courant, 18-10-1932
Sebagaimana disebut di atas, Indra Loebis saat ini (1934) duduk di bangku SMP kelas dua di sekolah Koningin Wilhelmina School (KWS) di Salemba. Indra Loebis lulus seleksi sekolah KWS di Medan pada tahun 1932 (lihat De Sumatra post, 27-04-1932). Selain nama-nama Belanda dan Tionghoa dan Indra Loebis yang lulus seleksi di Medan terdapat nama Ismail Harahap. Besar dugaan Ismail Harahap adalah nama yang sama yang pada tahun 1938 mengikuti pendidikan (akademi) apoteker di Batavia. Ismail Harahap lulus dan menjadi apoteker pada tahun 1940 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 12-08-1940). Ismail Harahap kemudian ditempatkan di Soerabaja. Ismail Harahap kelak dikenal sebagai ayah dari Ucok AKA Harahap, pionir musik rock Indonesia. Ismail Harahap tinggal di (jalan) Kaliasin (satu jalan dengan orangtua Rudi Hartono). Andalas Harahap gelar Datoe Oloan alias Ucok AKA lahir tahun 1943, sementara Rudi Hartono lahir tahun 1949. De Indische courant, 18-10-1932

Kompetisi dalam Batavia Bond Badminton terdiri dari sejumlah klub (asosiasi). Setiap asosiasi dapat membentuk tim utama kategori senior (klasse-1) dan tim cadangan kategori junior (klasse- 2 atau klasse-3). Setiap klasse (divisi) melakukan kmmpetisi sendir. Setiap tim sesuai kategori kompetisi (divisie) yang diikuti membentuk formasi tiga singel dan dua double. Formasi ganjil menyebabkan setiap tim hanya menang atau kalah (tidak ada imbang seperti dalam voetbal dan catur). Pada akhir kompetisi peringkat tertinggi dalam pengumpulan poin menjadi juara (seperti klassemen dalam voetbal). Tampaknya aturan promosi dan degradasi belum diterapkan. Penempatan setiap tim dari semua klub ditentukan di fase persiapan kompetisi apakah ditempatkan pada klasse (divisie) mana. Pada tahun-tahun terakhir di kompetisi sepakbola Batavia (Bataviasche Vorbalbond) sudah mulai diterapkan aturan degradasi/promosi.

Het nieuws van den dag voor NI, 27-02-1935
Klub Family membentuk dua kategori tim utama senior dan cadangan junior. Dua tim tersebut ditempatkan dimana kategori-1 ditempatkan pada klasse-1 dan kategori kedua di klasse-2. Klub  Hua Chiao termasuk yang memiliki tiga tim yang berbeda (masing-masing satu tim setiap divisie), Sedangkan klub Sepakat hanya memiliki satu kategori tim yang ditempatkan pada klasse/divisie-2. Jumlah divisie tergantung setiap bond dengan memperhatikan kondisi. Misalnya jumlah divisie sepakbola Batavia hanya dua sementara divisi badminton Batavia ada tiga (di Medan jumlah divisie sepakbola pernah lima divisie). Hasil sementara kompetisi Badminton Bond Batavia disajikan dalam tabel (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-02-1935). Pada akhir kompetisi selain diperoleh klub juara pada setiap divisie, juga dihitung secara perorangan siapa yang menjadi juara singel dan juara double pada setiap divisie berdasarkan poin yang diperoleh bersangkutan selama kompetisi (seperti dalam sepak bola poin dan selisih gol).

Family Club pada kategori tim utama  hanya berada pada posisi dua dari bawah klassemen, sementara tim kedua yang terdiri antara lain Indra Loebis dan Boerhan Loebis berada pada peringkat pertama klassemen. Indra Loebis dan Boerhan Loebis selain bermain tunggal juga bermain ganda. Sejauh ini Indra Leobis belum pernah kalah. Family Club adalah satu-satunya klub di Batavia yang anggotanya berasal dari luar Batavia (asal Medan). Tidak hanya itu, pada tahun yang sama di kompetisi sepakbola Batavia Voetball Bond satu-satunya tim yang asalnya dari luar Batavia adalah BVC (Bataksche Voetbalclub). Demikian juga di dalam kompetisi catur di Batavia orang-orang Tapanoeli, yang berasal dari luar Batavia sebagai satu-satunya yang membentuk klub sendiri (klub catur Satoer Batak).

Pada awal tahun 1935 dalam sidang tahunan Badminton Bond Batavia terbentuk pengurus baru. Dalam kepengurusan tahun 1935-1936 ketua terpilih adalah Oh Sien Hong (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 16-02-1935). Susunan lengkap pengurus adalah sebagai berikut: Oh Sien Hong, Voorzitter; Am Soe Tjong. Secretarispenningmeester; Ewep Kang Ko; Adri; Ma Tjoen Kiat; Tan Tjie Kin; en Pee Tek Hap, Commissarissen. Untuk memimpin kompetisi ditunjuk Lim Soe Tjong. Adri adalah anggota Family Club. Lalu kompetisi bergilir lagi.

Satu hal yang pasti, dalam kompetisi Batavia Bond Badminton yang dimulai pada Maret 1935. bahwa Indra Loebis naik kelas di dalam klubnya menjadi pemain utama dan masuk ke dalam tim utama Family Club. Itu berarti Indra Loebis ada peluang akan bertemu dengan jagoan Batavia, Then Giok Soei (yang pernah menjuarai kejuaraan West Java).

Pertemuan antara klub Family Club dan klub Hua Chiao di kelas utama terjadi di awal kompetisi. Sekarang tim utama sudah ada nama Indra Loebis. Sementara Hua Chiao masih bertumpu pada pemain utama mereka Then Giok Soei. Kompetisi sebelumnya baik Indra Loebis maupun Then Giok Soei (yang berbeda kelas) tiidak pernah terkalahkan oleh lawan-lawan mereka. Tampaknya pada awal kompetisi ini Indra Loebis belum menjadi lawan buat Then Giok Soei. Ini terlihat pada pertemuan antara Family Club vs Hua Chiao yang dilangsungkan pada tanggal 10 dan 11 Maret 1935 (lihat  Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 12-03-1935).

Het nieuws van den dag voor NI, 12-03-1935
Pada singel dari klub Family diwakili oleh Sjarif, Adri dan Anwar. Sjarif bertemu dengan Then Giok Soei. Semua partai singel dimenangkan oleh klub Hua Chiao. Pada bagian double Family Club menurunkan Indra Loebis yang berpasangan dengan  Anwar. Pasangan baru dari Family Club memenangkan pertandingan yang menjadi satu-satunya kemenangan Family Club atas Hua Chioa, Sementara itu Then Giok Soei juga bermain di double berpasangan dengan Yap Eng Ho. Dari dua pertandingan yang dilakukan Then Giok Soei semuanya dimenangkan. Pada pertandingan hari Minggi Family Club bertemu dengan klub ABC. Tampanya Family Club bukan tandingan bagi ABC. Indra Loebis bermain pada singel maupun double. Dua pertandingan ini dimenangkan oleh Indra Loebis. Dari dua klub yang menjadi lawan Family Club nama Indra Loebis tampak lebih menonjol. Kapankah, Indra Loebis bertemu dengan Then Giok Soei apakah dalam pertandingan singel maupun double? Kita tunggu saja.

Badminton Bond Soerabaja: S. Loebis di Soerabaja Juara Liga Oost Java

Sejauh ini bond badminton sudah terbentuk di Medan, Batavia dan Buitenzorg juga diketahui terdeteksi bond di Poerwakarta (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 17-01-1935). Sementara itu kegiatan badminton di Soerabaja semakin bergairih. Ini ditunjukkan oleh adanya toko di Soerabaja, The Sporting House telah menjual buku dan peralatan permainan olahraga badminton (lihat De Indische courant, 18-10-1932). Penjualan peralatan badminton di suatu kota seperti Medan dan Batavia mengiringi semakin berkembangnya kegiatan badminton di kota-kota tersebut. Jago badminton di Soerabaja adalah S. Loebis.

Peta 1935
Pada tahun 1935 di Soerabaja diadakan turnamen badminton. Kota Soerabaja adalah kota pertama di Oost Java yang menggiatkan permainan badminton. Dalam turnamen yang diselenggarakan kali pertama tahun 1935 di Soerabaja juara adalah S. Loebis. Ini seakan mengingatkan dua marga Loebis yang menjadi pemain badminton di Batavia yakni Indra Loebis dan Boerhan Loebis. Apakah juga S. Loebis sudah bermain badminiton sejak di Medan? Boerhan Loebis adalah mahasiswa kedokteran di sekolah kedokteran NIAS di Soerabaja. Sementara badminton sudah berkembang di Soerabaja dan Madioen, sebagai suatu game yang terbilang baru di Hindia, permainan badminton juga sudah mulai muncul di Malang. Disebutkan bahwa di Malang dan Lawang permainan badminton sudah menjadi perhatian warga. Pada hari Minggu pagi dan sore terlihat antusiasme di lapangan (lihat Soerabaijasch handelsblad, 24-05-1935).

Tampaknya S. Loebis telah dibajak oleh asosiasi badminton di Madioen. Besar dugaan S. Loebis bersedia datang ke Madioen karena ingin melatih para pemain badminton Madioen yang tengah bersemangat. Kota Madioen kemudian menjadi kota kedua di Oost Java yang memiliki antusiasme dalam permainan badminton. Kota Madioen kemudian mulai menantang (mengajak bertanding) asosiasi badminton di Soerabaja. Jadilah pertandingan tim badminton dua kota di Oost Java antara tim Madioen versus tim Soerabaja.

Pertandingan antara tim Soerabaja dan tim Madioen ini mirip dengan pertandingan antara tim Batavia dan tim Buitenzorg. Dalam pertandingan tim Batavia versus Buitenzorg yang diadakan pada tahun 1934, tim Batavia kalah dari tim Buitenzorg 2-3. Indra Loebis yang bermain untuk tim Batavia dapat mengalahkan lawannya dari Buitenzorg.

Pada tahun 1936 kejuaraan di Oost Java dimulai. Bentuk penyelenggaraannya tidak seperti di West Java (open, kejuaraan terbuka), tetapi dengan bentuk pertandingan antar federasi. Oleh karena hanya baru dua kota yang membentuk federasi di Oost Java maka kejuaraan dilakukan dengan melakukan pertandingan beregu (13 partai) antara tim Soerabaja dan tim Madioen. Pertandingan kejuaraaan Oost Java ini dilangsungkan di Madioen (lihat De Indische courant, 15-04-1936).

Tidak dijelaskan bagaimana konfigurasi pertandingan beregu ini apakah semuanya singel (putra) atau kombinasi single dan double dengan komposisi tertentu. Pertandingan yang menentukan adalah pertandingan yang terakhir karena 12 pertandingan telah diselesaikan dengan skor 6-6. Pada pertandingan terakhir yang menyisakan jagoan masing-masing menjadi puncak kejuaraan. Hal ini berbeda dengan catur yang dapat dilangsungkan bersamaan dengan konfigurasi menurut rangking, juara klub lawan juara klub dan seterusnya ke peringkat paling rendah. Pertandingan beregu badminton tampaknya demikian, namun tidak semua pertandingan dapat dilangsungkan bersamaan yang boleh jadi karena jumlah lapangan yang terbatas (mungkin hanya dua lapangan). Dalam posisi menunggu, para penonton menunggu dua jagoan masuk lapangan.

De Indische courant, 15-04-1936
Sebagaimana diberitakan De Indische courant, 15-04-1936, banyak penonton mengikuti sejumlah pertandingan dalam suasana meriah, yang paling menarik adalah bahwa antara pemain terkuat dari kedua belah pihak, yaitu Soerabaiaan Bacharoedin dan Madioener S. Loebis yang memenangkan pertandingan pertama dengan 15-13, selanjutnya dengan skor 12-15 kalah dan pertandingan yang terbaik adalah pertandingan partai ketiga. Dalam partai penentuan ini pada akhirnya terjadi skor 14-14 (yang dilajutkan dengan deuce). Dalam partai injure time ini jagoan Soerabaja mengalahkan jagoan Madioen dengan skor tambahan deuce (3-1).

Dalam pertandingan kejuaraan Oost Java antara tim Soerabaja dan tim Madioen berakhir dengan sekor 6-7 yang mana sang penantang (Madioen) kalah. Tragisnya kekalahan ini justru di babak penentuan yang dimainkan oleh S. Loebis. Untuk sekadar diketahui, sejatinya S. Loebis masih dianggap publik sebagai pemain terkuat di Soerabaja. Bacharoedin selama ini berada di bawah bayang-bayang S. Loebis.

De Indische courant, 16-04-1936
Hasil ini diluar dugaan karena selama ini permainan S Loebis terbilang yang terkuat di Oost Java. De Indische courant, 16-04-1936 menulis sebagai berikut: ‘Dalam berita yang kami terima tentang kejuaraan badminton di Madioen, kami menyebut S. Loebis yang terkuat (pemain Madioen). Namun, Bacharudin yang berhak atas gelar ini, sementara S. Loebis adalah pemain terbaik, yang sebelumnya pemain terbaik Soerabaja [noemden wij S. Loebis den sterksten. speler van Madioen; op dezen titel maakt echter Bacharoedin aanspraak, terwyl S. Loebis de beste Soerabaia-speler is].

Dalam pertandingan antara Bacharoedin dan S. Loebis sejatinya berimbang dan hanya diselesaikan dengan deuce. Boleh jadi tidak seprima ketika bermain di Soerabaja. Kini, S. Loebis di Madioen harus membagi perhatian antara melatih para anggotanya dan latihan untuk dirinya sendiri. S. Loebis kelelahan di Madioen.

Namun tim Madioen jelas dalam hal ini tim debutan yang berani menantang tim kuat Soerabaja yang sudah lama eksis. Dengan kalah tipis antara tim Madioen masih sedikit bisa membuat tersenyum warga Madioen karena bisa mengimbangi tim Soerabaja. Prestasi Madioen ini haruslah tetap didedikasikan kepada sang suhu S. Loebis van Medan. Itulah drama badminton di (province) Oost Java.

Sementara itu, di bond Batavia, kegiatan badminton terus berkembang. Kompetisi internal Batavia Bond Badminton terus berjalan. Nama Indra Loebis terus meroket. Semua pertandingan yang dilakukan oleh Indra Leobis selama kompetisi internal Batavia dari tahun 1934 hingga tahun 1936 belum pernah kalah. Dua tahun terakhir (sejak 1935) Indra Loebis sudah dikategorikan sebagai pemain senior (kelasse-1). Dua Loebis asal Medan di Jawa menjadi jawara badminton. Di Oost Java nama S. Loebis tidak terpatahkan (kecuali satu partai di Madioen). Sementara Indra Loebis di West Java sudah menggantikan posisi Then Giok Soei (juara singel perorangan Kejuaraan West Java tahun 1934).

Dalam perkembangannya dunia badminton tetap meriah. Badminton Bond Batavia telah berganti nama Bataviasche Badminton Unie (BBU) yang cenderung diasosiasikan sebagai Chineesche Bond. Juga terbentuk asosiasi badminton PBID (diasosiasikan sebagai Indonesische Bond/ISI) dan asosiasi badminton kantor/perusahaan dengan nama BKBB (Bataviasche Kantoor-Badmintonbond).

Pada tahun 1941 diadakan pertandingan friendly game antara BBU dan BKBB (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 27-06-1941). Pertandingan ini dilakukan di lapangan jalan Prinsenlaan 18, Batavia. Tim BKBB adalah Single: 1. Sajoeto, 2. Amir Wahid, 3. Ishak, 4. Iskandar (Soemarsono). Doublés: 1. Sajoeto/Amir Wahid 2. Ishak/Iskandar (Soemarsono) 3. Ong Lian Bie/K. Hon Soey. Cadangan: Gouw Peng Ho, Mohd. Zen, Soewandi, Tan Teng Hin, Joesman, Idris en Tan Loen Seng. Dalam perayaan jubilieum (ultah kelima) BKBB diadakan pertandingan antara tiga federasi yang ada di Batavia (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 25-08-1941). Pada tahun 1941 juga untuk kali pertama diadakan friendly game antara tim kombinasi Batavia dan tim kombinasi Bandoeng (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 31-10-1941). Tim kombinasi Batavia terdiri dari jagoan-jagoan dari tiga federasi yang ada di Batavia yakni BBU, PBID dan BKBB. Pemain-pemaian tim Batavia antara lain Oei Hok Tjoan (juara Batavia 1941), Sajoeto, Lim Soei Liong, Then Giok Soey (juara tempo doeloe), Amir Wahid, Bong Kong Soen, Gan Tion Keng dan Koesoemajadi. Pertandingan dilangsungkan di lapangan bersejarah (lapangan) BKBB di jalan Prinsenlaan 18 Batavia.

Lantas dimana Indra Loebis? Di Batavia nama Then Giok Soey masih ada. Then Giok Soey yang kini bermain di double berpasangan dengan Lim Soei Liong dalam kejuaraan West Java sebagai juara. Juara Batavia pada saat ini adalah Oei Hok Tjoan. Juga nama S. Loebis di Oost Java tidak pernah muncul lagi.

Badminton pada Era Perang

Era kelonial Belanda berakhir, pendudukan militer terjadi pada tahun 1942. Tidak ada informasi yang diketahui tentang badminton selama pendudukan militer Jepang. Demikian juga pada awal perang kemerdekaan sulit mendapatkan informasi. Kegiatan badminton baru muncul kembali pada pertengahan tahun 1947 (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 19-07-1947). Saat itu Indonesia terbelah: wilayah yang dikuasai (kembali) oleh Belanda/NICA dan wilayah yang dikuasai oleh para Republiken Indonesia.

Di wilayah yang dikuasai Belanda/NICA muncul suatu kejuaraan rintisan diadakan di Batavia yang diadakan di lapangan Chung Hua di jalan Prinsenlaan No. 65. Kejuaraan ini seakan kembali ke masa lampau di tahun 1934. Dalam kejuaraan ini muncul empat nama dalam semifinal: Lim Soei Liong vs Then Giok Soey dan Song Tiang Who vs Tan Tjin Ho. Dalam hal ini nama Then Giok Soey kembali eksis sebagai pemain badminton veteran. Then Giok Soey di semifial justru bersaing dengan bekas pasangannya double Lim Soei Liong ketika menjuarai Kejuaraan West Java sebelum perang (semasih era kolonial Belanda). Dalam perkembangannya terbentuk Bataviase Badminton Bond (lihat Het dagblad : uitgave van de Nederlandsche Dagbladpers te Batavia, 26-09-1947). Bond baru ini akan menyelenggarakan kejuaraan Kampioen van Batavia. Nama Then Giok Soey masih muncul. Dalam partai semifinal Then Giok Soey yang sudah berumur 37 tahun harus takluk dari lawannya.

Sementara di Batavia orang-orang Tionghoa menggiatkan kembali badminton, di Medan kegiatan badminton mulai dilakukan oleh orang-orang Eropa (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 13-09-1948). Di Soerabaja juga kembali dibentuk bond badminton atas sokongan Chung Hua Tsing Nien Hui (lihat Nieuwe courant, 15-11-1948). Pada bulan Juli 1949 Chung Hua Tsing Nien Hui (CHTNH) Batavia mengundang tim badminton CHTNH/SBB Soerabaja (lihat De vrije pers: ochtendbulletin, 12-07-1949). Dalam pertandingan ini juga turut serta tim dari BBU dan PORI. Nama Then Giok Soey tidak muncul lagi. Then Giok Soey pensiun.

Era Pengakuan Kedaulatan Indonesia: Dari Ferry Sonneville (suksesi Then Giok Soey) hingga Rudi Hartono (suksesi Indra Loebis)

Era baru badminton Indonesia dimulai. PORI melakukan kongres pada tahun 1950 (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 04-01-1950). Kedudukan dewan pusat masih di Jogjakarta. Singkatan PORI diubah dari Persatuan Olahraga Republik Indonesia menjadi Persatuan Olah-Raga Indonesia. Badan ini hanya berfungsi sebagai koordinasi, sementara bidang-bidangnya membentuk dewan sendiri-sendiri secara otonom. Muncullah organisasi Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia disingkat PBSI (hasil  kongres tanggal 5 Mei 1951 di Bandung).

Pekan Olahraga Nasional diadakan di Djakarta (lihat De nieuwsgier, 22-05-1951). Pekan olah raga ini yang disebut PON II juga menjadi ajang seleksi untuk membentuk tim ke Olimpiade. Dalam pekan olahraga ini juga dipertandingkan badminton. Pekan olahraga ini akan diselenggarakan dari tanggal 21-28 Oktober 1951.

Pada tahun 1952 Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia menyelenggarakan Kejuaraan Bulu Tangkis Nasional (lihat De nieuwsgier, 27-12-1952). Disebutkan Presiden menyediakan piala. Pertandingan ini akan dimainkan di Djakarta antara 25 dan 28 Desember. Kejuaraan ini disebut sebagai Piala Presiden. Juara tunggal putra adalah Ferry Sonneville (dari Djakarta) dan Ong Hong Nio juara tunggal putri (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 29-12-1952).

Java-bode, 10-08-1953
PBSI termasuk dalam federasi internasional, PBSI diterima sebagai anggota Federasi Badminton Internasional pada 1 Juli 1953. Pengakuan itu diputuskan di kongres federasi internasional (lihat De nieuwsgier, 23-07-1953). Juara nasional Ferry Sonneville dan runner-up nasional Eddie Jusuf akan menjadi kekuatan bulu tangkis Djakarta dalam PON ketiga yang segera dilaksanakan di Medan tahun 1953 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 10-08-1953).

Dalam sejarah bulu tangkis Batavia/Djakarta, Ferry Sonneville adalah suksesi dari Then Giok Soey. Ferry Sonneville lahir di Batavia tahun 1931 dan menjadi juara pada tahun 1953 pada usia 22 tahun. Sementara tempo doeloe Then Giok Soey menjadi juara di Batavia tahun 1934 pada usia 24 tahun.

Ferry Sonneville (1955)
Pada tahun 1934 di Batavia juara muda (junior) adalah Indra Loebis. Saat itu Indra Loebis baru berumur 16 tahun (masih SMP kelas dua). Penampilan Indra Loebis ini kemudian muncul pada diri Rudi Hartono yang lahir tahun 1949 sudah berprestasi pada usia 16 tahun. Dalam hal ini, Rudi Hartono bukanlah suksesi S Loebis, tetapi suksesi dari Indra Loebis. Ferry Sonneville (De nieuwsgier, 21-06-1955)

Itulah sejarah panjang bulu tangkis di Jakarta secara singkat. Anda ingin menulis sejarah badminton di Batavia? Jangan lupa sejarah lama, ada nama Then Giok Soey dan Indra Loebis.

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Jasa Whatsapp Blast | Adwordsgoogle.site

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang
close
Jual Software Whatsapp Bulk Sender Blaster Anti Banned