Sejarah Jakarta (84): Sejarah Rawasari dan Jembatan Serong Tempo Doeloe; Mengapa Jembatan Dibuat Serong di Rawasari?

shape image

Sejarah Jakarta (84): Sejarah Rawasari dan Jembatan Serong Tempo Doeloe; Mengapa Jembatan Dibuat Serong di Rawasari?

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Ketika aku masih tinggal dalam Rawasari tempo doeloe (athun baru 1990an) masih ada sebuah jembatan yang diklaim Jembatan Serong. Apakah jembatan tadi telah diluruskan, entahlah. Namun ternyata nama jembatan serong tidak hanya dalam Rawasari, juga masih ada dalam Cipayung Depok, pada Tanah Abang dan (mungkin dalam tempat lain). Bukan karena tata letak jembatan yang memotong sungai serong (x) yang menjadi perhatian, namun mengapa penduduk menyebutnya Jembatan Serong, ad interim jembatan-jembatan yang memotong tegak lurus sungai ( ) nir dianggap Jembatan Lurus.

Jembatan Serong adalah satu hal. Satu hal lain yang lebih krusial dari itu adalah bagaimana memakai sejarah Rawasari sendiri. Tentu saja belum pernah ditulis. Siapa yg peduli sejarah Rawasari. Tapi, meski begitu, Rawasari nyatanya memiliki sejarahnya sendiri, sejarah yg belum terinformasikan, bahkan sejarah Rawasari terkait dengan sejarah Jembatan Serong. Untuk menambah pengetahuan kita, yuk kita telusuri dari-dari tempo doeloe.

Sumber utama yang dipakai dalam artikel ini merupakan ?Asal utama? Seperti surat fakta sejaman, foto

Rawasari: Teori Jembatan Serong

Secara teoritis jembatan dibuat lurus memotong sungai. Lokasi dimana jembatan diletakkan di atas sungai haruslah memilih lebar sungai paling sempit. Mengapa begitu? Karena dengan membuat jembatan lurus di lebar sungai yang sempit, secara teknis banyak untungnya: jembatan yang lebih pendek akan lebih kuat konstruksinya, jembatan yang lebih pendek biaya pengadaan bahan dan pembuatannya lebih murah. Tidak hanya itu, pada lebar sungai paling sempit secara geologis kondisi tanah telah teruji oleh jaman, kedua tebing sungai lebih solid untuk meletakkan tiang atau pondasi. Tentu saja pada lebar sungai yang lebih sempit risiko banjir lebih kecil karena permukaan dasar sungai jauh berada di bawah. Oleh karenanya pembuatan jembatan dengan arah serong, secara praktis melawan hukum alam(iah). Dan, pada prakteknya jarang dilakukan kecuali di beberapa tempat saja seperti di Rawasari.

Jembatan Serong, Rawasari (Now)
Soal jembatan serong mungkin dianggap hal sepele. Akan tetapi, mengapa jembatan dibuat serong selain melawan teori, juga kontruksinya sangat lemah. Namun, sekali lagi, mengapa dibuat serong tentu saja ada alasan (pertimbangan)  yang serius. Disinilah, soal jembatan serong yang terkesan sepele, sejatinya memiliki sejarah yang serius, yakni begitu pentingnya sejarah Rawasari untuk diketahui. Kasus jembatan tidak lurus (serong) ini membawa kita ke pertanyaan yang lebih serius: Mana yang duluan ada, jembatan atau sungai (kali)? Lalu pertanyaan berikutnya: Mana yang duluan ada, nama jembatan disebut serong atau nama area disebut Rawasari? Untuk sekadar bernostalgia: Saya tahu persis jembatan ini karena saya pernah cukup lama tinggal di komplek BPKP jalan Rawasari Selatan (sangat dekat dengan jembatan ini). Tulisan ini didedikasikan untuk saudara Aris dan keluarga.

Nama Rawasari sebagai nama suatu area kali pertama muncul ke publik pada tahun 1872 (lihat Algemeen Handelsblad, 12-08-1872). Disebutkan bahwa van Hoeven akan menjual tiga persil (petak) lahan. Lahan-lahan tersebut dinamai Pondok Rawa, Modjo Rawa dan Rawa Sari. Secara spesifik lahan Rawa Sari disebut luasnya 20 hektare yang terdiri dari bouw en weiland (lahan pertanian dan padang ilalang) yang mana terdapat kanal utama (hoofdvaart) di dekat kampong (dorp) Nieuw Vennep.

Algemeen Handelsblad, 12-08-1872
Dari keterangan ini paling tidak area yang disebut Rawasari yang luasnya 20 hektare sekitar luas rata-rata usaha pertanian saat itu. Lokasi area Rawa Sari ini berdekatan dengan dua lahan yang lain (Pondok Rawa dan Modjo Rawa). Ketiga lahan ini berpusat pada area basah (rawa). Pada Peta 1890 area rawa tersebut masih teridentifikasi dalam peta. Satu keterangan yang paling penting adalah lahan Rawa Sari dilalui oleh sebuah kanal. Pada Peta 1866 kanal ini sudah teridentifikasi memotong jalan.

Jalan yang dimaksud dalam hal ini adalah jalan yang bermula di jalan pos (Grooteweg) di Struiswijk. Pada era VOC lahan (land) Struis adalah lahan tertua yang telah diusahakan oleh para pedagang VOC. Land Struis ini kini kampus UI dan RSCM. Jalan ini adalah Jalan Salemba Tengah yang sekarang. Jalan ini adalah satu-satunya jalan. Setelah ujung Jalan Salemba Tengah (belum ada jalan Paseban) lurus menuju lahan Tjempaka Poetih dan ke arah sisi timur lurus ke lahan Rawa Mangoen (melalui Pasar Genjing dan jalan Utan Kayu yang sekarang; jalan Pramuka yang sekarang belum ada). Dua jalan (lama) ini dipotong oleh sebuah kanal (bukan sungai), karena bentuknya yang terbilang lurus. Seperti teori jembatan, teori kanal juga menarik garis lurus agar pembangunannya lebih pendek (dan biaya lebih murah). Tiga lahan milik van Hoeven ini berada di antara kampong Salemba (Tengah) dan kampong Tjempaka Poetih.

Kapan area basah (rawa) tersebut disebut Rawa Sari tidak diketahui secara jelas. Namun secara epistemologi, nama Rawa Sari sudah muncul sebelum adanya (pembangunan) kanal (vaart). Jika pada Peta 1866 sudah diidentifikasi kanal, maka nama lahan Rawa Sari sudah dikenal jauh sebelumnya. Lahan-lahan di seputar rawa ini bukan termasuk wilayah (administrasi) Struiswijk tetapi masuk wilayah Tanah Tinggi.

Jalan adalah penanda navigasi paling penting dalam menelusuri sejarah suatu wilayah atau suatu area. Jalan Percetakan Negara yang sekarang yang merupakan jalan penghubung antara (kampong) Salemba (Tengah) hingga ke ujung jalan di kampong Tjempaka Poetih diduga adalah jalan kuno yang sudah eksis sejak lama. Jalan kuno ini melalui rawa yang mana penduduk merintis jalan di tengah rawa dengan memilih dan mengikuti tanah-tanah kering.

Rawa ini diduga sudah terbentuk sejak jaman kuno. Rawa ini terus eksis karena air yang tersimpan di lahan yang lebih rendah terjebak dan tidak memiliki jalan keluar menuju sungai atau pantai/laut. Kasus ini adalah kasus umum (tipologi) lahan-lahan diantara lahan yang lebih tinggi (seperti Tanah Tinggi) dengan sungai atau pantai/laut. Hal inilah yang menyebabkan di seputar Batavia (juga di kota-kota pantai lainnya) ditemukan banyak rawa (seperti dalam hal ini Rawa Sari, Rawa Mangoen, Rawa Bangke dan Rawa Malang). Peta 1904

Area ini diduga mulai dihuni sejak era VOC/Belanda. Ini mudah dijelaskan. Jalan Salemba (Tengah) pada era VOC adalah jalan rintisan menuju perkampongan orang-orang Jawa, Makassar dan Ambon. Mereka ini awalnya adalah anggota pasukan pribumi yang direkrut dari Jawa (sekitar benteng Missier), (pulau) Ambonia dan kerajaan Gowa (Makassar). Mereka ini ditempatkan di sujumlah titik di uar Batavia hingga ke sungai Tangerang/Tjisadane di barat dan hingga ke sungai Karawang/Tjitaroem di timur. Untuk menambah penghasilan mereka membuka perkampongan dan mengusahakan pertanian. Hal inilah yang menyebabkan diujung jalan rintisan dari kampong Salemba Tengah ini terbentuk kampong Jawa, kampong Makassar dan kampong Ambon. Besar dugaan mereka inilah yang membangun jalan (kini jalan Percetakan Negara dan jalan Rawasari Selatan).

Nama Rawasari diduga bukan nama asli. Namun nama yang diduga diperkenalkan oleh orang Jawa yang bertempat tinggal di kampong Jawa yang besar dugaan dari desa Rawasari di Jawa Tengah. Seperti disebutkan di atas terdapat tiga lahan milik van Hoeven (Rawa Sari, Modjo Rawa dan Pondok Rawa), ketiga lahan ini berada diantara kampong Jawa dan kanmpong Makassar. Lahan-lahan ini sebelum diakuisisi dan dalam perkembangan terakhir dimiliki dan diusahakan oleh van Hoeven adalah lahan-lahan yang diusahakan oleh penduduk di kampong Jawa. Karena itu nama lahan-lahan itu muncul sebagai Rawa Sari, Modjo Rawa dan Pondok Rawa. Seperti biasanya, orang-orang Belanda tidak mengubah nama yang sudah ada, karena nama geografis (kmpong, sungai dan rawa) adalah penanda navigasi.

Dengan adanya kanal (vaart) melalui rawa, maka area rawa ini di sana-sini terbentuk lahan kering yang kemudian diokupasi (dikapitalisasi) sebagai lahan yang potensial untuk pembangunan pertanian, termasuk Rawa Sari. Dalam hubungan ini, sebagaimana terbentuknya jalan, terbentuknya kanal juga mengikuti hukum alam. Jalan terbentuk mengikuti lahan yang lebih tinggi dan kanal terbentuk mengikuti lahan yang lebih rendah di hilirnya.

Dalam kasus Jembatan Serong di lahan Rawa Sari, kanal (vaart) baru ini telah memotong jalan (bukan sebaliknya jalan memotong sungai/kanal). Kanal ini memotong jalan kuno antara kampong Salemba dan kampong Tjempaka Poetih. Perpotongan kanal dengan jalan kono ini berada tepat di GPS tertentu dimana jalan tidak tegak lurus dengan desain kanal. Oleh karenanya, untuk menghubungkan jalan di atas kanal, dibangun jembatan (awalnya terbuat dari kayu) yang arahnya serong merujuk pada kanal tetapi lurus sesuai jalan yang telah ada. Inilah penjelasan Teori Jembatan Serong.

Jembatan baru di lahan Rawa Sari yang tampak serong di atas kanal dalam perkembangannya penduduk menyebunya sebagai Jembatan Serong. Memang sangat jarang terjadi jembatan dibuat serong, karena itu penduduk menganggapnya sangat unik dan secara spesifik untuk penanda navigasi bagi penduduk dengan menyebutnya Jembatan Serong.

Pembangunan Kanal Rawasari (Peta 1904)
Idem dito dengan nama Jembatan Serong di Depok. Sejak jaman kuno sudah terbentuk jalan kuno di sisi timur sungai Pesanggarahan dari Bodjong Gede hingga ke Pitara (Depok) melalui kampong Tjipajoeng. Untuk membangun persawahan antara lahan Bodjoeng Gede dengan Tjinere dibangun kanal baru yang selesai pada tahun 1875 [Kanal ini merupakan terusan kanal dari bendungan Empang di Buitenzorg melalui Kedong Badak dan Tjiliboet]. Di kampong Tjipajoeng, kanal baru ini memotong jalan yang sudah terbentuk sejak lama (dari Tjipajoeng ke Sawangan). Di atas kanal ini lalu dibangun jembatan yang arahnya serong merujuk pada kanal tetapi mengikuti garis lurus jalan. Dalam hal ini, kasus nama Jembatan Serong di Rawa Sari dan di Tjipajoeng, Depok kurang lebih sama asal-usulnya.

Perkembangan Lebih Lanjut Area (Kampong) Rawasari Menjadi Kelurahan (Wijk)

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang