Sejarah Jakarta (80): Sejarah Pendidikan di Jakarta; Sutan Casajangan, Direktur Pertama Sekolah Guru Normaalschool Batavia, 1919

shape image

Sejarah Jakarta (80): Sejarah Pendidikan di Jakarta; Sutan Casajangan, Direktur Pertama Sekolah Guru Normaalschool Batavia, 1919

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Jakarta pada blog ini Klik Disini

Satu yg terlupakan pada sejarah Jakarta merupakan sejarah pendidikan. Sejauh ini tidak pernah ditemukan tulisan tentang sejarah pendidikan pada Jakarta. Ini satu kelalaian atau apa. Padahal Jakarta (baca: Batavia) merupakan bunda kota negara sejak Jan Pieterszoon Coen, 1619. Bukankah Gubernur kita seorang ahli pendidikan, mantan Menteri Pendidikan. Okelah. Tidak ada istilah terlambat buat menulis sejarah pendidikan pada Jakarta. Sejarah Jakarta tidak hanya Si Pitung.

Normaalschool Batavia dan Soetan Casajangan
Meski Batavia adalah ibu kota negara, sekolah guru (kweekschool) untuk pribumi yang pertama justru didirikan jauh dari Batavia di Soeracarta (1851). Sekolah guru yang kedua di Fort de Kock tahun 1856 dan yang ketiga, tahun 1861 di Tanobato (Afdeeling Mandailing en Angkola). Sekolah guru yang keempat didirikan di Bandoeng pada tahun 1866. Lulusan dari empat sekolah guru inilah kemudian satu dua guru yang ‘nyasar’ ke Batavia untuk berinisiatif memberikan pendidikan kepada anak usia sekolah di Batavia. Tentu saja beberapa guru itu tidak cukup mengingat penduduk Batavia sungguh sangat padat jaman itu. Pendirian sekolah guru di Batavia sangat diperlukan.

Lantas apa pentingnya mengetahui sejarah pendidikan pada Jakarta? Itulah pertanyaan pentingnya. Itu jua yang menyebabkan nir ada orang yg pernah menulisnya. Saya coba searching pada nternet, memang belum pernah ditulis. Oleh karenanya, inilah waktunya kita mulai menulis sejarah pendidikan dalam Jakarta. Mari kita telusuri sumber-asal tempo doeloe.

Sumber utama yg digunakan dalam artikel ini adalah ?Sumber utama? Seperti surat warta sejaman, foto

Sekolah Guru Normaalschool Batavia dan Soetan Casajangan di Meester Cornelis

Sekolah guru (Normaalschool) di Batavia dibuka tahun 1871 (lihat Bataviaasch handelsblad, 10-06-1871). Pendirian sekolah guru dimaksud untuk memenuhi kebutuhan sekolah dasar untuk pribumi di Residentie Batavia. Ini sehubungan dengan reorganisasi pendidikan yang telah dilakukan bahwa tidak setiap orang mengajar tetapi dan harus melalui pendidikan guru seperti sekolah guru (kweekschool). Normaalschool nama lain dari kweekschool.

Bataviaasch handelsblad, 10-06-1871
Sekolah guru (kweekschool) yang pertama didirikan di Soeracarta (1851). Sekolah guru yang kedua di Fort de Kock tahun 1856 dan yang ketiga, tahun 1861 di Tanobato (Afdeeling Mandailing en Angkola). Sekolah guru yang keempat didirikan di Bandoeng pada tahun 1866. Setelah itu di beberapa tempat dibangun kweekschool yang baru. Dalam perkembangannya Pemerintah melakukan reorganisasi pendidikan tahun 1868, Salah satu wujud dari reorganisasi pendidikan tersebut adalah pembentukan sekolah guru yang disebut sebagai Normaalschool. Ada sedikit perbedaan sekolah guru kweekschool dengan sekolah guru normaalschool. Pada sekolah guru normaalschool (openbare) dimungkinkan guru-guru yang belum memiliki sertifikat guru bantu kweekschool (hulponderwijzer) dapat mengikuti pendidikan di sekolah guru normaalschool (dianggap sebagai partikelir). Sekolah guru Normaalschool di Batavia adalah yang pertama. Lalu setelah di Batavia, normaalschool berikutnya didirikan di Semarang dan Soerabaja.

Pendirian sekolah guru normaalschool di Batavia berdasarkan keputusan Gouverneur Generaal, 1 Januari, 1871 No. 6. Kurikulum normaalschool Batavia. Kurikulum dibagi menjadi enam bagian antara lain bahasa Belanda, sastra, aritmatika, geografi, fisika, pengetahuan alam, musik, pedagogik dan mengarang. Guru yang diangkat adalah SE Harthoorn, FL vau Ruijven, HJ Hardeman, KL van Schouwenburg dan Dr. C de Gavere dan H, Meijll. Lama pendidikan selama dua tahun. Guru-guru sekolah dasar yang tidakl lulus sekolah guru kweekschool dapat mengikuti program pendidikan (secara penuh).

Pada tahun 1886 (pasca reorganisasi pendidikan) pemerintah melakukan (kembali) penilaian terhadap sekolah guru yang ada. Dua sekolah guru terbaik adalah sekolah guru kweekschool Padang Sidempoean dan kweekschool Probolingo. Kweekschool Padang Sidempoean dibuka tahun 1879 (pengganti Kweekschool Tanobato yang ditutup tahun 1874). Direktur Kweekschool Padang Sidempoean adalah Charles Adrian van Ophuijsen. Sebelum reorganisasi pendidikan, sekolah guru terbaik adalah Kweekschool Tanobatoe yang dipimpin oleh Sati Nasution (alias Willem Iskander).

Sekolah guiru Normaalschool Batavia dalam perjalanan tidak memuaskan. Sejak 1871 Normaalschool Batavia hanya menghasilkan guru sebanyak 59 orang selama 18 tahun hingga tahun 1889 (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 13-03-1890). Muncul berbagai keluhan terhadap kinerja normaalschool di Batavia. Keluhan utama soal guru-gurunya yang tua (yang lesu?) yang dibantu oleh guru-guru wanita muda (yang belum perngalaman?). Turn over guru-guru di Normaalschool Batavia juga dituding debagai biang kerok rendahnya jumlah lulusan. Juga disebutkan kasus Batavia ini kurang lebih sama dengan Semarang dan Soerabaja. Sekolah Normaalschool Soerabaja disarankan digabung ke Batavia saja.

Java-bode voor Nederlandsch-Indie, 13-03-1890
Untuk sebagai pembanding, Kweekschool Padang Sidempoean dalam setahun meluluskan guru rata-rata 12 orang. Sejak 1886 yang menjadi direktur Kweekschool Padang Sidempoean adalah Charles Adrian van Ophuisen. Seorang guru yang sangat serius yang memulai kariri guru di Kweekschool Padang Sidempoean sejak 1881. Saat penilaian sekolah guru Normaalschool Batavia tahun 1890, van Ophuijsen masih menjabat sebagai direktur di Padang Sidempoean. Dua murid terbaik guru Charles Adrian van Ophuijsen adalah Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda (lulu 1884) dan Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan (lulus 1887) . Sekolah guru Normaalschool Batavia sejak pendiriannya tahun 1871 pada tahun 1972 dari 10 orang kandidat hanya lulus 6 orang. Pada tahun 1873 dari 13 kandidat yang mengikuti ujian hanya satu orang yang lulus. Pada tahun 1874 jumlah lulusan meningkat menjadi 7 orang tetapi tahun berikutnya berkurang lagi. Pada tahun terakhir (1898) hanya satu yang lulus. Total selama 18 tahun hanya meluluskan 48 laki-laki dan 11 perempuan. Itu berarti selama 18 tahun Normaalschool Batavia hanya meluluskan siswa 2 atau 3 orang per tahun. Suatu angka yang sangat rendah

Singkat kata sekolah guru Normaalschoo Batavia yang beralamat di Salembaweg, kinerjanya baru meningkat tajam setelah direkturnya dijabat oleh Soetan Casajangan pada tahun 1919. Soetan Casajangan adalah kepala sekolah guru Normaalschool pertama yang diangkat dari kalangan pribumi di seluruh Hindia. Pasca reorganisasi pendidikan, syarat untuk menjabat kepala sekolah normaalschool (dan juga kweekschool) harus sarjana.

De Preanger-bode, 31-03-1922
Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan adalah alumni sekolah guru Kweekschool Padang Sidempoean tahun 1887. Setelah menjadi guru sekolah dasar di Padang Sidempoean selama 15 tahun, pada tahun 1905 Soetan Casajangan melanjutkan studi ke Belanda (mahasiswa kelima pribumi di Belanda). Pada tahun 1908 jumlah mahasiswa pribumi di Belanda sebanyak 20 orang, Soetan Casajangan mendirikan perhimpunan mahasiswa yang sekaligus menjadi presidennya. Perhimpunan ini disebut Indische Vereeniging. Selama kuliah juga merangkap sebagai asisten dosen untuk mata kuliah Bahasa Melayu di Universiteit Leden untuk membantu Prof. Charles Adrian van Ophuijsen (mantan gurunya dulu di Kweekschool Padang Sidempoean). Pada tahun 1911 Soetan Casajangan lulus dan mendapat sarjana pendidikan. Pada tahun 1913 Soetan Casajangan pulang ke tanah air dan diangkat sebagai direktur sekolah guru Kweekschool Fort de Kock. Setelah sempat menjadi kepala sekolah guru di Dolok Sanggoel dan Ambon, pada tahun 1919 Soetan Casajangan dipindahkan ke Batavia dan diangkat menjadi direktur Normaalschool Batavia. Catatan: Pada tahun 1924 Mohamad Hatta dan kawan-kawan di Belanda mengubah Indische Vereeniging menjadi Perhimpoenan Indonesia.

Pada tahun 1827 Soetan Casajangan mengalami sakit. Pada bulan April Soetan Casajangan diberitakan meninggal dunia. Soetan Casajangan dimakamkan di pekuburan Meester Cornelis (kira-kira di belakang rumah sakit RS Mitra yang sekarang). Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan adalah sarjanan pendidikan Indonesia pertama (pada masa ini serupa lulusan IKIP).

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sejarah Awal Pendidikan di Batavia

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang