Sejarah Jakarta (23): Macan Kemayoran, Julukan Klub Persija Bukan Mitos, Macan Memang Benar Pernah Ada di Jakarta, 1882

shape image

Sejarah Jakarta (23): Macan Kemayoran, Julukan Klub Persija Bukan Mitos, Macan Memang Benar Pernah Ada di Jakarta, 1882

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Pada masa ini nama Macan Kemayoran selalu dikaitkan menggunakan nama julukan klub Persija Jakarta. Kapan klub Persija Jakarta diberi nama julukan Macan Kemayoran tidak diketahui kentara. Nama Macan Kemayoran dikaitkan menggunakan cerita rakyat yg mengisahkan pemuda bernama Murtado yg dijuluki sebagai Macan Kemayoran.

Kisah legenda Murtado yang dijuluki sebagai Macan Kemayoran tentu menarik buat sekadar bacaan. Namun pertanyaannya merupakan apakah benar-benar ada sesesorang dianggap Macan Kemayoran? Lantas apakah pernah ada macan (harimau) di Kamayoran? Pertanyaan ini telah sejak lama terdapat pada pikiran, tetapi secara tidak sengaja baru waktu ini dapat menemukan jawabannya. Ternyata macan memang pernah ada di Jakarta tahun 1882. Orang yang berhasil melumpuhkan sang macan tersebut merupakan seorang penembak jita dari Kampong Kemajoran. Mari kita simak.


Simons Pemburu Macan Kemayoran (1882)


Keberadaan harimau (macan) di Batavia sesungguhnya memang sahih-sahih terdapat. Keberadaan macan ini dalam Batavia paling tidak dilaporkan pada tahun 1882. Macan ini diduga sudah berkeliaran dalam hutan-hutan seputar Batavia. Java Bode edisi 04-11-1882 melaporkan eksistensi macan tersebut berada pada Pepango [Papanggo, kini sebuah kelurahan di Kecamatan Tanjung Priok]. Macan yang sudah meresahkan warga tersebut tengah diburu.




Java-bode: 04-11-1882
Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 04-11-1882: ‘Tadi malam harimau, yang kami sebutkan sebelumnya di surat kabar ini, lagi-lagi muncul di desa Pepango, dimana harimau ini sekali lagi membuat serangan pada seekor sapi. Oleh karena sapi terluka parah, pemiliknya lalu menyembelih sapi tersebut. Beberapa pemburu terlatih dari Kemajoran, antara lain  Mr. Simons, akan memburu hewan yang berbahaya tersebut dalam beberapa hari ini, dan kami berharap semoga usaha mereka dapat sukses dengan hasil yang memuaskan’.



Untuk memburu macan tersebut muncul nama seorang opsir Belanda bernama Simons. Nama Simons selama ini kerap dikaitkan sebagai pemburu hewan besar. Simons berdomisili di Kemajoran. Tentu saja tidak mudah melacak dimana macan bersarang. Namun membiarkan harimau berkeliaran tidak jauh dari perkampungan sangatlah berbahaya. Meski sukar dicari, harimau lapar tersebut haruslah tetap dicari  Para pemburu sangat berhasrat untuk mendapatkan harimau tersebut.


Pada masa dulu, penjara Batavia terletak di Kemejoran (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 13-03-1877). Besar dugaan, Simons dan kawan-kawan adalah pegawai penjara (sipir). Para sipir ini dalam tugasnya selalu memegang senjata, tetapi di luar dinas bergabung dalam komunitas pemburu. Berburu adalah kegiatan yang cukup digemari oleh orang-orang Eropa/Belanda tempo doeloe. Para pemburu ini adakalanya melakukan kegiatan berburu jauh dari tempat tinggalnya.




Algemeen Handelsblad, 18-09-1886
Hampir empat tahun tidak terdengar kabar macan Batavia ini. Surat kabar Algemeen Handelsblad, 18-09-1886 memberitakan penemuan macan Batavia. Disebutkan dalam berita tersebut bahwa macan yang selama ini dicari berada di hutan pantai Kampong Doerie Soenther, di sebelah tenggara Tandjong-Priok, seekor harimau telah ditembak. Dua anggota klub pemburu Kampong Kemajoran, melakukan pemburuan bersama, satu orang ke satu arah dan lainnya pergi ke arah yang berbeda. Pada suatu ketika mereka berdua mendengar di semak belukar suara keras di kejauhan dan lalu pergi ke sana, apa yang terjadi mereka langsung berhadapan dengan seekor harimau yang dililit oleh seekor ular besar, yang dengan mulutnya mencoba meraih harimau di lehernya, sementara macan melakukan segala upaya untuk meraih leher ular itu. Terlepas dari kejutan besar, kedua pemburu berusaha agar hewan-hewan itu tidak mendeteksi atau menyerang mereka, tetapi segera keduanya membidik, menempatkan satu di kepala harimau, yang lain ke kepala ular itu. Harimau menerima peluru di belakang telinga, sedanglkan ular di tengah kepala. Jarak dimana tembakan dilepaskan hampir lima belas langkah.



Sejak tertembaknya macan Batavia ini tidak pernah terdengar lagi keberadaan macan di Batavia. Besar dugaan macan yang tertembak ini adalah macan terakhir di Batavia. Lantas apakah dari fakta ini, bahwa Simons pemburu macan dari Kemajoran menjadi sumber cerita rakyat tersebut? Boleh jadi. Yang jelas, nama Moertado sendiri pada era tersebut tidak pernah ditemukan sebagai sosok pemberani sebagaimana diriwayatkan sebagai Macan Kemayoran. Faktanya, macan Kemayoran itu memang benar-benar pernah ada dan tewas tertembak di Sunter tahun 1886 oleh seorang pemburu, Simons dari Kemayoran. Catatan tambahan: Tokoh Si Pitoeng ditemukan dalam berbagai surat kabar edisi tahun-tahun sekitar 1893. Berita-berita dalam surat kabar tentang [Si] Pitoeng tampaknya agak berbeda dengan yang diceritakan pada masa ini. Siapa tokoh [Si] Pitoeng? Pada kesempatan lain, deskripsi Si Pitung akan dibuat dalam artikel tersendiri,


Macan Tutul di Depok (1878)

Berita sejenis penemuan harimau di Papanggo (1882) beberapa tahun sebelumnya dilaporkan keberadaan macan tutul di Depok. Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23-08-1878 melaporkan penemuan macan tutul besar bersarang di hutan asli dekat Situ Pitara. Harimau ini panjangnya 1.055 meter dan tinggi 0,74 meter. Sebelumnya sudah banyak lahan pertanian yang rusak dan hasilnya hilang yang diduga perbuatan babi liar. Lalu kemudian warga dan dibantu tentara coba menyisir hutan asli dengan membawa anjing pemburu. Beberapa anjing memberi petunjuk bahwa ada hewan besar berada di atas pohon besar. Ternyata itu adalah macan tutul besar. Dugaan babi liar yang melakukan pengrusakan ternyata adalah ulah macan tutul. Kemudian salah satu penembak jitu mengarahkan tembakan dengan laras panjang ke atas pohon dimana macan tutul berada. Tembakan kedua mengenai perut lalu macan itu jatuh dan tidak bernyawa. Lalu para warga memanfaatkan daging macan itu untuk disatai.
Baca juga

Sejarah Jakarta (35): MH Thamrin Gila Bola? Hoax; Meluruskan Nama Besar MH Thamrin, Sepakbola adalah Sepakbola


*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.
© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang