Sejarah Jakarta (115): Sejarah Cipayung, Bambu Apus, Ceger, Lubang Buaya dan Cilangkap; Taman TMII dan Mabes TNI - JagoMarketing | Jasa Whatsapp Blast

Sejarah Jakarta (115): Sejarah Cipayung, Bambu Apus, Ceger, Lubang Buaya dan Cilangkap; Taman TMII dan Mabes TNI

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Jakarta pada blog ini Klik Disini

Nama-nama loka Cipayung, Bambu Apus, Ceger, Lubang Buaya

Wilayah Kecamatan Cipayung
Pada awal Republik Indonesia Cipayung, Bambu Apus, Ceger, Lubang Buaya dan Cilangkap berada di dalam wilayah administratif Kecamatan Pasar Rebo. Pada tahun 1992 sejumlah desa di Kecamatan Pasar Rebo dipisahkan dan kemudian disatukan dengan membentuk Kecamatan Cipayung. Pada masa ini Kecamatan Cipayung terdiri dari delapan kelurahan: Lubang Buaya, Ceger, Cipayung, Munjul, Pondok Rangon, Cilangkap, Setu, dan Bambu Apus. Sebelum terbentuknya Kecamatan Cipayung, desa Cibubur dimekarkan dengan membentuk desa Pondok Ranggon dan dalam perkembangannya desa Pondok Ranggon dimekarkan dengan membentuk desa Munjul; Sementara itu desa Bambu Apus juga dimekarkan dengan membentuk desa Ceger. Taman Mini Indonesia Indah (TMII) berada di Kelurahan Ceger dan Markas Besar TNI berada di Kelurahan Cilangkap serta bumi perkemahan pramuka berada di Kelurahan Pondok Ranggon. Tentu saja di desa Lubang Buaya pernah terjadi kejadian yang mengerikan pada peristiwa G 30 S PKI 1965 dan di desa Cipayung pernah dibentuk suatu kelompok yang disebut Kelompok Cipayung (1972) yang berseberangan dengan pemerintah. Pada masa ini di Cipayung sebagai ibu kota kecamatan terdapat markas pembinaan pebulutangkis Indonesia.

.

Lantas seperti apa sejarah area yang kini menjadi satu wilayah adnministratif Kecamatan Cipayung. Sejarahnya tentu saja sudah banyak ditulis, tetapi hanya terpisah-pisah dan terbatas sejak pembangunan TMII (1972) dan sejak relokasinya markas besar (mabes) TNI dan sejak ditetapkannya bumi perkemahan Cibubur (1980). Sebagai satu kesatuan wilayah sejak lama, untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Origin Kecamatan Cipayung

Pada masa lampau, nama yang lebih awal dikenal adalah land Pondok Gede, land Makassar, land Pondok Melati, land Pondok Ranggon dan land Tandjoeng (kemudian dikenal sebagai Tandjoeng Oost dan kini Pasar Rebo). Diantara nama-nama land inilah terdapat area terpencil yang kini menjadi wilayah administratif Kecamatan Cipayung (terdiri dari kelurahan-kelurahan Ceger, Lubang Buaya, Bambu Apus, Cipayung, Cilangkap, Pondok Rangon, Munjul dan Setu. Untuk menuju area terpencil ini pada awalnya diakses dari jalan raya Bogor dan jalan raya Pondok Gede (pada masa kini paling mudah diakses dari jalan tol Jagorawi dan ruas jalan tol TMII-Cikunir).

Secara geografis area ini (kecamatan Cipayung dibatasi (berada) diantara sungai Tjipinang di sebelah barat dan sungai Soenter di sebelah timur. Secara ekonomi berada di antara jalan pos (Grootepost) di sebelah barat (jalan Raya Bogor yang sekarang), jalan Pondok Gede di sebelah utara yang merupakan jalan antara kampong Makassar dan landhuis Pondok Gede (jalan asrama haji yang sekarang) dan jalan Pondok Ranggon di sebelah timur yang merupakan jalan antara landhuis Pondok Gede dan kampong Pondok Ranggon (jalan Hankam yang sekarang).

Dalam perkembangannya area ini menjadi bagian dari dua land besar, yakni land Pondok Gede dan land Tjiboeboer Tjilangkap en Pondok Ranggon Pambilang (gabungan dari empat land yang dalam hal ini disingkat saja sebagai land Tjiboeboer). Batas antara dua land besar ini kira-kira ruas jalan tol TMII-Cikunir (di selatan area Taman Mini Indonesia Indah). Dalam hal ini kampong Tjeger tempo doeloe sebagian masuk land Pondok Gede dan sebagian masuk land Tjiboeboer. Sedangkan kampong Loebang Boeaja semuanya masuk land Pondok Gede. Taman TMII yang sekarang berada di kampong Tjeger bagian dari land Pondok Gede.

Diantara nama kedelapan kelurahan di Kecamatan Cipayung yang pertama kali dikenal adalah nama Pondok Ranggon. Nama kampong Pondok Ranggon pada era VOC-Belanda disebut sebagai land Pondok Ranggon. Kampong atau land Pondok Ranggon ini pada era VOC hanya dapat diakses dari kampong-land Pondok Gede dan kampong-land Pondok Gede dapat diakses dari kampong-land Makassar dan kampong-land Pondok Bamboe (kelurahan Klender yang sekarang).

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Dapatkan Info Produk Terbaru Kami

Masukan Alamat Email Kamu Disini

Gabung bersama media kami.