Sejarah Jakarta (113): Sejarah Pondok Ranggon, Kampong Setua Pondok Gede di Timur Sungai Sunter; Bumi Perkemahan - JagoMarketing | Jasa Whatsapp Blast

Sejarah Jakarta (113): Sejarah Pondok Ranggon, Kampong Setua Pondok Gede di Timur Sungai Sunter; Bumi Perkemahan

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Pondok Ranggon (kini masuk Jakarta Selatan) bukanlah nama kampong baru, namun kampong yg setua Pondok Gede (kini masuk Kota Bekasi). Kampong Pondok Ranggon telah masih ada semenjak era VOC/Belanda. Kampong Pondok Ranggon sangatlah luas. Kampong Pondok Ranggon diakses berdasarkan Pondok Gede via Pondok Melati. Jalan akses ini kini dikenal menjadi jalan Hankam/Kranggan. Sedangkan Cibubur merupakan kampong baru. Di kelurahan Pondok Ranggon kini dikenal menjadi area bumi perkemahan, jua area TPU. Dimana posisi GPS origin kampong Pondok Ranggon?

Pondok Ranggon dari masa ke masa
Pada era Republik Indonesia, kampong Pondok Ranggon menjadi terpencil. Kampong Pondok Ranggon dimasukkan ke wilayah desa Cibubur. Pada tahun 1973 diadakan pertemuan pramuka penegak-pandega Raimuna di desa Cibubur. Area yang dipilih berada di kampong Pondok Ranggon. Ketika jalan tol Jagorawi dibangun (1973-1978) desa Cibubur terbelah dimana kampong Pondok Ranggon yang menjadi area bumi perkemahan terpisah di sisi timur jalan tol. Kampong Pondok Ranggo yang sejak lama sepi sendiri, dengan pembangunan jalan tol mengubah nasib kampong Pondok Ranggon menjadi terkenal kembali seperti dempo doeloe. Akhirnya kampong Pondok Ranggon mendapat martabatnya kembali ketika statusnya ditingkatkan menjadi desa yang terpisah dari desa/kelurahan Cibubur. Dalam perkembangannya desa Pondok Ranggon dengan membentuk desa Munjul.

.

Lantas misalnya apa sejarah Pondok Ranggon? Nah, itu dia. Belum pernah ditulis. Sebagai bagian berdasarkan penulisan Sejarah Jakarta, nama Pondok Ranggon haruslah menerima tempat terhormat karena Pondok Ranggon jua termasuk kampong tua. Untuk menambah pengetahuan, ayo kita telusuri asal-sumber tempo doeloe.

Sumber primer yang digunakan dalam artikel ini adalah ?Asal primer? Seperti surat informasi sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), lantaran aku anggap kitab juga merupakan output kompilasi (analisis) berdasarkan dari-asal primer. Dalam penulisan artikel ini nir seluruh sumber disebutkan lagi lantaran telah dianggap dalam artikel saya yg lain. Hanya dari-asal baru yang disebutkan atau berasal yg sudah pernah dipercaya di artikel lain disebutkan pulang pada artikel ini hanya buat lebih menekankan saja*

Land Pondok Ranggon: Dimana Originnya?

Dimana posisi GPS nama Pondok Ranggon bermula, bukanlah dalam kelurahan Pondok Ranggon, kecamatan Cipayung, Jakarta Timur yang kini , akan namun berada pada kelurahan Jatiranggon, kecamatan Jatisampurna, Kota Bekasi. Bagaimana mampu? Membingungkan, bukan? Namun sejarah sanggup menjelaskannya. Sejarah tetaplah sejarah. Sejarah adalah narasi kabar dan data.

Kelurahan Pondok Ranggon originnya di Kecamatan Jatisampurna
Pada era Republik Indonesia terbentuklah dua kecamatan yang dipisahkan oleh sungai Sunter. Di sisi sebelah barat sungai Sunter disebut kecamatan Pasar Rebo, Jakarta Selatan; di sisi timur sungai Sunter disebut kecamatan Pondok Gede, Kabupaten Bekasi. Pada tahun 1996 terbentuk Kota Bekasi. Pada tahun 2004 Kota Bekasi diperluas termasuk wilayah kecamatan Pondok Gede. Sehubungan dengan perluasan ini, kecamatan Pondok Gede dimekarkan menjadi tiga kecamatan: Pondok Gede, Pondok Melati dan Jati Sampurna. Sementara itu kecamatan Pasar Rebo kemudian dimekarkan menjadi tiga kecamatan: Pasar Rebo, Cipayung dan Ciracas. Sebelum terbentuk kecamatan Ciracas sudah terbentuk desa/kelurahan Pondok Ranggon (pemekaran dari desa/kelurahan Cibubur). Pemekaran desa Cibubur ini terkait dengan pembangunan jalan  tol Jagorawi yang memisahkan kampong Pondok Ranggon di desa Cibubur di sisi timur jalan tol. Kampong Pondok Ranggon (bagian dari desa Cibubur) inilah yang kemudian dibentuk desa Pondok Ranggon. Ketika terjadi pemekaran kecamatan Pasar Rebo dengan terbentuknya kecamatan Cipayung, desa Pondok Ranggon yang telah berubah status menjadi kelurahan dimasukkan ke kecamatan Cipayung, sementara kelurahan Cibubur dimasukkan ke kecamatan Ciracas.

Pada era kolonial Belanda (sejak 1865), Afdeeling Meester Cornelis terdiri dari tiga district, yaitu: Meester Cornelis, Kebajoran dan Bekasi. Batas antara district Meester Cornelis dengan district Bekasi adalah sungai Soenter. Di selatan dua district ini adalah Afdeeling Buitenzorg (Bogor). Perbatasan antara dua district ini kemudian menjadi batas antara Provinsi DKI Jakarta dan Provinsi Jawa Barat. Batas ini tidak pernah berubah hingga sekarang.

Pada pembentukan sejumlah onderdistrict pada tahun 1904 (lihat Nota over de reorganisatie van het bestuurstoezicht over de particuliere landerijen bewesten de Tjimanoek, 1904), district Meester Cornelis terdiri dari empat onderdistrict, yakni: Meester Cornelis, Pasar Minggoe, Tandjoeng dan Poelo Gadoeng; sementara district Bekasi  terdiri dari onderdistrict, yakni: Bekasi, Tjilintjing, Tjikarang dan Pebajoran. Onderdistrict Tandjoeng terdiri dari sejumlah land yang terdiri dari: Tjondet, Kampong Makassar, Tandjoeng Oost, Lenteng Agoeng, Rambal, Kalapa Doewa, Kranggan, Tjilangkap, Tjiboeboer, Pondok Ranggon-Pambilangan, Doewaratoes. Sedangkan onderdistrict Bekasi terdiri dari land-land: Pondok Gede, Tjikoenir, Bekasi, Tanah Doeraratoes Lima Poeloeh, Rawa Domba, Pondok Kelapa, Tjakoeng-Oedjoeng Krawang, Rawa Pasoeng, Karang Tengah, Oedjoeng Menteng, Papisangan, Soekapoera, Telok Poetjoeng dan Soengai Kendal.

Dalam pembagian land, area land Pondok Gede berada di sisi timur sungai Soenter dan land Tjiboeboer dan land Pondok Ranggon-Pambilangan berada di sisi barat sungai Soenter. Dalam perkembangan berikutnya, land Pondok Ranggon-Pambilangan dipecah yang mana land Pambilangan bediri sendiri dan land Pondok Ranggon disatukan dengan dengan land Tjiboeboer (lihat Peta 1914). Nama land Pondok Ranggon tamat. Dalam perkembangannya nama land Pambilangan disatukan oleh pemiliknya ke dalam land Tjiboeboer (lihat Peta 1940). Nama land Pambilangan juga tamat.

Pada era VOC/Belanda, land Tjiboeboer dan land Pambilangan belum ada. Land yang sudah ada adalah land-land berikut (lihat Peta 1775): Pondok Gede, Pondok Melati dan Pandok Ranggon. Land Pondok Ranggon ini sangat luas, berada di selatan land Pondok Melati. Perkampongan di land Pondok Ranggon terdapat di tiga titik yang semuanya berada di jalan poros (kini jalan Hankam). Dalam perkembangannya perkampongan Pondok Ranggon yang ketiga (paling ujung) relokasi ke sisi barat sungai Soenter.

Pada era Pemerintah Hindia Belanda, land Pondok Gede dibeli oleh Johannes van den Bosch. Dalam perkembangannya land Pondok Melati dan land Pondok Ranggon diakuisisi Johannes van den Bosch dan menggabungkan ketiga land miliknya dengan nama land Pondok Gede. Nama land Pondok Melati dan land Pondok Ranggon tamat. Johannes van den Bosch menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1830-1833).

Pondok Ranggon di Tjiboeboer dan di Pondok Gede (Peta1914)
Pada tahun 1830an di sisi barat sungai Soenter dibentuk sejumlah land diantaranya land Tjiboeboer, land Pambilangan dan land Pondok Ranggon. Nama land Pondok Ranggon kembali muncul karena di lahan ini terdapat kampong Pondok Ranggon (kampong Pondok Ranggon yang baru). Sementara nama kampong Pondok Ranggon yang awal masih eksis di land Pondok Gede. Dalam perkembangannya land Pambilangan dan land Pondok Ranggon oleh pemiliknya yang baru disatukan dengan nama land Pondok Ranggon en Pambilangan.

Pada era Republik Indonesia, di eks land Tjiboeboer (yang masuk kecamatan Pasar Rebo) terbentuk sejumlah desa (gabungan dari kampong) seperti desa Tjiboeboer, desa Tjiratjas, desa Tjipajoeng, desa Tjilangkap, desa Bamboeapoes dan desa Tjeger. Sementara di eks land Pondok Gede (kecamatan Pondok Gede) terbentuk tujuh desa antara lain desa Djatiwaringin dan desa Pondok Melati.

Pondok Ranggon: Tempo Doeloe Jauh di Mata (Terpencil), Kini Dekat di Hati (Bumi Perkemahan Pramuka)

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Dapatkan Info Produk Terbaru Kami

Masukan Alamat Email Kamu Disini

Gabung bersama media kami.