Sejarah Jakarta (105): Sejarah Tambora, Tempo Doeloe Kampong Orang Tambora; Apakah Orang Tambora Punah Sejak 1815? - JagoMarketing | Jasa Whatsapp Blast

Sejarah Jakarta (105): Sejarah Tambora, Tempo Doeloe Kampong Orang Tambora; Apakah Orang Tambora Punah Sejak 1815?

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Jakarta dalam blog ini Klik Disini

Kampong Tambora merupakan keliru satu kampong tua pada Batavia. Nama kampong Tambora sekarang sebagai nama kelurahan & nama kecamatan di wilayah Jakarta Barat. Kampong Tambora adalah kampong orang yg asal menurut Tambora pada pulau Sumbawa. Nama kampong Tambora paling nir sudah diidentifikasi pada Peta 1890. Kampong Tambora adalah kampong terkenal tempo doeloe karenanya nama Tambora dijadikan nama

Bagaimana sejarah Tambora

Kampong Tambora dan Letusan Gunung Tambora

Untuk mendukung militer VOC/Belanda, pasukan pribumi direkrut dari berbagai tempat sebagai wujud kerjasama pemerintah VOC/Belanda dengan kerajaan-kerajaan. Pasukan pribumi tersebut antara lain berasal dari Bali, Bogies, Macassar, Ambonia, Banda, Jawa dan berbagai wilayah Malajoe. Pada perkembangan berikutnya menyusul pasukan pribumi dari wilayah (pulau) Soembawa seperti Tambora. Pasukan pribumi asal Tambora ini diantaranya ditempatkan di benteng (fort) Vijfhooek (sebelah barat Batavia).

Tambora di gunung Tambora dan Tambora di Batavia
Tambora adalah kerajaan besar di (pulau) Sumbawa. Hubungan intensif antara pemerintah VOC/Belanda di Batavia dengan kerajaan Tambora sudah ada sejak 1675 (lihat catatan Kasteel Batavia Daghregister).  Namun hubungan itu memanas dan radja Tambora ditangkap dan dibuang ke Cabo de Gode Hoop (Afrika Selatan) pada tahun 1697. Namun dalam perkembangannya, pengganti radja Tambora bekerjasama dengan VOC/Belanda. Sejak kerjasama inilah, hubungan baik antara dua pihak 1709 menyebabkan laki-laki Tambora banyak yang direkrut untuk mendukung militer VOC/Belanda. Di Batavia pasukan pribumi asal Tambora ini ditempatkan di benteng (fort) Vijfhooek (area benteng ini kini di sekitar Jembatan Lima). Radja Tambora meninggal di Cabo de Gode Hoop. Anak radja Tambora menerima surat dari Cabo de Gode Hoop 1741.

Setelah selesai berdinas, anggota pasukan ini banyak yang tidak kembali ke kampong halaman mereka. Orang-orang Tambora kemudian membangun kampong dekat benteng Vijfhooek. Perkampongan ini kemudian dikenal sebagai kampong Tambora.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Dapatkan Info Produk Terbaru Kami

Masukan Alamat Email Kamu Disini

Gabung bersama media kami.