Sejarah Jakarta (102): Banjir, Banjir, Banjir Lagi; Rancangan Pengendali Banjir Jakarta Sudah Lama Final, Hanya Perlu Normalisasi - JagoMarketing | Jasa Whatsapp Blast

Sejarah Jakarta (102): Banjir, Banjir, Banjir Lagi; Rancangan Pengendali Banjir Jakarta Sudah Lama Final, Hanya Perlu Normalisasi

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Jakarta pada blog ini Klik Disini

Banjir, banjir, banjir lagi. Ungkapan ini akan terus terdapat. Rancangan pengendali banjir pada Jakarta sudah sejak usang final. Tidak butuh lagi rancangan baru. Rancangan baru pada era Presiden Soekarno menggunakan membentuk kanal Kali Malang sejatinya telah menabrak rancangan banjir yg telah terdapat (semenjak era Hindia Belanda). Alih-alih membentuk banjir kanal timur (BKT), kanal Kali Malang justru kini sudah menjadi beban & menjadi satu faktor penyebab banjir masa sekarang. Pembangunan kanal BKT seakan hanya buat melayani kanal Kali Malang (membuang aturan 2 kali).

Kanal Kali Malang adalah satu hal. Hal lain soal banjir Jakarta adalah telah terjadi pelanggaran terhadap rancangan (desain) pengendali banjir yang telah final dibangun pada era Hindia Belanda. Pelanggaran yang terjadi sekarang bukan soal pembangunan BKT, tetapi abai terhadap pelestarian sistem pengendalian banjir yg telah final tadi. Solusi banjir dalam masa kini bukan lagi contoh pembangunan kanal BKT yang mahal, namun mampu dilakukan menggunakan biaya murah menggunakan metode normalisasi. Normalisasi terhadap desain banjir yang telah masih ada.

Sumber primer yang dipakai pada artikel ini adalah ?Asal primer? Seperti surat fakta sejaman, foto & peta-peta. Sumber kitab hanya dipakai menjadi pendukung (pembanding), lantaran aku anggap buku pula adalah hasil kompilasi (analisis) menurut asal-dari utama. Dalam penulisan artikel ini nir seluruh sumber disebutkan lagi lantaran sudah dianggap pada artikel aku yang lain. Hanya asal-asal baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah diklaim dalam artikel lain disebutkan kembali pada artikel ini hanya buat lebih menekankan saja*

Sistem Pembangunan Kanal pada Batavia: Prakondisi

Soal bala banjir Jakarta akhir-akhir ini seluruh terkesan menjadi ahli pengendali banjir. Yang paling terbebani & menjadi sentra perhatian adalah Pemerintah DKI Jakarta. Oleh lantaran semua sudah menjadi pakar banjir, maka sebagian menurut mereka memojokkan, atau paling menhujat Pemerintah DKI Jakarta

Usul belajar/studi banjir ke Belanda tentu saja pada masa ini tidak relevan lagi, karena ahli-ahli pengendali banjir yang paham banjir di wilayah tropis terutama dala hal ini ahli banjir untuk Jakarta tidak ada lagi. Mereka sudah meninggal semua. Penerusnya tidak ada lagi karena keahlian para ahli pengendali banjir asal Belanda sudah lama dipinggirkan (Pemerintah RI/Pemerintah Jakarta).

Karakteristik banjir di seputar Jakarta berbeda dengan karakteristik banjir di pantai-pantai Belanda. Tempo doeloe, ahli-ahli banjir Belanda tidak segera paham karakteristik banjir di Batavia. Tahap ini dapat dikatakan sebagai prakondisi. Tahap ini dimulai pada permulaan Gubernur Jenderal Coen yakni menerapkan sistem kanalisasi untuk kebutuhan transportasi (bukan untuk pengendalian banjir),

Gubernur Jenderal Coen merancang kota (Batavia) di atas rawa-rawa dengan menrapkan aplikasi kanalisasi untuk kebutuhan transportasi dan mendukung sistem pertahanan. Secara teoritis, saat itu, banjir dipahami sebagai berkah. Perancangan pembangunannya juga tidak sulit karena sistem perancangan yang digunakan mirip dengan yang sudah sejak lama dilakukan di Belanda. Para ahli kanal yang didatangkan ke Batavia dengan cepat bekerja tanpa kesulitan yang berarti. Oleh karena itu pembangunan kanal tidak dimaksudkan sepenuhnya untuk pengendalian banjir. Hasil rancangan ini masih terlihat di wilayah kota terutama di seputar Kali Besar.

Sistem kanalisasi pada tahap prakondisi ini dilakukan dengan dua cara: pembangunan kanal penghubung dan pembangunan kanal untuk kebutuhan mensuplai air.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sistem Pengendali Banjir Jakarta Sudah Final: Butuh Normalisasi

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Dapatkan Info Produk Terbaru Kami

Masukan Alamat Email Kamu Disini

Gabung bersama media kami.