Sejarah Bandung (46): Eddy Chatelin 1957, Pionir Musik Rock’n Roll (Crazy Rockers); Kelahiran Bandung, Nenek Moyang Padang

shape image

Sejarah Bandung (46): Eddy Chatelin 1957, Pionir Musik Rock’n Roll (Crazy Rockers); Kelahiran Bandung, Nenek Moyang Padang

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bandung dalam blog ini Klik Disini

Menelusuri masa lampau adakalanya sangat mengejutkan. Musik rock;n roll yang selama ini dikenal berkembang di Amerika Serikat, sesungguhnya bermula di Belanda. Kelahiran musik rock’n roll haruslah dikaitkan dengan jari-jari tangan Eddie Chatelin dalam memainkan gitar yang menimbulkan sound roll. Eddie Chatelin tergabung dalam grup musik Indorock (rock’n roll) The Crazy Rockers. Eddie Chatelin adalah seorang musisi Indo kelahiran Bandung dan neneknya adalah orang Padang. Bagaimana bisa? Itulah kejutannya.

Eddie Chastelin dan The Crazy Rockers
Grup musik Crazy Rockers meniru grup musik Tielman Brothers. Sidney Rampersad kelahiran Paramaribo, Suriname di Belanda mendirikan grup musik The Crazy Rockers. Sidney berperan sebagai penyanyi, gitaris dan drummer. Lalu bergabung penyanyi dan gitaris Woody Brunings (melodi) dan gitaris tunggal Eddy Chatelin (rhythm). Woody Brunings kelahiran Karibia dan besar di Suriname terbiasa dengan musik rock yang berasal dari Amerika Serikat. Sedangkan Eddy Chatelin yang berasal dari Indonesia terbiasa dengan musik kroncong. Gabungan musik rock dan musik kroncong inilah oleh dua musisi di dalam grup musik The Crazy Rockers melahirkan irama musik rock’n roll. The Crazy Rockers adalah pionir dalam musik rock’n roll. Aliran musik rock’n roll dari The Crazy Rockers kurang diterima di Belanda. Para kritikus musik Belanda menyebut musiknya musik hutan dan pemainnya monyet. Namun musik ini diterima dan digandrungi di Jerman. Musik rock’n roll The Crazy Rockers yang diterima di Jerman ini kemudian berkembang pesat di Amerika Serikat (yang boleh dikatakan diadopsi musisi Amerika Serikat seperti Elvis Presley). Dalam hal ini Tielman Brothers adalah grup musik lima Indo yang memulai karir musik di Soerabaja. Catatan tambahan: Eddie van Halen, grup musik rock asal Pasadena Amerika Serikat, ibunya kelahiran Rangkasbitung dan neneknya orang Purworejo. Itulah kejuatan tambahannya.

Lantas bagaimanan riwayat keluarga Eddie Chastelin? Itulah pertanyaan utamanya. Lalu bagaimana Eddie Chastelin dan grup musiknya The Crazy Rockers muncul dan masuk sebagai satu-satunya grup musik dari Belanda dalam Top Ten? Itulah pertanyaan berikutnya. Untuk menjawab dua pertanyaan tersebut, serta untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Tiga Musisi Indo(rock) Dunia Asal Indonesia
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Marga Chastelin: Padang dan Bandoeng

Nama (marga) Chatelin di Indonesia (baca: Hindia Belanda) kali pertama diberitakan di Padang (lihat Rotterdamsche courant, 28-06-1867). Disebutkan LNHA Chatelin menikah dengan JC de Groot di Padang. Louis Numa Hipolite Arthur Chatelin kelak diketahui adalah pemimpin dan redaktur surat kabar pertama di Padang tahun 1859: Sumatra Courant. Surat kabar besar di Baravia adalah Javasche Courant (edisi pertama. 1 Januari 1845) dan di Soerabaja adalah Soerabaijasche Courant (mulai terbit 1853).

Louis Numa Hipolite Arthur Chatelin adalah anak dari Arthur Chatelin. Tidak diketahui kapan Arthur Chatelin) disingkat A. Chatelin) tiba di Hindia (baca: Indonesia). A. Chatelin menikah di Padang dengan gadis jelita pribumi. LNHA Chastelin adalah seorang Indo (ayah Belanda, ibu Padang). Nama marga Chatelin paling tidak sudah terdiri di Jerman pada tahun 1705 (lihat Oprechte Haerlemsche courant, 17-09-1705). Pada tahun 1837 diberitakan di Prancis nama Chatelin seorang pemimpin dan redaktur surat kabar Courier Francouis (lihat Journal de La Haye, 18-10-1837). Pada tahun 1855 diberitakan di Belanda Letnan Cliatelin telah berhasil melukis keluarga kerajaan (lihat De constitutioneel: nieuwe 's-Gravenhaagsche courant, 07-11-1855). Besar dugaan A. Chatelin adalah anak dari Letnan Chatelin dan cucu dari redaktur surat kabar Courier Francouis di Paris yang merantau ke Hindia dan kemudian mendirikan surat kabar di Padang pada tahun 1859.

Sumatra Courant (diterbitkan Zadelhoff & Fabritius) kemudian memiliki pesaing yakni surat kabar yang diterbitkan Van Wijk yang bernama Padangsch nieuws- en advertentie-blad (edisi pertama, 17-12-1859). Surat kabar Sumatra Courant terbit seminggu sekali (yang berhasil ditemukan edisi ke-24 adalah Sumatra-courant : nieuws- en advertentieblad, 14-06-1862). Jika menghitung mundur itu berarti terbit cukup berdekatan dengan surat kabar Padangsch nieuws- en advertentie-blad. Namun surat kabar Padangsche ini hanya bisa bertahan hingga tahun 1862. Sejak itu, Sumatra Courant merupakan satu-satunya surat kabar di Sumatra. Sejak ini pula LNHA Chatelin mulai nyaman dan menikah dengan JC de Groot di Padang tahun 1867.

Sebagai pemilik surat kabar Sumatra Courant, LNHA Chatelin telah menyamai tingkat pencapaian kakeknya di Prancis (Courier Francouis). Surat kabar Courier di Paris masih eksis, namun kakeknya sebagai salah pemilik telah meninggal lama (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 04-01-1860). Sementara ayahnya di Belanda beberapa tahun yang lalu diberitakan termasuk salah satu yang mendapat bintang perunggu, Bronzden Medaljer (lihat Utrechtsch provinciaal en stedelijk dagblad : algemeen advertentie-blad, 21-08-1863).

Istri Louis Numa Hipolite Arthur Chatelin (JC de Groot) diberitakan melahirkan seorang anak perempuan di Padang (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 06-01-1869). Pada tahun 1874 lahir anak laki-laki di Padang (lihat Algemeen Handelsblad, 18-03-1874). Tidak diketahui sudah berapa anak mereka.

Pada tahun 1876, Chatelin pemimpin redakasi Sumatra Courant diketahui telah menjadi pemimpin redaksi salah satu surat kabar di Batavia (lihat Bataviaasch handelsblad, 14-12-1876).  Disebutkan Chatelin, editor dari Courant Sumatra, baru-baru ini bertindak sebagai editor dari salah satu surat kabar yang diterbitkan di sini (Batavia). Sejak tahun 1878 nama Chatelin tidak lagi muncul di surat kabar Sumatra Courant. Besar dugaan Chatelin telah pindah Ke Batavia agar lebih dekat dengan anak-anaknya yang lain yang bersekolah di Batavia.

Sumatra-courant:, 08-07-1899
Meski demikian keluarga Chatelin diduga masih menguasai perusahaan percetakan dan penerbitan di Padang yang juga menerbitkan surat kabar Sumatra Courant. Pada tahun 1895 di Padang terbit surat kabar berbahasa Melayu yang diberi nama Pertja Barat. Keterangan diperkuat pada tahun 1899 surat kabar Pertja Barat diterbitkan oleh Chatelin en Co (lihat Sumatra-courant:, 08-07-1899). Sementara itu, pada tahun 1913 diketahui nama LMH Chatelin sebagai pejabat pemerintah commies stasion kereta api di Sumatra’s Westkust (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 11-04-1913). Disebutkan LMH Chatelin dipindahkan dari Padang Pandjang ke Solok. Besar dugaan LMH Chatelin dan keluarga yang menjalankan perusahaan Chatelin en Co selama ini (sementara ayahnya Arthur Chatelin sudah bertempat tinggal di Batavia.

Diketahui di Bandung bernama A Chatelin. Besar dugaan A Chatelin adalah anak laki-laki dari Louis Numa Hipolite Arthur Chatelin yang lahir di Padang. Nama A Chatelin mengikuti nama kakeknya di Padang, A Chatelin (cucu mengambil nama kakek). A Chatelin menikah dengan JM Brinkman di Bandoeng pada tanggal 26 September 1917 (lihat De Preanger Bode, 29-09-1917). Nam A Chateli disebut HNHAJC Chatelin (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 23-11-1917)

Dikabarkan istri A Chatelin melahirkan di Bandoeng yang diberi nama France Jeanne Aloysia (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 30-07-1919). Tampaknya nama anak perempuan A Chatelin diberi nama kecil France yang diduga dikaitkan dengan tempat tinggal kakeknya di Prancis. Tidak diketahui kelahiran ini anak yang ke berapa.

A Chatelin di Bandoeng termasuk salah satu yang menggagas terbentuknya Indo Europeech Verbond (lihat De Preanger-bode, 28-08-1920). Organisasi ini berkantor di alamat A Chatelin di  Alexanderlaan No.8  (Kebon Djamboe) (lihat De Preanger-bode, 09-10-1920).

Diberitakan di Weltevreden Ch LA Chatelin Jr menikah dengan L de Nijs tanggal 26 Juni 1926 (lihat De Indische Courant, 10-06-1926). Ch LA Chatelin Jr diduga adalah adik dari A Chatelin. Pada tahun 1927 dikabarkan telah lahir anak dari AJ Ch Chatelin dengan JP van Betuw (lihat Bataviaasch handelsblad, 18-06-1927). AJ Ch Chatelin diduga adalah saudara A Chatelin. Pada tahun 1928 diberikan D Chatelin sebagai commies kereta api di Sumatra’s Westkust meninggal (lihat De Indische Courant, 06-08-1928). Ini juga saudara dari A Chatelin. Hal ini sesuai dengan yang memasang berita kematian itu adalah A Charelin di Bandoeng dengan menyebut saudara kami.

Saudara-saudara A Chatelin boleh dikatakan cukup banyak. Tidak hanya di Bandoeng, Weltevreden, juga ada di Soerabaja dan Sumatra’s Westkust. Mereka dan Medan ini adalah generasi ketiga marga Chatelin di Hindia.

Ayah dan ibu mereka Louis Numa Hipolite Arthur Chatelin dan JC de Groot masih hidup dan bertempat tinggal di Batavia yang beralamat di jalan Lombokweg No.55 (lihat  Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 27-12-1934).

Pada tahun 1941 Annie Chatelin menikah dengan FD de Ceunick van Capelle (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-12-1941). Annie Chatelin diduga adalah putri A Chatelin. Untuk sekadar mengingatkan A Chetelin menikah dengan JM Brinkman di Bandoeng tahun 1917 dan pada tahun 1919 putri mereka lahir yang diberi nama France Jeanne Aloysia (Annie?).

Eddie Chastelin dan The Crazy Rockers: Belanda dan Jerman

Nama grup band The Crazy Rockers paling tidak sudah diketahui di Belanda tahun 1957 (lihat De waarheid, 17-09-1957). Disebutkan mereka hadir memberikan hiburan pada saat peresmian ANJV-drumband. Seperti disebut di atas salah satu personil The Crazy Rockers dari awal (pendirian) adalah Eddie Chatelin. The Crazy Rockers kembali tampil dalam suatu musik hiburan yang diselenggarakan oleh Volkskunst (lihat De waarheid, 22-10-1957).

Kapan Eddie Chatelin kelahiran Bandoeng pindah dari Indonesia ke Belanda? Besar kemungkinan seluruh family Chatelin pindah ke Belanda sejak pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda. Pemberangkan family Chatelin berangkat dalam dua geloombang dari dua kota, yakni Medan dan Djakarta. Keterangan ini diumumkan oleh pemasang iklan Ny J. Chatelin dan Ida Chatelin di Medan (lihat Het nieuwsblad voor Sumatra, 23-06-1950). Pada tahun 1955 RJC Chatelin yang mengatasnamkan keluarga Chatelin yang beralamat Willem Ruys mengucapkan semua pihak selamat tinggal (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 03-11-1955). Besar kemungkinan keluarga Chatelin di Sumatra berkumpul di Medan dan keluarga Chatelin di Jawa (dan Sulawesi) berangkat dari Djakarta. Sementara itu salah satu personel The Crazy Rockers yakni Woody Bruning diketahui pindah ke Belanda tahun 1954 (lihat Het nieuws : algemeen dagblad, 02-08-1954). Disebutkan Ss Cottica atas nama para guru Paulusschool, de club Suriname, teman-teman dan kenalan menyampaikan salam hangat atas kepergiannya (ke Belanda).

Grup musik The Crazy Rockers adalah kumpulan musisi anak-anak rantau di Belanda. Dari lima personel Hindia namun hanya Eddie Chatelin yang datang dari Hindia Timur (Indonesia), sedangkan yang empat yang lainnya datang dari Hindia Barat (Suriname). Oleh karena itu grup musik ini terdiri dari orang-orang asal Hindia (Suriname dan Indonesia) yang di Belanda publik menyebut musik mereka sebagai musik rock Indo (Indorock).

De Telegraaf, 26-09-1964
De Telegraaf, 26-09-1964: ‘Van Haagse dancing naar Duits succes. Oleh Brigitte; Amsterdam, Sabtu. De Craxy Rockers, yang saat ini merupakan salah satu orkestra hiburan paling populer di Jerman, memulai karir mereka di Haagse Dancing tiga tahun lalu sebagai band amatir yang sama sekali tidak dikenal. Kami belum mendengar banyak dari mereka di Belanda, itu karena mereka membangun karir mereka di Jerman. [Sekarang kembali ke Belanda]. Semuanya berawal ketika seorang pengusaha Jerman, yang baru saja mengunjungi pesta dansa, dengan antusias bertanya apakah kalian ingin bermain di salah satu pestanya di Jerman. Mereka mengambil tawaran itu dengan kedua tangan, terutama ketika mereka diberitahu bahwa akan ada beberapa pemilik klub malam (di Jerman). Meskipun mereka harus mengeluarkan setiap sen untuk membayar perjalanan, mereka pergi ke sana, mereka telah berhasil melampaui mimpi terliar mereka, karena mereka segera diberikan kontrak untuk bermain di klub malam di Dusseldorp selama sebulan. Satu kontrak mengikuti yang lain dan sekarang mereka terkadang tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan penawaran mereka. Hari-hari pertama tidak berlalu tanpa kesulitan. Misalnya, mereka tidak tahu apa dunia show sebenarnya; pada bulan-bulan pertama mereka bekerja dengan honor sangat rendah dan tampil dengan pakaian sehari-hari: tidak ada uang untuk kostum. Pada saat itu mereka juga tampil bersama dengan The Beatles dan the Rolling Stones, yang saat itu belum populer. Mereka kemudian bekerja keras dalam karier mereka selama dua tahun. Sejak itu mereka tidak lagi datang ke Belanda, karena mereka memiliki lebih banyak peluang di luar negeri. Album pertama mereka Mamma-Pappa Twist juga direkam disana. Tahun lalu, di musim panas, mereka memperluas jaringan mereka dengan Belanda melalui kontrak di Scheveningen. [Untuk TV]. Mereka memang membuat beberapa rekaman TV pada waktu itu, antara lain mereka dapat dilihat dalam jadwal program. Juga musim panas ini mereka telah bermain di Schevenlngen lagi dan sangat mirip bahwa mereka akan menjadi sangat populer di sini. Mereka sudah memiliki tiga single dan catatan panjang penuh untuk nama mereka. Pada bulan Februari mereka akan kembali ke Belanda untuk tur panjang’.

Personil The Crazy Rockers terdiri dari Woody Brunings, Pim Veeren, Eddie Chatelin, Sidney Rampensadt dan Harry Berg (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 13-11-1964). Disebutkan mereka The Crazy Rockers tampil malam demi malam di Hamburg, Kiel, Frankfurt dan Dusseldorf. Sekarang Rocker dari Den Haag tersebut masing-masing telah mengendarai mobil sport mereka sendiri (bahkan ketika mereka harus bepergian!). Kini The Crazy Rockers melakukan pertujukan pertama disini 15 November akan berlangsung di hotel Beijering di Vlagtwedde. ‘Itu tidak akan sampai kepada kita jika itu bukan pertunjukan besar’ kata Rocker dari Den Haag yang juga pernah menjadi personel Rolling Stones dan The Beatles, tetapi mereka (du band ini) tidak begitu terkenal pada saat itu).

Di dalam situs Eddy Chatelin disebutkan Eddy Chatelin berusia 15 tahun ketika bergabung dengan grup musik The Crazy Rockers di Belanda. Disebut Eddy Chatelin adalah personil termuda di dalam band baru itu. Seperti disebut di atas bahwa keluarga Chatelin pindah dari Indonesia paling tidak tahun 1955, itu berarti Eddy Chatelin saat tiba di Belanda berusia sekitar 12 tahun dan menjadi pemain band setelah empat tahun sejak tiba di Belanda. Dalam hal ini Eddy Chatelin yang disebut lahir di Bandoeng, Eddy Chatelin diduga lahir tahun 1943 (saat pendudukan militer Jepang di Indonesia). Sementara itu Woody Bruning diketahui pindah ke Belanda tahun 1954 (setamat sekolah menengah di Suriname). Sedangkan Sidney Rampersad kelahiran Paramaribo, Suriname inisiator pendirian grup musik The Crazy Rockers diduga paling senior diantara para personil.

Eddy Chatelin ketika tiba di Belanda pada usia 12-13 tahun bersama keluarga, diduga telah bermain musik di Indonesia. Paling tidak Eddy Chatelin sudah mengenal grup musik anak-anak di Indonesia The Timor Rhythm Brothers asal Soerabaja (anak-anak Tielman) yang sudah melakukan rekaman tahun 1950 dan disiarkan di radio-radio. Keluarga Tielman pindah ke Belanda sekitar tahun 1954 (yang diduga bersamaan dengan keluarga Chatelin).

Het Parool, 20-11-1959
Nama group band The Timor Rhythm Brothers di Soerabaja kali pertama diberitakan pada tahun 1948 (lihat Nieuwe courant, 02-07-1948). Pada bulan April 1949 The Timor Rhythm Brothers mulai melakukan tur ke luar kota di Indonesia Timur (lihat Nieuwe courant, 23-04-1949). Pada tahun 1950 The Timor Rhythm Brothers melakukan tur di Medan, Djakarta dan Bandoeng. The Timor Rhythm Brothers tampaknya sudah masuk rekaman, Hal ini karena The Timor Rhythm Brothers sudah mengudara di radio Macbeth Soerabaja (lihat Algemeen Indisch dagblad : de Preangerbode, 20-07-1951). Grup musik yang masih belia ini terus mengembangkan karir mereka di Belanda.

Eddy Chatelin setelah di Belanda terus mengembangan bakat musiknya (bakat Indonesia). Grup musik asal Indonesia yang sudah eksis di Belanda tentu saja boleh dikatakan baru group band The Timor Rhythm Brothers asal Soerabaja yang telah berganti nama di Belanda dengan nama baru Tielman Brothers. Selama tiga tahun di Belanda Eddy Chatelin, yang saat itu grup musik Indo satu-satunya di Belanda (Tielman Brothers), sudah cukup piawai bermusik lalu diajak oleh Sidney Rampensadt tahun 1957 membentuk grup musik Indo yang baru The Crazy Rockers. Boleh jadi ini juga salah satu cara Sidney Rampensadt untuk lebih memperkenalkan kelompok musisi Indo Suriname di tengah dominasi musisi Indo asal Indonesia. Eddy Chatelin meski personil paling muda di dalam grup musik The Crazy Rockers, tetapi Eddy Chatelin memiliki bakat musik yang luar biasa. Kaahlian utamanya adalah mampu mengocok senar gitar dengan sound rhythm yang khas dengan beat yang lebih kencang (bernuansa roll).

Trouw, 06-03-1963
Dominasi musisi-musisi Indo asal Indonesia di Belanda dalam hal ini dapat drepresentasikan dengan munculnya sejumlah grup musik asal Indonesia di Belanda yang diantaranya, selain Tielman Brothers juga kemudian terbentuk grup musik The Black Arrows yang juga sangat terkenal di Belanda (tiga bersaudara Indo asal Indonesia Rinaldo, Jhonnie dan Casper Anthonio) dan duo terkenal Indo asal Indonesia di Belanda The Blue Diamonds (dua yang mirip dengan The Everly Brothers di Amerika). Keberadaan The Blue Diamonds ini kali pertama diberitakan di Belanda pada tahun 1959 (lihat Nieuwsblad van het Noorden, 02-11-1959). Grup musik ini dua Indo bersaudara Ruud de Wolff (lahir1941) dan Riem de Wolff (lahir 1943) yang mana keduanya lahir di Batavia/Djakarta.

Grup musik The Crazy Rockers dengan genre musik rock’n roll setelah sukses di Jerman dan mencapai puncaknya pada tahun 1964 justru mengendor setelah pulang dari tur di Belanda. di Dalam situs Eddy Chatelin grup musik The Crazy Rockers berantakan dan lalu bubar pada tahun 1965. Tentu saja Eddy Chatelin yang sudah matang usia (23 tahun) akan menemukan jalan sendiri dalam meneruskan karir musiknya.

Besar dugaan The Crazy Rockers meredup lalu bubar bukan disebabkan oleh tingkat penerimaan yang rendah dari warga Belanda (kecuali para remaja putri Belanda), tetapi lebih disebabkan tempat mereka di Jerman telah diisi dan semakin ngetopnya dua grup musik asal Inggris The Beatles dan The Rolling Stones. Sementara Tielman Brother masih tetap eksis dan semakin kerap tampil di televisi sebagaiman terlihat dalam program acara televisi di surat kabar (antara lain lihat De Telegraaf, 13-08-1965). Lagu-lagu Tielman Brother sudah masuk dalam Top 40.

Eddy Chatelin kemudian membentuk formasi baru dengan tetap mengajak Harry Berg (eks The Crazy Rockers). Dalam formasi baru ini Eddy Chatelin merekrut penyanyi Inggris Dick Scott (yang juga sebelumnya grup musiknya meredup). Grup musik baru ini bermain di Jerman. Ketika musik mereka diterima di Jerman dan sukses, mereka ditawari oleh Ken Howard dan Brian Epstein [manajer The Beatles] untuk melakukan tur ke Inggris dengan seluruh band. Mereka dinggiris setidaknya selama satu tahun.

Seperti dicatat dalam situs Eddy Chatelin, sepulang dari Inggris Eddy Chatelin kembali ke Belanda. Namun, Eddy Chatelin tidak pernah beruntung di Belanda, Eddy Chatelin pergi ke Swiss dan membentuk (atau bergabung?) dengan grup musik The Sounds pada tahun 1967. Eddy Chatekin terus bermain di luar negeri (di luar Belanda) hingga tahun 1980. Eddy Chatelin telah mengisi panggung-panggung yang ada di Jerman, Swiss, Austria, Skandinavia dan, tentu saja, Belanda. Ketika The Sounds bubar, Eddy Chatelin masih bermain dengan berbagai band profesional, termasuk The Union Pacific dan Tielman Brothers yang legendaris. Eddy Chatelin bermain dengan Tielman Brothers dari tahun 1970 hingga 1973 terutama di Swiss, Jerman, dan Skandinavia.

Eddy Chatelin kembali membentuk grup musik baru yang tidak sepenuhnya baru yakni New Crazy Rockers pada 1980. Tampaknya Eddy Chatelin ingin mengembalikan nama besar The Crazy Rockers, grup musik pertama yang memperkenalkan genre musik rock’ roll. Namun grup musik ini tidak lama karena pemain drumnya, Sugar Lee mengalami kecalakaan dalam pertunjukkan.

Setelah kehilangan Sugar Lee, kembali Eddy Chatelin mencari drummer baru dengan mengusung konsep baru dalam bermusik. Nama band baru tersebut mengambil namanya sendiri dengan nama band Eddy C. Dalam tahun-tahun terakhir karrnya, Eddy Chatelin juga aktif sebagai produser dan membantu banyak talenta pemula memulai dengan awal yang baik. Gitar pertamanya digantung sebagai saksi bisu era yang menentukan budaya pop Belanda di Museon di Den Haag.

Eddy Chatelin ikut berkolaborasi dalam pembuatan film dokumenter Rockin Ramona. Film ini adalah sebuah film tentang pengaruh Indorock di tahun 1960-an dan musik pop saat ini. Eddy Chatelin juga mendapat kesempatan untuk menjalani tur pertunjukan di California dengan para Legends. Eddy Chatelin juga melakukan tur 10 hari di Indonesia dengan nama Crazy Rockers. Eddy Chatelin  mengeluarkan CD solo baru dan DVD pada 18 Mei 2008. Eddy Chatelin juga membuat album bersama Stella Makadoero (yang di dalamnya termasuk lagu-lagu berbahasa Indonesia).

Pada 24 Mei 2009, Crazy Rockers merayakan ulang tahun ke 50 mereka di Teater Bintang di Tong Tong Fair Malieveld Den Haag. Pada tahun 2010 Eddy Chatelin melakukan pertunjukkan di Santa Susanna di Spanyol dan juga melakukan perjalanan ke Bali dimana Eddy Chatelin bertemu teman lamanya Franky Luiten dan kemudian mereka membuat musik bersama. Dia juga bertemu Bibi Lien (Wieteke) di Bali.

Eddy Chatelin bernapas dengan udara Eropa tetapi memetik gitar dengan nada magis tropis. Itulah sosok Eddy Chatelin yang telah mengintroduksi genre musik baru dari musik rock dengan nama genre musik rock'n roll.

Jika kembali ke awal, Eddy Chatelin dan grup musiknya Crazy Rockers dipengaruhi oleh irama musik Tielman Brothers, sesungguhnya yang mengintrodusir kali pertama di Belanda adalah Tielman Brothers, lalu diikuti oleh The Crazy Rockers dimana kocokan gitar Eddy Chatelin mirip dengan Andy Tielman dari grup musik Tielmand Brothers. Lantas kita bertanya apakah Eddy Chatelin telah berguru ke Andy Tielman? Jika iya, itu berarti kolaborasi dua Indo kelahiran Soerabaja dan kelahiran Bandoeng.

Tiga Musisi (Indo)rock Dunia
Eddy Chatelin memiliki nenek (moyang) dari Padang, sementara Andy Tielman memiliki kakek (moyang) dari Timor. Dalam stambuk (silsilah) keluarga Chatekin, Eddy Chatelin berada pada generasi Indo yang keempat sedangkan Andy Tielman baru generasi Indo yang pertama. Dalam daftar generasi Indo ini juga termasuk Eddie van Halen (grup musik van Halen di Pasadena) yang datang dari Indonesia sebagai generasi Indo yang keempat (nenek Pasoeroean) atau ketiga (nenek Poerworedjo). Generasi Indo yang lain dari Padang, selain Eddy Chatelin adalah Justin Trudeau (Perdana Menteri Kanada) generasi Indo yang kedelapan. Mereka ini jika diperhatikan statemen-statemen mereka terkesan sangat mencintai Indonesia.

The Crazy Rockers dapat dikatakan band Indorock tertua dan bahkan band rock trtua di Eropa yang masih aktif. Inti musik rock dari grup ini dibentuk oleh penyanyi Woody Brunings dan gitaris Eddy Chatelin. Pada Tong Tong Fair ke-55 yang diadakan pada tanggal 30 Mei 2013, Crazy Rockers yang masih aktif turut memeriahkan festival tersebut dengan sangat istimewa. Namun grup ini tidak lengkap karena pendiri yang merangkap drummer Sydney Rampersad dan pemain bass Pim Veeren telah meninggal dunia. Hanya ada Woody Brunings, Eddie Chatelin dan Harry Berg.

The Last Crazy Rockers (Woody Bruning dan Eddy Chatelin)
Eddy Chatelin hadir pada tahun 2018 ketika sebuah film dokumenter Sounds of Origin. Suatu film yang mengisahkan yang menggambarkan anak-anak band ini mengalami (trauma) perang di Indonesia, lalu pndah dan menyesuaikan diri di Belanda sambil membangun kembali jati (identitas) diri. Lahirlah istilah Indorock yang justru kali pertama kata ini diperkenalkan oleh George Harrison (personil The Beatles) yang kala itu belum populer di Jerman.

Itulah kisah Eddie Chatelin, penemu dan pengembang awal musik rock’n roll (bersama band pertamanya The Crazy Rockers), Eddie Chatelin, kelahiran Bandung, sang nenek (moyang) yang berasal dari Padang (Sumatra) semoga tetap sehat dan masih bisa bermain musik. Untuk menutup artikel ini mari kita dengar suara khas Eddy Chatelin dalam lagu berjudul Hati Yang Luka (karya Obbie Messakh).

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Jasa Whatsapp Blast | Adwordsgoogle.site

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang
close
Jual Software Whatsapp Bulk Sender Blaster Anti Banned