Sejarah Air Bangis (18): Sejarah Awal Kota Bonjol, Wilayah nan Subur di Khatulistiwa; Siapa Dr. Achmad Mochtar Lahir di Bondjol

shape image

Sejarah Air Bangis (18): Sejarah Awal Kota Bonjol, Wilayah nan Subur di Khatulistiwa; Siapa Dr. Achmad Mochtar Lahir di Bondjol

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Air Bangis dalam blog ini Klik Disini

Sejarah kota Bonjol nyaris selalu dikaitkan menggunakan Tuanku Imam Bonjol. Itu satu hal karena sudah habis tulis sang para ahli. Hal lain tentang kota Bonjol adalah kurang terinformasikan tentang kota Bonjol

Tugu di Bondjol, 1939
Gambaran kota-kota Indonesia pada masa kini, berbeda dengan gambaran kota-kota Indonesia pada masa lampau (baca: Hindia Belanda). Sebelum terbentuk kota Padang (yang menjadi ibu kota Provinsi Sumatra Barat), jauh sebelumnya kota-kota Air Bangis, Tikoe, Priaman dan Indrapoera adalah kota-kota yang ramai. Pada saat kota Leoboeksikaping masih sebuah kampong kecil, Rao sudah menjadi kota. Bahkan Taloe dan Panti (Loender) lebih dulu berkembang jika dibandingkan Loeboeksikaping. Hal serupa juga ditemukan di Sumatra Utara. Ketika Medan masik kampong, Padang Sidempuan sudah kota besar. Kota Padang pernah menjadi kota terbesar di (pulau) Sumatra dan kota kedua terbesar adalah kota Padang Sidempoean.

Tentu saja tokoh penting di kota Bonjol banyak. Satu yang terpenting adalah Tuanku Imam Bonjol. Namun ada satu tokoh penting beda generasi berasal dari kota Bondjol, yakni Dr. Achmad Mochtar. Setali tiga uang, sebagaimana pertumbuhan dan perkembangan kota Bonjol, bagaimana perjalanan karir dokter hebat ini juga kurang terinformasikan. Lantas apa pentingnya nama Dr. Achmad Mochtar. Paling tidak namanya telah ditabalkan sebagai nama rumah sakit daerah (RSUD) di Bukittinggi. Untuk menambah pengetahuan sejarah kota Bonjol dan untuk meningkatkan wawasan sejarah Menjadi Indonesia, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Pemerintah Hindia Belanda dan Perang Padri: Sejarah Awal Bondjol

Sebelum Perang Padri (1819-1837) District Bondjol adalah district yang terpisah dari Agam (Pagaroejoeng-Minangkabau). Pasca Perang Padri, district Bondjol dimasukkan ke Afdeeling Agam (Residentie Padangsche Bovenlanden). District-district Loeboeksikaping, Mapat Toenggoel, Loender, Taloe, Kinali, Pasaman, Soeroet, Air Bangis, III Loerah, III Kota, Tjoebadak dan Rao disatukan menjadi satu afdeeling yang disebut Afdeeling Air Bangis (Residentie Padangsche Benelanden). Batas antara district Loeboeksikaping dan district Bondjol yang bertetangga di jalan poros berada di kampong Tangah.

Peta 1843
Tidak jelas mengapa district Bondjol dimasukkan ke afdeeeling Agam, sementara district-district Bondjol dan semua district yang membentuk afdeeling Air Bangis sebelum Perang Padri adalah district-district yang independen. Besar dugaan pemisahan dari Afdeeling Air Bangis dan pengabungan dengan afdeeling Agam karena faktor kedekatan geografis untuk efektivitas pemerintahan dan pembangunan di bawah otoritas (reim) Pemerintah Hindia Belanda. Sebelum Perang Padri Pagaroejoeng (Minangkabau) hanya mengklaim afdeeling Tanah Datar, afdeeling Lima[oeloeh Kota dan afdeeling Agam (minus district Bondjol). Apakah penyatuan district Bondjol ke Agam satu wujud kemenangan Pagaroejoeng terhadap Padri (yang pusat kekuatannya yang terakhir) di district Bondjol yang menjadi seterunya?

Distrik Loeboeksikaping dan district Bondjol adalah dua district terakhir yang menjadi konsentrasi para pendukung terakhir dan paling fanatik Padri. Ini dimulai pada bulan Juni 1834 dengan menyerang Matoea (selatan). lalu bulan April 1835 berhasil menundukkan Masang (barat). Pada tanggal 11 Juni 1835 diproklamirkan pengepungan Bondjol setelah lebih dahulu Rao dan Loender di utara berhasil diambil kembali. Pada tahun 1836 seluruh perang terkonsentrasi di Loeboeksikaping dan Bondjol dan serangan yang dilakukan pada bulan Desember 1836 gagal.

Sampai sejauh ini komando, yang boleh dibilang upaya penggiringan ke lembah Bondjol dilakukan oleh Letnan Kolonel Bauer. Sudah barang tentu Bauer adalah orang satu-satunya yang paham situasi dan kondisi di Padangsche. Ketika, Pemerintah Hindia Belanda mulai membentuk pemerintahan di pantai barat Sumatra sejak 1819 yang mengambil posisi ibu kota di Tapanoeli, komandan militer tertinggi berada di Natal yang dipimpin oleh seorang Majoor. Untuk komandan militer di Padangsche Benelanden dipimpin oleh Kapitein C Bauer. Dalam hal ini, Bauer yang sudah berpangkat Luitenant Kolonel sudah tidak asing dengan Padangsche Bovelanden.

Pemerintah Hindia Belanda di pantai barat Sumatra yang sebelumnya dijabat sipil (Residen MacGillevrij) digantikan oleh seorang militer Luitenant Kolonel Mr CPJ Elout pada bulan Mei 1831. Ini bermula sejak November 1830 orang Narras (Priaman) melawan pemerintah, lalu bulan Januari orang XIII Kota mengancam Padang dan orang Bondjol telah menduduki Tikoe dan Air Bangis. Di Air Bangis benteng Belanda dikepung, memblokir pelabuhan dengan bantuan para pelaut dari Atjeh. Komandan militer Air Bangis tewas dalam pertempuran. Bantuan yang tepat waktu dari Padang menyebabkan para militer yang masih terkepung dapat diselamatkan. Setelah 40 hari Elout memimpin di pantai barat Sumatra, suatu ekspedisi dari pusat ke pantai barat Sumatra dikirim di bawah komando Luitenant Kolonel AV Michiels. Pasukan Padri lalu menyingkir ke pedalaman (wilayah-wilayah pantai hingga ke Singkil kembali dinormalisasi).

Residen Luitenant Kolonel Mr CPJ Elout sempat meminta pasukan Luitenant Kolonel AV Michiels untuk menekan Padri lebih jauh, namun Michiles menolak karena perintahnya hanya sampai disitu. Untuk itu, Luitenant Kolonel AV Michiels meninggalkan pasukannya dan berangkat ke Batavia untuk membicarakan misi dan perintah selanjutnya dengan GG van den Bosch. Luitenant Kolonel AV Michiels mendekat kesan bahwa van den Bosch tidak dalam posisi ekspansi (ke pedalaman). Langkah tidak terduga diambil alih sendiri oleh Luitenant Kolonel Mr CPJ Elout. Pasukan teritorial yang berada di bawah kendali Luitenant Kolonel Elout berhasil mengambil Marapalm secara mengejutkan, kemudian menaklukkan Lintou, Boea dan Limapoeloe Kotta yang mana Padri menyingkir ke Bondjol, Rao dan Mandailing. Luitenant Kolonel Mr CPJ Elout telah mengubah strategi depensif menjadi ofensif. Luitenant Kolonel AV Michiels di Jawa kaget karena sumber daya yang dimiliki Elout yang terbatas (pengakuan ini dimuat Michiels di dalam buku memorinya). Namun langkah ofensif ala Elout ini memakan korban (yang disesalkan Mischiles), orang-orang Belanda banyak yang dibunuh di Bondjol dan Loender saat Padri menyingkir.

GG van den Bosch kemudian mengirim komisaris ke Padang untuk merencanakan strategi baru dengan Elout terutama untuk melukiskan batas-batasnya dan untuk menetapkan pengaturan administrasi, Pada bulan Agustus 1833 diputuskan untuk menyelesaikan Padri, perang berlanjut dan harus berlanjut. Sejak ini komando diserahkan kepada Luitenant Kolonel Bauer.

Serangan yang gagal ini menyebabkan pemerintah pusat memanggil kembali AV Michiels untuk memimpin pasukan ke pantai barat Sumatra tahun 1837. Seperti halnya Bauer, kembali orang yang sudah mengenal wilayah yang dikirim ke pantai barat Sumatra. Hasil pertama Michiels adalah membebaskan (district) Loeboeksikaping dan hanya tersisa district Bondjol.

Tentu saja tidak mudah untuk melumpuhkan district Bondjol terutama pusat pertahanan Padri di benteng Bondjol. Seperti dikatakan Michiels, semua pendukung setia dan fanatik Padri sudah terkonsentrasi di district Bondjol. Saat inilah Luitenant Kolonel AV Michiels teringat bekas anak buahnya seorang luitenant ketika memimpin ekspedisi di Palembang. Namanya Alexander van der Hart, seorang tantara pemberani, yang kebetulan sedang menganggur di Batavia yang sudah berpangkat Kapitein. Alexander van der Hart di satu sisi seorang tantara profesional pemberani yang masih lajang, di sisi lain orangnya sangat humanis, tidak bermain judi, tidak minum minuman keras dan juga tidak bermain wanita (bahkan ada yang menyebut Hart adalah seorang penyayang wanita). Orang yang tengah menganggur inilah yang dipanggil Michiels untuk bergabung di pasukannnya.

Singkat kata: sebagaimana sudah banyak ditulis, akhirnya district Bondjol dapat dilumpuhkan dan akhirnya benteng Bondjol dapat diduduki oleh militer Pemerintah Hindia Belanda pada bulan Agustus 1837. Satu detasemen yang berhasil memasuki benteng Bondjol adalah untuk kali pertama adalah detasemen yang dipimpin oleh Kapitein Alexander van der Hart. Segera setelah berakhirnya perang, AV Michiels mendapat kenaikan pangkat dan dipromosikan sebagai Gubernur Province Sumatra’s Westkust dan Alexander van der Hart mendapat kenaikan pangkat menjadi Majoor. Mereka berdua dapat dikatakan sebagai pemilik portofolio tertinggi di pantai barat Sumatra. Sejak inilah district Bondjol mulai membangun (bebas dari perang). Pada saat pembentukan Residentie Tapanoeli pada tahun 1845, Gubernur Michiels kembali teringat van der Hart yang juga tengah menganggur di Batavia. Gubernur Province Sumatra’s Westkust, AV Michiels mengusulkan van der Hart menjadi Residen Tapanoeli dengan menaikkan pangkatnya menjadi Luitenant Kolonel. Dalam hal ini AV Michiels adalah gubernur pertama Province Sumatra’s Westkust dan A van der Hart adalah Residen Tapanoeli pertama.

Uniknya dua orang ini tidak pernah terkalahkan di medan perang, berwatak keras dalam perang tetapi lembut atau humanis dalam urusan sipil (pembangunan pertanian khususnya). Hasilnya segera terlihat, Padangsche (Benelanden dan Bovenlanden) dan Tapanoeli segera maju dalam pembangunan. Uniknya dua orang ini mati konyol di tangan orang sipil yang justru orang yang tidak mengenal pistol dan senapan. Generaal Majoor AV Michiels (komandan ekspedisi di Bali) terbunuh di Bali, Kolonel A van der Hart sebagai Gubernur Sulawesi terbunuh di Makassar.

Penduduk Bondjol Terbelah: Dibangunnya Masjid Padri

Sejatinya Bondjol adalah nama kota (kampong). Nama districtnya adalah Alahan Pandjang. Namun orang Belanda lebih kerap menulisnya sebagai nama kota dan juga sebagai nama district. Bondjol adalah nama ibu kota (hoofdplaats) di Alahan Pandjang. Rumah kepala kampong Bondjol berada di selatan lembah sebelah timur Merappa (lihat Tijdschrift voor Neerland's Indie jrg 1, 1838).

Nama-nama kampong di district Alahan Pandjang, antara lain adalah Padang Lawe, Bondjol, Djamba, Kotto, Loeboe Ambatjang, Alij, Bondjol Itam, Passier, Mandharij, Padang Sekadoedoe dan Kotta. Kampong-kampong ini berada di lembah daerah aliran sungai Alahan Pandjang (dari utara ke selatan). Sungai Alahan Panjang membagi lembah seolah-olah menjadi dua dataran yang sama dimana ditemukan banyak sawah. Lembah Alahan Pandjang ini dengan panjang sekitar tiga pal dan lebar satu pal berbentuk bundar memanjang yang dikelilingi oleh pegunungan hutan tinggi. Di tengah perkampungan terdapat sebuah tempat ibadah (saurauw). Pada bagian puncak atap terbuat dari komposisi timah berbentuk bunga tertutup dan oleh matahari membuatnya tampak bersinar memberikan cahaya yang memberi perhatian dari orang yang melihatnya dari jauh.

Populasi daerah Alahan Pandjang (district Bondjol) yang dipimpin oleh empat kepala penghulu yang disebut Radja Ampat Sello. Kampong yang indah dan memiliki segalanya dan subur makmur ini akibat perang berkepanjangan selama 35 tahun menjadi hancur. Ini bermula dari agama sekte yang baru lahir yang berasal dari Madjan Boekit Kamang oleh Toeankoe Nan Rentjeh. Di Alahan Pandjang dibawa oleh Datoek Bandaro di kampong Padang Lawe, salah satu dari Radja Ampat Sello bersama Toeankoe Pasaman (disebut juga Toeankoe Alij dari kampong Alij di Parit Batoe. Mereka berdua menemani Hadjie Miskien dalam perjalanannya untuk mengkhotbahkan doktrin baru, dengan tujuan mengajarinya agama yang benar dan kemudian mereka mentransplantasikan ke penduduk di tanah kelahiran mereka masing-masing.

Datoek Bandaro ditemani oleh Malim Bassa, seorang pemuda yang lahir di Tandjong Boengoe adalah pembantunya yang setia dan sangat saleh dan yang segera memeluk agama sekte yang baru itu segenap hati dan jiwa. Mereka tinggal di Agam selama empat bulan, setelah itu mereka kembali ke Alahan Pandjang; lalu mereka mempersatukan semua dan kemudian mereka pergi bersama  ke kampong Kotta dengan maksud untuk mengadakan pertemuan disana dengan kepala kampong setidaknya untuk membahas urusan agama sekte baru dan untuk memikirkan cara terbaik untuk melakukannya di Alahan Pandjang untuk memperluasnya, karena mereka menduga bahwa ini adalah hal yang paling mudah dilakukan. Setelah cukup banyak pengikut, di bawah kepemimpinan  Datoek Bakdharo mereka kemudian membangun sebuah benteng kecil yang mereka beri nama Bondjol yang mereka artikan sendiri sebagai tempat persatuan para orang beragama (Orang Malim). Pada awalnya terdapat 30 rumah menetap di sekitar (benteng) Bondjol. Salah satu yang menentang paham dan tindakan Datoe Bandaro ini adalah kepala kampong Kotta Marappa (Datoek Sati). Pada akhirnya perang terbuka terjadi. Saat para penagnut agama sekte baru ini, yang mana Malim Basa yang telah mendapat gelar Toeankoe Moeda, terdesak meminta bantuan kepada Toeankoe nan Rentjeh yang kemudian sebanyak 70 orang datang. Para Padri menang dan memaksa semua penduduk. Sebagian besar mengakui agama sekte baru tersebut dan sebagian kecil yang lain diusir dari Alahan Pandjang. Mereka yang terusir melarikan diri ke Loeboe Sikapping, Alahan Mattij dan Koempoelan. Rezim Alahan Pandjang tamat, muncul rezim Bondjol yang dipimpin oleh Toeakoe Moeda (yang lahir dan besar di kampong Tandjong Boengoe dan menikah di Alahan Pandjang). Kepala district Bondjol, 1905

Populasi district Alahan Pandjang diperkirakan sebanyak 5.000 jiwa (lihat Bataviasche courant, 15-09-1827). Pada tahun 1832 nama kampong Bondjol (district) Bondjol menjadi target militer Belanda, setelah militer Belanda berhasil mengusir Padri dari wilayah Tanah Datar, Lima Poeloeh Kota dan Agam. Ini terjadi setelah Boekit Kamang, District Agam dapat dikuasai oleh Kuitenant Kolonel Vermeulen Krieger. Operasi ke Bondjol dimulai pada tanggal 10 Oktober 1832.

Reisden Komandan Militer (Luitenant Kolonel) Elout memutuskan untuk menguasai Bondjol. Satu pasukan di bawah Luitenant Kolonel Vermeulen maju dari Agam, dan pasukan lainnya dipimpin lansung Luitenant Kolonel Elout sendiri, dari district-district pantai dan dataran renda dari Tikoe. Dengan cara ini, district-district atas dan bawah bertindak secara bersamaan. Sebelum dimulai menyerang Bondjol dari sisi dataran tinggi, beberapa district lainnya harus dikuasai, seperti Matua, XII Kotta, Koempolan, dll dan dari sisi dataran rendah district Alahan Mati. Sehubungan dengan rencana Elout ini sejumlah delegasi dari Bondjol dan Rau untuk ikut bergabung dengan Pemerintah Hindia Belanda. Besar dugaan orang-orang Bondjol ini adalah orang-orang Bondjol yang terusir dan orang Bondjol yang sempat mengakui Padri lalu kemudian membelakanginya.

Operasi ini tidak sukses, karena kekuatan militer Belanda tidak sebanding dengan kekuatan Padri. Sebelumnya Luitenant Kolonel Vermeulen (karena sakit) telah digantikan oleh Kapitein de Quij. Pasukan Luitenant Kolonel Vermeulen mengambil posisi di Si Pisang dengan kekuatan satu detasemen berkekuatan 70 pasukan. Sementara di pihak Padri terdapat 2.000 orang.

Di barisan depan pada awal Januar 9 (1833) Letnan Waulier dengan sebelas orang telah dibunuh. Melihat Padri terus bergerak Luitenant Kolonel Vermeulen Krieger mengirim detasemen kecil ke Fort van der Capellen untuk penguatan, sementara detasemennya tetap bertahan di benteng di tengah serangan 2.000 orang. Dalam pertempuran pasukan Krieger 16 orang terbunuh, termasuk 8 orang Eropa dan 51 orang terluka termasuk 21 orang Eropa. Pada saat itu pos militer di Loeboe Sikaping dimana terdapat orang sakit di rumah sakit jumlahnya hampir 30 di bawah penanganan petugas kesehatan de Groot dapat diselamatkan Letnan Engebert van Bevervoorden yang datang satu detasemen 28 orang Madura dievakuasi ke pos militer Loender antara Loeboe Sikaping dan Rau, yang terdiri dari seorang under-officer dan dua belas orang ditutup secara bersamaan. Hingga akhir Februari menyiratkan bahwa peristiwa ini, disebabkan oleh perilaku bermasalah dari bupati Bonjol, belum menyebar lebih lanjut, dan bahwa bupati yang dilaporkan telah meninggal pada malam harinya. Letnan Kolonel Komandan Elout terus bekerja keras menghadapi situasi. Para imam di Bondjol terus memanfaatkan pengaruhnya kepada sebagian populasi dan membujuk mereka untuk tidak setia, untuk menyerang dan membunuh beberapa pria dan orang sakit. Perilaku yang dijalankan Ali Bassa Prawiro di Redjo membuat kecurigaan di pihak Belanda dan menjadi subjek penyelidikan (lihat Javasche courant, 16-03-1833). Juga disebutkan bahwa distrik Lima Poeloe Kota, Rao dan cukup banyak distrik di pedalaman telah memberikan bukti kesetiaan mereka kepada Pemerintah dan telah menyatakan simpati mereka kepada militer yang terbunuh di Bonjol dan disadari setelah kejadian ini di satu pihak telah menyebabkan kami kehilangan banyak orang, tetapi juga di sisi lain telah membawa kami untuk mengenal teman dan musuh kami.

Setelah rencana perang tahun 1833, kembali rencana perang Belanda gagal. Ini dimulai pada bulan April 1835 militer berhasil menundukkan Masang (barat). Lalu pada tanggal 11 Juni 1835 diproklamirkan pengepungan Bondjol setelah lebih dahulu Rao dan Loender di utara berhasil diambil kembali. Pada tahun 1836 seluruh perang terkonsentrasi di Loeboeksikaping dan Bondjol dan serangan yang dilakukan pada bulan Desember 1836 gagal. District Bondjol terkepung hampir selama dua tahun. Pemerintah pusat kemudian mengirim ekspedisi yang dipimpin oleh Luitenant Kolonel AV Michiels (di bawah komando Jenderal Cochius). Serangan yang disusun tahun 1837 berhasil. Padri di Bondjol tamat.

Perkembangan Lebih Lanjut Bondjol: Dr. Achmad Mochtar

Pasca berakhirnya Perang Padri, sudah barang tentu pewaris district Alahan Pandjang atau district Bondjol masih ada. Yang jelas pewaris ini bukan dari kaum Padri atau orang yang terlibat dengan Padri. Para pewaris ini diduga mereka yang tetap menetap di district Bondjol dan mengakui rezim Padri atau orang-orang (keturunan) district Alahan Pandjang atau district Bondjol yang pernah terusir dari kampong halaman mereka dan kembali lagi. Mereka inilah pemilik portofolio district Bondjol setelah situasi dan kondisi kondusif (di bawah otoritas Pemerintah Hindia Belanda). Penduduk district Bondjol mulai dari nol kembali dalam menatap masa depan. Perang selama 35 tahun sudah cukup menderita bagi penduduk (asli) district Alahan Pandjang (district Bondjol).

Pada tahun 1838 Pemerintah Hindia Belanda mulai membuka cabang pemerintahan baru dengan menempatkan seorang pejabat sipil di Rao (lihat Almanak 1838). Dalam hal ini District Bondjol dimasukkan ke wilayah Afdeeling Agam, sedangkan district Loeboeksikaping dimasukkan ke afdeeling Rao. Meski district Alahan Pandjang atau district Bondjol sebelum perang termasuk salah satu dari district-district independen (di luar Pagaroejoeng-Padangsche Bovenlanden) tetapi kini masuk afdeeling Agam tentu saja ada sebabnya. Faktor pertama diduga karena dalam pengepungan district Bondjol, district Loeboeksikaping sudah menjadi basis pertahanan militer Belanda (sebagaimana sebelumnya Londer dan Rao). Kedua, pada saat terusirnya penduduk Alahan Pandjang sebelumnya banyak yang melarikan diri ke Loeboeksikaping (masih di luar wilayah operasi Padri). Faktor ketiga boleh jadi penduduk Rao, Loender dan Loeboeksikaping tidak bersedia digabungkan dengan district Bondjol. Faktor keempat boleh jadi karena keinginan para pangeran dari Pagaroejoeng (Minangkabau) agar Bondjol dimasukkan ke Agama. Pada tahun 1840 dibentuk Residentie Air Bangis yang mana kemudian ditempatkan seorang asisten residen di Rao yang membawahi district-district Rao, Loender, Loeboeksikaping dan Mapat Toenggoel. Pada tahun 1845 Residentie Air Bangis dilikuidasi. Sementara itu, district Bondjol yang dimasukkan ke Afdeeling Agam (ibu kota di Fort de Kock), di Bondjol ditempatkan pejabat Belanda dengan status Conroleur (AP Godon). Ini berarti onderafdeeling Bondjol terdiri dari sejumlah district termasuk district Bondjol, Kota Laweh dan Soeliki.

Pemerintah Hindia Belanda tampaknya ingin melupakan masa kelabu di Bondjol. Di satu sisi ingin melupakan Padri, tetapi di sisi lain ingin mempopulerkan Bondjol sebagai wilayah yang potensial. Boleh jadi karena itu nama Bondjol ditabalkan sebagai nama kapal pemerintah: Nederlandschip Bondjol. Kapal ini kali pertama dilaporkan bersandar di Batavia dari Rotterdam (lihat Javasche courant, 07-08-1844).

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Jasa Whatsapp Blast | Adwordsgoogle.site

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang
close
Jual Software Whatsapp Bulk Sender Blaster Anti Banned