Sejarah Air Bangis (11): Rao, Amerongen dan NV Mijnbouw Maatschappij Lakapa; Sejarah Pertambangan Sejak Era Hindu

shape image

Sejarah Air Bangis (11): Rao, Amerongen dan NV Mijnbouw Maatschappij Lakapa; Sejarah Pertambangan Sejak Era Hindu

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Air Bangis dalam blog ini Klik Disini

Apakah terdapat Sejarah Rao? Tentu saja masih ada, bahkan lebih banyak dari yg diketahui selama ini. Sejarah Rao telah terdapat sejak era Hindu bahkan sejak era jaman antik. Nama Rao sendiri terhubung dengan India (Budha-Hindu). Sebagai wilayah interchange 3 budaya (Batak Mandailing dan Padang Lawas, Melayu Rokan & Air Bangis, Minangkabau Agam & Lima Poeloeh Kota), sejarah Rao semakin kaya.

Sekitar Rao (Peta 1750)
Pada era VOC, Rao sudah dikenal lebih intens. Rao sebagai wilayah di pedalaman yang kaya (pertambangan dan sentra produksi beras), sedikit banyak mengalami distorsi pada era rezim Padri. Wilayah Rao kembali tumbuh berkembang menemukan bentuknya semula pada era rezim Pemerintah Hindia Belanda. Dua situs terpenting yang menandai perkembangan lebih lanjut Rao pada era rezim Pemerintah Hindia Belanda adalah dibangunnya benteng Belanda Fort Amerongen dan dibentuknya perusahaan pertambangan di Batavia yang beroperasi di Rao: Mijnbouw Maatschappij Lakapa.

Namun kekayaan sejarah Rao yg sejatinya sangat berlimpah kurang terinformasikan memakai baik. Penggalian data-data sejarah Rao jua kurang intens. Sejarah Rao tentu nir hanya sekadar sejarah Toankoe Rao, sejarah Rao telah berlangsung sebelumnya

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Nama Rao

Kapan nama Rao kali pertama terinformasikan? Dalam peta-peta lama (Peta 1540-1598) nama Rao belum teridentifikasi. Nama-nama yang sudah diidentifikasi antara lain adalah Aroe, Baros, Batahan, Tikoe, Bengkalis dan Indragiri. Tentu saja nama-nama Natal, Air Bangis, Padang belum ada. Pada Peta yang lebih baru (Peta 1750) juga nama Rao belum teridentifikasi. Yang sudah teridentifikasi adalah nama sungai Rokan.

Nama tempat dan nama sungai adalah penanda navigasi terpenting pada jaman kuno. Sungai adalah infrastruktur alam dari nama-nama tempat (kota-kota pantai) ke pedalaman (pegunungan). Dalam hal ini, sebelum terbentuk kota-kota di pantai sudah batang tentu di pedalaman sudah terdapat populasi, apakah sebagai sumber produksi atau tujuan akhir produk industri oleh para pedagang-pedagang yang melakukan transaksi perdagangan (exchange). Komodi-komoditi kuno dalam perdagangan kuno antara lain emas, kamper, kemenyan, damar dan gading. Sedangkan produk industri yang datang dari jauh melalui laut adalah garam, besi, kain dan keramik. Transaksi perdaganan inilah yang kemudian asal-usul terbentuknya kota-kota di pantai sebagai pusat perdagangan (mempertemukan pedagangan dari segala penjuru lautan dan para penduduk dari berbagai tempat di pedalaman). Dalam tahap berikutnya untuk mendekatkan diri ke TKP, tempat-tempat yang potensial di pedalaman menjadi asal usul orang luar membuat koloni di pedalaman (seperti pada era Budha-Hindu yang cenderung membentuk koloni di pedalaman). Candi-candi adalah bukti peninggalan mereka yang dalam banyak hal muncul dalam perilaku penduduk apakah sebagai agama, bahasa, budaya dan sebagainya.

Nama Rao sudah diidentifikasi pada Peta 1830. Nama Rao sebelumnya sudah terinformasikan pada surat kabar (lihat Javasche courant, 14-01-1830). Disebutkan bahwa perdagangan orang-orang Rau, Mandahiling dan selatan Batta (baca: Angkola) telah meningkat akhir-akhir ini karena berhasil mengusir kaum Padri (bergeser ke Padang Lawas dan Rokan). Sementara itu Natal dan Air Bangis selama adanya Padri telah menghalangi perdagangan mereka dari tiga wilayah ini, terutama perdagangan emas dan kamper. Akhir-akhir ini perdagangan di Natal dan Air Bangis telah meningkat kembali.

Rao (Peta 1830)
Pada Peta 1830 jalur perdagangan ke Rao diidentifikasi dari Natal dan Air Bangis melalui Tamiang dan Limaumanis. Pada masa ini Tamiang berada di kecamatan Kotanopan dan Limaumanis berada di kecamatan Muara Sipongi. Dalam Peta 1930 ini juga diidentifikasi lanskap (daerah) Rao sebagai penghasil emas dan kopi. Koresponden surat kabar yang terbit di Batavia ini (Javasche courant) diduga adalah para pejabat yang sudah ditempatkan di sejumlah tempat.

Sejak 1819 Pemerintah Hindia Belanda (setelah kekuasaan beralih kembali ke Belanda ri Inggris) telah menempatkan sejumlah pejabat di pantai barat Sumatra. Sementara masih ada aktivitas Inggris di Padang dan sekitar maka ibu kota ditempatkan di Tapanoeli. Di Natal ditempatkan seorang pejabat militer berpangkat Majoor dan pejabar militer berpangkat Kaptein di Padangsche Bovenlanden. Sebagaimana diketahui Raffles pada tahun 1918 melakukan ekspedisi ke Padangsche Bovenlanden. Para pejabat Belanda ini mendapat resistensi dari (kaum) Padri. Untuk menormalisasi situasi, Pemerintah Hindia Belanda di Batvia pada bulan Desember 1822 mengirim ekspedisi militer ke Padangsche Bovenlanden (via Solok ke Tanah Datar-Pagaroejoeng) yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Raaf. Sejak inilah perang antara Padari dengan militer Belanda dimulai.

Pada tahun 1826 (pasca tukar guling Bengkoelen dan Malaka) Pemerintah Hindia Belanda menata dan membentuk cabang-cabang pemerintahan baru di pantai barat Sumatra. Dalam penataan ini sudah dibentuk pemerintahan lokal di Natal, Air Bangis dan Linggabajo. Pemerintahan lokal juga sudah diterapkan di Tapanoeli dan Sibolga. Dalam perkembangannya pejabat Pemerintah Hindia Belanda di pantai barat Sumatra mengalami pergeseran dengan Padang sebagai pusat. Pejabat pemerintah ditempatkan di Tanah Datar (Fort van der Capellen). Pejabat yang lebih rendah ditempatkan di Pariaman, Agam (Fort de Kock) dan Air Bangis. Pejabat-pejabat inilah yang diduga telah memberikan laporan tentang situasi dan kondisi umum di pedalaman termasuk di Mandailing, Rao dan Angkola.

Meski pengaruh Belanda semakin meluas, namun nama Rao belum terinformasikan. Hal ini di satu sisi karena di pedalaman masih bestatus DOM dan di sisi lain Pemerintah Hindia Belanda lebih mengembangkan pengadministrasian wilayah ke utara hingga Tapanoeli dan Baros serta ke wilayah barat di lautan (pulau-pulau seperti pulau Nias). Baru pada tahun 1834 lanskap Rao disertakan dalam administrasi wilayah Pemerintah Hindia Belanda.

Dalam perkembangannya lanskap-lanskap di utara (kota) Padang dipisahkan dari Afdeeling Padang dan kemudian disatukan dengan membentuk pemerintahan afdeeling yang baru: Afdeeling Noordelijke (lihat Almanak 1833). Afdeeling ini terdiri dari Natal, Tapanoelo, Air Bangis dan Poelo Batoe. Ibu kota Noordelijke Afdeeling di Natal. Pada tahun 1834 status Noordelijke Afdeeling ditingkatkan yang semula dipimpin seorang militer (pangkat letnan) menjadi Asisten Residen (JA Moser). Sehubungan dengan peningkatan status ini karena wilayah Mandailing dan wilayah Rao telah bergabung yang mana asisten (setingkat Controleur) ditempatkan di Mandailing (Kotanopan) dan di Rao.

Suatu wilayah tergabung di dalam (administrasi) Pemerintah Hindia Belanda melalui proses politik. Pemerintah Hindia Belanda mempertimbangkan lanskap mana yang diterima dan lanskap mana yang kemungkinan dijajaki. Jika pihak pemerintah yang berinisiatif berarti ada suatu potensi ekonomi yang diperhatikannya; sebaliknya jika ada lanskap yang menawarkan untuk bergabung, pemerintah mempertimbangkan potensi ekonoinya (lalu kemudian dilanjutkan pada perjanjian hak dan kewajiban masing-masing). Jadi, tidak semua lanskap diminati dan juga tidak semua lanskap diterima dalam pembentukan administrasi Pemerintah Hindia Belanda. Perjanjian (plakat) ini menjadi dasar legitimasi Pemerintah Hindia Belanda.

Lanskap Rao dan lanskap Mandailing bergabung dan diterima (atau bisa sebaliknya ditawarkan dan diterima) mengindikasikan penduduk Mandailing dan penduduk Rao berseberangan dengan (kaum Padri) yang kekuatannya berpusat di Bondjol. Sebagaimana penduduk Pagaroejoeng (Minangkabau) tidak tahan dengan rezim Padri (yang menggantikan rezim Pagaroejoeng) lalu menjalin aliansi dengan Pemerintah Hindia Belanda, hal serupa itu juga diduga menjadi faktor lanskap Mandailing dan lanskap Rao bergabung. Dalam hal ini, lanskap-lanskap Melayu (kota-kota di pantai seperti Padang, Pariaman dan Air Bangis) dan lanskap-lanskap di Minangkabau (Pagaroejoeng) serta lanskap-lanskap Mandailing dan Rao telah menjadi satu aliansi politi di dalam administrasi Pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi musuh yang sama: Padri yang berpusat di Bondjol.

Bergabungnya lanskap Mandailing dan lanskap Rao secara bersamaan mengindikasikan dua lanskap ini tidak hanya berada dalam satu teritorial tetapi juga diduga satu kesatuan politik, ekonomi dan bahkan satu kesatuan budaya. Jelas dalam hal ini dua lanskap ini memiliki musuh yang sama dan sukarela bergabung dengan Pemerintah Hindia Belanda. Secara ekonomi antara lanskap pantai (Natal dan Air Bangis) dan lanskap pedalaman (Mandailing dan Rao) saling tergantung (lihat kembali Javasche courant, 14-01-1830).

Javasche courant, 14-01-1830
Dalam fase perang ini, jalur ekonomi Rao-Air Bangis tampaknya telah dialihkan melalui Limaumanis dan Tamiang (Mandailing). Dalam perspektif inilah disebut bahwa ekonomi dan kemakmuran di lanskap Rao secara berangsur-angsur membaik (yang sebelumnya diduga sangat menderita karena distorsi rezim Padri)..

Yang menjadi pertanyaan mengapa nama Rao tidak terientifikasi sejak awal? Sudah barang tentu karena lanskap Rao berada di pedalaman. Wilayah pedalaman Minangkabau (Pagaroejoeng) tidak secara intens dikunjungi oleh orang asing. Sebagaimana di ketahui orang Eropa pertama ke pedalaman adalah Raffles yang melakukan ekspedisi ke Padangsche Bovenlanden pada tahun 1818. Jauh di masa lampau satu ekspedisi VOC ke Pagaroejoeng dari arah timur (sungai Siak) dilakukan pada tahun 1684.  Rentang waktu ini hampir dua abad sehingga informasi tentang Minangkabau (Pagaroejoeng) tidak berkesinambungan. Kunjungan Raffles 1818 dianggap satu-satunya keterangan mengenai pedalaman Minangkabau yang dianggap valid.

Rao pada perang Padri (Peta 1835-1837)
Setali tiga uang keterangan tentang pedalaman di Tanah Batak (khususnya Angkola, Mandailing dan Padang Lawas). Orang Eropa pertama ke Angkola dan Padang Lawas dilakukan oleh Charles Miller pada tahun 1772 (dari Pulau Pontang, Tapanoeli). Beberapa dekade sebelumnya keterangan tentang Angkola dicatat di Batavia (Daghregister Kasteel Batavia) tahun 1703 tentang suatu laporan pedagang Cina yang berdiam di Angkola selama 10 tahun.

Eskpedisi orang Eropa ke pedalaman (di Minangkabau di Pagaroejoeng dan di Tanah Batak di Angkola-Padang Lawas) jelas tidak cukup untuk menggambarkan situasi dan kondisi di Rao dan Mandailing. Oleh karena itu gambaran dua lanskap ini sebelum kehadiran orang-orang Belanda dapat dikatakan tidak terinformasikan. Rao tetap menjadi suatu misteri. Meski demikian, diduga bahwa orang Eropa telah memasuki pedalaman di Rao di era VOC. Hal ini karena ada nama suatu distrik yang disebut Loender (kini wilayah Panti). Loender adalah nama suatu district di Belanda yang sudah sejak lama diketahui. Loender diduga adalah pos perdagangan orang Eropa/Belanda di era VOC yang menghubungkan kota pelabuhan Air Bangis dengan kota-kota di pedalaman seperti Rao, Limaumanis, Tamiang dan Kotanopan (dan bahkan Loeboeksikaping dan Bondjol). Dalam hal ini Loender adalah interchange terpenting di pedalaman (yang lokasinya tidak jauh dari Rao).

Rao di Jaman Kuno

Rao diduga adalah nama India. Banyak lagi, antara lain Air Bangis, Pasaman, Tiku, Agam dan Talu. Tentu saja nama Tamiang berasal dari India. Kota Tamiang dan pulau Tamang juga berasal dari India. Wilayah sekitar candi juga ditemukan banyak nama yang terkait dengan India, Di Tapanoeli seperti di seputar candi Padang Lawas terdapat nama-nama India seperti Binanga, Portibi, Sunggam, Angkola, gunung Malea.

Rao adalah suatu nama kuno, suatu lanskap kuno, lanskap yang sejak jaman kuno sudah didiami oleh penduduk. Ada yang menulis asal-usul nama Rao berasal dari rawa (Rawa, Raw. Rao), sudah barang tentu keliru (hanya mengandalkan metode toponimi). Rao adalah suatu kawasan ekonomi tempo doeloe, kawasan yang terkait dengan pedagang-pedagang yang berasal dari India.

Tunggu deskripsi lengkapnya

NV Mijnbouw Maatschappij Lakapa

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang