Sejarah Tangerang (36): Sejarah Asal Usul Cengkareng; Pembangunan Mookervaart dan Perkampungan Migran dari Ciampea

shape image

Sejarah Tangerang (36): Sejarah Asal Usul Cengkareng; Pembangunan Mookervaart dan Perkampungan Migran dari Ciampea

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini

Secara defacto, dulu Cengkareng masuk wilayah jurisdiksi distrik Tangerang. Akan tetapi pada masa ini Cengkareng, secara dejure masuk wilayah Jakarta. Ketika pembangunan bandara untuk pengganti bandara Kemayoran, bandara ini disalahartikan memakai menyebut bandara Cengkareng. Padahal secara administratif loka dimana bandara Cengkareng justru dibangun di wilayah Tangerang, tepatnya pada kecamatan Benda (Banda). Nah, lho!

Bandara di Benda, Cengkareng di kanal Mookervaart (Peta 1902)
Untuk demi keadilan, kini nama bandara Cengkareng disebut banda(ra) Soekarno-Hatta. Namun demikian masih sering dipersepsikan bahwa bandara Soekarno-Hatta dengan penyebutan yang keliru dengan nama lama bandara Cengkareng. Jakarta sentris sulit dihilangkan. Dampaknya: Tangerang terabaikan. Padahal sejarah awal Cengkareng di masa lampau justru bermula dari Tangerang, bukan dari Batavia. Lho, koq! Bagaimana bisa. Nah, itu dia!

Lantas bagaimana dari usul sejarah awal Cengkareng? Itu pertanyaannya. Perkampungan Cengkareng awalnya dihuni dan diberi nama sang orang-orang Ciampea yg bermigrasi dari hulu sungai Tjisadane ke hilir sungai Tangerang. Nama awalnya, ditulis oleh orang Eropa/Belanda memakai (coding) Tjankarang, lalu bergeser sebagai Tjankareng dan akhirnya ditulis sebagai Tjengkareng. Padahal menurut dulunya telah dianggap sang orang-orang Tjiampea memakai lafal Tjengkareng. Bagaimana proses sejarah ini berlangsung pada masa lampau? Mari kita telusuri asal-asal tempo doeloe.

Sumber primer yang digunakan pada artikel ini adalah ?Sumber primer? Seperti surat warta sejaman, foto

Kanal Mookervaart (1679-1687)

Ketika orang-orang Eropa/Belanda mulai memasuki daerah aliran sungai Tangerang tahun 1674, tentu saja belum ada pemukiman di area Cengkareng yang sekarang. Sebab area tersebut masih wilayah rawa-rawa dan hutan-hutan lebat. Dari Batavia menuju daerah aliran sungai Tangerang masih melalui laut dengan pintu masuk (gate) di kampong Moeara (de Qual). Muara sungai Tangerang ini saat itu masih berada di Teluknaga yang sekarang. Kampong Moeara adalah pelabuhan (tempat transaksi) para pedagang yang datang dari lautan dan para pedagangan yang datang dari pedalaman, Kampong terdekat dari muara adalah kampong Babakan (di tengah kota Tangerang yang sekarang). Kampong Babakan adalah kampong yang terbilang kering sepanjang tahun.

Peta 1690
Wilayah antara sungai Tangerang dan sungai Angke yang terbilang kosong kemudian dijadikan oleh pemerintah VOC/Belanda sebagai bagian wilayah bukaan baru (di sekitar Batavia) dengan menempatkan para pribumi pendukung pasukan militer VOC. Para pribumi pendukung militer VOC ini direkrut dari wilayah Melajoe, Boegis, Makassar, Bali, Jawa, Ternate, Tambora dan sebagainya. Para pendukung militer VOC ini di satu pihak menjadi cadangan militer dan di pihak lain mereka yang menempati lahan di timur dan barat Batavia menjadi barier dari ancaman musuh yang datang dari Mataram dan Banten. Pada saat terjadi perselisihan antara VOC dengan (kesultanan) Banten (1682-1684) mereka yang menempati lahan di sisi barat sungai Tangerang ini yang menjadi salah satu kekuatan pendukung militer VOC untuk melawan Banten. Ujung dari perselisihan ini kemudian dibuat perjanjian damai tahun 1684.

Pada tahun 1679 seorang pengusaha Eropa/Belanda yang membuka lahan dengan membangun benteng mulai merintis saluran irigasi dengan menyodet sungai Tangerang. Pada periode terjadinya perselisihan VOC dengan (kesultanan) Banten (1682-1684), sang pengusaha (Cornelis van Mook) kanal irigasi yang dibuat diperluas dengan membangun kanal untuk fungsi pelayaran antara benteng Tangerang dan benteng Angke. Kanal pelayaran ini selesai pada tahun 1687 dan kemudian disebut Mookervaart.

Peta 1724
Area benteng Tangerang ini sebelumnya telah dihuni oleh pasukan pendukung militer VOC yang berasal dari Makassar. Mereka telah lama mendirikan perkampongan baru yang diberi nama kampong Barroe. Benteng dibangun oleh pengusaha Belanda tidak jauh dari kampong Barroe. Antara benteng dan perkampoengan yang baru inila kemudian yang menjadi area cikal bakal Kota Tangerang yang sekarang. Benteng itu sendiri kerapk disebut benteng Makassar. Sedangkan kanal antara benteng Tangerang dan benteng Angke disebut kanal Mookervaart (sesuai nama orang yang membangun, Cornelis van Mook).

Kanal pelayaran Mookervaart tidak hanya memperpendek jarak waktu antara Batavia dan daerah aliran sungai Tangerang, tetapi fungsi kanal ini telah berfungsi dengan sendirinya menjadi fungsi drainase. Sungai-sungai kecil yang datang dari atah pedalaman lalu bermuara ke kanal Mookervaart (tidak lagi langsung menuju laut). Sejak fase inilah lahan-lahan yang dulunya basah (rawa-rawa) di utara kanal ke arah laut lambat laun menjadi kering dan memungkinkan untuk dijadikan sebagai lahan pertanian yang baru.

Tjengkareng (Peta 1902) dan Cengkareng (Now)
Para pedagang yang datang dari pedalaman tidak lagi menyusuri sungai Tangerang ke muara sungai Tangerang (lalu ke pelabuhan Batavia), tetapi melewati kanal Mookervaart dengan retribusi. Para pedagang dari pedalaman mengepul barang dagangan di Serpong (benteng Sampoera) dan lebih ke pedalaman lagi barang dagangan dikumpulkan di Tjiampea (benteng Tjiampea). Pelabuhan Tjiampea adalah pelabuhan terjauh di sungai Tangerang ke arah pedalaman. Pelabuhan Tjiampea adalah pusat transaksi dari para pedagang yang berasal dari hulu sungai Tjisadane (timur) dan dari hulu sungai sungai Tjianten (barat).

Pedagang-pedagang Tjiampea diduga telah menjadikan sisi utara kanal Mookervaart sebagai homebase baru dalam perdagangan antara Batavia dengan simpul-simpul perdagangan di hulu sungai Tangerang/sungai Tjisadane. Homebase itu kemudian dikenal dengan nama kampong Tjangkarang. Dalam perkembangannya, sesuai lidah orang-orang Eropa/Belanda, nama Tjangkarang bergeser yang ditulis dengan Tjengkareng.

Pembentukan tanah-tanah partikelir (land) di mulai di Betavia kemudian diperluas ke arah hulu sungai Tjiliwong, di daerah aliran sungai Soenter/sungai Tjakoeng, di daerah aliran sungai Bekasi/sungai Tjilengsi serta di daerah aliran sungai Tjitaroem dan daerah aliran sungai Tjikarang. Pembentukan tanah-tanah partikelir juga terdapat di daerah (sisi timur) sungai Tangerang/sungai Tjisadane. Land pertama yang terbentuk adalah land Tangerang dan land Babakan, lalu kemudian menyusul land Tjikokol. Dalam perkembangannya mulai dibentuk land baru di daerah aliran sungai Angke. Sejauh ini area yang berada di antara sungai Angke dan sungai Tangerang belum terbentuk land. Hal ini karena area tersebut belum bisa digunakan untuk lahan produktif karena sifatnya masih marjinal (kerap banjir).

Pada tahun 1730 land-land yang sudah terbentuk baru di se kitar daerah aliran sungai Tangerang seperti land Tangerang, land Babakan dan land Tjikokol. Sementara itu land yang sudah terbentuk di daerah aliran sungai Angke baru teridentifikasi sejumlah land seperti land Angke, land Tjiledoek. Area yang berada di kedua sisi kanal Mookervaart belum ada land yang terbentuk. Pertambahan land baru justru semakin luas di arah hulu sungai Tangerang dan sungai Angke sehingga di arah hulu kedua sungai ini, semua lahan-lahan potensial telah kapitalisasi sebagai land-land yang baru. Pada tahun 1740 di dekat benteng Sampoera sudah terbentuk land Sampoera (land Lengkong) dan land Pesanggrahan. Baru tahun 1750 di area sepanjang kanal Mookervaart terbentuk land-land baru.

Salah satu land yang terbentuk di area sepanjang kanal Mookervaart adalah land Tjenkarang. Seperti biasa, nama land mengikuti nama kampong yang berada di persil land yang dibentuk. Sebelum dikapitulasi sebagai land dilakukan pengukuran oleh landmeter untuk dibuatkan petanya. Pembentukan land sendiri dilakukan oleh pemerintah VOC dan kemudian ditawarkan kepada publik dengan harga tertinggi. Selain land Tjengkareng, land yang terbentuk di sekitar area kanal Mookervaat antara lain land Batoetjeper, land Kapok, land Benteng Alang-Alang dan land Kamal.

Land Tjengkareng berada di sisi utara kanal Mookervaart. Kampong pertama yang terbentuk sebelum dijadikannya land adalah kampong Tjangkarang. Kampong ini sudah lama diokupasi oleh orang-orang Tjiampea untuk usaha pertanian seperti pertanian ladang dan pertanian sawah. Kampong Tjangkarang ini awalnya dirintis oleh para pedagang-pedagang yang berasal dari Tjiampea yang melakukan transaksi dagang di Batavia. Setelah munculnya kampong Tjangkarang secara perlahan bermunculan kampong-kampong baru di sekitar kampong Tjangkarang.

Landhuis: Perkembangan Land Tjengkareng

Tunggu deskripsi lengkapnya

Land Tjengkareng Diakuisisi Pemerintah 1931

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang