Sejarah Tangerang (34): Sejarah Ciampea, Surga di Cisadane; Bukit Kapur dan Situs Tarumanegara, Lokasi Kampus IPB Berada

shape image

Sejarah Tangerang (34): Sejarah Ciampea, Surga di Cisadane; Bukit Kapur dan Situs Tarumanegara, Lokasi Kampus IPB Berada

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini

Ciampea bukanlah kota kemarin sore. Sebelum kota Bogor terbentuk, Ciampea sudah menjadi kota perdagangan terpenting dalam hulu sungai Tjisadane pada era VOC. Mengapa Ciampea maju pesat ketika itu? Ciampea merupakan kota paling ujung di wilayah genre sungai Tangerang, sebagai loka utama (interchange) yang sebagai sentra transaksi utama pada sebelah barat gunung Salak. Untuk mencapai Ciampea menurut Batavia tidak dari Tjiloear (oosterweg, sisi timur sungai Tjiliwong), jua bukan menurut Depok (middenweg, sisi barat sungai Tjiliwong), melainkan dari jalan sisi barat (westerweg) mengikuti sisi timur sungai Tjisadane menurut Tangerang dan Serpong. Untuk memperkuat jalur perdagangan pada wilayah genre sungai Tjisadane ini, pasca letusan gunung Salak (1699) benteng Tangerang diperkuat menggunakan menciptakan benteng baru pada Serpong

Benteng Serpong, Ciampea dan IPB Bogor
Pada masa ini nama kota (kampong) Ciampea menjadi nama kecamatan di kabupaten Bogor. Tidak jauh dari Ciampea kampus raksasa dibangun: Institut Pertanian Bogor (IPB). Pada masa ini, sejarah Ciampea seakan (hanya) dilihat dari kota Bogor (Buitenzorg), tetapi sejatinya di masa lampau, keberadaan Ciampea justru (hanya) dilihat dari kota Tangerang. Akibat kesalahan paralaksis pada masa ini, menyebabkan Ciampea seakan terpencil, bahkan masih terpencil meski kampus IPB sudah relokasi dari Baranangsiang. Oleh karenanya sejarah Ciampea kurang mendapat perhatian dan juga upaya-upaya penggalian sejarah Ciampea menjadi terhambat. Padahal Ciampea sudah terkenal sejak jaman kuno di era kerajaan Tarumanegara (bahkan jauh sebelum adanya kerajaan Pakwan-Padjadjaran). Nah, lho!

Lantas bagaimana sejarah Ciampea terpinggirkan? Nah, itu dia! Kesalahan paralaksis faktor penyebabnya. Dalam artikel ini kita bangkitkan (kembali) marwah kota Ciampea, suatu surga di masa lampau yang berada di hulu sungai Tjisadane yang menyinari (membangun kemakmuran) di seluruh wilayah di sekitar Bogor Barat yang sekarang. Mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe dari sudut pandang (kota) Tangerang.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Fort Tangerang dan Benteng Serpong

Semasa muda dulu, selagi masih duduk di bangku kuliah, saya kerap mengajak anak muda tetangga saya jalan-jalan. Anak muda (remaja) ini asli Bogor dan dia bertindak menjadi pemandu karena bahasa Sunda saya belum ok. Dalam beberapa kali jalan-jalan di seputar tahun 1985 saya sudah mengunjungi wilayah pedesaan di Ciampea, Leuwiliang hingga Cigudeg dan Jasinga. Satu hal yang tetap teringat, setiap pembicaraan dengan penduduk yang saya lakukan (umumnya dilakukan di dangau-dangau) nama Tangerang selalu muncul bahkan lebih sering muncul nama Tangerang daripada nama Bogor.

Ciampea dan arah pandangan ke Tangerang
Mengapa kerap muncul nama Tangerang di pikiran penduduk padahal nama-nama tempat yang saya kunjungi tersebut justru berada di kabupaten Bogor. Tapi saya cepat menyadari karena tempat-tempat tersebut jika memandang ke utara (laut) posisi (kota) Bogor berada di sebelah kanan. Secara geografis sungai Tjisadane mengalir dari Bogor (Empang) ke arah barat menuju Ciampea, dan dari Ciampea sungai Tjisadane mengalir ke arah utara (laut). Di horizon ke arah pantai terdapat (kota) Tangerang, kota dimana sungai Tjisadane ini mengalir membelah kota sebelum menuju laut. Cara berpikir spasial inilah yang kemungkinan nama Tangerang sering muncul dalam pikiran mereka. Sekarang baru saya menyadari jika semua anak-anak sungai di tempat-tempat tersebut semuanya bermuara ke dua sungai besar: sungai Tjisadane (sungai Tangerang) dan sungai Tjikande (sungai Tjidoerian). Itu dulu, boleh jadi sekarang yang muncul di pikiran mereka adalah (kota) Bogor. Cara berpikir dulu inilah boleh jadi yang menyebabkan Ciampea begitu dekat di hati dengan Tangerang.

Semua itu bermula dari sistem navigasi kuno yang mengikuti kodrat alam melalui sungai (Tjisadane/Tangerang). Sistem navigasi kuno ini menjadi prakondisi awal kemajuan peradaban modern di Tjiampea. Dalam perkembangannya, orang-orang Eropa/Belanda di era VOC secara bertahap mengembangkan wilayah menyusuri sungai Tangerang/sungai Tjisadane dari Tangerang hingga ke Tjiampea. Ini dimulai pada tahun 1674 ketika Cornelis Snock mulai membuka lahan di sisi timur sungai Tangerang. Di lokasi ini kemudian dibangun benteng Tangerang (yang menjadi cikal bakal kota Tangerang sekarang).

Seiring dengan semakin banyaknya investor dari Batavia memasuki wilayah Tangerang, maka dari benteng (fort) Tangerang secara perlahan-lahan orang Eropa/Belanda merambah lahan di sisi timur sungai Tjisadane ke arah hulu hingga ke Serpong dan kemudian akhirnya mencapai Tjiampea. Dalam Peta 1724 belum teridentifikasi nama kota (kampong) Tjiampea, tetapi di Serpong sudah diidentifikasi benteng Sampoera (mengikuti nama kampong Sampoera di dekat kampong Serpong).

Kota Tjiampea (Peta 1900)
Wilayah Tangerang atau daerah aliran sungai Tangerang/sungai Tjisadane berkembang cepat ke arah hulu karena jalur navigasi laut tidak lagi melalui laut, tetapi melalui kanal sungai yang dibangun antara Tangerang dan Batavia yang selesai dibangun tahun 1687. Kanal ini disebut sesuai nama pembuat yakni kanal Mookervaart (kanal ini masih eksis hingga kini sebagai sungai di sisi jalan Daan Mogot antara Jakarta dan Tangerang). Kanal ini menjadi faktor akselerasi terbentuknya koneksi Betavia dan Tjiampea yang intens.

Berdasarkan catatan harian Kastel Batavia, keberadaan VOC/Belanda di hulu sungai Tangerang/sungai Tjisadane di Tjiampea sudah terdeteksi pada tahun 1713. Disebutkan benteng Tsjiaroetan (Ciaruteun) dipindahkan ke Panjoewangan (lihat Daghregister tanggal 28 Mei 1713). Catatan ini mengindikasikan bahwa benteng VOC/Belanda sudah didirikan di kampong Tjiaroeteun di pertemuan sungai Tjiaroeteun dengan sungai Tjisadane. Kampong Panjawoengan berada ke arah hulu sungai Tjiaruteun. Komandan militer di Panjawoengan ini berpangkat luitenant. Selama bulan Juni dan Juli sang luitenant mengirim beberapa surat ke benteng Tangerang. Komandan militer VOC saat itu adalah Majoor Joan van Jasinga (yang menjadi asal-usul nama kota Djasinga; setali tiga uang dengan nama kota Fort de Kock dan Fort van der Capellen pada era Pemerintah Hindia Belanda).

Benteng, landhuis, pasar dan jembatan Ciampea (Peta 1900)
Dalam perkembangannya benteng Tjiaruteun diduga telah dipindahkan ke arah hulu sungai Tjisadane di sisi barat sungai Tjiampea yang lalu kemudian disebut benteng Tjiampea. Hal ini diduga karena ke arah hulu sungai Tjiaruteun telah didirikan benteng baru (benteng Panjawoengan, dekat Leuwiliang). Benteng Tjiampea ini akan menjadi pusat pertahanan di wilayah hulu sungai Tjisadane. Dimana letak benteng Tjiampea ini diduga menjadi nama kampong Benteng di kota Tjiampea. Sejak adanya benteng Tjiampea ini diduga terbentuk tanah partikelir (land) land Tjiampea. Sebagaimana di berbagai tempat, seperti kita lihat nanti tidak jauh dari benteng Tjiampea ini dibangun landhuis (rumah tuan tanah) dan di dekatnya dibangun pasar (Pasar Tjiampea). Pada peta 1780 meski benteng Tjiampea masih disebutkan keberadaannya tetapi di sekitarnya sudah banyak muncul perkampongan.

Ciampea: IPB Membangkitkan Kembali Riwayat Kota Lama

Belum lama ini ibu kota RI telah diproklamirkan akan dipindahkan dari Jakarta ke Kalimantan Timur, tepatnya di Kutai Kartanegara. Tidak hanya ibu kota negara yang akan pindah tetapi juga Universitas Indonesia akan dipindahkan ke Kutai Kartanegara. Hal ini karena menurut undang-undang, Universitas Indonesia berada di ibu kota negara. Kerajaan tertua di Indonesia, Kerajaan Kutai berada di Kutai Kartanegara. Kerajaan yang eksis pada abad ke-4 ini berada di hulu sungai Mahakam di Moeara Kaman (kini nama kecamatan).

Kampus IPB Bogor (Now)
Di muara Tjiaroeteun (pertemuan sungai Tjiaroeteun dengan sungai Tjisadane) juga diduga pernah menjadi salah satu kota Kerajaan Tarumanegara (Kerajaan tertua kedua di Indonesia). Sebelum Universitas Indonesia pindah ke ibu kota tua (Kerajaan Kutai), Institut Pertanian Bogor telah terlebih dahulu pindah ke dekat kota tua (Kerajaan Tarumanegara) di Tjiaroeteun. Wilayah Tjiaroeteun kemudian dikenal sebagai (land) Tjiampea.

Beberapa bukti keberadaan Kerajaan Tarumanegara di land Tjiampea adalah prasasti Ciaruteun dan prasasti Kebonkopi. Pada era VOC dan ketika terbentuknya land Tjiampea, landhuis dibangun tidak di kampong Ciaruteun tetapi di sisi barat sungai Tjiampea (yang letaknya sedikit ke arah selatan menjauhi sungai besar (lokasi dimana kota Ciampea yang sekarang). Saat itu area kampus IPB yang sekarang termasuk (land) Tjiampea. Pada masa ini ada usulan pemekaran kabupaten Bogor dengan membentuk kabupaten Bogor Barat. Lantas  apakah ibu kota yang dipilih di Ciampea? Tentu saja tidak karena sudah dipilih di Cigudeg.

Land Tjiampea: Keluarga Riemsdijk

Setelah situasi keamanan dianggap kondusif di Tjiampea, para investor mulai merintis perdagangan hingga ke Tjiampea. Siapa yang kali pertama membuka lahan di Tjiampea dan sejak kapan wilayah Tjiampea dijadikan sebagai tanah partikelir (land) tidak begitu jelas. Besar dugaan wilayah Tjiampea baru dikembangkan sebagai pusat perdagangan.

Selain perdagangan di wilayah hulu sungai Tjisadane ini ditemukan suatu kegiatan pertambangan. Disebutkan ada ketentuan tentang penambangan di gunung Parrang (Paroeng) dan gunung Pasirangin (lihat Daghregister 24 Mei 1726). Pada tahun 1730 dilaporkan Michiel Westpalm mengunjungi pegunungan Parrang dan Passirangin untuk melakukan pemeriksaan tambang (Daghregister 2 Agu 1730). Tidak diketahui aktivitas penambangan ini tetapi besar dugaan adalah penambangan kapur (untuk bahan semen).

Pada tahun 1740 terjadi pemberontakan orang-orang Cina di Batavia dan sekitar termasuk di wilayah Tangerang. Pada tanggal 8 Oktober 1740 dua pabrik gula di Babakan dan Tjikokol telah dirusak (lihat Daghregister). Masih tanggal 8 Oktober dicatat di dalam Daghregister kelompok Cina bersenjata telah menduduki lahan Mr. Diogo di sisi de Qual (Moera Tangerang). Daghregister 8 Oktober 1740 juga mencatat adanya kerumunan berhenti di pabrik gula di Paroeng Coeda. Masih menurut Daghregister tanggal 8 Oktober 1740 (untuk mengantisipasi meluasnya pemberontakan) di Tjiampia (Tjiampea) dan Panjewongan (Penjawoengan) telah dibentengi. Dalam mengatasi pemberontakan ini pemerintah VOC/Belanda memukul balik para pemberontak yang menewaskan orang Cina tewas diperkirakan sebanyak 10.000 orang.

Lahan milik Demang Juwitra di Dramaga (1772)
Kapan wilayah Tjiampea dijadikan sebagai tanah partikelir (land) tidak begitu jelas. Dengan memperhatikan perluasan pembentukan land di daerah aliran sungai Tjisadane, land Tjiampea diduga telah terbentuk sebelum berakhirnya abad ke 18. Pemilik terakhir land Tjiampea sebelum berakhirnya VOC diketahui adalah Willem Vincent Helvetius Riemsdijk. Ayahnya adalah Jeremis van Riemsdijk, pemilik land Antjol dan land Bekasi. Jeremis van Riemsdijk adalah Gubernur Jenderal VOC pada periode 1775-1777.

Land dengan verpording di daerah aliran sungai Tjisadane
Sementara itu, pada tahun 1772 Gubernur Jenderal Van der Parra berkunjung ke tempat kediaman salah satu demang di Buitenzorg. Demang tersebut bernama Jawitra yang bertempat tinggal di Indramago (jarak tujuh pal dari Buitenzorg). Catatan ini dapat dilihat pada lukisan Josh Rach (1772). Tempat tinggal demang Jawitra ini tampak sebagai suatu estate dimana terdapat istananya. Disebutkan bahwa Jawitra pernah diasingkan oleh pemerintah VOC ke Afrika Selatan selama 12 tahun. Di lahan Indramago ini Jawitra mengusahakan pertanian kapulaga. Besar dugaan setelah kunjungan Gubernur Jenderal Van der Parra lahan-lahan di sisi luar Buitenzorg (sisi selatan sungai Tjisadane) ini dibentuk land Tjiomas, land Sindang Barang dan land Dramaga. Dengan demikian antara Buitenzorg dengan wilayah Tjiampea telah terhubung dengan lahan-lahan status tanah partikelir (land).

Sejak berakhirnya VOC pada tahun 1799, banyak tempat tidak terinformasikan, termasuk land Tjiampea dan land Dramaga. VOC kemudian diakusisi oleh Kerajaan Belanda dengan membentuk Pemerintah Hindia Belanda. Pada tahun 1807 disebutkan land Sampia (Tjiampea) milik van Riemsdijk dirampok dan dihancurkan oleh sekelompok perampok (lihat Daghregister, 23 Mei 1807).

Pada era Gubernur Jenderal Daendels, sejak 1808 dimulai pembangunan jalan utama (trans-Java) dari Batavia ke Anjer dan dari Batavia ke Panaroekan melalui Buitenzorg dan Tjisaroea terus ke Sumadang dan Tjirebon.

Namun tidak lama kemudian Pemerintah Hindia Belanda digantikan oleh Pemerintah Pendudukan Inggris (1811-1816). Meski Hindia Belanda telah berganti rezim, para pedagang Belanda banyak yang menetap dan meneruskan usaha-usaha pertanian mereka. Tanah-tanah partikelir secara hukum masih dimiliki oleh swasta.

Nederlandsche staatscourant, 30-12-1815
Sejumlah orang Belanda difungsikan oleh pemerintah pendudukan Inggris. GWC Motman termasuk salah satu yang difungsikan sebagai Jury within tje Jurisdiction of the Supreme Court of Justice di Batavia (lihat Java government gazette, 18-04-1812). Dua tahun berikutnya GWC Motman untuk fungsi yang sama di tempatkan di Buitenzorg, Preanger Regentschappen (lihat Java government gazette, 15-01-1814). Berdasarkan data yang dihimpun oleh orang Belanda selama tahun 1915 terdata nama-nama orang Belanda yang (masih) hidup dan meninggal dunia di Hindia (lihat Nederlandsche staatscourant, 30-12-1815). Dalam daftar ini termasuk yang masih hidup adalah Gerrit Willem Casimir van Motman.

Setelah kembalinya Pemerintah Hindia Belanda berkuasai berbagai kebijakan baru dibuat, selain meneruskan pembangunan jalan juga memperluas wilayah pengembangan pertanian. Salah satu upaya untuk mendukung pengembangan pertanian, pemerintah mulai melakukan pemetan-pemetaan.

Pada tahun 1819 seorang peneliti Belanda telah melakukan peninjauan terhadap sejumlah gunung termasuk gunung (berg) Tjiampea (lihat Rotterdamsche courant, 07-10-1819). Selanjutnya,

Untuk mengefektifkan jalannya pemerintahan, pada tahun 1826 pemerintahan pusat melakukan penataan ulang pemerintahan di Afdeeling Buitenzorg (lihat Bataviasche courant, 04-10-1826). Residentie Buitenzorg dilebur ke Residentie Batavia. Di Afdeeling Buitenzorg ditempatkan seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Buitenzorg. Sejak pendudukan Inggris status Buitenzorg adalah sebuah Residentie yang dipimpin oleh seorang Residen.

Sehubungan dengan pengangkatan Asisten Resident Buitenzorg (beserta perangkatnya), juga diangkat Bupati (beserta perangkatnya, seperti kepala penghoeloe dan djaksa). Selain itu dibentuk empat district yang masing-masing dikepalai oleh seorang Demang, Keempat district tersebut adalah Tjibinong, Paroeng, Djasinga dan Tjibaroesa. Untuk distrivt Paroeng ditambahkan seorang wakil Demang. Land Tjiampea termasuk district Paroeng.

Pada tahun 1829 dilaporkan jumlah pasar yang telah dibentuk (lihat Javasche courant, 15-12-1829). Salah satu nama pasar yang disebut adalah Pasar Tjiampea. Pasar terdekat dari Tjiampea adalah Pasar Sading (Leuwiliang), Pasar Paroeng dan Pasar Buitenzorg (milik pemerintah).

Javasche courant, 15-12-1829
Pembentukan pasar berdasarkan keputusan pemerintah. Umumnya pemilik pasar adalah pemilik land dimana pasar dibentuk Kapan pasar Tjiampea didirikan tidak begitu jelas. Pada tahun 1834 diketahui bahwa land Tjiampea Tjiboengboelang dan Sading Oost akan disewakan (lihat Javasche courant, 15-03-1834). Ini mengindikasikan land Tjiampea dan land Tjiboengboelan telah disatukan. Siapa pemilik dua land yang berdekatan ini tidak diketahui apakah masih keluarga Riemsdijk atau bukan.

Untuk mendukung pengembangan wilayah dan memajukan perekonomian pemerintah menetapkan kelas jalan berdasarkan beslit (lihat Javasche courant, 30-01-1836). Jalan kelas satu termasuk jalan post Batavia ke Buitenzorg hingga ke Megamendoeng terus ke Preanger dan jalan dari Batavia melalui Tangerang hingga Bantam. Jalan kelas satu (nasional) ini merupakan jalan pos trans-Java yang pembangunannya digagas pada era Gubenur Jenderal Daendels (1808-1911).

Berdasar beslit (undang-undang) ini, untuk kategori jalan kelas dua (wilayah) diantaranya adalah jalan dari Parapattan (Tjikinie) hingga Pondok Terong (land Tjitajam). Jalan kelas dua lainnya adalah dari Tangerang ke Toasia (Maoek/Teloknaga?); jalan dari Buitenzorg melalui Tjiampea dan Djasinga terus ke Bantam; dan jalan dari Buitenzorg melalui Semplak, Koeripan, Paroeng hingga ke Tangerang

Sejak adanya penetapan kelas jalan maka jalur-jalur transportasi ekonomi (perdagangan) telah bergeser dari transportasi air di era VOC menjadi moda transportasi darat. Tempat-tempat utama semakin terhubung dengan baik. Ciampea tidak lagi sepenuhnya berorientasi melalui jalur perdagangan melalui daerah aliran sungai Tjisadane/sungai Tangerang (Koeripan, Paroeng, Serpong, Tangerang) tetapi telah terbuka ke arah barat ke Banten melalui Djasinga dan lebih-lebih ke arah timur melalui Buitenzorg.

Land Tjiampea dan Land Dramaga: Keluarga van Motman

Land pertama di hulu sungai Tangerang (sungai Tjisadane) adalah land Tjiampea. Lalu kemudian dibentuk land-land baru. Salah satu land baru itu adalah land Tjiboengboelan. Namun dalam perkembangannya, land Tjiampea dan land Tjiboengboelan disatukan dengan nama land Tjiampea Tjiboengboelan (lihat kembali Javasche courant, 15-03-1834). Land Tjiampea Tjiboengboelang sungguh sangat luas. Siapa pemilik dua land yang berdekatan ini tidak diketahui apakah masih keluarga Riemsdijk atau bukan. Land ini pada masa kini terdiri dari dua kecamatan (Ciampea dan Cibungbulan).

Javasche courant, 15-09-1841
Sementara itu di wilayah Buitenzorg (Bogor) juga sejak era VOC telah terbentuk land-land (daerah aliran sungai Tjiliwong). Beberapa land yang telah terbentuk di luar Buitenzorg adalah land Tjiomas. Land ini mulai dari sisi selatan sungai Tjisadane hingga puncak gunung Salak. Pada tahun 1841 land Tjiomas diumumkan di surat kabar akan disewakan atau dijual (lihat Javasche courant, 15-09-1841). Satu hal yang menarik dari pengumuman ini adalah bahwa batas sebelah barat land Tjiomas adalah land Tjiampea. Informasi ini menjelaskan bahwa land Tjiampea Tjiboengboelan telah dipecah kembali menjadi dua land: land Tjiampea dan land Tjiboengboelan. Informasi lain dari ini adalah bahwa batas wilayah land Tjiomas adalah land Sindang Barang atau Dramaga. Informasi ini juga mengindikasikan bahwa land Sindang Barang juga disebut land Dramaga.

Pada tahun 1841 land Tjiomas diumumkan di surat kabar akan disewakan atau dijual (lihat Javasche courant, 15-09-1841). Satu hal yang menarik dari pengumuman ini adalah bahwa batas sebelah barat land Tjiomas adalah land Tjiampea. Informasi ini menjelaskan bahwa land Tjiampea Tjiboengboelan telah dipecah kembali menjadi dua land: land Tjiampea dan land Tjiboengboelan. Informasi lain dari ini adalah bahwa batas wilayah land Tjiomas adalah land Sindang Barang atau Dramaga. Informasi ini juga mengindikasikan bahwa land Sindang Barang juga disebut land Dramaga.  Pemilik terakhir dari land Dramaga adalah keluarga van Motman.

Awalnya bermula ketika Gerrit Willem Casimir van Motman (GWC Motman) ditunjuk sebagai Administrateur van de Magazynen di Buitenzorg pada bulan Maret tahun 1801 (lihat Bataafsche Leeuwarder courant, 24-10-1801). GWC van Motman datang ke Hindia pada umut 17 tahun pda tahun 1790. Pada era pendudukan Inggris saudaranya bernama Frederik Constantijn Gerrit (Frits) van Motman meninggal dunia di Batavia pada tangggal 10 Februari (lihat Java government gazette, 29-02-1812). Frits van Motman berpangkat Kolonel. Pada tahun 1812, GWC van Motman diangkat sebagai Jury within tje Jurisdiction of the Supreme Court of Justice di Batavia (lihat Java government gazette, 18-04-1812). Gerrit Willem Casimir van Motman pada 1813 membeli land Dramaga. GWC Motman sebagai Jury within tje Jurisdiction of the Supreme Court of Justice ditempatkan di Buitenzorg, Preanger Regentschappen (lihat Java government gazette, 15-01-1814).

Setelah berakhirnya pendudukan Inggris (1816), land Dramaga tetap diusahakan oleh Gerrit Willem Casimir van Motman. Ketika pemeritah Hindia Belanda kembali berkuasa mulai membentuk pemerintahan. Residen pertama yang ditunjuk di Preanger Regentschappen tahun 1816 adalah PWL van Motman yang berkedudukan di Tjiandjoer. PWL van Motman diduga adalah anak dari saudara Kolonel Frits van Motman dan GWC van Motman.

Pada tahun 1821 Gerrit Willem Casimir van Motman diberitakan meninggal dunia di Dramaga (lihat Bataviasche courant, 02-06-1821). Disebutkan GWC van Motman meninggal pada usia 49 tahun setelah sakit selama tiga bulan. GWC van Motman meninggalkan seorang istri dan lima orang anak. Berita duka ini diiklankan oleh istri alm, R(ainira) J(acoba) van Motman (terlahir sebagai marga Bangeman).

Berdasarkan stambuk keluarga, anak-anak GWC van Motman adalah Frederik Hendrik Constant van Motman (lahir di Buitenzorg 1809); Jan van Motman (1911), Pieter Cornelis van Motman (1913); Jacob Gerrit Theodoor van Motman (lahir di Karawang 1816); Willem Reinier van Motman besar dugaan anak pertama tetapi baru disahkan di Batavia 1820 (lihat Bataviasche courant, 16-09-1820). Berdasarkan sumber lain Willem Reinier lahir tahun 1803. Catatan tentang mengenai keluarga van Motman ini dapat dibaca pada website keluarga van Motman.

Rainira Jacoba van Motman menjadi single parent, anak-anaknya terbilang masih kecil-kecil yang tertua baru berumur 11 tahun dan yang paling kecil masih berusia lima. Rainira Jacoba van Motman harus berjuang sendiri membesarkan lima anak dan juga mengusahakan land Dramaga.

GWC van Motman dan rumah keluarga van Motman
Sementara anak-anak yang tertua membantu ibu mereka bertani di land Dramaga, sang adik, Jacob Gerrit Theodoor van Motman mulai meniti karir dari bawah di pemerintahan. JGT van Motman diangkat sebagai pegawai golongan kelas ketiga di kantor Secretarie van den Directeur Generaal van Financien (lihat Javasche courant, 13-08-1836).

Setelah anak-anak Rainira Jacoba van Motman mulai dewasa, keluarga van Motman menyewa land Tjiampea. Petani tetaplah petani. Lahan yang diusahakan semula hanya sebatas land Dramaga, lalu diperluas dengan menyewa land tetangga, land Tjiampea. Lokasi land Tjiampea lokasi paling strategis di hulu sungai Tjisadane, berada di pertigaan jalan utama: ke utara ke arah Paroeng dan Tangerang; ke timur ke arah Tjiomas dan Buitenzorg; dan ke barat ke arah Djasinga dan Banten. Land Tjiampea adalah matahari di sebelah barat daya Batavia.

Kecamatan Ciampea dan Kecamatan Ciomas (Now)
Land Tjiampea telah dimiliki oleh keluarga Ament (pemilik land Tandjong Oost). Salah satu putri pemilik land Tjiampea Willem Vincent Helvetius Riemsdijk menikah dengan keluarga Ament. Dalam perkembangannya, keluarga vat Motman (JGT van Motman, PC van Motman dan FHC van Motman) telah memperluas lahan sewaan, tidak hanya land Tjiampea, tetapi juga land Tjiboengboelan dan land Sading Oost. Pada tahun-tahun terakhir, sang abang, FHC van Motman yang terus mengusahakan ketiga land tersebut. Sementara dua adiknya telah menyewa land di tempat lain. Sang ibu, Rainira Jacoba van Motman boleh jadi sudah pensiun (istirahat di rumah).

Bangunan pemakaman keluarga van Motman (Now)
Sejak kapan land Tjiampea disewa oleh keluarga van Motman? Tidak diketahui secara pasti. Akan tetapi dapat diduga land Tjiampea disewa oleh keluarga van Motman setelah berdirinya pasar Tjiampea. Hal ini karena umumnya yang berhak mendirikan pasar adalah pemilik land. Pendiri pasar Tjiampea pada saat itu diduga oleh keluarga van Riemsdijk. Keberadaan pasar Tjiampea sudah diketahui pada tahun 1929 dan itu berarti pasar didirikan sebelum tahun tersebut. Pada tahun 1834 land Tjiampea diumumnkan ke publik untuk disewakan. Yang menyewa land Tjiampea adalah IF Witt. Pada sekitar tahun 1848 penyewa land Tjiampea diketahui Tan Ling. Besar dugaan land Tjiampea sebagian sahamnya dibeli oleh keluarga Ament dan setelah berakhirnya hak sewa Tan Ling kemudian disewa keluarga van Motman. Dengan kata lain land Tjiampea disewa keluarga van Motman paling awal sejak tahun 1848.

Tiga bersaudara van Motman secara perlahan telah menjadi petani (farmer) yang sukses. Tiga bersaudara ini membangun kantor di Tjiampea, berada di tengah di antara land Dramaga (warisan ayah mereka yang diusahakan sang ibu) dan land Sading Djamboe. Land Sading Djamboe dan land Tjoeroek Bitoeng diduga sebelumnya juga telah dimiliki oleh GWC van Motman dan terus dipertahankan. Hal inilah yang diduga mengapa terdapat komplek pemakaman keluarga van Motman di land Sading Djamboe (kini kecamatan Leuwisadeng). Land Bolang sendiri (tetangga land Sadeng Djamboe dan land Tjoeork Djamboe) pernah dimiliki keluarga van Motman namun pada tahun 1860 land tersebut dijual, karena alasan ingin membeli land Kedong Badak.

Pada masa dimana IF Witt menyewa land Tjiampea telah terjadi pelanggaran. Disebutkan bahwa karena kesulitan banyak penduduk yang coba mencuri sarang burung di pegunungan kapur (Vogelberg) di land Tjiampea. Mereka yang tertangkap lalu dibunuh dan mayat-mayat mereka disembunyikan di dalam salah satu gua yang sulit dijangkau. Pada era penyewaan Tan Ling jejak pembunuhan ini tidak terdeteksi. Baru pada era penyewaan keluarga van Motman jejak-jejak mayat yang disembunyikan itu diketahui pada tahun 1856.

Foto jembatan van Motman dan gunung Salak (1910)
Sementara land Dramaga tetap dipertahankan oleh keluarga van Motman. Meski tiga bersaudara ini hanya berstatus penyewa di land Tjiampea, land Tjiboengboelang dan land Sading atau Panjawoengan, namun secara politis di bidang perdagangan cukup penting. Ini terlihat dari pengangkatan mereka bertiga pada tahun 1861 sebagai anggota Nederlandsch Indische Maatschappij vin Nijverheid (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 14-04-1861). Disebutkan dalam berita ini ketiga bersaudara ini beralamat di (land) Tjiampea.

Pada tahun 1866 land Tjiampea, land Tjiboengboelan dan land Sading telah berakhir kontrak sewa yang dilakukan FHC van Motman. Pemilik land, suatu kongsi yang terdiri dari Ament, van de Graaff dan POW Amenaet akan menyewakan land Tjiampea, land Tjiboengboelan dan land Sading (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 12-09-1866).

Lahan demang (1772) dan peta landhuis Dramaga lama (1906)
Sejauh yang diketahui, land Tjiampea hanya dimiliki oleh dua keluarga. Yang pertama adalah keluarga Riemsdijk dan yang kedua adalah keluarga Ament. Dua keluarga ini terhubung karena perkawinan (menjadi berkerabat). Mengapa begitu penting land Tjiampea begi kedua keluarga ini? Land Tjiampea termasuk land paling subur di hulu sungai Tjisadane, lokasinya strategis. Tidak hanya itu, land Tjiampea yang telah dimekarkan menjadi land Tjiboengboelan memiliki tambang yang potensial yakni batu kapur yang diusahakan untuk menghasilkan produk kapur untuk bahan bangunan. Keluarga Ament juga telah memperluas lahan dengan mengakuisisi land Sadeng Oost sehingga tiga land yang berdekatan ini menjadi satu kesatuan lahan yang sangat produktif, lanskap yang indah dan menyenangkan. Tiga lahan inilah yang kemudian disewa oleh keluarga van Motman. Keutamaan lain dari tiga lain ini adalah terdapat dua benteng: Fort Tjiampea dan fort Panjawoengan (di land Sadeng Oost).

Peta 1906 dan peta satelit masa ini
Di tiga land yang indah ini kelak diketahui terdapat sejumlah artefak dan tanda-tanda jaman kuno, tanda jaman kuno yang mengindikasikan wilayah itu sebagai wilayah yang makmur yang menjadi salah satu pusat kerajaan kuno (Taroemanagara). Tanda-tanda jaman kuno itu ditemukan di Tjiampea, sungai Tjiaruteun dan sungai Tjianten beruapa prasasti dan patung-patung, salah satu diantaranya patung singa Tjiampea.

Tidak diketahui secara pasti siapa yang kemudian menjadi penyewa land Tjiampea, land Tjiboengboelang dan land Sading atau Panjawoengan. Yang jelas land Dramaga masih tetap diusahakan oleh keluarga van Motman. Dalam perkembangannya tigab land tersebut diketahui telah disewa oleh P te Cate sebesar f200.000 (lihat Bataviaasch handelsblad, 02-03-1870). Pusat land (landhuis) Dramaga telah dipindahkan dari dekat jalan raya (sisi selatan) ke lokasi yang sedikit jauh di utara jalan raya. Namun dalam perkembangannya diketahui kembali keluarga van Motman menyewa tiga land tersebuit sejak tahun 1882 untuk lima belas tahun.  Namun keluarga van Motman pada tahun 1886 melepaskan hak penyewaan tiga land ini karena meningkatnya nilai verponding yang ditetapkan oleh pemerintah.

Area kampus IPB dan landhuis Dramaga baru (Peta 1906)
Berdasarkan Peta 1906 landhuis Dramaga telah dipindahkan dari lokasi yang lama ke lokasi yang baru. Lokasi yang lama berada di dekat jembatan (sungai Tjihideung). Lokasi ini jika dibandingkan dengan lukisan Josh Rach tahun 1772 (milik demang Jawiitra) persis apa yang dipetakan dalam Peta 1906. Jalan dari Buitenzorg melintas di atas jembatan sungai dan lalu ke arah selatan menuju landhuis lama dan ke arah utara menuju landhuis baru (dan seterusnya jalan itu menuju land Tjiampea). Wujud jembatan di dekat landhuis lama ini dapat lihat pada foto yang dibuat tahun 1910. Pada foto tampak di kejauhan gunung Salak. Foto ini diambil dari sudut pandang landhuis yang baru (dari utara ke arah selatan). Posisi lokasi landhuis yang baru ini berada di sekitar RS Medika yang sekarang.

Lokasi landhuis Dramaga yang baru ini (masih menurut Peta 1906) dapat diidentifikasi lokasinya kemungkinan besar berada di dalam kampus IPB yang sekarang, kira-kira berada di lokasi dimana kini Teaching Lab IPB dibangun (dekat asrama putri). Gedung Teaching Lab IPB mengambil bentuk gedung IPB yang lama di Baranangsiang.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang