Sejarah Tangerang (27): Kisah Cinta Letnan Moody dan Ratu Helena Kabur dari Banten ke Batavia 1682; Semalam di Tangerang

shape image

Sejarah Tangerang (27): Kisah Cinta Letnan Moody dan Ratu Helena Kabur dari Banten ke Batavia 1682; Semalam di Tangerang

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Tangerang dalam blog ini Klik Disini

Cornelis Vincent van Mook sudah sejak 1678 berada di Tangerang untuk membangun pertanian. Pada tahun 1680 di Kesultanan Banten terjadi perseteruan antara ayah dan anak. Sultan Agoeng Tirtajasa digulingkan oleh anaknya sendiri, Sultan Hadji. Situasi di Banten membuat  Cornelis van Mook di Tangerang terganggu.

Dalam perkembangannya, tahun 1682 Sultan Agoeng Tirtajasa meminta bantuan kepada pihak Inggris dan Denmark untuk melawan Sultan Hadji yang berada di benteng yang kuat. Sultan Hadji dapat dikalahkan dan Sultan Agoeng Tirtajasa berkuasa kembali. Sultan Hadji kemudian mengutus Hendrik Lucasz Cardeel ke Batavia untuk meminta bantuan. Gubernur Jenderal mengirim ekspedisi yang dipimpin oleh Kapitein Jonker, namun gagal. Pasukan Jonker sebagian tewas, sebagian ditawan dan sebagian yang lain berhasil melarikan diri. Untuk membebaskan tawanan, Gubernur Jenderal Speelman mengirim ekspedisi yang dipimpin oleh Sersan Saint Martin untuk bernegosiasi dengan Sultan Agoeng. Cornelis Vincent van Mook kembali bekerja dengan tenang di Tangerang.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pada saat Cornelis Vincent van Mook tengah berada di landhuisnya, warga Tangerang yang umumnya adalah pekerja Cornelis Vincent van Mook dan para pasukan yang menjaga wilayah heboh dengan kedatangan pemuda dan seorang gadis di atas satu kuda mendekati sungai Tjisadane. Gadis itu tetap berada di atas pelana sementara pemuda itu turun membimbing kuda untuk menyeberangi sungai Tjisadane. Para warga mengerumuni dua orang muda Eropa lalu membawanya ke rumah Cornelis Vincent van Mook.

Pemuda dan gadis tiba di rumah Cornelis Vincent van Mook dalam kondisi kelelahan setelah satu hari satu malam di atas kuda tanpa pernah berhenti dan dalam pakain yang compang-camping berdebu dan berlumpur. Tampak tidak karuan. Pemuda Eropa itu kemudian diketahui adalah Letnan Moody, salah satu tawanan yang dibebaskan oleh Saint Martin sedangkan gadis itu adalah putri dari Hendrik Lucasz Cardeel. Cornelis Vincent van Mook cepat paham. Lalu Cornelis Vincent van Mook menyiapkan pelayanan yang baik bagi dua orang muda itu dan juga menyediakan satu kamar untuk berdua untuk tempat istrahat.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Jasa Whatsapp Blast | Adwordsgoogle.site

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang
close
Jual Software Whatsapp Bulk Sender Blaster Anti Banned