Sejarah Tangerang (22): Atik Soeardi, Bupati Tangerang Pertama, 1943; Guru yang Menjadi Ketua Provinciale Raad West Java

shape image

Sejarah Tangerang (22): Atik Soeardi, Bupati Tangerang Pertama, 1943; Guru yang Menjadi Ketua Provinciale Raad West Java

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Tangerang pada blog ini Klik Disini

Kabupaten Tangerang dibentuk dalam era penmerintahan pendudukan militer Jepang, lepas 27 Desember 1943. Tanggal ini dalam masa ini ditetapkan menjadi Hari Jadi Kabupaten Tangerang. Saat penetapan Tangerang sebagai abupaten pada Jawa Barat, yang diangkat sebagai bupati merupakan Atik Soeardi. Saat itu, Atik Soeardi di Provinsi Jawa Barat termasuk salah satu pribumi yg memiliki portofolio tinggi. Atik Soeardi memulai karir sebagai seseorang guru sekolah dasar HIS di Indramajoe, 1918 & jabatan terakhir di era Pemerintah Hindia Belanda merupakan Ketua Dewan Provinsi Jawa Barat.

Daftra Bupati Kabupaten Tangerang (wikipedia)
Selain mengangkat bupati di suluruh Jawa, Pemerintah Militer Jepang juga mengangkat dua wali kota, yakni di Djakarta dan Soerabaja. Hanya Djakarta dan Soerabaja yang statusnya sebagai kota (gemeente). Yang diangkat sebagai wali kota di Batavia adalah Dahlan Abdoellah, kelahiran Pariaman, alumni sekolah guru Kweekschool Fort de Kock yang melanjutkan studi ke Belanda. Pada era Pemerintah Hindia Belanda Atik Soeardi dan Dahlan Abdoellah juga pernag menjadi anggota dewan kota (gemeenteraaf) di Batavia. Wali kota yang diangkat di Soerabaja adalah Dr. Radjamin Nasution, kelahiran Afdeeling Padang Sidempoean, alumni sekolah kedokteran di Batavia STOVIA. Pada era Pemerintah Hindia Belanda, Dr. Radjamin Nasution pernah menjadi angotta dewan kota (gemeenteraad) Soerabaja dan anggota dewan pusat Volksraad. Pada era Pemerintah Hindia Belanda dari 32 kota (gemeente) hanya ada dua wakil wali kota (locoburgemeester) yang berasal dari pribumi yakni di Batavia dan Padang. Di Batavia dijabat oleh MH Thamrin dan di Padang dijabat oleh Dr. Abdul Hakim Nasution.

Sejauh ini riwayat hidup Atik Soeardi belum pernah ditulis. Sangat disayangkan, karena Atik Soeardi adalah Bupati Kabupaten Tangerang yang pertama. Selain itu, Atik Soeradi alumni sekolah guru Kweekschool di Bandoeng, karirnya terbilang cermerlang dengan memiliki berbagai jabatan pada era Pemerintah Hindia Belanda. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Atik Soeardi, bukan Tokoh Daerah tetapi Tokoh Nasional

Atik Soeardi bukanlah tokoh daerah, tetapi tokoh nasional. Atas dasar itulah Pemerintah Militer Jepang di Indonesia memposisikan Atik Soeardi sebagai bupati dan menempatkannya di Kabupaten Tangerang, suatu wilayah terpenting di sisi barat ibukota (stad) Djakarta. Atik Soeardi, di Kabupaten Tangerang diharapkan dapat bekerja sama dengan wali kota Djakarta, Dahlan Abdullah. Kedua tokoh utama di seputar Batavia ini sudah saling kenal sejak era kolonial Belanda, ketika keduanya pernah menjadi anggota dewan kota (gemeenteraad) Batavia pada tahun 1930. Kebetulan keduanya sama-sama berlatar belakang guru (pendidik). Satu posisi yang juga sangat penting adalah Pemerintah Militer Jepang mengangkat Dr. Radjamin Nasution sebagai wali kota di Soerabaja.

Lingkaran pribumi yang direkrut Pemerintah Militer Jepang adalah orang-orang yang di era kolonial Belanda yang non-cooperative terhadap Belanda dan bahkan sangat anti terhadap Belanda, seperti Soekarno dan Parada Harahap. Saat pengangkatan Atik Soeardi sebagai bupati Tangerang, tokoh-tokoh pribumi di pusat adalah Parada Harahap, Soekarno dan Mohamad Hatta. Dalam struktur pemerintahan militer Jepang yang menyertakan pemimpin Indonesia, Ir. Soekarno sebagai ketua Dewan Indonesia dan Mohamad Hatta sebagai wakil. Parada Harahap, yang berlatar belakang jurnalis diposisikan sebagai ketua koordinasi media yang didalamnya terdapat nama-nama Adam Malik, Mochtar Lubis, Sakti Alamsjah dan BM Diah.

Sepuluh tahun sebelumnya tahun 1933, ketika pers pribumi dibreidel dan Ir. Soekarno ditahan di penjara, Parada Harahap memimpin tujuh revolusioner Indonesia ke Jepang. Salah satu dari tujuh orang ke Jepang itu adalah Mohamad Hatta yang baru pulang ke tanah air setelah selesai studi di Belanda. Kerjasama revolusioner Indonesia dengan Jepang secara eksplisit dimulai tahun 1933. Parada Harahap sendiri sudah mendapat perhatian positif dari kalangan diplomat konsulat Jepang di Hindia Belanda sejak tahun 1918. Konsulat Jepang di Hindia Belanda terdapat di tiga tempat: Batavia, Soerabaja dan Medan. Pada tahun 1918 Parada Harahap, editor surat kabar Benih Merdeka di Medan membongkar kasus prostitusi wanita-wanita Jepang di hotel-hotel mewah (bintang) di Medan. Wanita-wanita Jepang ini dipasok oleh para germo yang berbasis di Singapoera. Konsulat Jepang di Medan berterimakasih kepada Parada Harahap.

Nama Atik Soeardi kali pertama dipublikasikan di Medan pada tahun 1915 (lihat De Sumatra post, 19-06-1915). Atik Soeardi lulus sekolah guru Kweekschool Bandoeng dan akan ditempatkan sebagai guru di Bangka. Namun dalam perkembangannya, Atik Soeardi lebih memilih untuk melanjutkan studi ke yang lebih tinggi di Poeworedjo. Pada tahun pertama di sekolah guru tinggi Hoogere Kweekschool Poerworedjo sukses dan berhasil naik ke tingkat dua (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 03-07-1916).

Hoogere Kweekschool didirikan seiring dengan kebijakan pemerintah untuk mendirikan HIS (mengeliminasi siswa pribumi dari ELS) yang dimulai tahun 1914. Lulusan Hoogere Kweekschool diproyeksikan untuk menjadi guru HIS. Untuk direktur HIS (dan juga Kweekschhol) harus berpendidikan sarjana (lulusan Eropa/Belanda). Pada tahun 1913 Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan pulang ke tanah air setelah menyelesaikan pendidikan sarjana (S1) pendidikan di Belanda dan kemudian ditempatkan sebagai Direktur Kweekschool di Fort de Kock. Soetan Casajangan adalah guru pertama pribumi yang menyandang gelar sarjana pendidikan. Lulusan Hoogere Kweekschool setara dengan Diploma (D3) sedangkan lulusan Kweekschool setara sekolah menengah atas (SPG). Hoogere Kweekschool (HKS) yang pertama di Poerworedjo dibuka secara resmi pada tanggal 1 Oktober 1914 yang mana posisi direktur sekolah dijabat oleh JD Wannen (lihat Haagsche courant, 28-10-1914). Dalam hal ini, Atik Soeardi adalah angkatan kedua di Hoogere Kweekschool Poerworedjo. Beberapa guru muda yang tengah menempuh pendidikan sarjana pendidikan di Belanda, mengikuti jejak Soetan Casajangan adalah Ibrahim Datoek Tan Malaka dan Dahlan Abdullah (keduanya tiba di Belanda akhir tahun 1913). Saat itu di Belanda yang juga mengikuti studi sarjana pendidikan adalah Tadoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia yang tiba di Belanda tahun 1910. Ibrahim Datoek Tan Malaka kelak dikenal pejuang Tan Malaka, Dahlan Abdullah sebagai wali kota Batavia dan Soetan Goenoeng Moelia sebagai Menteri Pendidikan RI yang kedua (menggantikan Ki Hadjar Dewantara).

Atik Soeardi dinyatakan lulus ujian akhir di Hoogere Kweekschool (HKS) Poerworedjo bulan April 1918 (lihat Bataviaasch nieuwsblad,     26-04-1918). Atik Soeardi salah satu dari 17 siswa yang dinyatakan lulus. Mereka ini kemudian diangkat menjadi guru dan ditempatkan di sekolah HIS yang sudah ada. Atik Soeardi ditempatkan di sekolah HIS Indramajoe.

Soetan Goenoeng Moelia, anak seorang guru di Padang Sidempoean setelah menyelesaikan sarjana pendidikan di Belanda kembali ke tanah air. Pada tahun 1919, diberitakan Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia diangkat menjadi pemerintah dan ditempatkan sebagai Direktur sekolah HIS di Sipirok, Afdeeling Padang Sidempoean (lihat Algemeen Handelsblad, 18-07-1920). Selanjutnya Soetan Goenoeng Moelia, guru pendidikan Eropa, diangkat menjadi Direktur sekolah di Hollandsch Inlandsche School (HIS) yang baru dibuka di Kotanopan, Afdeeling Padang Sidempoean (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 02-05-1921). Saat ini Soetan Casajangan, setelah dari Fort de Kock, Dolok Sanggoel dan Ambon sejak tahun 1921 diangkat sebagai Direktur sekolah guru Normaal School di Meester Cornelis (Djatinegara). Sekolah guru Normaal School adalah bentuk baru dari Kweekschool, yang sudah ada sejak lama sejak 1851, dan didirikan di kota besar, tiga yang pertama Normaal School di Batavia/Meester Cornelis, Semarang dan Soerabaja. Masih pada tahun ini (1921) seorang guru alumni pertama Hoogere Kweekschool Poerworedjo, Raden Atmadinata guru HIS di Tjimahi yang juga merangkap anggota dewan kota (gemeenteraad) Bandoeng berangkat studi ke Belanda untuk melanjutkan pendidikan guru (lihat De Preanger-bode, 08-11-1921). Tahun sebelumnya HKS yang kedua dibuka di Bandoeng. Pembukaan HKS di Bandoeng adalah peningkatan Kweekschool di Bandoeng. HKS Bandoeng dibuka bulan Juli 1920. Yang menjadi direktur HKS Bandoeng adalah JD Winnen, sebelumnya sebagai direktur HKS di Poerworedjo (lihat De Preanger-bode, 13-04-1920). Untuk menggantikan Winnen menjadi direktur HKS Poerworedjo adalah Koert (lihat De Preanger-bode, 19-05-1920), Masih pada tahun 1920 Sorip Tagor pada bulan Desember 1920 lulus ujian akhir di Rijksveeartsenijschool, Utrecht. Sorip Tagor diwisuda dan mendapat gelar dokter hewan (lihat Het Vaderland: staat- en letterkundig nieuwsblad, 30-01-1921). Sebagaimana Soetan Casajangan guru pertama berlisensi Eropa/Belanda, Sorip Tagor Harahap yang juga kelahiran Padang Sidempoean adalah dokter hewan pribumi pertama berlisensi Eropa/Belanda. Dr. Sorip Tagor adalah kakek dari Inez/Risty Tagor.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Atik Soeardi, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa di Tangerang

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Jasa Whatsapp Blast | Adwordsgoogle.site

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang
close
Jual Software Whatsapp Bulk Sender Blaster Anti Banned