Sejarah Sukabumi (25): Nama-Nama Kapal Itu Diberi Nama Soekaboemi dan Tjibadak; Sejarah Penamaan Kapal Dunia Pelayaran

shape image

Sejarah Sukabumi (25): Nama-Nama Kapal Itu Diberi Nama Soekaboemi dan Tjibadak; Sejarah Penamaan Kapal Dunia Pelayaran

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Kota Sukabumi dalam blog ini Klik Disini

Dalam sejarah pelayaran di Nusantara, ada dua nama kapal di era Hindia Belanda yang diberi nama asal Sukabumi yakni s.s. Soekaboemi dan s.s. Tjibadak. Itu menandakan nama Soekaboemi dan nama Tjibadak diakui dalam dunia pelayaran dan dunia perdagangan internasional,  Bagaimana dua nama itu ditabalkan sebagai nama kapal? Itu satu hal.

Kapal s.s. Soekaboemi (Haagsche courant, 23-10-1922)
Soal penabalan nama kapal mengikuti sistem tertentu yang juga berlaku pada masa ini di dalam dunia pelayaran Indonesia. Di dunia angkatan laut Indonesia kapal perusak diberi nama pulau-pulau besar, sementara untuk nama kapal fregat diberi nama pahlawan nasional sedangkan untuk nama kapal selam diberi nama senjata dalam dunia pewayangan. Untuk nama kapal pendarat tank diberi nama teluk sedangkan untuk nama kapal pendarat material diberi nama kota. Untuk kapal cepar rudal diberi nama senjata tradisional, sementara untuk nama kapal cepat torpedo diberi nama hewan kuat, sedangkan untuk nama kapal penyebar ranjau diberi nama angin ganas.

Lantas apa pentingnya untuk memahami nama kapal Soekaboemi dan nama kapal Tjibadak/ Mungkin ini tidak penting-pentimg amat, tetapi melalui dua nama kapal itu kita bisa memulai mempelajari dunia pertanian di Soekaboemi dan keberadaan pelabuha Palaboehan Ratoe di satu pihak dan dunia perdagangan di dunia pelayaran internasional. Untuk itu mari kota telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Kapal s.s. Soekaboemi dan s.s. Tjibadak

Tidak semua nama kota ditabalkan menjadi nama kapal. Hanya nama-nama kota tertentu di Hindia Belanda (baca: Indonesia) yang ditabalkan sebagai nama kapal (uap) pelayaran samudra. Di West Java hanya empat nama kota yang ditabalkan sebagai nama kapal. Selain nama Soekaboemi dan Tjibadak adalah nama Buitenzorg dan Garoet. Boleh jadi karena di empat kota ini terdapat gudang-gudang komoditi untuk ekspor. Kapal stoomschip (s.s.) Soekaboemi adalah kapal dari maskapai pelayaran Belanda.

Kota Bandoeng juga memiliki gudang komoditi ekspor yang besar. Akan tetapi dalam dunia pelayaran Eropa/Belanda nama kota itu tidak ditabalkan. Ada apakah gerangan. Ternyata setelah ditelusuri lebih jauh, nama kota Bandoeng telah ditabalkan perusahaan pelayaran Jepang pada sebuah kapal miliknya. Nama kapal itu diberi nama Bandoeng Maru yang diberitakan merapat di pelabuhan Tandjoeng Priok pada bulan Juni 1923 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie,         29-06-1923). Sebagaimana diketahui nama kapal adalah unik untuk mebedakan satu kapal dengan kapal lainnya di samudra luas. Pertanyaannya mengapa orang Jepang memberi nama Bandoeng, sementara Bandoeng berada di wilayah Hindia Belanda.

Kapal s.s. Soekaboemi dibuat di galangan kapal Bonn en Mees di Rotterdam. Kapal milik  Rotterdam Lloyd itu melaut (keluar dari galangan kapal) pada tanggal 18 Oktober 1922 (lihat Voorwaarts: sociaal-democratisch dagblad, 18-10-1922). Disebutkan kapal ini panjang 460 kaki, lebar 54 kaki dan tinggi 37 kaki yang berat keseluruhan 10.200 tonase Inggris. Kapal ini juga disebutkan akan dilengkapi untuk pelayaran angkutan haji.

Voorwaarts: sociaal-democratisch dagblad, 18-10-1922
Kapal  s.s. Soekaboemi disebutkan lebih lanjut memiliki tiga dek baja dan bahan dari kayu jati. Kapal memiliki dua tiang ditambah enam tiang muat yang mampu mengangkat beban yang beratnya 3 sampai 5 ton dan 30 ton. Kapal dilengkapi dengan ruang inap untuk kapten, petugas, pengemudi, dan peralatan lainnya dan di atas geladak tempat berlindung yang dilengkapi untuk transportasi haji. Selain itu, kapal sepenuhnya dinyalakan dengan listrik dan dilengkapi dengan telegrafi nirkabel. Boiler untuk instalasi turbin diproduksi oleh firma Gebr., Stork & co di Hengelo yang mana boiler dipanasi menggunakan pembakaran batu bara atau dengan minyak.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang