Sejarah Sukabumi (2): Sejarah Rumah Sakit di Sukabumi; Rumah Sakit Bunut, Kini Namanya Menjadi RSUD Mr. R Syamsudin

shape image

Sejarah Sukabumi (2): Sejarah Rumah Sakit di Sukabumi; Rumah Sakit Bunut, Kini Namanya Menjadi RSUD Mr. R Syamsudin

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Kota Sukabumi pada blog ini Klik Disini

Dulu terdapat namanya rumah sakit Bunut di Kota Sukabumi, tetapi kemudian sekarang namanya dikenal memakai nama Rumah Sakit (RS) R Syamsudin. Disebut Bunut karena tempo doeloe berada dalam kampong Boenoet. Rumah sakit ini terbilang rumah sakit tua. Rumah sakit pada Boenoet ini mulai dibuka buat umum dalam tahun 1923. Namanya waktu itu diklaim Gementee Ziekenhuis (Rumah Sakit Kota) karena tempat tinggal sakit ini diusulkan oleh para anggota Dewan Kota (Gemeenteraad) Soekaboemi.

Rumah Sakit Sukabumi: Tempo doeloe dan NOW
Sebelum adanya rumah sakit Gementee Ziekenhuis, di Kota Soekabomei sudah ada rumah sakit Juliana Ziekenhuis. Rumah sakit ini dikelola oleh swasta dan umumnya ditujukan untuk orang-orang Eropa/Belanda. Dalam hal ini, rumah sakit Gementee Ziekenhuis diusulkan untuk umum apakah orang Eropa/Belanda, Tionghoa atau pribumi. Usulan pendirian rumah sakit umum Gementee Ziekenhuis diduga karena rumah sakit sejenis telah dilakukan di Tasikmalaja, Garoet dan Tjiandjoer.    .

Namun usulan pendirian rumah sakit Gementee Ziekenhuis ini nir mudah diterima, bukan karena telah terdapat Juliana Ziekenhuis tetapi karena soal harga bahan

Kampong Boenoet di Soekaboemi (Peta 1899)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Rumah Sakit di Soekaboemi

Sejak ditingkatkannya Controleur Soekaboemi menjadi Asisten Residen Soekaboemi pada tahun 1871, wilayah Afdeeling Soekaboemi mulai menemukan jalan untuk tumbuh dan berkembang. Oleh karena kedudukan Resident Prenager telah dipindahkan dari Tjiandjoer ke Bandoeng, maka kiblat perkembangan Soekaboemi lambat laun mengarah ke Buitenzorg dan Batavia. Lebih-lebih sejak 1870 sudah dicanangkan pembangunan jalur kereta api dari Batavia ke Buitenzorg.

Hotel Ploem di Soekaboemi, 1880
Perkebunan yang semakin meluas di Soekaboemi setelah berakhirnya koffiestelsel (1860an), semakin meluas lagi perkebunan yang diusahakan oleh swasta di wilayah afdeeling Soekaboemi sehubungan dengan mulai dioperasikan kereta api Batavia-Buitenzorg pada tahun 1873. Tampaknya bagi penduduk Soekaboemi, Tjiandjoer adalah masa lalu dan Buitenzorg adalah masa kini. Populasi orang-orang Eropa/Belanda di Soekaboemi juga semakin pesat bertambah. Jumlah wisatawan juga semakin meningkat ke Soekaboemi lebih-lebih setelah tersedianya tempat penginapan (hotel) yang memadai. Kota Soekaboemi sudah memenuhi syarat sebagai kota orang-orang Eropa/Belanda.

Sehubungan dengan perkembangan di Soekaboemi, seorang dokter Belanda, Dr. L. Weiss berinisiatif untuk mendirikan rumah sakit (hospital) di Soekaboemi. Tentu saja rumah sakit ini ditujukan untuk orang-orang Eropa/Belanda khususnya militer yang sakit yang berada di wilayah afdeeling Soekaboemi. Keberadaan rumah sakit di Soekaboemi paling tidak diketahui pada tahun 1884 (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 29-10-1884). Namun sejauh ini di Afdeeling Soekaboemi belum terdapat dokter pribumi (docter Djawa).

Dokter Eropa/Belanda, lulusan dari Belanda selain banyak yang sudah direkrut pemerintah dan ditempatkan di berbagai wilayah, dokter-dokter Belanda ini juga membuka praktek atau klinik di kota-kota utama dimana ditemukan banyak orang Eropa/Belanda. Untuk menangani kesehatan penduduk pribumi pada wilayah kerja tertentu pemerintah mengangkat dan menempatkan dokter pribumi. Para dokter pribumi ini mendapat pendidikan di Docter Djawa School di Batavia. Lulusan sekolah ini kerap disebut dokter Djawa. Docter Djawa School ini didirikan pada tahun 1851 di rumah sakit militer di Weltevreden (kini RSPAD). Jumlah siswa yang diterima di Docter Djawa School sekitar delapan sampai 10 orang siswa tiap tahun. Dua siswa pertama yang diterima di Docter Djawa School yang berasal dari luar Jawa pada tahun 1854. Dua siswa pertama ini (Si Asta dan Si Angan) berasal dari Afdeeling Mandailing dan Angkola, Residentie Tapanoeli. Setelah lulus tahun 1856 Dr. Asta ditempatkan di onderafdeeling Mandailing (di Panjaboengan) dan Dr. Angan di onderafdeeling Angkola (di Padang Sidempoean).

Keberadaan dokter Djawa di Soekaboemi diketahui pada tahun 1892 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 28-01-1892). Hal ini sehubungan dengan kepergian Dr L Weiss ke Saigon, untuk sementara ditangani oleh dokter Jawa Pradja Sasnita, penanggung jawab rumah sakit beri-beri di Buitenzorg.

Sanatorium Selabatoe, Soekaboemi, 1900
Seperti penyakit khusus beri-beri didirikan di Buitenzorg, di Soekaboemi didirikan rumah sakit khusus (sanatorium) untuk penanganan jangka panjang seperti TBC. Keberadaan Sanatorium Soekaboemi paling tidak sudah diberitakan pada tahun 1903 (lihat Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 06-01-1903). Disebutkan sanatorium ini dipimpin oleh Dr. Nico de Haan. Berdasarkan foto (postcard) tahun 1900 sanatorium en hotel Selabatoe di Soekaboemi ini ditangani oleh Dr. AAFM Deutmann dan sebagai penyewa adalah  E Lenne. Untuk sekadar catatan tambahan: Sanatorium lainnya terdapat di Garoet (Ngamplang), Tosari (Tengger), Bandarbaroe (Deli) dan Patjet (Tjiandjoer).

Setelah reorganisasi pemerintahan dan reorganisasi bidang pendidikan, pemerintah mulai melakukan reorganisasi pada bidang kesehatan. Reorganisasi pada bidang ksehatan ini dimulai pada tahun 1906 (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 04-12-1906). Reorganisasi bidang kesehatan ini pada intinya untuk memisahkan rumah sakit militer dengan membentuk rumah sakit sipil.

Bataviaasch nieuwsblad, 04-12-1906
Sebelum reorganisasi bidang kesehatan ini dilakukan, pada tahun 1902 Docter Djawa School ditingkatkan dengan nama baru menjadi School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Dalam peningkatan ini lama studi ditingkatkan dari tujuh tahun menjadi sembilan tahun. Siswa yang diterima adalah lulusan ELS (sekolah dasar Eropa). Docter Djawa sendiri yang awalnya lama studi dua tahun ditingkatkan menjadi tiga tahun (1860an) dan pada tahun 1875 menjadi lima tahun dan sejak 1895 lama studi menjadi tujuh tahun. Pada tahun 1906 sudah ada beberapa lulusan Docter Djawa School yang melanjutkan studi di Belanda untuk mendapatkan gelar dokter penuh (setara dokter Eropa/Belanda).

Gementee Ziekenhuis di Soekaboemi

Pada tahun 1916 muncul usulan di dewan kota (gemeenteraad) Soekaboemi untuk membangun rumah sakit kota (Gementee Ziekenhuis). Kota Soekaboemi ditetapkan sebagai Kota (Gemeente) pada tahun 1914. Ini berarti usulan ini muncul setelah dua tahun anggota dewan kota (gemeenteraad) Soekaboemi terbentuk. Selama belum ada wali kota (Burgemeester), ketua dewan kota dipimpin oleh Asisten Residen. Namun usul tetaplah usul dan kenyataannya tidak kunjung terpenuhi.

De locomotief, 13-12-1884
Munculnya gagasan pendirian rumah sakit sipil Gementee Ziekenhuis diduga karena pemerintah kota belum memiliki rumah sakit sendiri. Besar dugaan rumah sakit yang ada di Soekaboemi, meski sudah ada sejak 1884, kebijakan reorganisasi di bidang kesehatan pada tahun 1906, status rumah sakit tersebut masih berada di bawah kepemilikan rumah sakit militer dengan nama Juliana Ziekenhuis Soekaboemi. Lokasi rumah sakit militer ini berada di dekat penjara di jalan Lettu Bakri. Besar dugaan posisi GPS rumah sakit tersebut kini menjadi kantor Satpol PP Sukabumi.

Pada tahun 1920 usulan pendirian rumah sakit kota di Soekaboemi muncul kembali di dewan kota (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 22-04-1920). Disebutkan bhawa usulan ini bersumber dari surat Hoofd van den Burgelijken Geneeskundigen Dienst (kepala dinas kesehatan kota).

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang