Sejarah Sukabumi (1): Asal Usul Kota Sukabumi; Tanah Partikelir (land), Raffles, Engelhardt, de Wilde dan van der Capellen

shape image

Sejarah Sukabumi (1): Asal Usul Kota Sukabumi; Tanah Partikelir (land), Raffles, Engelhardt, de Wilde dan van der Capellen

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Kota Sukabumi pada blog ini Klik Disini

Sejarah Kota/Kabupaten Sukabumi belumlah usang. Tetapi nama kampong Soekaboemi sudah semenjak usang ada dalam kota Batavia, bahkan sudah masih ada sejak era VOC. Tidak ada nama kampong Soekaboemi pada Sukabumi. Yang terdapat merupakan nama-nama kampong Karang Tengah, Kabandoengan, Tjibatoe, Benteng, Tjikole, Waroedoejong dan Goenoeng Parang. Nama kampong Benteng sendiri diduga adalah nama yg ada lantaran keberadaan benteng (fort) VOC/Belanda (posisi GPS benteng tadi dalam masa ini pada kurang lebih jalan Sriwijaya, Sukabumi).

Soekaboemi: Peta 1724 (atas) Peta 1860 (bawah)
Pada era VOC/Belanda sudah terbentuk sejumlah tanah partikelir (land) di Residentie Batavia. Salah satu land di dekat kota Batavia adalah land Soekaboemi. Nama land Soekaboemi sudah terbentuk sebelum nama land Buitenzorg muncul pada tahun 1745. Pada tahun 1799 VOC dibubarkan dan kemudian diakuisisi Kerajaan Belanda dengan membentuk Pemerintah Hindia Belanda. Pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1911) sejumlah land dibeli pemerintah tetapi di sisi lain Daendels menjual lahan dan membentuk land baru. Pada era pendudukan Inggris (1811-1816) Letnan Gubernur Jenderal Raffles menjual lahan di selatan Buitenzorg yang termasuk wilayah Residentie Preanger. Pembelinya adalah Engelhardt. Namun kemudian land tersebut dibeli oleh Andries de Wilde. Pada tahun 1819 de Wilde kembali ke Belanda. Pada tahun 1823 Gubernur Jenderal van der Capellen mengakuisisi land tersebut menjadi milik pemerintah kembali. Eks tanah partikelir di Residentie Preanger tersebut kemudian dikenal dengan nama Soekaboemi. Ibu kota Preanger sendiri saat itu masih berada di Tjiandjoer.

.

Lantas apakah nama Soekaboemi berasal dari nama kampong (land) Soekaboemi di Batavia? Pertanyaan yang lebih penting adalah mengapa land Soekaboemi (Goenoeng Parang) harus dibebaskan dan kemudian diakuisisi Pemerintah Hindia Belanda. Pertanyaan yang lebih penting lagi bagaimana sejarah awal terbentuknya Soekaboemi hingga menjadi sebuah Kota (Gemeente)? Pertanyaan-pertanyaan ini tampaknya kurang mendapat perhatian selama ini. Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Gunung Gede/Pangrango: Bogor, Cianjur dan Sukabumi
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Serial artikel Sejarah Sukabumi ini merupakan rangkaian sejarah kota-kota di Indonesia. Gagasan penulisan Sejarah Sukabumi ini sejatinya sudah muncul beberapa tahun yang lalu, tetapi harus ditunda begitu lama. Hal ini karena setelah serial artikel Sejarah Depok dan Sejarah Bogor, tampaknya harus didahului dengan memahami lebih awal Sejarah Bandung, Sejarah Jakarta, Sejarah Bekasi dan Sejarah Tangerang. Dengan begitu maka akan lebih mudah dan komprehensif untuk memahami Sejarah Sukabumi. Untuk itu, mari kita mulai serial Sejarah Sukabumi dengan artikel pertama.

Tanah-Tanah Partikelir di Era VOC

Sejarah Sukabumi, meski masih tergolong baru, tetapi keberadaannya sudah sejak lama diketahui (oleh VOC). Ini diketahui ketika VOC/Belanda mulai melakukan survei wilayah dengan mengirim satu tim ekspedisi pada tahun 1687 ke hulu sungai Tjiliwong dengan mengabil rute awal dari selatan (pulau) Jawa. Tentu saja sejak 1619 hingga 1687 belum satupun nama tempat yang pernah diidentifikasi di wilayah hulu sungai Tjiliwong.

Peta 1619
Saat itu tim ekspedisi dipimpin oleh Sersan Scipio mengambil rute dari selatan (pulau) Djawa di muara sungai Tjimandiri (kini Pelabuhan Ratu). Lalu menyusuri sungai hingga ke dekat Kota Sukabumi yang sekarang, dan kemudian berbelok ke utara mengikuti jalur sungai Tjitjati (Karang Tengah) dan sungai Tjiheuleut di kota Cicurug yang sekarang. Ekspedisi kemudian menyusuri sungai Tjisadane hingga  ke suatu tempat di timur gunung Salak (kini Tajur, Kota Bogor).

Pada titik singgung terdekat diantara sungai Tjisadane dan sungai Tjiliwong oleh tim ekspedisi dibangun sebuah benteng dengan nama benteng (Fort) Padjadjaran. Posisi GPS benteng ini pada masa ini berada tepat di halaman belakang Istana Bogor. Dari benteng kemudian tim ekspedisi menyusuri jalan sisi barat sungai Tjiliwong hingga (kembali) ke Batavia.

Rute ekspedisi Scipio 1687: Pelabuhan Ratu, K Tengah, Cicurug
Rute ekspedisi yang dilakukan tahun 1687 ini disalin kembali dan dipublikasikan pada tahun 1695. Peta ini terbilang peta tertua tentang wilayah pedalaman (pulau) Jawa hingga gunung Goeroeh di Karang Tengah (dekat gunung Walat). Ekspedisi ke pedalaman dilakukan setelah tahun 1666 kebijakan VOC/Belanda diubah dari kontak perdagangan yang longgar di kota-kota pantai menjadi kebijakan baru yang mana penduduk dijadikan sebagai subjek. Sebagai tindak lanjutnya VOC/Belanda melakukan ekspedisi awal ke daerah aliran sungai Tangerang (Tjisadane), sungai Jacatra (Tjiliwong), sungai Bekasi (Tjilengsi) dan sungai Krawang (Tjitaroem). Ekspedisi di sungai Jacatra hingga Tandjoeng (kini Pasar Rebo) pada tahun 1660an dan ekspedisi sungai Tangerang dimulai pada tahun 1679 (hingga Serpong). Ekspedisi ke pedalaman Jawa melalui sungai Tjimandiri tahun 1687 sebagai kelanjutan ekspedisi sungai Jacatra/sungai Tjiliwong.

Dari peta ekspedisi ini mengindikasikan wilayah Sukabumi yang sekarang paling tidak telah diselidiki oleh tim ekspedisi VOC/Belanda pada tahun 1687. Seperti biasanya, tim ekspedisi yang dipimpin militer ini juga menyertakan para ahli seperti ahli geologi, ahli botani, ahli geografi sosial, dan bahkan ahli linguistik (sosial budaya). Dengan kata lain sejak 1687 wilayah Sukabumi yang sekarang sudah dikenal oleh orang Eropa/Belanda.

Peta ekspedisi ke Priangan, 1701
Ekspedisi terjauh ke pedalaman berikutnya baru dilakukan pada tahun 1695 yang dipimpin oleh Majoor Jacob Cooper dari sungai Tegal ke pedalaman hingga Mataram (kini Yogyakarta). Ekspedisi terjauh sebelumnya belum sampai ke Mataram (hanya sampai batas-batas Mataram). Ekspedisi pertama ini dilakukan pada tahun 1678 yang dipimpin oleh van Hurdt dari Semarang ke Kediri melalui arah timur (di utara wilayah Soeracarta) kemudian ke arah selatan di Kediri.

Ekspedisi kedua ke hulu sungai Tjiliwong dilakukan pada tahun 1701. Ekspedisi ini dipimpin oleh Abraham van Riebeeck dari sisi barat sungai Tjiliwong melalui Tjililitan, Depok, Pondok Terong, Bodjong Gede dan Paroeng Angsana (Tanah Baru, Bogor Baru yang sekarang). Ekspedisi ini juga melakukan peninjauan hingga memasuki wilayah Priangan (Preanger) dengan mengitari gunung Pangrango/gunung Gede via Tjiseroa (kini Puncak), Tjiandjoer dan kembali melalui Goenoeng Parang dan Tjitjoeroek (kini wilayah Sukabumi) dan tiba kembali di Fort Padjadjaran (kini Bogor). Ekspedisi ini dilakukan setelah dua tahun gunung Salak meletus pada tahun 1699.

Pada tahun 1701 Abraham van Riebeeck diberi izin oleh pemerintah VOC untuk memiliki/mengusahakan lahan di Bodjong Gede. Beberapa tahun sebelumnya tahun 1695 Cornelis Chastelein telah diberi izin membuka lahan di Sering Sing (kin Srengseng Sawah, Lenteng Agung). Sebelum Cornelis Chastelein, yang pertama membuka lahan di hulu sungai Tjiliwong adalah Majoor Saint Martin pada tahun 1684 di Tjinere dan di Pondok Terong (Tjitajam). Lahan yang dimiliki oleh Saint Martin sebagai pemberian hadiah dari pemerintah setelah sukses meredakan kerusuhan di (kesultanan) Banten. Besar dugaan ekspedisi yang dilakukan Sersan Scipio ke pedalaman dari selatan Jawa di Pelabuhan Ratu yang sekarang terkait dengan pengembangan lahan pertanian setelah Saint Martin merintis di Tjinere dan Pondok Terong (dua lahan tersubur). Dalam perkembangannya, tidak lama setelah Abraham van Riebeeck membuka lahan di Bodjoeng Gede menyusul Cornelis Chastelein memperluas lahannya dengan membeli lahan di Depok. Mereka ini adalah tiga pionir VOC/Belanda yang mengembangkan pertanian di hulu sungai Tjiliwong.

Pada tahun 1709 sepulang dari Malabar (India selatan), Abraham van Riebeeck diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC. Pada tahun 1710 Abraham van Riebeeck mempelopori penanaman kopi  di Kedaoeng, Tangerang lalu pada tahun 1711 diperluas hingga ke hulu sungai Tangerang/Tjisadane, sungai Tjiliwong, sungai Bekasi/Tjilengsi serta hulu sungai Krawang/Tjitaroem dengan mendatangkan bibit kopi dari Malabar..

Pembukaan lahan-lahan pertanian di empat daerah aliran sungai ini awalnya masih terbatas untuk perkebunan tebu dan pabrik gula. Dengan adanya introduksi kopi yang dilakukan oleh Abraham van Riebeeck, lahan-lahan bukaan baru semakin meluas hingga ke lereng gunung Salak (kini Tjiomas) dan lereng gunung Pangrango (kini Puncak). Pada fase inilah kemudian diformalkan status pemilikan lahan menjadi status tanah partikelir (land).

Pada bulan Juli 1713 Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck melakukan kunjungan ke Tjiandjoer dan Bandoeng (lihat Daghregister tanggal 7 Juli 1713). Sudah barang tentu tujuan kunjungan ini adalah untuk menjalin kerjasama dalam pengembangan tanaman kopi di Priangan. Namun tidak lama setelah kunjungan ke Priangan ini Abraham van Riebeeck meninggal dunia di Batavia pada tanggal 17 November 1713 pada usia 60 tahun.

Abraham van Riebeeck telah mengambil inisiatif untuk introduksi tanaman kopi dan menjalin kerjasama dengan bupati Tjiandjoer dan bupati Bandoeng. Abraham van Riebeeck  adalah Gubernur Jenderal pertama yang melakukan kontak dan kerjasama dengan bupati di Priangan.

Christoffel van Swol, penerus Abraham van Riebeeck, tampaknya melanjutkan komunikasi dan kerjasama dengan pemimpin lokal di Priangan. Sebuah akta telah disiapkan untuk bupati Tjiandjoer. Berdasarkan Daghregister 9 Agustus 1715 surat/akta diterjemahkan dalam bahasa Soenda dan kemudian dikirimkan ke bupati Tjiandjoer tanggal 13 Agustus 1715, lalu balasannya diterima pada tanggal 7 Oktober 1715 dan diterjemahkan pada tanggal 8 Oktober 1715.

Sayang Abraham van Riebeeck tidak melihat hasilnya. Penyebaran penanaman kopi sudah semakin meluas dan pada tahun 1724 kebun kopi bahkan sudah terdeteksi di daerah aliran sungai Semarang (lihat Peta 1724). Pada tahun 1724 kembali diadakan kunjungan dan membuat perjanjian (akta) dengan bupati Tjiandjoer, Aria Wiratanoe (lihat Daghregister, 28 Februari, 1724). Pada tanggal 15 Mei 1730 Tommagong Angadi Radja van Bandoeng datang ke Batavia. Satu diantara para pemimpin yang tidak mau kerjasama dengan VOC adalah pemimpin dari Djampang. Seperti kita lihat nanti, perlawanan dari (pemimpin) Djampang tahun 1715 inilah yang menyebabkan VOC membangun pertahanan (benteng) di area Kota Sukabumi yang sekarang. Kelak dalam pembentukan pemerintahan (era Pemerintah Hindia Belanda) wilayah (district) Djampang tidak termasuk wilayah (di bawah) kekuasaan Regent (Bupati) Tjiandjoer tetapi kangsung dikontrol langsung oleh pemerrintah (Residen).

Pada era Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff (1743-1750) terjadi perubahan drastis di hulu sungai Tjiliwong. Gubernur Jenderal van Imhoff pada tahun 1744 membeli land Bloeboer untuk dijadikan villa pribadi. Land Bloeboer adalah lahan yang kini menjadi pusat Kota Bogor dimana villa yang dibangun oleh van Imhoff tepat berada di benteng (fort) Padjadjaran (kini menjadi Istana Bogor). Setelah berakhirnya masa van Imhoff tidak lama kemudian terjadi serangan dari (kesultanan) Banten.

Pada saat terjadi serangan dari Banten, VOC sudah memiliki beberapa benteng selain benteng Padjadjaran (sejak 1687) juga terdapat di Tangerang (sejak 1679), Serpong dan Tandjong (kini Pasar Rebo), Bekasi dan Tandjong Poera (Krawang). Pada tahun 1710 benteng baru dibangun di Tjiampea (sebagai benteng pendukung Fort Sampoera di Serpong). Pada tahun 1713 dibangun lagi benteng di Panjawoengan (kini Leuwiliang/Leuwisadeng). Sementara benteng Padjadjaran semakin diperkuat. Pada saat van Imhoff membangun villa, posisi benteng Padjadjaran tepat berada di depan (halaman) villa.

Perang lawan Banten ini (1752) akhirnya dapat diredakan dengan sejumlah perjanjian. Untuk memperkuat pertahanan VOC/Belanda di wilayah pedalaman, dibangun benteng baru di hulu sungai Tjidoerian di Djasinga dan di hulu sungai Tjimandiri di antara kampong Karang Tengah dan kampong Tjikole (kini menjadi pusat kota Sukabumi).

Benteng-benteng VOC/Belanda
Dimana letak benteng di hulu sungai Tjimandiri diantara kampong Karang Tengah dan kampong Tjikole terletak di pertemuan sungai Tjigoenoeng Goeroeh dengan sungai Tjimandiri (sekitar Tjisaat yang sekarang). Posisi benteng tersebut diduga kuat berada di kampong Benteng (nama kampong yang muncul diduga terkait dengan keberadaan benteng). Hal yang sama juga sulit melacak dimana posisi GPS benteng Tjiampea, tetapi diduga juga berada di kampong Benteng, Tjiampea (nama kampong yang muncul mengacu pada posisi/keberadaan benteng Tjiampea. Namun berdasarkan penalaran posisi GPS benteng ini pada masa ini kira-kira di sekitar jalan Bhayangkara yang sekarang. Catatan: wilayah Djampang adalah wilayah heterogen melting pot (Jawa dari arah timur, Priangan dari arah utara, dan Banten dari arah  barat).

Sejak diperkuatnya benteng Padjadjaran (di hulu sungai Tjiliwong) dan adanya benteng di Djasinga (hulu sungai Tjidoerian) dan di Karang Tengah (hulu sungai Tjimandiri), pemerintah VOC sejak van Imhoff mulai melibatkan pemimpin lokal di hulu sungai Tjiliwong (yang kemudian disebut Buitenzorg) untuk membangun pertanian. Satu kerjasama yang penting antara van Imhoff dengan para pemimpin lokal adalah membangun kanal irigasi dengan menyodet sungai Tjiliwong di (kampong) Katoelampa. Kanal irigasi ini untuk membangun perswahan ke hilir di land Kampong Baroe (Tjiloear dan Kedonghalang).

Satu lagi kanal irigasi yang dibangun adalah membangun kanal irigasi sungai Tjipakantjilan. Untuk menaikkan air sungai Tjipakantjilan yang jatuh ke sungai Tjisadane (kira-kira di kampong Empang yang sekarang) dibuat kanal (baru) melalui Paledang untuk mengairi pembukaan persawahan bari di Kedong Badak dan Tjileboet. Kanal ini cukup dalam di area antara Paledang dan Panaragan, kanal yang kemudian di atasnya dibangun jembatan penghubung (jembatan tersebut kemudian dikenal sebagai Jembatan Merah).

Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff juga melakukan perjanjian kontrak kepada sejumlah pemimpin lokal di Preanger untuk penanaman kopi. Kontrak-kontrak ini terus dijaga dan diteruskan oleh penerus van Imhoff. Pengumpulan hasil tanaman kopi dipusatkan di Tjiandjoer sebelum diangkut ke Batavia dengan mengerahkan para kuli angkut (dalam satuan-satuan picol). Pengangkutan ini dari Tjiandjoer melalui Tjiseroa ke Buitenzorg yang lalu kemudian diangkut dengan kendaraan pedati ke Batavia.

Kontrak-kontrak penanaman kopi antara VOC dengan pemimpin lokal di Preanger yang berpusat di Tjiandjoer diduga tidak hanya ke Bandoeng, Soemedang dan Limbangan (kini Garut), tetapi juga diperluas ke arah barat ke Goenoeng Parang (kini Sukabumi). Sampai sejauh ini tidak ditemukan keterangan apakah sudah terbentuk jalan dari Goenoeng Parang ke Buitenzorg melalui Tjitjoeroek. Yang jelas aliran komoditi kopi dari barat Tjiandjoer memusat (menuju) ke Tjiandjoer. Kontrak-kontrak ini hanya dilakukan kepada pemimpin lokal di wilayah kekuasaan pemerintah VOC. Untuk wilayah yang telah dikuasai oleh swasta dalam bentuk tanah partikelir (land) pengembangan pertanian berjalan sendiri-sendiri sesuai minat pemilik land (landheer) mau menanam komoditi apa. Tanah-tanah partikelir ini tersebar dari sungai Tjitaroem di timur hingga sungai Tangerang/Tjisadane di barat, dari pantai utara hingga ke pedalaman di Tjikaoe (kini Purwakarta) di Bloeboer (kini Bogor) dan Tjiampea.

Dalam serangan yang dilancarkan (kesultanan) Banten pada tahun 1752 semasa Gubernur Jenderal Jacob Mossel, villa yang sebelumnya dibangun oleh van Imhoff hancur. Villa yang hancur ini baru kemudian dibangun kembali oleh Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra (1761-1775).

Gubernur Jenderal Jacob Mossel tidak segera merehabilitasi villa warisan van Imhoff yang hancur. Jacob Mossel justru membeli land milik Vink dimana terdapat pasar. Land ini sebelumnya dibeli oleh Vink dari Cornelis Chastelein. Di land ini kemudian Jacob Mossel membangun istana megah. Lingkungan istana Mossel ini kemudian dikenal sebagai Weltevreden. Kelak istana ini dikenal sebagai RSPAD yang sekarang dan pasar yang dibangun oleh Vink tersebut kini dikenal sebagai pasar Senen (pasar Weltevreden). Setelah Jacob Mossel digantikan oleh Gubernur Jenderal Petrus Albertus van der Parra, istana Weltevreden dibeli oleh van der Parra. Istana ini tampaknya tidak cukup bagi van der Parra, lalu kemudian membangun (kembali) villa Buitenzorg (sebagai milik pemerintah VOC). Untuk menghubungkan dua istana (villa) ini van der Parra juga membangun sebuah mansion di land Tjimanggis sebagai tempat transit (kini mansion tersebut dikenal sebagai Rumah Tjimanggis).

Pengganti Petrus Albertus van der Parra yakni Gubernur Jenderal Jeremias van Riemsdijk (1775-1777) tidak menggunakan istana/villa Buitenzorg karena telah memiliki mansion sendiri di land Antjol. Jeremias van Riemsdijk selain menambah land-land baru di daerah aliran sungai Bekasi/Tjilengsi, juga membentuk land baru di hulu sungai Tjiliwong dan hulu sungai Tjisadane. Di hulu sungai Tjiliwong terbentuk land Tjiseroa, land Pondok Gede (Tjiawi), Land Tjikoppo. Di hulu sungai Tjisadane terbentuk land Tjiampea, land Tjiomas dan land Dramaga.

Land yang terbentuk di (district) Buitenzorg (1860)
Pada tahun 1790 land Tjiampea diketahui telah dimiliki oleh anak alm. Jeremias van Riemsdjik yakni Willem Vincent Helvetius Riemsdijk. Land Tjiboengboelang dan land Sading atau land Panjawoengan (Leuwiliang) juga diketahui telah dimiliki oleh Willem Vincent Helvetius Riemsdijk.

Hingga berakhirnya era VOC/Belanda sebaran tanah-tanah partikelir telah meliputi seluruh wilayah antara sungai Tjitaroem di timur dan sungai Tjisadane di barat. Land-land terjauh di selatan (pedalaman) adalah land Tjiseroa, land Pondok Gede, land Tjikoppo, land Tjidjeroek, land land Tjiomas, land Dramaga, land Tjiampea, land Tjiboengboelang dan land Sading atau land land Panjawoengan.

Pembebasan Land Soekaboemi di Residentie Preanger

Setelah VOC dibubarkan pada tahun 1799 lalu kemudian diakuisisi oleh Kerajaan Belanda dengan membentuk Pemerintah Hindia Belanda. Pada masa transisi ini, keberadaan land-land tetap diakui oleh pemerintah. Dalam struktur pemerintahan juga masih terlihat keberadaan para pedagang-pedagang VOC. Pada era Gubernur Jenderal Daendels, sejumlah kebijakan radikal dibuat.

Bataviasche koloniale courant, 05-01-1810
Kebijakan radikal tersebut yakni dengan membangun jalan pos trans-Java dari Batavia ke Anjer dan dari Batavia ke Soerabaja via Buitenzorg. Berdasarkan beslit pemerintah tahun 1810 jalan pos ini melalui Tjiseroa, Bajabang dan Soemedang terus ke Tjirebon. Pada era Gubernur Jenderal Daendels ini juga dilakukan pembangunan pertanian dengan meningkatkan irigasi dengan memperluas jangkauan kanal dari Katoelampa (Osterslokkan). Juga meningkakatkan kanal irigasi Tjipakantjilan dengan membuat rencana baru dengan meningkatkan debit air dengan membendung sungai Tjisadane (kelak disebut Empang).

Kebijakan lainnya yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Daendels adalah mulai membangun kota-kota pemerintahan. Untuk tujuan itu Daendels membeli land Weltevreden yang di atasnya dibangun istana Weltevreden (kini dikenal sebagai gedung kementerian keuangan di lapangan Banteng). Daendels juga membeli land Bloeboer untuk mendirikan kota pemerintah di Buitenzorg. Untuk menutupi biaya-biaya tersebut, sebelumnya Daendels juga menjual lahan lainnya kepada swasta sebagai tanah partikelir (land).

Land-land yang baru tersebut berada di barat sungai Tjitaroem dan di barat sungai Tjisadane. Land yang dibentuk di barat sungai Tjitaroem yang sebelumnya masuk Residentie Krawang dan dimasukkan ke wilayah Residentie Batavia adalah land Tjabangboengin, land Kedonggede, land Tjikarang dan land Tjibaroesa. Sedangkan land yang dibentuk di barat sungai Tjisadane (termasuk sungai Tjianten dan sungai Tjikaniki) adalah land Grendeng (kini Karawatji), land Tjigronson, land Sading Djamboe (kini sebagai kecamatan Leuwisadeng), land Bolang (kini dikenal sebagai kecamatan Cigudeg), land Tjoeroek Bitoeng (kemudian dikenal land Nanggoeng) dan land Janlappa (Djasinga). Dengan pembentukan land baru ini maka luas Residentie Banten dikurangi dan luas Residentie Batavia bertambah hingga mencapai sungai Tjidoerian/Tjikande.

Namun semua itu segera berakhir karena terjadi pendudukan Inggris. Gubernur Jenderal Daendels digantikan oleh Letnan Jenderal Raffles. Pemerintah pendudukan Inggris memulai pemerintahannya dengan membentuk 16 Residentie di seluruh (pulau) Jawa. Di wilayah barat terdiri dari Residentie Batavia, Residentie Banten, Residentie Buitenzorg, Residenti Krawang dan Residentie Preanger.

Pada permulaan Pemerintah Hindia Belanda wilayah Preanger terbagi dua: wilayah barat masuk Batavian en Preanger Bovenlanden dan wilayah timur adalah Chirebon en Preanger Bovenlanden. Saat itu, asisten residen berkedudukan di Buitenzorg termasuk Preanger Bovenlanden (yang meliputi wilayah Tjiandjoer en Soekaboemi). Kemudian pada era pendudukan Inggris dua wilayah Preanger disatukan dengan membentuk Residentie Preanger dimana residen berkedudukan di Tjianjoer.

Dalam pemerintahan ini pemerintahan pendudukan Inggris tidak memilih Batavia sebagai ibu kota (stad) tetapi di Buitenzorg (dan di Semarang). Satu kesulitan yang dihadapi Inggris adalah mengadministrasikan Residentie Soeracarta dan Residentie Djogjacarta. Pemimpin lokal di Djogjakarta melakukan perlawanan dan terjadi tindakan kekerasan yang dilakukan oleh Inggris. Sementara itu, dalam situasi ‘dingin’ di Residentie Buitenzorg dan Residentie Preanger, tidak disangka Letnan Gubernur Jenderal Raffles menjual lahan kepada swasta di Residentie Preanger.

Dua lahan yang dijual ini berada di Tjipoetri (Tjipanas) dan di Goenoeng Parang (kelak masuk wilayah Asisten Residen Soekaboemi). Yang membeli kedua lahan tersebut adalah Engelhardt. Tentu saja penjualan lahan ini sangat membingungkan karena pemerintah pendudukan Inggris tidak dalam posisi kekurangan uang tunai. Dua lahan yang berada di sisi selatan dan timur gunung Pangrango/gunung Gede ini berada diantara land Tjikoppo/Srogol (Tjigombong) dan land Tjisaroea di perbatasan Tjiandjoer (yang bersingungan langsung dengan land-land yang sudah lama terbentuk di Afdeeling Buitenzorg, Residentie Batavia). Land yang berada di district Goenoeng Parang ini kemudian disebut Land Soekaboemi. Menurut peta yang dikumpulkan oleh de Haan, land ini dibentuk yang mana land tersebut pada tahun 1815 dimiliki oleh Andries de Wilde.

Mengapa land di district Goenoeng Parang ini disebut Land Soekaboemi? Pada saat itu tidak ada nama kampong yang disebut Soekaboemi di Residentie Preanger. Nama kampong Soekaboemi hanya ditemukan di Residentie Batavia dan Residentie Soeracarta. Kampong Soekaboemi di Residentie Batavia telah dijadikan nama properti/land yang merujuk nama kampong Soekaboemi. Land Soekaboemi ini paling tidak telah dipetakan pada peta yang berjudul Schets van de landen tusschen de Sontar en de Ankee, ongeveer 1770 (lihat de Haan). Nama kampong Soekaboemi di Batavia diduga kampong yang dulunya dibuka dan huni oleh eks pasukan pendukung militer VOC yang berasal dari Soeracarta. Lantas, apakah nama Soekaboemi sebagai nama land di district Goenoeng Parang merujuk pada properti/land Soekaboemi di Batavia?

Kekuasaan Inggris tidak lama, pada tahun 1816 kekuasaan beralih (kembali) ke tangan Pemerintah Hindia Belanda. Dalam perkembangannya land Soekabomi diketahui telah dimiliki oleh Andries de Wilde.

Kerajaan Belanda mengangkat Godart Alexander Gerard Philip Baron van der Capellen sebagai Gubernur Jenderal Hindia Belanda yang baru (Agustus 1816- Januari 1826). Satu yang penting dari kebijakan van der Capellen adalah memperluas wilayah ke pantai barat Sumatra (sementara Inggris tetap bercokol di Bengkoelen).

Pada permulaan Pemerintahan Hindia Belanda (pasca pendudukan Inggris), rumor tentang keberadaan land Tjipoetri dan land Goenoeng Parang mulai muncul. Penjualan lahan oleh Raffles menjadi isu hangat karena selama era Daendels pembentukan land hanya dibatasi di Residentie Batavia. Di luar Residentie Batavia adalah lahan-lahan pemerintah. Land Tjipoetri dan land Goenoeng Parang dalam masalah.

Daftar Residen Preanger di Tjiandjoer, 1816-1871)
Pada awal pemerintahan Gubernur Jenderal van der Capellen untuk Resident di Residentie Preanger diangkat PWL van Motman (saudara sepupu pemilik land Dramaga, GWC van Motman). Oleh karena PWL van Motman dikabarkan meninggal dunia, lalu residen Preanger yang baru diangkat Robert Lieve Jasper van der Capellen (saudara sepupu Gubernuer Jenderal). Pada masa inilah isu pembebasan dua land di Residentie Preanger semakin menguat. Pada tahun 1819 Andries de Wilde diberitakan telah kembali ke Belanda. Boleh jadi de Wilde tidak meneruskan kepemilikan land. Namun tidak jelas apakah de Wilde telah menjual lahannya kepada pihak lain. Residen Preanger tampaknya ingin Residentie Preanger bebas dari tanah partikelir.

Pada tahun 1823 Gubernur Jenderal van der Capellen mengakuisisi dua land di Residentie Preanger menjadi milik pemerintah kembali. Eks tanah partikelir di Residentie Preanger tersebut kemudian dikenal dengan nama land Soekaboemi dan land Tjipoetri. Ibu kota Preanger sendiri sejak era pendudukan Inggris tetap masih berada di Tjiandjoer. Dengan pengembalian dua land ini menjadi domain pemerintah (diserahkan kepada Bupati Tjiandjoer), penduduk sedikit lega karena beban pajak sawah hanya dikenakan 1/10 (sementara sebelumnya pada era tanah partikelir penduduk harus membayar 1/5).

Pada tahun 1825 gunung Goentoer meletus dan terjadi kerusakan yang parah. Produksi kopi menurun drastik. Ketersediaan bahan pangan menjadi langka di wilayah Priangan termasuk di (land) Soekaboemi. Untuk mengamankan kelangkaan pangan di Residentie Preanger, pemerintah mendistribusikan beras. Distribusi beras di (land) Soekaboemi dilakukan di tiga gudang yang dapat diakses oleh penduduk yakni di gudang di Tjiheulang, Tjimahie dan Goenoeng Parang (lihat Javasche courant, 21-10-1828). Gudang milik pemerintah di Goenoeng Parang diduga lokasinya berada di kampong Tjikole (yang kini menjadi nama jalan Gudang di Kota Sukabumi).

Untuk mempercepat proses pemulihan di Residentie Preanger kemudian diangkat Controleur di Sumadang (1ste-klass) di Bandong (2de-klass) di Tjiandjoer (2de-klass) dan Limbangan (Javasche courant, 06-08-1829). Pemulihan tersebut utamanya untuk merehabilitasi lahan-lahan kopi yang rusak dan juga untuk meningkatkan luas lahan kopi yang baru.

Terlihat bahwa penempatan controleur klass-1ste di Sumadang menunjukkan bahwa Sumadang lebih penting (utama) jika dibandingkan dengan Bandong (controleur klas-2). Penempatan Controleur ini selain untuk mengefektifkan pemerintahan yang berpusat di Tjiandjoer juga diduga karena terkait dengan penerapan koffiestelsel.

Pada tahun 1830 Johannes van den Bosch diangkat sebagai Gubernur Jenderal yang baru. Johannes van den Bosch tidak asing dengan wilayah Residentie Buitenzorg dan Residentie Preanger. Sebagaimana Abraham van Riebeeck yang pertama memetakan wilayah hulu sungai Tjiliwong dan sempat meninjau ke Priangan di masa lampau, Johannes van den Bosch adalah orang pertama yang memetakan wilayah Priangan dan yang menjadi ‘anak buah’ ternaik dari Gubernur Jenderal Daendels. Kini, Johannes van den Bosch telah menjadi Gubernur Jenderal.

District Goenoeng Parang (Peta-1823-1829)
Dalam berbagai surat pembaca di surat kabar, banyak pihak yang mengharapkan Johannes van den Bosch sebagai Gubernur Jenderal yang baru diangkat agar lebih bertindak adil jika dibandingkan dengan sebelumnya. Harapan ini berdasarkan dua hal. Pertama, selama ini telah terjadi penindasan terhadap penduduk oleh para pemimpin lokal dalam hubungannya dengan kontrak-kontrak penanaman kopi dan kurang mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Banyak penduduk yang mengeluh. Kedua, Johannes van den Bosch adalah orang yang selama ini terlibat langsung dalam pengelolaan land. Johannes van den Bosch telah memiliki land Pondok Gede (di Afdeeling Bekasi). Lalu kemudian Johannes van den Bosch memiliki land lain di wilayah Tjiawie (land Klein Pondok Gede). Namun harapan itu tidak menjadi kenyataan.

Program utama Johannes van den Bosch sebagai Gubernur Jenderal yang baru adalah mengubah koffiekultuur menjadi koffiestelsel. Tampaknya Johannes van den Bosch ingin mengejar setoran yang lebih besar. Sebab Perang Jawa baru saja berlalu dan mengeluarkan biaya yang sangat besar. Sementara itu, harga kopi di pasar dunia (terutama di Eropa) tengah naik daun.

Peta 1840
Penerus Johannes van den Bosch melihat koffiestelsel tidak cukup hanya di Jawa khususnya di Preanger dan Buitenzorg, tetapi harus diperluas. Tanaman kopi yang sudah sejak lama diintroduksi oleh orang Inggris di Padangsvhe dan Tapanoeli dianggap strategis untuk memperluas koffistelsel. Para veteran Perang Jawa mulai dialihkan ke pantai barat Sumatra yang kemudian terjadi Perang Bondjol (Paangsche) dan Perang Pertibie (Tapanoeli). Sementara itu, koffiestelsel yang juga mencakup wilayah Soekaboemi, ketika produksi sudah mulai mengalir ke Buitenzorg, jalan antara Buitenzorg dan Tjiandjoer via Soekaboemi ditingkatkan menjadi jalan pos. Pos-pos yang dibentuk berada di Tjitjoeroek, Nagrak, Soekabomi dan Tjikembar. Tentu saja nama Tjibadak saat itu belum teridentifikasi.

Kebijakan koffiestelsel yang mendapat perlawanan terus menerus di Padangsche (Residentie Padangsche Bovenlanden) dan di Afdeeling Angkola dan Mandailing (Residentie Tapanoeli) pemerintah pusat mulai mengendorkan kebijakan koffiestelsel ala warisan Johannes van den Bosch.

District Tjimahi (Peta 1823-1829)
Sejak pembebasan land Soekaboemi dan menjadi domain pemerintah diduga banyak penduduk dari wilayah Batavia (Afdeeling Buitenzorg) yang pindah ke wilayah Soekaboemi. Disebutkan bahwa penduduk onderfadeeling Soekaboemi telah meningkat tajam menjadi 80.000 jiwa (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant: staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad,    19-08-1850). Afdeeling Soekaboemi yang masuk Regetshap Tjiandjoer terdiri dari beberapa district, yakni: District Goenoeng Parang, District Tjimahi (termasuk Tjikembar), District Tjiheulang, District Tjoetjoereok, District Soeniawenang (kini Pelabuhan Ratu), District Djampang Koelon dan District Djampang Wetan. Ketujuh district baru ini telah dibuat peta masing-masing.

Dalam perkembangannya di wilayah Afdeeling Soekaboemi nama District Soeniawenang berubah menjadi District Palaboehan. Dalam perkembangan berikutnya pada tahun 1870 District Djampang Wetan (timur) dimasukkan ke Afdeeling Tjiandjoer dan di Afdeeling Soekaboemi District Djampang Koelon dimekarkan dan dibentuk dasitrict baru yang disebut District Djampang Tengah. District Tjiheulang sendiri kini lebih dikenal sebagai Kecamatan Cibadak. Kepala District Tjimahi berkedudukan di Karang Tengah; Kepala District Goenoeng Parang berkedudukan di Tjikole.

Javasche courant, 02-10-1833
Dalam Peta Etappenkaart van Java tahun 1836 yang dibuat oleh van Schukkmann. disebutkan bahwa tidak ada jalan langsung dari Batavia ke Soekaboemi. Rute etappen (persinggahan lalu lintas pos) ke Soekaboemi hanya melalui Tjiandjoer terus ke Soeniawenang di Wijnkoopsbaai (kelak disebut Palaboehan Ratoe). Pada saat itu pelabuhan di selatan (pulau) Jawa ini sudah teridentifikasi sebagai pelabuhan perdagangan (lihat Javasche courant, 02-10-1833). Dalam tabel item perdagangan yang masuk ke Wijnkoopsbaai masih sebatas arak (untuk kebutuhan militer). Garnisun militer terdapat di Wijnkoopsbaai (lihat Javasche courant, 09-04-1834). Setelah ditingkatkannya jalan akses (pos) Buitenzorg-Tjiandjoer via Soekaboemi, garnisun ini direlokasi ke Tjikembar (posisi antara pelabuhan dan jalan pos).

.

Lalu kemudian pada tahun 1870 dilakukan reorganisasi pemerintahan. Ibukota Afdeeling Mandailing tempat dimana asisten Residen dipindahkan dari Panjaboengan ke Padang Sidempoean. Hal yang sama juga dilakukan diberbagai wilayah termasuk di Residentie Preanger.

Sementara itu, dalam penataan pemerintahan di Residentie Preanger yang dilakukan tahun 1871, tempat kedudukan Residen Preanger dipindahkan dari Tjiandjoer ke Bandong. Dalam fase perpindahan ini resident Preanger tetap dijabat oleh C van der Moore. Dalam reorganisasi ini Asisten Residen di Residentie Preanger terdapat di Bandoeng, Tjitjalengka, Tjiandjoer, Soekaboemi, Soemedang, Limbangan, Soekapoera dan Tasikmalaja. Sementara Bupati (Regent) Tjiandjoer berkedudukan di Tjiandjoer, Bandong di Bandong, Limbangan di Garoet dan Soemedang di Soemedang.

Dalam reorganisasi pemerintahan tahun 1870an tersebut, Regentschappen (kabupaten) Tjiandjoer terdiri dari dua afdeeling, yakni: Tjiandjoer dan Soekaboemi. Afdeeling Tjiandjoer terdiri dari sembilan district dimana Asisten Residen berkedudukan di Tjiandjor; Afdeeling Soekaboemi terdiri dari tujuh district dimana Asisten Residen berkedudukan di Soekaboemi. Secara keseluruhan di Residentie Preanger total terdapat 62 district dari sembilan afdeeling.

Ketujuh district di Afdeeling Soekabomi tersebut adalah Tjitjoeroek, Palaboehan, Tjiheulang, Djampang Koelon, Djampang Tengah, Tjimahi dan Goenoeng Parang. Kedudukan Asisten Residen (Afdeeling) Soekaboemi berada di kota Soekaboemi. Untuk membantu Asisten Residen ditempatkan dua Controleur, yakni Controleur di onderafdeeling Tjitjoeroek (district Tjitjoeroek, Palaboehan dan Tjiheulang) yang berkedudukan di (kampong/kota) Tjitjoeroek dan Controleur di onderafdeeling Lengkong (district Djampang Koelon dan Djampang Tengah) yang berkedudukan di (kampong/kota) Njalindoeng. Untuk district Tjimahi dan Goenoeng Parang langsung berada di bawah Asisten Residen.

Konsekuensi dari reorganisasi pemerintahan ini sesuai ordonansi 10 September 1870, pemerintah mulai menerapkan retribusi (tjoekei) untuk lahan-lahan sawah di Residentie Preanger (lihat Bataviaasch handelsblad, 15-04-1871). Untuk wilayah Tjiandjoer diterapkan terbatas di (land) Soekaboemi dan Tjipoetri.

Pembentukan Kota (Gemeente) Soekaboemi

Meski wilayah Sukabumi yang sekarang sudah dikenal sejak era VOC, tetapi baru berkembang sejak era koffiestelsel (1830). Perkembangan ini sempat terhambat karena pembebasan land Soekaboemi pada tahun 1823. Sementara land yang ada hanya sampai di land Tjikoppo (sekitar Tjigombong).

Para pemilik land umumnya mengembangkan jalan dan jembatan dan lalu kemudian jalan antar land lambat laun terhubung. Hal ini berbeda di wilayah yang dikuasai pemerintah seperti di Afdeeking Soekaboemi yang dalam hal pengangkutan komoditi (kopi) hanya menggunakan jalan setapak yang menjadi lalu lintas pengangkutan dengan cara dipikul menuju Tjiandjoer atau menuju Buitenzorg melalui tanah-tanah partikelir. Jalan raya yang dapat dilalui oleh pedati hanya terbatas pada jalan pos dari Tjiandjoer melalui Tjisaroea menuju Buitenzorg. Meski demikian, para pedagang Tionghoa yang sebelumnya berbasi di Buitenzorg lambat laun memasuki wilayah Soekaboemi yang membentuk pemukiman di kampong Tjikole. Pada tahun 1821 kampong Tjikole sudah banyak dihuni oleh orang-orang Tionghoa.

Pada tahun 1836 pemerintah menetapkan status jalan (lihat Javasche courant,         30-01-1836). Jalan kelas satu diantaranya jalan pos dari Batavia ke Buitenzorg terus ke Bandoeng melalui Megamendoeng/Tjisaroea. Untuk jalan kelas dua adalah dari Buitenzorg ke Djasinga melalui Tjiampea dan jalan dari Buitenzorg ke Tangerang melalui Koeripan dan Parong. Sedangkan jalan kelas tiga adalah jalan kecil. Pada jalan kelas satu dan kelas dua dikenakan retribusi untuk pedati.

Dalam beslit penetapan status jalan ini tidak teridentifikasi jalan di wilayah Soekaboemi. Besar dugaan jalan utama di wilayah Soekaboemi tergolong jalan kelas tiga (hanya dapat dilalui oleh kuda beban). Pada Peta 1840 jalur jalan kelas tiga di wilayah Soekabomi ini adalah dari Tjiandjoer ke Soekaboemi; dari Buitenzorg ke Soekabomei melalui Tjitjoeroek dan Nagrak; serta dari Soekaboemi ke pelabuhan melalui Tjikembar. Jalan antara Tjiandjoer dan Buitenzorg melalui Soekaboemi lambat laun terus ditingkatkan. Hal ini karena semakin berkembangnya perkebunan-perkebunan teh di Tjijoeroek, Sinagar dan Parakan Salak.

Kota Soekaboemi lambat laun tumbuh dan berkembang. Orang-orang Eropa yang membuka perkebunan di wilayah Soekaboemi tidak lagi tinggal di Tjiandjoer atau di Buitenzorg tetapi secara bertahap memusat di Soekaboemi. Orang-orang Tionghoa di Buitenzorg juga terus mengalir deras masuk ke Soekaboemi.

Penduduk pribumi juga terus bertambah karena perkembangan perekonomian yang pesat di wilayah Soekaboemi. Pada tahun 1850 jumlah penduduk Afdeeling Soekaboemi telah meningkat pesat menjadi sekitar 80.000 jiwa (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 19-08-1850).

Seiring dengan pertumbuhan perkebunan dan perkembangan penduduk di wilayah Soekaboemi, pada Peta 1857 jalan antara Buitenzorg dan Tjiandjoer vai Soekaboemi telah diidentifikasi sebagai jalan kelas dua. Peningkatan ini diduga karena peran Controleur yang ditempatkan di Soekaboemi.

Wilayah Soekaboemi dan Tjipoetri tidak hanya menghasilkan kopi dan teh, pada tahun 1858 dua wilayah ini dilaporkan untuk kali pertama mengekspor beras (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 07-07-1858). Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan penduduk telah memberi kontribusi dalam pencetakan sawah-sawah baru yang pada gilirannya menghasilkan surplus beras. Melihat perkembangan yangt pesat di Soekaboemi, ketika Gubernur Jenderal melakukan kunjungan ke Tjiandjoer juga menyempatkan diri dalam perjalanan pulang ke Soekaboemi (lihat Nieuwe Rotterdamsche courant : staats-, handels-, nieuws- en advertentieblad, 14-09-1860).

Pertumbuhan dan perkembangan di Afdeeling Soekaboemi kemudian pemerintah pusat pada tahun 1871 meningkatkan status Controleur Soekaboemi menjadi Asisten Residen dan menempatkan satu Controleur di Tjitjoeroek. Dampaknya jalur Buitenzorg dan Soekaboemi semakin ramai.

Bataviaasch handelsblad, 31-08-1882
Jalur ini menjadi jauh lebih ramai jika dibandingkan jalur dari Soekaboemi ke Tjiandjoer. Soekaboemi kemudian menjadi salah satu destinasi wisatawan sehubungan dengan beroperasinya jalur kereta api Batavia-Buitenzorg pada tahun 1873. Di Soekaboemi sudah tersedia satu losmen (logement) yang dikelola oleh seorang Italia (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 02-06-1882). Hotel di Soekaboemi ini adalah hotel baru milik JH Ploem (lihat Bataviaasch handelsblad, 31-08-1882).

Pada tahun 1883 jalur kereta api Buitenzorg-Bandoeng via Soekaboemi dan Tjiandjoer dioperasikan. Kota Soekaboemi juga terus tumbuh dan berkembang. Jarak tempuh Soekaboemi tidak hanya lebih dekat dengan Buitenzorg, tetapi juga arus barang dan orang dari Soekaboemi ke Batavia juga semakin intens. Kota Soekaboemi tampaknya telah mampu mengejar ketertinggalannya dari kota Tjiandjoer. Kota Soekaboemi semakin tidak terbendung, kota telah tumbuh dan berkembang. Dan pada akhirnya kota Soekaboemi menjadi Kota (Gemeente).

Hotel Ploem di Soekaboemi, 1902
Pada tahun 1914 kota Soekaboemi ditingkatkan statusnya menjadi Kota (Gemeente). Penetapan ini berlaku sejak tanggal 1 April 1914. Kota Soekaboemi telah memiliki dewan kota (gemeenteraad). Meski demikian, wali kota (burgemeester) belum diangkat, Asisten Residen Soekaboemi merangkap sebagai pimpinan Gemeente Soekaboemi. Berdasarkan daftar dewan daerah (Gewest) dan dewan kota (Gemeente) tahun 1921, Kota Soekaboemi termasuk salah satu dari 31 Kota (Gemeente) di Hindia Belanda. Di West Java sendiri yang bestatus Gemeente adalah Batavia, Buitenzorg, Cheribon, Bandoeng, Meester Cornelis dan Soekaboemi.

Kota Soekaboemi baru tahun 1926 memiliki wali kota secara definitif. Wali kota pertama adalah GF Rambonet. Sebagai perbandingan: Gemeente Buitenzorg yang dibentuk pada tahun 1905 baru tahun 1920 memiliki wali kota yakni A. Bagchus (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 31-01-1920). Sedangkan Gemeente Bandoeng yang ditetapkan sejak 1904 baru tahun 1917 wali kota diangkat secara definitif (lihat Bataviaasch nieuwsblad, 18-06-1917).

Demikianlah sejarah panjang Sukabumi yang ditulis sesingkat-singkatnya ini. Ketika menulis artikel ini saya teringat nama kawan lama di jalan Kebon Djati, Sukabumi yang bernama Dandan Dian Gandani yang kami harus berpisah pada tahun 1983 karena Dandan ikut program Habibie untuk studi ke Jerman. Pertemuan terakhir saya dengan Dandan ketika izajah SMAnya tertinggal dan saya harus antar sendiri ke Bandung ke tempat karantina mereka di PT Nurtanio. Artikel ini saya dedikasikan buat my friend Dandan Dian Gandani. Waar ben je nu. No..no.. Where are you now? Wo bist du jetzt? Artikel ini juga didedikasikan buat sepupu-sepupu dan keponakan-keponakan saya di Sukabumi.

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang