Sejarah Menjadi Indonesia (26): Sejarah Darah Indonesia; Pemisahan Pribumi 1898 dan Debat Soal Negara Nenek Moyang 1928

shape image

Sejarah Menjadi Indonesia (26): Sejarah Darah Indonesia; Pemisahan Pribumi 1898 dan Debat Soal Negara Nenek Moyang 1928

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Menjadi Indonesia pada blog ini Klik Disini

Soal ‘darah Indonesia’ marak lagi pada minggu terakhir ini. Itu dipicu oleh soal pro-kontra jawaban artis Agnes Monica dalam suatu wawancara. Munculnya pro kontra karena yang ditanya (pewawanvara) dan yang dijawab (Agnes Monica) tidak sinkron. Demikian juga antara apa yang dimaksudkan Agnes Monica dengan apa  yang dipikirkan netizen (pembaca dan pendengar) tidak sinkron pula. Akibatnya muncul gaduh.

Kegaduhan lantaran kurangnya pengetahuan sejarah. Artikel ini tidak pada konteks membicarakan soal kegaduhan itu. Artikel ini hanya penekanan buat menyusun kronologis soal (perdebatan) ?Darah Indonesia? Atau ?Bangsa Indonesia? Mulai berdasarkan ?Pencerahan berbangsa? Hingga proklamasi kemerdekaan ?Bangsa Indonesia?. Sejauh ini soal kronologis ini kurang mendapat perhatian dalam sejarah Indonesia. Untuk menambah pengetahuan kita soal ?Bangsa Indonesia? Ini mari kita telusuri asal-berasal tempo doeloe.

Perdebatan Soal Pemisahan Diantara Pribumi: Islam vs Kristen

Apakah ada pribumi? Tentu saja ada. Tapi itu dulu dalam era kolonial Belanda. Pemerintah Hindia Belanda dalam dalam banyak sekali beslit atau stadsblad jelas dibedakan Eropa/Belanda, Timur Asing (Tionghoa, Arab

Pada era kolonial, sejak era VOC sebagian orang-orang Belanda yang rasis, tidak menggunakan Inlandsche tetapi dengan terminologi yang lebih kasar: Zoo. Terminologi zoo mereka gunakan untuk menyatakan suatu wilayah (landschap). Wilayah tersebut dianggap kebun binatang. Semua yang hidup dan bergerak disebut zoo, termasuk penduduk yang berada di wilayah tersebut disamakan dengan hewan (zoo). Pada era Pemerintah Hindia Belanda penggunaan terminologi zoo itu lambat laun menghilang (meski masih dalam beberapak kasus masih ditemukan).

Dari susunan penghuni (wilayah) Hindia Belanda (Nederlandche Indie) yakni Belanda, Timur Asing dan Inlandsche, orang Belanda berada pada status kelas pertama (atas) baru di bawahnya orang Timur Asing dan di lapisan paling bawah adalah Inlandsche (pribumi). Orang pribumi tidak berdaya dengan pembagian/pelapisan itu (menerima). Sebaliknya orang-orang Belanda menikmati pengelompokkan/pelapisan itu.

Orang-orang Belanda (di wilayah Hindia Belanda) dengan sadar merasa berbeda dengan dua lapisan di bawah mereka. Oleh karenanya dibedakan fasilitas, hukum dan gaji (meski produktivitasnya sama). Orang Timur Asing (Tionghoa, Arba dan lainnya) yang dianggap sebagai pendatang (baru atau yang sudah lama menetap), karena mereka diposisikan di bawah lapisan.kelas Eropa/Belanda, maka mereka yang orang Timur Asing ini juga dengan sadar menganggap mereka lebih tinggi dari orang Inlandsche (pribumi).

Jadi jelas fakta ini menunjukkan adanya kelompok pribumi. Dari sinilah kita mulai mengatakan adanya pribumi (yang dapat diperbandingkan), bukan berdasarkan analisis gen/DNA yang ribuan tahun lalu. Perdebatan tentang pribumi pada masa ini hanya relevan membandingkan dengan era kolonial Belanda, bukan dengan test DNA (tidak head tio head). Dengan kata lain analisis pribumi adalah satu hal, dan analisis DNA adalah hal lain, suatu relasi yang tidak bisa dicampur dalam analisis. Kalaupun dipaksakan mungkin bisa direlasikan jika periset DNA dapat mengisolasi DNA dengan time-series sejak era kolonial Belanda (1800an).

Oleh karena diantara orang Timur Asing tergolong maju dan memiliki kekuatan politik, secara khusus orang Jepang di Hindia Belanda diperlakukan sama dengan orang Eropa/Belanda. Hak ini tidak diberikan kepada orang Tionghoa dan orang Arab. Ketika pada tahun 1898 muncul gagasan (Menteri Koloni) untuk mensejajarkan (diperlakukan) orang pribumi yang beragama Kristen dengan orang Eropa/Belanda, seorang tokoh pribumi yang beragama Islam di Padang, Dja Endar Moeda melontarkan kritik halus (kepada pemerintah).

Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 02-11-1898
Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 02-11-1898: ‘Dja Endar Moeda menulis artikel di Pertja Barat bahwa orang Jepang yang ada disini diperlakukan sama dengan orang Eropa. Dia juga mencurahkan beberapa diskusi tentang asimilasi Kristen pribumi dengan Eropa. Dia merasa sedikit simpati, meskipun ia tampaknya tidak menyukai. Hal ini dikaitkan dengan proposal Menteri Koloni proposal untuk menyamakan Jepang dan orang Kristen pribumi Hindia Belanda dengan Eropa. Islam dan Kristen harus dianggap sama dan kesejahteran harus ditingkatkan (bukan dibedakan). Ini soal adat istiadat dan moral, Eropa dan pribumi satu sama lain berbeda (antara minyak dan air). Kristen pribumi ditemukan di Molukken, Java en Tapanoeli. Meskipun iman mereka adalah kehidupan yang berbeda, ini menjadi kompleks sebagai saudara di antara mereka sendiri. Apa yang akan terjadi? Di pengadilan akan dibedakan. Non Kristen akan melayani lebih tetapi membayar pajak sama. Ini tidak bermanfaat malah bagi pemerintah akan menderita kerugian, yang kemudian antara dia dan Muslim akan menimbulkan kebencian dan perpecahan. Dalam keadilan yang terbukti bersalah, maka ia dihukum sebagai Eropa, ia dipenjara dan mendapat makan kentang dan roti dan tidak diperlukan untuk melakukan pekerjaan, hal yang sebaliknya untuk yang Islam. Terutama penyebab banyak komplikasi dan lain-lain perselisihan antara Kristen dan pribumi Islam. Bagaimana itu diterapkan di Ambon? Mereka akan banyak yang malu untuk mencari nafkah dengan tenaga kerja manual karena mereka disamakan dengan orang Eropa’.

Gagasan (proposal) memperlakukan sama antara orang pribumi yang beragama Kristen dengan orang Eropa tampaknya tidak direalisasikan (layu sebelum berkembang). Lepas dari apakah karena ada kritik (pendapat) dari Dja Endar Moeda atau tidak, yang jelas dalam berbagai peraturan (beslit atau stadsblaat) yang diterbitkan sesudahanya tidak pernah ditemukan realisasi proposal/gagasan tersebut. Tentu saja argumentasi Dja Endar Moeda tidak dalam rangka menghambat kesempatan orang pribumi beragama Kristen untuk disamakan dengan orang Eropa/Belanda, tetapi diduga karena alasan faktual semata, jika diterapkan justru dapat menjadi kontraproduktif (saling iri dan menimbulkan rasa benci diantara para pribumi yang dibedakan).

Dja Endar Moeda adalah seorang terpelajar. Pensiunan guru pemerintah (semacam PNS) yang sejak pulang haji, pada tahun 1895 membuka sekolah swasta di kota Padang. Sejak tahun 1897 Dja Endar Moeda juga adalah pemimpin redaksi surat kabar Pertja Barat (surat kabar berbahasa Melayu, investasi/yang dimiliki oleh orang Eropa/Belanda). Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda adalah alumni sekolah guru (kweekschool) di Padang Sidempoean (Residentie Tapanoeli). Dja Endar Moeda yang berasal dari Tapanoeli sangat memahami diantara penduduk Tapanoeli yang berbeda keyakinan saling bersaudara (harmonis). Boleh jadi Dja Endar Moeda berpikir bagaimana jadinya jika penyetaraan yang beragam Kristen dengan orang Eropa/Belanda direalisasikan? Seperti dikatakannya justru dapat menimbulkan kebencian dan perpecahan. Lepas dari ada maksud Dja Endar Moeda ingin memperkokoh persatuan dan kesatuan diantara penduduk pribumi, yang jelas cara berpikir Dja Endar Moeda lebih cerdas jika dibandingkan dengan usulan Menteri Koloni.

Dja Endar Moeda tidak hanya peduli persatuan diantara golongan pribumi. Dja Endar Moeda juga sangat sadar bahwa golongan pribumi (Inlandsche) diperlakukan berbeda (dan cenderung diabaikan). Banyak kesulitan yang dialami penduduk, Dja Endar Moeda dengan senang hati membantu sesama. Dja Endar Moeda tidak hanya menyebarluaskan pengetahuan melalui sekolah yang dimilikinya juga menambahkan konten dalam isi pemberitaan/editorial surat kabar yang dimiliki oleh orang Eropa/Belanda yang sebelumnya editornya hanya dipegang oleh orang Eropa/Belanda. Sebelum Dja Endar Moeda melakukan protes terhadap usulan perbedaan (agama), Dja Endar Moeda telah (aktif) membantu penduduk pribumi yang diabaikan.

Algemeen Handelsblad, 02-11-1898
Algemeen Handelsblad, 02-11-1898: ‘Dalam suatu pengadilan di Padang, terdakwa pribumi tidak diwakili. Mr. Dja Endar Moeda, editor Pertja-Barat, tertarik dan mengusulkan dirinya menjadi (penerjemah dan pembela) di belakang terdakwa. Permintaan ini dikabulkan (oleh pengadilan). Hukuman terdakwa menjadi lebih ringan dan dijatuhi hukuman kerja paksa satu tahun karena yang bersangkutan membantu narapidana melarikan diri dari penjara’. Catatan: saat itu jenis hukuman golongan pribumi berbeda sendiri. Pribumi yang yang dijatuhi hukuman dengan hukuman cambuk atau kerja paksa, sementara untuk orang Eropa/Belanda dan orang Timur Asing dengan hukuman denda (saja).

Jadi jelas bahwa pada saat itu golongan pribumi terdefinisi, suatu golongan penduduk yang dibedakan dengan golongan Eropa/Belanda dan golongan Timur Asing (Tionghoa, Arab dan lainnya). Saya tidak suka penggunaan terminologi pribumi pada masa ini, tetapi dalam penulisan sejarah (sesuai) konteks harus tetap dilakukan (karena tuntutan akademik).

Munculnya rekomendasi dari pihak periset gen/DNA yang menyatakan tidak ada pribumi di Indonesia keliru. Mereka hanya membandingkan tes DNA yang merujuk pada ribuan tahun yang lampau dengan situasi dan kondisi terakhir (current situation). Dalam bahasa sepak bola tidak head to head membandingkan ‘klub MU’ dengan ‘klub Kampong Sawah’ di kecamatan terpencil.

Kesadaran berbangsa (baca: bangsa pribumi) segera tumbuh selepas gagalnya mempersamakan orang pribumi Kristen dengan Eropa. Masih, di Padang, Dja Endar Moeda pada tahun 1900 berinisiatif mendirikan organisasi sosial khusus untuk orang pribumi (Inlandsche) yang diberi nama Medan Perdamaian. Dja Endar Moeda bertindak sebagai Presiden.

Dja Endar Moeda menggagas organisasi sosial ini setelah sebelumnya telah mengakuisisi surat kabar Pertja Barat dan percetakannya. Untuk memperluas jangkauan media, Dja Endar Moeda menerbitkan surat kabar Tapian Na Oeli (untuk menyasar pembaca di kampong halamannya di Residentie Tapanoeli). Lalu tidak lama setelah pendirian organisasi Medan Perdamaian, Dja Endar Moeda menerbitkan majalah bulan yang diberi nama Insulinde. Majalah ini memuat tulisan-tulisan yang terkait dengan upaya pengembangan penduduk, seperti cara bertani dan pengembangan usaha pertanian serta sistem perdagangan. Juga majalah ini memuat artikel-artikel yang terkait permasalahan sosial seperti pendidikan, upaya menabung, kebersihan dan kesehatan.

Dja Endar Moeda, seorang Tapanoeli di Padang dengan latar pengetahuan yang banyak (termasuk pengalamannya di Mekkah, Arab) dengan sadar mengembangkan populasi pribumi (Inlandsche). Upaya ini tidak hanya menyebarkan pengetahuan melalui pengembangan sekolah swasta dan penyebaran media serta mempersatukan orang-orang pribumi dalam satu persatuan tersendiri (Medan Perdamaian), tetapi juga menjalin komunikasi antar pribumi lintas nasional (antar etnik). Oleh karena itu platform organisasi Medan Perdmaian adalah bersifat nasional (pribumi), Surat kabar Pertja Barat diubah mottonya menjadi Oentoek Sagala Bangsa (semua etnik pribumi). Kiprah lainnya Dja Endar Moeda dapat diringkas, antara lain sebagai berikut:

De locomotief, 21-08-1902 (Insert Dja Endar Moeda)
Dja Endar Moeda mengkritisi pengumpulan dana nasional yang sangat banyak oleh pengusaha Eropa/Belanda yang sudah terkumpul sebesar f220.000 untuk membantu Transvaal di Afrika Selatan (orang Eropa/Belanda) yang membutuhkan bantuan). Dja Endar Moeda beralasan bahwa di dalam negeri terutama pribumi masih sangat banyak yang sangat kesulitan dan dalam kesusahan. Dja Endar Moeda berkomentar bagaimana Anda disebut melakukan tindakan yang terpuji, sementara disini sendiri terancam, disini miskin dan terlihat di sekitar Anda. Bagaimana uang dari sini dikirim kesana, sedangkan tempat kita sendiri tinggal masih begitu banyak kemiskinan dan banyak air mata terlalu kering (lihat Sumatra-courant: nieuws- en advertentieblad, 15-12-1899). Dja Endar Moeda menyatakan bahwa diperlukan banyak media bagi bangsa pribumi untuk memberikan atau pengetahuan pembacanya ide yang lebih baik untuk berkenalan dengan isu-isu yang berbeda, tidak melulu dalam hal yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari semata (lihat De locomotief: Samarangsch handels-en advertentie-blad, 02-05-1901). Dja Endar Moeda melalui Pertja Barat melaporkan nasib kuli kontrak tambang yang sangat menyedihkan. Disebutkannya bahwa baru-baru ini, sejumlah kuli Cina lari dari pekerjaan mereka karena mereka tidak tahan dan tidak cukup untuk makan dan banyak diantara mereka sakit parah dan bahkan yang meninggal. Menurutnya Pemerintahan Eropa di sekitarnya telah membiarkan hal itu terjadi tanpa pernah melihat buruh kelaparan (lihat Soerabaijasch handelsblad, 23-08-1901). Dja Endar Moeda, direktur organisasi kebangsaan Medan Perdamaian mengumpulkan dana sebesar f14.000 untuk membantu peningkatan pendidikan di Semarang (lihat De locomotief: Samarangsch handels- en advertentie-blad, 21-08-1902). Dja Endar Moeda mengusulkan bahwa pendidikan dasar anak pribumi (Inlandsche) harus diperluas, kurikulumnya disesuaikan dengan sekolah-sekolah Eropa/Belanda Anak-anak pribumi juga memerlukan kemahiran berbahasa Inggris dan Aritmetika. Usul Dja Endar Moeda ini sudah pernah diutarakan kepada CA van Ophuijsen, Inspektur Pendidikan Pribumi di Pantai Barat Sumatra yang diteruskan ke Directeur di Batavia lalu ke Gubernur Jenderal dan ke Menteri Koloni (lihat De Sumatra post, 27-01-1903).

Klaim Negara Nenek Moyang: Pribumi vs Eropa/Belanda

Pengaruh Dja Endar Moeda segera cepat menyebar. Selain menyebarkan pengetahuan melalui sekolah dan media, hanya dengan bersatu (memupuk persatuan) dapat mengumpulkan kekuatan untuk bersaing dengan golongan lain (Belanda dan Timur Aisng). Sementara Dja Endar Moeda bersama Medan Perdamaian fokus pada masalah politik (menghadapi kebijakan Belanda) dan pengembangan sosial dan pertanian, di Buitenzorg (kini Bogor) Hadji Samanhoedi mulai membentuk organisasi perdagangan tahun 1905 yang disebut Sarikat Dagang Islam (upaya pribumi mengimbangi perdagangan Tionghoa dan Arab). Dua tahun kemudian tahun 1907 di Medan muncul organisasi serupa (organisasi perdagangan) dari orang-orang Tapanoeli yang diberi nama Sarikat Tapanoeli yang dipimpin oleh Sjech Ibrahim dan Dja Endar Moeda.

Daftar pertama organisasi kebangsaan (Indonesia)
Pada tahun 1907 Dja Endar Moeda terkena delik pers. Dja Endar Moeda dihukum cambuk dan diusir dari Padang. Untuk mengoperasikan semua aset Dja Endar Moeda dilegasikan kepada adiknya Dja Endar Bongsoe termasuk untuk menjadi editor surat kabar Pertja Barat. Dja Endar Moeda sambil merelokasi sebagian asetnya di Padang hijrah ke Medan. Di Medan, Dja Endar Moeda bersama Sech Ibrahim mendirikan sarikat perdagangan yang dibseri nama Sarikat Tapanoeli untuk mengimbangi kekuatan perdagangan orang-orang Tionghoa. Pada tahun 1909 Dja Endar Moeda setelah sebelumnya mendirikan surat kabar Pembrita Atjeh di Kota Radja, kemudian mendirikan surat kabar Pewarta Deli di Medan. Dja Endar Moeda menjadi pemimpin redaksi surat kabar Pewarta Deli, dan surat kabar ini menjadi organ Sarikat Tapanoeli. Sarikat Tapanoeli dan Pewarta Deli menjadi powerful menghadapi kekuatan perdagangan Tionghoa (sesuatu yang tidak dimiliki oleh Sarikat Dagang Islam di Jawa).

Apa yang telah dilakukan oleh Dja Endar Moeda di Sumatra, Dr. Wahidin menyadari pula bahwa hanya dengan berorganisasi dimungkinkan untuk meningkatkan taraf hidup penduduk pribumi di Jawa. Kesadaran Dr. Wahidin ini kemudian disambut oleh sejumlah mahasiswa STOVIA (asal Jawa) untuk mendirikan organisasi kebangsaan yang disebuut Boedi Oetomo pada bulan Mei 1908.

Namun dalam perkembangannya organisasi Boedi Oetomo ini menjelang kongres pertama yang akan diadakan di Jogjakarta terkooptasi oleh golongan senior sehingga arah orientasi Boedi Oetomo bergeser dari organisasi yang berhaluan nasional (seperti Medan Perdamaian) menjadi berhaluan kedaerahan dan hanya terbatas di Jawa, Madura, Bali dan Lombok. Golongan muda, Soetomo dkk tampaknya gigit jari. Dalam kongres Boedi Oetomo haluan ini dipatenkan dalam statuta. Dalam kongres ini setelah seorang pejabat Belanda memberi pendapat bahwa organisasi Boedi Oetomo, semacamnya sudah terbentuk di Sumatra. Dalam programnya, Boedi Oetomo merujuk pada pola Medan Perdamaian, termasuk untuk menerbitkan surat kabar sebagai organnya. Hanya saja yang membedakan Boedi Oetomo dengan Medan Perdamaian adalah soal haluan yang bersifat kedaerahan.

Perubahan haluan Boedi Oetomo ini direspon oleh seorang mahasiswa pribumi di Belanda. Soetan Casajangan yang tiba di Belanda tahun 1905 untuk studi lebih lanjut mengundang sekitar 20 orang mahasiswa di rumahnya di Leiden. Soetan Casajangan menyampaikan gagasannya dan kemudian disepakati membentuk organisasi (mahasiswa) berhaluan nasional dengan nama Indische Vereeniging. Soetan Casajangan menjadi presiden pertama.

Dengan didirikannya Indische Vereeniging (Perhimpunan Hindia) maka sudah ada dua organisasi pribumi yang berhaluan nasional (selain Medan Perdamaian). Boedi Oetomo hanya memiliki ruang lingkup di Jawa dan sekitar. Dua organisasi lainnya adalah organisasi perdagangan. Sarikat Dagang Islam terbatas untuk anggota yang beragama Islam, sedangkan Sarikat Tapanoeli terbatas untuk orang-orang Tapanoeli di Medan. Lantas mengapa Medan Perdamaian dan Indische Vereeniging berhaluan nasional? Yang jelas Medan Perdamaian didirikan oleh Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda, sementara Indische Vereeniging didirikan oleh Radjioen Harahap gelar Soetan Casajangan. Dja Endar Moeda adalah kakak kelas dari Soetan Casajangan di sekolah guru (kweekschool) Padang Sidempoean. Dalam hal ini, guru tidak hanya mencerdaskan anak bangsa tetapi guru juga mengarahkan bangsa untuk memupuk persatuan untuk meningkatkan kesejahteraan (dan tentu saja untuk mengimbangi orang Belanda dan orang Timur Asing Tionghoa dan Arab).

Dalam perkembangabnnya, Boedi Oetomo mendapat dukungan (penuh) dari Pemerintah. Hal ini karena Boedi Oetomo bersifat kedaerahan. Pemerintah Hindia Belanda alergi terhadap organisasi trans-nasional (yang dapat membahayakan). Organisasi trans-nasional Medan Perdamaian dan Indische Vereeniging terkesan lebih independen dan terbuka untuk semua (semua anak bangsa apapun sukunya dan apapun agamanya). Sementara itu, sejumlah pemimpin mulai gerah dengan hubungan mutualisme antara Pemerintah dan Boedi Oetomo, maka SDI berttansformasi menjadi organisasi kebangsaan (tidak lagi terbatas di dalam perdagangan semata). Organisasi kebangsaan yang mengusung misi Islam ini didirikan Tjokroaminoto di Soerabaja pada tahun 1912. Pada tahun yang sama Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo mendirikan organisasi Hindia (termasuk para Indo) yang diberi nama National Indisch Partij (NIP).

Munculnya gagasan/misi National Indisch Partij (NIP) ini karena semakin menguatnya persatuan diantara para Indo (orang Eropa/Belanda di Hindia) yang ingin melakukan pemisahan antara orang-orang Indo dengan orang-orang Eropa/Belanda. Dalam susunan pengurus Indisch Partij ini termasuk Ernest Douwes Dekker yang kemudian dikenal dengan nama Setia Boedi. Dengan demikian sudah terdapat tiga jenis organisasi kebangsaan yang bersifat nasional: pribumi (Medan Perdamaian dan Indisch Vereeniging); beragama Islam (Sarikat Islam/SI); dan multi ras (Indisch Partij).

Oleh karena sebagian anggota Indisch Vereeniging yang berasal dari Jawa juga mendukung Boedi Oetomo, maka sejumlah mahasiswa asal Soematra di Belanda tahun 1917 membentuk organisasi anak Soematra yang disebut Sumatra Sepakat. Organisasi ini digagas dan diketuai oleh Sori Tagor. Susunan pengurus Sumatra Sepakat juga termasuk Dahlan Abdullah, Todoeng Harahap gelar Soetan Goenoeng Moelia dan Tan Malaka. Organisasi Sumatra Sepakat tetap mendukung habis Indisch Vereeniging. Sorip Tagor Harahap adalah mahasiswa kedokteran hewan di Utrecht, kelak dikenal sebagai kakek buyut dari Inez Tagor dan Risty Tagor.

Masih pada tahun 1917 di Belanda diadakan kongres mahasiswa Hindia. Dalam kongres ini diketahui sudah terbentuk sejumlah organisasi mahasiswa seperti organisasi mahasiswa Indo/Belanda, organisasi mahasiswa Tionghoa. Kongres Hindia ini diketuai oleh Hubertus Johannes van Mook, kelahiran Semarang yang kelak dikenal sebagai Letnan Gubernur Jenderal NICA/Belanda (dalam perang kemerdekaan). Dalam kongres ini, para anggota Indische Veteeniging yang diwakili antara lain Sorip Tagor dan Dahlan Abdullah untuk kali pertama mendeklarasikan identitas diri mereka sebagai orang Indonesia (Wij Indonesier). Dengan demikian dalam kongres mahasiswa Hindia (Indische) ini paling tidak teridentifikasi tiga golongan: Indo/Belanda, Tionghoa dan Indonesia (tidak teridentifikasi apakah ada mahasiswa dari kelompok Arab).

Pada tahun 1918, seorang krani (juru tulis), bernama Parada Harahap di perkebunan mulai gerah dan tidak tahan melihat penindasan yang dialami oleh koeli dari Djawa oleh para planter (Eropa/Belanda). Lalu Parada Harahap mulai melakukan investigasi dan mengirmkan laporannya ke surat kabar Benih Merdeka di Medan. Lalu laporan ini disajikan dalam sejumlah artikel yang kemudian dilansir surat kabar Soeara Djawa. Heboh di Djawa. Satu yang pertama pasca kehebohan itu dan setelah dilakukan penyelidikan, Parada Harahap dipecat sebagai krani.

Sebelumnya, Dr. Soetomo pernah mengeluhkan penderitaan koeli asal Djawa di Deli. Raden Soetomo lulus STOVIA tahun 1911 dengan menyandang gelar baru sebagai dokter. Selanjutnya Raden Soetomo ditempatkan di Semarang. Kemudian dari Semarang dipindahkan ke Rembang Residentie Toeban (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 01-03-1912). Raden Soetomo dipindahkan dari Semarang ke Loeboek Pakam, Oostkust Sumatra (Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indie, 07-03-1912). Selanjutnya Raden Soetomo dipindahkan dari Loeboek Pakam kembali ke Djawa (Bataviaasch nieuwsblad, 11-05-1914). Di Batavia, Dr. Soetomo melakukan orasi di Boedi Oetomo cabang Batavia yang dipimpin oleh Dr. Sardjito dengan topik poenalie sanctie kuli kontrak di Deli. Dr. Soetomo dalam orasi tersebut menggarisbawahi bahwa orang Jawa (baca: Boedi Oetomo) tidak bisa sendiri mengatasi persoalan kuli asal Jawa di Deli. Orang-orang di luar Jawa terutama Batak dan Minahasa/Manado juga banyak yang terpelajar. Orasi Dr. Soetomo, yang hampir empat tahun berada di Deli’ seakan di depan anggota Boedi Oetomo ingin mengingatkan mengapa Soetan Casajangan pada tahun 1908 (beberapa bulan setelah pendirian Boedi Oetomo) berisiatif mendidirikan Indisch Vereeniging (Organisasi mahasiswa bersifat nasional, sementara Soetan Casajangan hanya sendiri orang Batak sementara anggota Indisch Vereeniging yang jumlahnya sekitar 20 mahasiswa yang sebagian besar berasal dari Jawa). Setelah tiga tahun orasi Dr. Soetomo tentang soal koeli asal Djawa di Deli muncul hasil investigasi Parada Harahap. Benar seperti yang dikatakan Dr. Soetomo bahwa orang Jawa tidak bisa sendiri mengatasi persoalan kuli asal Jawa di Deli.

Setelah dipecat di perkebunan, Parada Harahap merantau ke Medan dan melamar menjadi wartawan. Awalnya di Pewarta Deli tetapi kemudian surat kabar Benih Merdeka merekrutnya untuk menjadi editor. Namun tidak lama kemudian surat kabar Benih Merdeka dibreidel. Parada Harahap pulang kampong di Padang Sidempoean dan pada tahun 1919 Parada Harahap mendirikan surat kabar baru di Padang Sidempoean yang diberi nama Sinar Merdeka. Namun surat kabar ini tidak bertahan lama karena dibreidel pemerintah tahun 1922. Parada Harahap kemudian hijrah ke Betavia dan pada tahun 1923 mendirikan surat kabar Bintang Hindia.

Surat kabar Bintang Hindia berhaluan nasional maju pesat bahkan telah mengalahkan tiras surat kabar Neraca yang dipimpin oleh Abdul Moeis (pentolan Sarikat Islam). Pada tahun 1925 Parada Harahap mendirikan kantor berita pribumi pertama yang diberi nama Alpena (untuk mengimbangi kantor berita Eopa/Belanda, Aneta. Untuk mendukung Alpena, Parada Harahap merekrut WR Supratman dari Bandoeng sebagai editor (WR Supratman tinggal di rumah Parada Harahap). Pada tahun ini Parada Harahap melakukan kunjungan jurnalistik ke kota-kota di Sumatra dan Semenanjung. Laporan ini awalnya dimuat di Bintang Hindia kemudian dibukukan dan diterbitkan oleh Percetakan/Penerbit Bintang Hindia pada tahun 1926.

Tunggu deskripsi lengkanya....yang pada intinya mendeskripsikan sebagai berikut:: Embrio bangsa Indonesia mulai terbentuk sejak 1898 ketika Dja Endar Moeda coba menghalangi pemisahan di antara para pribumi (Inlandsche). Embrio bangsa Indonesia ini menunjukkan bentuknya pada tahun 1908 ketika Soetan Casajangan di Belanda membentuk perhimpunan pribum yang diberi nama Indonesia pada tahun 1917. Kesadaran berbangsa Indonesia menjadi menyeluruh pada tahun 1927 ketika pemimpin pribumi Indonesia bersepakat membentuk Permoefakatan Perhimpoenan-Perhimpoenan Kebangsaan Indonesia (PPPKI). Konsep bangsa Indonesia didukung habis para pemuda pada Kongres Pemuda 1928: Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa—Indonesia. Sehubungan dengan kelahiran PPPKI dan dukungan para pemuda, Parada Harahap mulai mengklaim bahwa wilayah Hindia Belanda adalah warisan nenek moyang Bangsa Indonesia, bukan Bangsa Belanda. Parada Harahap terus menangkis serangan pers berbahasa Belanda klaim tersebut. Parada Harahap lalu membelakangi (bangsa) Belanda sebagai penjajah dan tahun 1933 mulai melirik Bangsa Jepang sebagai partner dalam kerjasama (setara). Pada bulan November 1933 Parada Harahap memimpin tujuh revolusioner Indonesia berkunjung ke Jepang (termasuk Mohamad Hatta).

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia: Bangsa Indonesia = Darah  Indonesia

Tunggu deskripsi lengkanya....yang pada intinya mendeskripsikan sebagai berikut: Boedi Oetomo, setelah sekian lama akhirnya mulai bergeser turut mendukung perjuangan bangsa Indonesia dan puncaknya pada tahun 1935 Boedi Oetomo dibubarkan dan melakukan fusi dengan Partai Bangsa Indonesia (PBI) dengan membentuk nama baru Partai Rakjat Indonesia (Parindra). Langkah Boedi Oetomo ini kemudian diikuti oleh komunis Arab pada tahun 1936 dengan membentuk Persatoean Arab Indonesia (PAI) dan juga diikuti oleh komunitas Tionghoa dengan membentuk Persatoean Tionghoa Indonesia. Komunitas orang-orang peranakan Eropa/Belanda (Indo) juga bergeser ingin berjuang bersama Bangsa Indonesia. Semua persatuan/partai yang berafiliasi Indonesia membentuk gabungan yang baru pada tahun 1939 yang disebut Gabungan Politik Indonesia (GAPI). Struktur pengurus adalah Abikusno Tjokrosuyoso (PSII) sebagai Sekretaris Umum, Amir Sjarifoeddin Harahap (Gerindo) sebagai Wakil Sekretaris dan Husni Thamrin (Parindra) sebagai Bendahara. Singkat kata: sebelum berakhir era kolonial Belanda indentitas Darah (Bangsa) Indonesia sudah terbentuk. Orang-orang berdarah (Bangsa) Eropa/Belanda sudah ditinggalkan, mulai melemah, sebaliknya orang-orang yang mengidentifikasi diri sebagai Bangsa (berdarah) Indonesia semakin menguat. Pada era penduduk militer Jepang (sejak 1942) semua yang berdarah (bangsa) Eropa/Belanda diinternir sementara yang berdarah (bangsa Indonesia) apakah Pribumi, Tinghoa dan Arab diberi kebebasan. Pada saat persiapan kemerdekaan Indonesia, pemerintah militer Jepang membentuk apa yang disebut BUPKI yang anggotanya terdiri dari wakil-wakil Pribumi, Tionghoa dan Arab. Ketika Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945, Ir. Soekarno membacakan atas nama/wakil-wakil (berdarah) Bangsa Indonesia. Sejak ini semua yang mengakui RI adalah Bangsa Indonesia atau Berdarah Indonesia. Dengan kata lain setiap orang Jawa, Batak, Sunda dan lainnya mengakui berdarah (berbangsa) Indonesia, demikian juga setiap Tionghoa, Arab atau lainnya mengakui berdarah (berbangsa Indonesia). Orang-orang yang tidak mengakui itu bukan Bangsa Indonesia, bukan Darah Indonesia. Dalam hal ini disebut Bangsa/Darah Indonesia jika lahir di Indonesia dan menjadi (Diakui) Warga Negara Indonesia atau WNI (proses budaya dan proses politik). Sedangkan Warga Negara Indonesia (WNI) sendiri adalah Bangsa/Darah Indonesia dan individu yang telah dinaturalisasi, diakui sebagai Warga Negara Indonesia (proses administratif).

Lantas bagaimana dengan Agnes Monica? Si Nona cantik dan Si Penyani pintar ini adalah orang Indonesia, bangsa Indonesia dan berdarah Indonesia. Hanya saja dalam kalimatnya tidak pas ketika dia menjawab pertanyaan. Agnes Monica tidak mengikuti (tidak terlalu paham) soal proses Indonesiasi. Tentu saja itu tidak semua salah Agnes, tetapi juga dalam hal ini termasuk (cara penulisan) narasi Sejarah Indonesia yang ikut memberi kontribusi. Sejauh Agnes Monica memiliki NIK, Paspor Indonesia dan mengakui sebagai anak Bangsa Indonesia, Agnes Monica adalah Bangsa Indonesia, Berdarah Indonesia. Soal keliru dalam omongan masih dapat diluruskan. Terus berkarya Nona Pintar, berkarya atas nama Bangsa Indonesia, atas nama Darah Indonesia. Cukup katakan Orang Indonesia atau Bangsa Indonesia atau Berdarah Indonesia. Apa susahnya bilang Orang Indonesia, Bangsa Indonesia, Berdarah Indonesia.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Dikompilasi oleh Akhir Matua Harahap berdasarkan sumber-sumber tempo doeloe. Sumber utama yang digunakan lebih pada ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam setiap penulisan artikel tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja.

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang