Sejarah Jakarta (68): Sejarah Pasar Baru, Kampong Noordwijk Menjadi Wijk Pasar Baroe; Komunitas India di Pasar Baru

shape image

Sejarah Jakarta (68): Sejarah Pasar Baru, Kampong Noordwijk Menjadi Wijk Pasar Baroe; Komunitas India di Pasar Baru

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Jakarta pada blog ini Klik Disini

Namanya Pasar Baroe jelas pasar yg baru. Pasar lamanya merupakan Pasar Senen. Pertanyaannya mengapa dibangun pasar yang baru di daerah (area) Noordwijk ad interim telah terdapat pasar dalam area Weltevreden (Sebelumnya dianggap Pasar Vinke atau Pasar Snees). Jarak antara Pasar Senen dengan Pasar Baroe tidak begitu jauh. Tentu saja terdapat sebabnya yg sebagai sejarah Pasar Baroe krusial diketahui. Pada masa ini Pasar Baroe ini berada pada kelurahan Pasar Baru, kecamatan Sawah Besar, Jakarta Pusat.

Pasar Baru (Peta 1860)
Pada tahun 1865 Residentie Batavia terdiri dari tujuh afdeeling (semacam kabupaten): Tangerang, Batavia, Weltevreden, Meester Cornelis, Tandjong, Tjibinoeng dan Buitenzorg  (lihat Dr. Hollander, 1869). Afdeeling Stad en voorsteden (Batavia dan Weltevreden) terdiri dari area-area Molenvliet; Noordwijk, Rijswijk, Batoe Toelis; Pasar Baroe, Parapattan, Tanah-abang, Weltevreden, Kramat, Struiswijk, Goenoeng Sari, Tanah Njonja. Jumlah penduduk sekitar 63.000 jiwa yang mana diantaranya terdapat sekitar 3.000 Europeanen en 17.000 Chinezen. Pada tahun 1900, Batavia (Afd. Stad en voorsteden: District Batavia dan District Weltevreden) terdiri dari enam onderdistrict, yakni: Manggabesar, Pendjaringan, Tandjong Priok, Gambir, Tanahabang dan Senen (lihat W. J. van Gorkom, 1912). Nama-nama kampong di onderdistrict Manggabesar adalah Klenteng, Kebondjeroek, Patjebokan, Sawah Besar, Djawa, Kroekoet, Petodjo Ilir, Petodjo Sawah, Doeri, Tanah Sreal, Tandjong Kramat, Angke, Djembatan 5 Koelon, Djembatan 5 Wetan, Blandongan dan Pintoe Besie.

Berdasar Sensus 1930 Sawah Besar dikategorikan sebagai kampong sementara Pasar Baroe dikategorikan sebagai wijk [lihat Alphabetisch Register van de Administratieve-(Bestuurs-) en Adatrechtelijk Indeeling van Nederlandsch-Indie. Deel I: Java en Madoera. Door W. F. Schoel. Landsdrukkerij, Batavia, 1931].

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pasar Baroe: Pasar yang Baru

Pada era VOC/Belanda Pasar Senen dan Pasar Tanah Abang sudah terbentuk. Sehubungan dengan pembentukan ibu kota (stad) Batavia di Weltevreden di era Gubernur Jenderal Daendels, pemerintah kemudian mengakuisisi (mebeli) Pasar Snees (Pasar Senen). Dengan begitu maka dimungkinkan penataan kota secara terintegrasi antara pusat pemerintahan dan pusat perdagangan. Dalam penataan kota ini bersamaan dengan program pembangunan jalan pos Trans Java dari Batavie ke Anjer dan dari Batavia ke Soerabaja/Panaroekan.

Dalam rangka penataan kota baru ini (Weltevreden), jalan pos yang direncanakan dengan sendirinya melalui Weltevreden. Jalan pos tersebut dari Stad (kota) Batavia melalui Molenvliet, fort Riswijk, fort Noordwijk (Sluisbrug), lalu melalui jalan baru sepanjang kanal (jalan Pos) ke timur terus ke Goenoeng Sahari dan kemudian berbelok ke selatan ke arah Senen.

Pembangunan jalan pos ini membawa berkah bagi jalan rintisan di sepanjang kanal ke arah Goenoeng Sahari (selama ini semacam jalan inspeksi). Jalan rintisan ini menjadi jalan utama, jalan pos karena di sisi selatan jalan baru itu dibangun kantor pos besar (kantor pos pusat). Sementara di sisi utara jalan pos ini terdapat kampong Noordwijk.

Kampong Noordwijk diduga adalah kampong tua. Oleh karena nama kampong ini mengikuti nama benteng kuno (fort Noordwijk) diduga kampong ini awalnya dihuni oleh (eks) para pasukan pribumi pendukung militer VOC/Belanda yang tidak kembali lagi ke kampong halamannya. Pemukiman-pemukiman yang terbentuk semacam ini ditemukan di berbagai tempat seperti terbentuknya (per)kampong(an) Benteng di Tangerang, Tjiampea dan Soekaboemi.

Namun tidak lama setelah jalan pos dan kantor pos ini dibangun terjadi pendudukan militer Inggris tahun 1811. Program pembangunan kota baru (Weltevreden) menjadi terhambat atau melambat. Sebab Letnan Gubernur Jenderal Raffles lebih memilih ibu kota di Buitenzorg dan Semarang. Pada tahun 1816 Pemerintah Hindia Belanda kembali berkuasa. Gubernur Jenderal van der Capellen memperluas program tata kota yang telah dirintis Daendels, tidak hanya di Weltevreden, tetapi juga menata area sekitar Koningsplein. Satu program tambahan yang dilakukan Capellen adalah  mengembangkan area di sekitar kampong Noordwijk dengan membangun sebuah pasar yang baru (pasar ini kemudian disebut Pasar Baroe).

Pasar yang dibangun baru ini berada di belakang kampong Noordwijk. Ada dua jalur akses menuju pasar baru ini. Pertama, akses melalui darat dari Suluisbrug. Jalan ini disebut gang Pasar Baroe (kelak berubah nama menjadi jalan Pintu Air). Kedua, akses melalui air (kanal) yang dengan perahu yang datang dari berbagai tempat di pantai utara melalui kanal Antjol/Goenoeng Sahari seperti DAS Soenter, Maroenda, Bekasi dan Karawang/Tandjoeng Poera. Dari pelabuhan kanal ke arah pasar baru terdapat koridor yang di dua sisi terdapat bangunan kantor dan gudang komoditi. Koridor ini kemudian disebut jalan/gang Pasar Baru sehubungan dengan dibangunnya jembatan antara jalan pos dengan koridor menuju pasar. Gang Pasar Baru diubah menjadi jalan Sluisbrug (kini jalan Pintu Air).

Pasar yang dibangun baru ini terhubung dengan jalan akses antara Gang Patjenongan dengan jalan Goenoeng Sahari yang disebut Krekotlaan (kini jalan Samanhudi). Dalam perkembangannya dari pasar dibangun gang/jalan akses yang baru ke kanal Goenoeng Sahari. Gang ini kemudian disebut gang Kelintji. Secara spasial pasar baru ini berada diantara ujung gang Pasar Baroe, ujung koridor, pangkal gang Kelintji hingga ke jalan akses Krekotlaan (kini jalan Samanhudi). Di sisi utara jalan Krekot dekat pasar dibangun kantor/gedung Schout.

Secara teknis pasar baru dibangun untuk mendukung pusat perdagangan di Pasar Senen. Pasar Baru dalam hal ini lebih ditujukan untuk para pedagang yang berasal dari pantai utara. Sedangkan Pasar Senen dari awal merupakan pusat perdatangan dari arah selatan di Bekasi dan Buitenzorg. Pasar Baru menjadi pasar alternatif bagi pedagang luar kota yang selama ini menuju Kali Besar.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang