Sejarah Air Bangis (24): Orang Cina di Air Bangis, Air Mengalir Sampai Jauh; Orang Tionghoa Air Bangis Pindah ke Padang

shape image

Sejarah Air Bangis (24): Orang Cina di Air Bangis, Air Mengalir Sampai Jauh; Orang Tionghoa Air Bangis Pindah ke Padang

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Air Bangis dalam blog ini Klik Disin

Apakah ada orang-orang Tionghoa di Air Bangis? Ada, namun secara perlahan-huma jumlahnya semakin menurun seiring memakai melemahnya perputaran ekonomi dalam Air Bangis. Pasca pengakuan kedaulatan Indonesia oleh Belanda (1950) jumlahnya tidak poly lagi dan hanya tinggal satu dua famili dalam kota Air Bangis. Berita yang ada merupakan pasukan John Lie Tjeng Tjoan yg merapat di pelabuhan Air Bangis dalam rangka pembebasan Sumatra Barat menurut PRRI. John Lie adalah Letnan Kolonel Laut, wakil komandan pembebasan PRRI dalam Sumatera Barat (dalam bawah komando Mayor Jenderal Ahmad Yani).

Peta 1904
Sejarah orang Tionghoa di Indonesia selalu menarik perhatian. Orang-orang Tionghoa cenderung tinggal di perkotaan. Mengapa menjadi perhatian, karena orang Tionghoa mudah dibedakan dengan yang lainnya sejak era VOC. Mereka bertempatkan tinggal di wilayah kampement tersendiri. Orang-orang Tionghoa (baca: Chines) pada era Pemerintah Hindia Belanda ke Sumatra termasuk pantai barat Sumatra menyebar (migrasi) dari Singapoera dan Penang. Jumlah orang China di pantai barat Sumatra semakin banyak seiring dengan semakin berkembangya perkebunan di Sumatra Timur (sejak 1870). Orang-orang China yang telah lama menetap di Batavia juga secara perlahan-lahan banyak yang merantau ke pantai barat Sumatra (termasuk di Air Bangis).

Lantas sejak kapan orang-orang Cina di Air Bangis? Satu yang pasti mereka ikut ambil bagian dalam perdagangan. Jumlahnya mulai bertambah seiring dengan pembentukan cabang Pemerintah Hindia Belanda di Air Bangis. Mereka awalnya adalah pedagang biasa, namun karena keuletan dalam menekuni bisnis banyak yang berhasil dan menjadi pengusaha besar. Lalu bagaimana perkembangan? Untuk menambah pengetahuan, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*

Awal Orang Cina di Air Bangis: Komunitas Cina di Natal

Pada tahun 1850 terdapat satu keluarga Cina di Air Bangis. Satu keluarga Cina di Air Bangis ini terkesan terpencil sendiri. Karena orang-orang Cina di Residentie Padangsche Benelanden hanya terkonsentrasi di Padang dan Pariaman. Setengah abad kemudian tahun 1905 jumlah orang Cina di Air Bangis sudah mencapai 60 jiwa. Jika setiap keluarga terdiri dari lima orang, maka jumlah orang Cina di Air Bangis sekitar 12 keluarga.

Pada tahun 1910 pemerintah mulai memperluas fungsi pegadaian (pandhuis) di pantai barat Sumatra. Fungsi ini cukup berhasil di Jawa sebagai cara mudah penduduk untuk mendapat uang tunai dengan menggadaikan barang (yang umumnya emas). Meningkatnya kebutuhan uang tunai dapat diartikan sebagai munculnya kesulitan baru di tengah masyarakat atau sebaliknya menjadi indikasi semakin banyaknya penduduk yang membutuhkan modal untuk pengembangan usaha. Pemerintah membuka rumah pegadaian (pandhuizen) di sejumlah tempat seperti di Padang (tiga lokasi), Pariaman, Padang Pandjang, Fort de Kock, Solok, Paijakoemboeh, Fort van der Capellen, Sawahloento dan Air Bangis. Wilayah kerja rumah pegadaian di Air Bangis termasuk wilayah Poelo Tello. Pengelola rumah pegadaian di Air Bangis diangkat Mak A Sien dengan gaji f215 per bulan (lihat Sumatra-bode, 23-11-1910).

Pada tahun 1914 pemerintah pusat melakukan reorganisasi pemerintahan pribumi di Province Sumatra’s Westkust. Reorganisasi ini diduga karena Sumatra’s Westkust (yang terdiri dari dua residentieL Padangsche Benelanden dan Padangsche Bovenlanden) akan dilikuidasi. Wujud dari reorganisasi ini adalah dua residentie dilebur dengan membentuk sembilan afdeeeling, yakni: Padang, Painan, Batipoe en Pariaman, Agam, Loeboeksikaping, Lima Poeloh Kota, Tanah Datar, Sawahloento dan Solok.

Reorganisasi pemerintahan ini tidak hanya dari segi pembagian wilayah administratif, tetapi juga setelah memperkenalkan pemimpin wilayah yang disebut demang dan asisten demang, struktur pemerintah pada level pribumi berubah. Radja dan para penghoeloe yang diantaranya sebagai kepala laras dan nagari (yang boleh jadi selama ini tidak efektif) telah digantikan fungsinya oleh demang-asisten demang (yang telah mendapat pendidikan atau kursus tertentu seperti OSVIA di Jawa). Radja dan penghoeloe (hanya) menjadi pemimpin kelompoknya (secara adat).

Perkampongan Cina di Natal, 1910
Para kelompok pribumi yang dipimpin oleh penghoeloe atau kepala laras (koeria) diposisikan sebagai pemimpin tradisional, sedangkan demang dan asisten demang dianggap sebagai pemimpin umum yang membantu kegiatan pemerintahan dalam struktur Pemerintah Hindia Belanda. Demang dan asisten demang dalam hal ini adalah pegawai pemerintah yang digaji (semacam PNS). Para Demang adalah semacam penghubung antara pejabat Belanda dan pemimpin tradisional. Jabatan demang juga dilengkapi perangkat seperti penulis, polisi dan lainnya. Sedangkan para pemimpin tradisional yang memimpin adat sesaui kelompoknya mendapat subsidi dari pemerintah (sebelumnya mereka ini digaji oleh pemerintah).Untuk kalangan non pribumi juga diakui pemerintah yang mana pemimpinnya disebut letnan, kaptein atau mayor. Di kota Pada ada kapten dan letnan Cina, tetapi apakah di Air Bangis sudah memiliki letnan tidak begitu jelas (karena populasinya sedikit). Jika tidak ada di Air Bangis bisa jadi letnan Cina di tempat lain, misalnya di Pariaman juga menjadi pemimpin komunitas Cina di Air Bangis. Di Natal terdapat letnan Cina.

Jumlah orang Cina di Air Bangis terus bertambah. Hasil sensus penduduk yang dilakukan pada tahun 1920 tercatat jumlah orang Cina di Air Bangis sebanyak banyak. Jumlah yang tercatat adalah sebanyak 79 jiwa. Jumlah ini dapat dikatakan banyak untuk ukuran kota kecil.

Hasil sensus yang sama, jumlah orang Cina di Padang sebanyak 6.909 jiwa dan di Pariaman sebanyak 1.207 jiwa. Jumlah orang Cina di Padang sudah meningkat jika dibandingkan dengan tahuan 1850 sebanyak 1.140. Di Pariaman sendiri terdapat sebanyak 223 jiwa orang Cina.

Sepuluh tahun kemudian hasil sensus penduduk tahun 1930 jumlah orang Cina di Air Bangis diduga telah meningkat pesat namun tidak diketahui berapa angkanya. Hasil sensus tahun 1930 yang dilaporkan mencakup seluruh onderafdeeling Ophir, afdeeling Agam yakni sebanyak 278 jiwa. Onderafdeeling Ophir sendiri dalam hal ini terdiri dari dua district: Air Bangis dan Talamau. Namun angka ini mengindikasikan bahwa orang Cina tidak hanya di kota Air Bangis tetapi juga tersebar di sejumlah tempat di onderafdeeling dan diduga cukup banyak di kota Taloe (ibu kota Onderafdeeling Ophir).

Kota Air Bangis adalah kota melting pot. Sejak era VOC, kota Air Bangis paling tidak terdapat empat kekerabatn (suku) yang masing-masing memiliki penghoeloe. Salah satu penghoeloe adalah Radja Todoeng (Mandailing). Suku lain adalah Padang, Melayu, Minangkabau, Bandar Sapoeloeh, penduduk pulau-pulau dan Atjeh. Lebih dari satu abad kemudian keragaman penduduk kota Air Bangis semakin meningkat. Ini dapat diperhatikan munculnya perkampongan baru seperti kampong Cina, kampong Jawa, Masing-masing golongan penduduk mengikuti pola hidup masing-masing. Situasi dan kondisi kota Air Bangis sangat mirip dengan kota Natal (kota melting pot). Perkampongan Cina di Air Bangis, sebagaimana di tempat lain, seperti kota-kota di Jawa, di kota Padang dan kota Pariaman berada tidak jauh dari pasar. Pasar Air Bangis berada tidak jauh dari pelabuhan Air Bangis. Setelah berangsung berabad-abad kebiasaan (termasuk perkawinan campur) dan bahasa di Air Bangis menjadi sangat khas yang disebut bahasa Melayu dialek pesisir.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Orang Tionghoa Air Bangis Pindah ke Padang

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang