Sejarah Pulau Bali (8): Herman Neubronner van der Tuuk, dari Tapanoeli ke Boeleleng, 1870; Kisah Ahli Bahasa yang Sebenarnya - JagoMarketing | Jasa Whatsapp Blast

Sejarah Pulau Bali (8): Herman Neubronner van der Tuuk, dari Tapanoeli ke Boeleleng, 1870; Kisah Ahli Bahasa yang Sebenarnya

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bali pada blog ini Klik Disini

Siapa sesungguhnya menginisiasi pendidikan terbaru pada Bali? Jelas bukan Asisten Residen yang berkedudukan pada Boeleleng. Orang tersebut merupakan Dr. Herman Neubronner van der Tuuk, pakar bahasa-bahasa Nusantara yg bergelar doktor (Ph.D). Darimana Dr. Herman Neubronner van der Tuuk mengusut pentingnya pendidikan bagi pribumi? Bukan berdasarkan Malaka, namun berdasarkan Tapanoeli. Dr. Herman Neubronner van der Tuuk adalah penyusun kamus dan tata bahasa Batak. Siapa gurunya pada Tapanoeli? Guru Dr. Herman Neubronner van der Tuuk berada dalam Afdeeling Mandailing en Angkola, namanya AP Godon (Asisten Residen Mandailing en Angkola).

HN van der Tuuk dari Tapanoeli hingga Bali
Orang Tapanoeli respek kepada Kolonel AV Michiels dan tangan kananya Kaptein Alexander van der Hart. Mereka inilah yang membebaskan Tanah Batak dari kelaliman Padri tahun 1838. Lalu pemerintahan dibentuk di Afdeeling Mandailing en Angkola pada tahun 1840. Pada tahun ini juga Gubernur Jenderal Pieter Merkus mengirim FW Jung Huhn, seorang geolog Jerman ke Angkola untuk meneliti geologi dan botani. Jung Huhn dan rekannya TJ Willer mengundang datang Michiels dan Hart tahun 1842. Dua orang ini disambut dengan tarian kolosal (tor-tor) yang diiringi musik gondang. Awalnya direncanakan dua hari di (kota) Padang Sidempoean akhirnya molor menjadi empat hari. Para pemimpin lokal mengajak dua tentara profesional ini berburu rusa. Selesai bertugas, Jung Huhn menyarankan kepada pemerintah pusat agar jangan menyertakan pemimpin lokal dalam pemerintahan jika tak ingin kita yang diatur mereka. Mungkin Jung Huhn telah membaca laporan Marsden (1782) yang menyatakan pendudukan Angkola )dan Mandailing) mampu menciptakan senjata dan mesiu (campuran belerang dan arang getah damar) dan lebih dari separuh penduduknya mampu membaca (aksara Batak) angka yang sangat tinggi melampaui seluruh bangsa-bangsa di Eropa. Itu sebabnya pemimpin lokal di Mandailing en Angkola tidak pernah diangkat regent (bupati) seperti sebelumnya di Jawa dan Minangkabau. TJ Willer seorang ahli geografi sosial mengusulkan agar mereka diberi pendidikan dan sekolah. Pada era Gubernur Jenderal Rochussen, datang seorang sekuler ahli bahasa Dr. Herman Neubronner van der Tuuk. Asisten Residen AP Godon kerap berdiskusi sebagai sesama Eropa di pedalaman Tanah Batak di Afdeeling Mandailing en Angkola (Residentie Tapanoeli). AP Godon kemudian membawa seorang siswa Sati Nasoetion untuk studi ke Belanda pada tahun 1857 sementara van der Tuuk berhasil menyusun kamus dan tata bahasa Batak (tata bahasa pertama di Hundia Belanda). Satu usul yang aneh dari van der Tuuk kepada pemerintah, jika pusat (Batavia) mengirim pejabat ke Tanah Batak harus yang sudah berkeluarga (membawa istri). Laporan ini tampaknya dibaca oleh kantor zending Jerman. Ketika Nommensen yang masih lajang datang dari Jerman, sebelum memasuki Tanah Batak, diketahui Nommensen menikah lebih dulu di Sibolga pada tahun 1862.

Dr. Herman Neubronner van der Tuuk memulai karir di Hindia Belanda di Tanah Batak (Residentie Tapanoeli) dan tiba setelah setahun AP Godon menempati posisi Asisten Residen di Afdeeling Mandailing en Angkola yang berkedudukan di Panjaboengan. Seperti duet Eropa pertama (Jung Huhn dan TJ Willer), duet AP Godon dan van der Tuuk juga serasi (saling mengisi). Sukses dari Tapanoeli membuat Dr. Herman Neubronner van der Tuuk mendapat proyek bahasa dari pemerintah di Residentie Lampoeng yang kemudian membawanya secara alamiah ke Bali (Boeleleng). Untuk mengenal lebih jauh dan menambah pengetahuan siapa sejatinya Herman Neubronner van der Tuuk serta meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Herman Neubronner van der Tuuk dan Bali

Herman Neubronner van der Tuuk pada tahun 1870 diketahui telari berada di Bali (lihat Dagblad van Zuidholland en 's Gravenhage, 22-08-1870). Disebutkan van der Tuuk saat ini tinggal di Boelèlèng di pulau Bali sedang berlangsung mempelajari bahasa Bali.

Herman Neubronner van der Tuuk datang ke Bali belum sehat betul setelah sembuh di Buitenzorg dari sakitnya sepulang dari Lampong (lihat Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 06-12-1870). Disebutkan meski belum sepenuhnya berenergi, van der Tuuk berangkat ke Soerabaja, dari sana melanjutkan perjalanan ke Bali. Menurut kabar terakhirnya, dia masih tidak yakin dimana harus menetap di Bali. Dari beberapa rekomendasi yang diterimanya mengarahkan ke Boelèlèng karena beberapa misionaris dan pejabat Eropa tinggal disana; tetapi iklim disana tidak sehat baginya, dan bahasa [Bali] yang diucapkan digambarkan tidak sepenuhnya murni [di Boeleleng]. Ada yang merekomendasikan ke Gitgit. Dari semua rekomendasi itu dia pikir dia akan menemukan bahasa yang paling murni di Badong, tetapi disana dia akan hidup sepenuhnya terpencil dan tanpa terhubung dengan dunia di sekitarnya seperti perahu-perahu dagang Cina yang dapat digunakan sesekali untuk pengiriman. Sebelum memutuskan pilihannya dan mengangkut barang-barangnya, ia berniat untuk melakukan pemeriksaan pendahuluan disana.  Hasil penyelidikan ini kabar yang dikirimkannya menunjukkan bahwa Mr. van de Tuuk akhirnya memutuskan untuk memantapkan dirinya di Boelèlèng. Dalam kabar berikutnya van der Tuuk mengatakan: ‘Studi saya berjalan cukup baik, meskipun kesulitan tinggal di penginapan dan bepergian sepanjang waktu, karena saya mengumpulkan materi dimana-mana. Salah satu cita-cita saya adalah menyelesaikan bahasa Bali, sehingga orang-orang dapat mempelajari bahasa Bali dengan lebih mudah. Saya telah mengalami bahwa tidak perlu waktu lama untuk menguasai suatu bahasa jika seseorang sudah terbiasa dengan salah satu bahasa-bahasa pribumi. Sekarang saya sudah mengerti bahasa Bali tinggi untuk sebagian besar, karena ada persamaan dengan bahasa Jawa dalam bentuk yang lebih lengkap. Bahasa Bali rendah sepenuhnya berbeda dari bahasa Jawa termasuk  bahasa Sunda. Pengetahuan b bahasa Melayu Batavia saya banyak membantu saya disini, karena Melayu Batavia pada dasarnya adalah bahasa Bali rendah. Anda tahu bahwa Oost Indische Kompagnie banyak menggunakan budak, tentara dan pembantu rumah tangga dari Bali. Orang Bali adalah yang menjadi populasi pertama di [stad] Batavia yang baru didirikan’.

Tidak diketahui kapan tepatnya Herman Neubronner van der Tuuk mulai tinggal di Boeleleng. Herman Neubronner van der Tuuk diduga kuat sekitar awal tahun 1870. Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 06-12-1870 menyebut tugas van der Tuuk dengan Pemerintah Hindia Belanda di Lampong berakhir tanggal 1 Juli 1869 dan sepulang dari Lampong karena kerja panjang dan melelahkan di distrik Lampong telah membawanya pada penyakit serius, tetapi setelah menghabiskan beberapa bulan memulihkan kesehatan di Buitenzorg, van der Tuuk mulai memikirkan pemukimannya di Bali sebagai wujud pembicaraannya yang terbaru dengan organisasi yang dulu menugaskannya ke Tapanoeli.

Alkitab telah diterjemahkan ke bahasa Melayu dan bahasa Jawa. Dalam hubungan inilah organisasi gereja Afdeeling Amsterdam menugaskan Matthes dan Herman Neubronner van der Tuuk ke Hindia Belanda. Matthes dikiirm ke Makasser untuk mempelajari bahasa Buginesche dan Makassaarsche dan kemudian menerjemahkan Alkitab, sementara Neubronner v. d. Tuuk, wakilnya, dikirim ke Tanah Batak, Sumatra dan kini telah tiba di Soerabaja (lihat Algemeen Handelsblad, 19-12-1849). Inilah awal kerja profesional Herman Neubronner van der Tuuk (bidang bahasa) di Hindia Belanda.

Di Tapanoeli Residentie Tapanoeli yang dibentuk tahun 1845 dengan ibu kota di Sibolga (Residen pertama Alexander van der Hart), setahun sebelum tugas Jung Huhn berakhir. Pada tahun 1846 tugas kolega Jung Huhn, Asisten Residen Afdeeling Mandailing en Ankola TJ Willer berakhir. Dalam laporan Willer yang ditulis di Panjaboengan salah satu sarannya adalah perlunya sekolah di Afdeeling Mandailing en Ankola. Tampaknya saran itu tidak dijalankan oleh pengganti. Tampaknya para pemimpin lokal tidak senang. Dalam dua tahun ada tiga Asisten Residen yang tidak betah (dan mengundurkan diri).. Hal itu tidak lazim, akhirnya Controleur di Singkil, AP Godon dipromosikan menjadi Asisten Residen Mandailing en Angkola pada tahun 1848. Dalam struktur pemerintahan di Tapanoeli adalah Residen, Asisten Residen dan Controleur. Residen Alexander van der Hart membawahi tiga Controleur di Natal, Baros dan Singkel, sedangkan Asisten Residen Mandailing en Angkola membawahi dua controleur di Kotanopan (Mandailing) dan di Padang Sidempoean (Angkola). Herman Neubronner van der Tuuk memulai kerja di Baros, tetapi lebih banyak waktunya di pedalaman Tanah Batak. Orang Eropa-Belanda di pedalaman Tanah Batak hanya terdapat di Padang Sidempoean, Panjaboengan dan Kotanopan. Herman Neubronner van der Tuuk banyak berdiskusi dengan Asisten Residen Mandailing en Angkola AP Godon (sama-sama humanis dan peduli pribumi). Controleur Angkola Hammer di Padang Sidemppoean yang memberi surat rekomendasi ketika hendak ke Silindoeng dan Toba. Hammer adalah orang Eropa pertama yang pernah melihat danau Toba. Surat rekomendasi itu ditujukan kepada pemimpin-pemimpin lokal yang sudah dikenal Hammer di Silindoeng dan Toba.

AP Godon sangat diterima di Afdeeling Mandailing en Angkola, karena segera membangun sekolah (selain pembangunan jalan dan jembatan serta peningkatan produktivitas kopi). Dua siswa terbaik tahun 1854 telah dikirim AP Godon ke Batavia untuk studi kedokteran, dua siswa pertama yang berasal dari luat Jawa. Sekolah kedokteran ini kemudian disebut Docter Djawa School (cikal bakal STOVIA). Pada tahun 1857 AP Godon diberi cuti dua tahun ke Eropa setelah delapan tahun menjadi Asisten Residen Mandailing en Angkola. Sehubungan dengan kepergian AP Godon ke Eropa, Herman Neubronner van der Tuuk juga berakhir tugasnya di Tanah Batak tahun 1857. Yang tidak terduga, AP Godon membawa salah satu lulusan sekolah terbaik di Mandailing Si Sati (Nasoetion) ikut bersamanya ke Belanda untuk melanjutkan studi keguruan untuk mendapatkan akta (beslit) guru. Setahun sebelumnya 1856 dua siswa yang dikirim ke Batavia telah kembali ke Mandailing en Angkola.. Dr Asta ditempatkan di Panjaboengan (Mandailing) dan Dr Angan di Padang Sidempoean (Angkola).. Bersamaan dengan kedatangan dua dokter muda ini berangkat lagi ke Batavia dua siswa terbaik. Pada bulan Juli 1857 AP Godon dan Sati Nasoetion berangkat ke Belanda. Setelah selesai studi di Belanda, Sati Nasoetion alias Willem Iskandern membangun sekolah guru di Tanabota (Mandailing) tahun 1862. Semua itu adalah hasil karya nyata dua bersahabat AP Godon dan Herman Neubronner van der Tuuk.

Di Boeleleng (Bali) Herman Neubronner van der Tuuk selain intens mempelajari bahasa Bali, juga aktif menulis di berbagai media. Nama Herman Neubronner van der Tuuk tetap menjadi pembicaraan di dunia penerbitan gereja dan juga di dunia akademik yang mana tinjauan van der Tuuk dalam bidang sastra Hindia cukup kritis. Tidak ada nama lain yang menandingi kepiawaian van der Tuuk dalam menyusun kamus dan tata bahasa Hindia. Herman Neubronner van der Tuuk bekerja sungguh-sungguh dan penuh dedikasi dalam bidangnya. Tulisan tentang Lampong oleh van der Tuuk telah diterbitkan oleh Bataviaasch Genootschap van kunsten en wetenschappen (lihat Bataviaasch handelsblad, 27-05-1871). Tantangan terdekat van der Tuuk tampaknya ingin segera menyelesaikan kamus dan tata bahasa Bali.

Java-bode voor Nederlandsch-Indie, 30-03-1872
Meski sudah larut di Boeleleng bersama penduduk Bali dalam hubungan pekerjaannya dengan bahasa Bali, Herman Neubronner van der Tuuk tetap sibuk dengan diskusi-diskusi ilmih di berbagai media. Salah satu tulisan Herman Neubronner van der Tuuk yang ditulis di Boeleleng, 10 Maret 1872 dimuat pada surat kabar Java-bode : nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 30-03-1872. Tulisan ini berisi tanggapan atas tulisan Dr. D. Koorders beberapa waktu sebelumnya tentang bahasa Kawi Kuno. Herman Neubronner van der Tuuk menghubungkan bahasa Kaei dengan bahasa Bali. Satu yang penting dari usulan Herman Neubronner van der Tuuk adalah dengan tidak adanya alat utama, seperti, antara lain, kamus yang baik dari bahasa-bahasa paling terkenal di Kepulauan ini, masih banyak yang harus dilakukan sebelum kita dapat membaca tulisan-tulisan kuno (Kawi). Menurut van der Tuuk tulisan yang diterbitkan di majalah Nederlandsche Indie yang hanya menggunakan edisi baru dari Kamus Jawa dianggapnya tidak cukup. Upaya Prof Kern yang menerjemahkan teks Kawi dengan berlandaskan kamus-kamus Hindoestan yang penuh dengan anotasi dianggap van der Tuuk menunjukkan kedangkalan dan tidak menemukan esensi yang sebenarnya di dalam teks asli. Satu poin lagi kritik dari van der Tuuk adalah bahwa kita belum memiliki teks yang dapat dikatakan lengkap karena prasasti yang ada di Jawa dan di tempat lain belum seluruhnya berhasil dikumpulkan. Misalnya sebuah kata yang hanya muncul sekali (dalam prasasti) orang sudah puas dengan dugaan dan sayangnya juga bergantung pada pernyataan orang (kamus) Jawa atau Bali, itu sangat konyol apalagi satu kata itu diterjemahkan ke dalam konteks kalimat.

Herman Neubronner van der Tuuk jelas tidak kesepian di Bali. Siang hari bergaul dengan banyak penduduk Bali dan menganalis apa yang ditemukan, malam hari di tempat tinggalnya membaca jurnal dan surat kabar yang dikirim ke alamatnya dan menulis opini dan berbagai bentuk teks dalam dunia akademik. Kesehariann van der Tuuk secara alamiah di Bali sudah menjadi cara hidupnya sejak kali pertama van der Tuuk dikirim ke Tanah Batak. Herman Neubronner van der Tuuk tahu apa yang dibutuhkannya dan juga mengetahui apa yang dipikirkan penduduk dalam kehidupan sehari-hari. Dua pertemuan kebutuhan ini menjadikan Herman Neubronner van der Tuuk hidup dan selalu bersemangat dengan pekerjaannya. Seorang linguistik telah berperilaku bagai seorang antropologis.

Introduksi Pendidikan di Boeleleng

Ilmuwan sejati tetaplah ilmuwan dimana pun ia berada. Meski baru sedikit orang Eropa-Belanda di Bali (Boeleleng dan Djembrana), Herman Neubronner van der Tuuk tidaklah terlalu kesepian. Siang hari bekerja dan bergaul dengan penduduk dan malam hari bekerja untuk urusan dunia yang lain (akademik). Jarak Boeleleng yang dekat dengan Soerabaja, kapan saja Herman Neubronner van der Tuuk dapat ke Soerabaja. Namun ada dua peristiwa penting di Soerabaja yang harus membuat Herman Neubronner van der Tuuk ke Soerabaja dalam kaitan keluarga, yakni sehubungan dengan promosi adiknya GJ van der Tuuk (kenaikan jabatan). Ada surat kabar yang menyebut van der Tuuk yang dipromosikan Asisten Residen tersebut adalah van der Tuuk yang di Bali. Ternyata ada juga peneliti Belanda yang mengutip ini (tidak check en rechek).

Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 30-01-1871 memberitakan sehubungan dengan Asisten Residen Modjokerto meletakkan posisinya. Mr Van der Tuuk disebut sebagai pengganti. Karir GJ van der Tuuk terus meroket. Setahun kemudian, GJ van der Tuuk dicalonkan untuk menjadi Residen Kediri (lihat Bataviaasch handelsblad, 25-05-1872). Namun GJ kalah bersaing dengan kandidat lain. GJ van der Tuuk baru mendapat posisi Residen pada tahun 1973 (lihat Bataviaasch handelsblad, 12-03-1873). Disebutkan GJ van der Tuuk diangkat menjadi Residen Bagelen yang kini sedang menjabat sebagai Asisten Residen di Modjokerto. Dalam perpisahan dengan GJ van der Tuuk ini di Modjokerto sangat meriah dengan memberi makan penduduk yang biayanya senilai f1.200.

Kedatangan Herman Neubronner van der Tuuk ke Soerabaja pada tahun 1873 tidak hanya sekadar untuk mengikuti pesta perpisahan adiknya GJ van der Tuuk dengan penduduk Modjokerto sehubungan dengan pengangkatan menjadi Residen Bagelen, juga Herman Neubronner van der Tuuk akan berangkat ke Batavia sehubungan dengan pengangkatannya sebagai pejabat di departemen pendidikan (lihat Bataviaasch handelsblad, 23-04-1873). Disebutkan Dr. HN van der Tuuk diangkat sebagai pejabat untuk studi bahasa-bahasa di Hindia dengan ketentuan bahwa ia (Herman Neubronner van der Tuuk) secara langsung berada di bawah direktur van onderwijs, eeredienst en nijverheid.

Jabatan Herman Neubronner van der Tuuk tidaklah seperti jabatan adiknya GJ van der Tuuk yang harus memimpin suatu korps pegawai. Jabatan Herman Neubronner van der Tuuk lebih pada jabatan fungsional (setingkat tenaga ahli) yang membidangi bidang tertentu (khusus). Oleh karena itu, Herman Neubronner van der Tuuk tidak harus berkantor di Batavia tetapi Herman Neubronner van der Tuuk tetap berada di (afdeeling) Boeleleng (Residentie Banjoewangi). Oleh karena ibu kota Afdeeling Boeleleng telah dipindahkan ke Singaradja, maka Herman Neubronner van der Tuuk harus pindah ke Singaradja.

Sehubungan dengan pengangkatan Herman Neubronner van der Tuuk sebagai pejabat pemerintah (pusat) dan berkantor di Singaradja, maka Herman Neubronner van der Tuuk tidak hanya tetap bergaul dengan penduduk (studi bahasa) tetapi juga harus berbagi dengan waktu dengan pejabat-pejabat pemerintah (lokal) di Singaradja. Pada saat inilah Herman Neubronner van der Tuuk mulai memikirkan pendidikan untuk anak usia sekolah di Bali khususnya di (afdeeling) Boeleleng.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Dapatkan Info Produk Terbaru Kami

Masukan Alamat Email Kamu Disini

Gabung bersama media kami.