Sejarah Pulau Bali (3): Perang Bali 1846-49 dan AV Michiels; Perang Jawa (1825-30), Perang Padri Bonjol dan Portibi (1833-38) - JagoMarketing | Jasa Whatsapp Blast

Sejarah Pulau Bali (3): Perang Bali 1846-49 dan AV Michiels; Perang Jawa (1825-30), Perang Padri Bonjol dan Portibi (1833-38)

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Bali pada blog ini Klik Disini

Tidak terdapat yg ditakutkan AV Michiels dalam hidupnya, kecuali satu hal: masa tuanya terganggu. AV Michiels lahir pada Maastricht, Belanda, 30 Mei 1797 datang ke Hindia untuk menguji keberanian, meraih kehormatan & menikmati kemakmuran. Semua tahapan mencapai tujuan hayati itu, AV Michiels telah melewatinya memakai sukses. Apa yang mengganggu biologi AV Michiels pada akhir masa tua itu? Perang Bali. AV Michiels ini nir masih ada kaitannya dengan fans Bali United yang menginginkan Diego Michiels bergabung menggunakan Bali United FC.

Kol AV Michiels telah menerima semuanya yg bisa diraih sang seorang militer profesional. Kol AV Michiels kenaikan pangkat promosi menjadi Majoor Generaal bersamaan memakai jabatannya sebagai status Residen sebagai Gubernur pada Pantai Barat Sumatra (Province Sumatra?S Westkust). Satu kehormatan besar atas prestasinya Guibernur Jenderal mendirikan patung akbar dirinya di depan Markas Militer dalam Weltevereden (lapangan Banteng Jakarta yang sekarang). AV Michiels nir terganggu oleh Perang Bali. AV Michiels terganggu lantaran tidak terdapat komandan militer yang berhasil menaklukkan Bali. Lantas apakah pasca turun tangan dalam Perang Bali, AV Michiels masih terganggu masa tuanya? Tidak lagi. Mengapa? Untuk menambah pengetahuan, yuk kita telusuri dari-asal tempo doeloe.

Sumber primer yang dipakai dalam artikel ini merupakan ?Asal utama? Misalnya surat warta sejaman, foto dan peta-peta. Sumber kitab hanya dipakai menjadi pendukung (pembanding), lantaran saya anggap buku pula merupakan hasil kompilasi (analisis) dari berasal-asal primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua asal disebutkan lagi lantaran telah diklaim pada artikel aku yang lain. Hanya berasal-asal baru yg disebutkan atau sumber yang telah pernah dipercaya pada artikel lain disebutkan balik pada artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Komunikasi Batavia

Sesungguhnya terdapat hubungan yang mesra dan abadi antara VOC dengan raja-raja di Bali. Komunikasi VOC dan raja-raja Bali hingga berakhrnya VOC masih intens. Komunikasi abadi ini tentu saja dimulai sejak Conelis de Houtman tiba di Bali pada tahun 1597. Bahkan komunikasi antara raja-raja Bali dengan Pemerintah Hindia Belanda hingga pada tahun 1804 masih ada (lihat Daghregister, 5 Juli 1804). Disebutkan surat berbahasa Melayu diterima diterima di Batavia dari Srie Padoeka Ratoe Goesti Naverak Made Karang Assam dan Padoeka Goesti Nengah Tegong yang keduanya dari Baly. Tampaknya dua surat ini adalah surat terakhir dari Bali.

Sejak dibubarkannya VOC tahun 1799 dan Kerajaan Belanda membentuk Pemerintah Hindia Belanda, pemerintahan yang baru terbentuk masih sangat sibuk di Batavia dan di pulau Jawa. Meski demikian, orang-orang Eropa/Belanda (eks VOC) masih terdapat dimana-mana. Saat Gubernur Jenderal Daendels sibuk membangun ibu kota (Weltevreden dan Buitenzorg), pembentukan garnisun-garnisun militer, pembanguna jalan pos trans-Java, terjadi pendudukan Inggris tahun 1811. Program pertama Letnan Gubernur Jenderal Raffles, seperti Daendels sngat sibuk di Jawa. Kevakuman dan kehadiran Inggris belum meluas terjadi banyak hal di beberapa tempat. Ketegangan antara Inggris dan Jogjakarta belum mereda pembantaian orang-orang Belanda di Palembang menjadi urusan Inggris yang didahulukan. Namun Inggris tidak lama dan kemudian digantikan kembali oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1816. Tentu saja Pemerintah Hindia Belanda yang sebelumnya belum solid memulai pemerintahan dari nol kembali. Pembentukan pemerintahan di mulai di Jawa, Bandjarmasing, Palembang dan baru kemudian pantai barat Sumatra. Dalam pembentukan pemerintahan ini di beberapa tempat tidak mulus dan terjadinya perang, seperti di Palembang (Perang Palembang 1819-1821), di Djogjakarta (Perang Jawa 1825=1830) dan di Pantai Barat Sumatra (Perang Padri 1933-1838). Di Pantai Barat Sumatra sukses Perang Padri membuat portofolio Kolonel AV Michiels menjadi tinggi dan mengantarkannya untuk psosi Gubernur Provinsi Pantai Barat Sumatra. Situasi dan kondisi yang dihadapi oleh Pemerintah Hindia Belanda dan pemerintah pendudukan Inggris inilah menyebabkan komunikasi antara Bali dan Batavia (Belanda) terputus. Selama itu pula tidak terdeteksi situasi dan kondisi di Bali (apa yang terjadi).

Komunikasi antara Bali dan Batavia mulai menemukan jalan pasca Perang Padri di Pantai Barat Sumatra. Komunikasi antara Belanda dan Bali ini ditandai dengan pembukaan agen perdagangan (cabang) Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) di Bali (lihat Algemeen Handelsblad, 20-03-1840). Namun sambutan dari raja-raja Bali tidak semesra dulu lagi. Ada yang membuka diri dan ada juga yang mulai menerima setengah hati.

Algemeen Handelsblad, 20-03-1840
Algemeen Handelsblad, 20-03-1840: ‘Di pulau Bali, oleh pusat perdagangan (factory) dari Nederlandsche Handel-Maatschappij, yang tampaknya memberikan hasil yang menguntungkan untuk perdagangan yang mana agen yang ditunjuk adalah DB Schuurman, dikatakan tidak semua pemberian hadiah yang dilakukan diterima dengan ramah. Diantara hadiah yang dibawa diantaranya hadiah kepada Pangeran Kloenkong, antara lain seekor badak’.

Adanya beberapa sambutan di Bali yang kurang menyenangkan bagi Belanda, boleh jadi ada sebagian radja-raja di Bali telah mempelajari apa yang telah terjadi di tempat lain seperti di Jogjakarta dan Pantai Barat Sumatra. Raja-raja non-cooperative ini tentu juga telah melihat eskalasi politik yang mulai memanas antara pejabat-pejabat Belanda yang dikirim ke Celebes dengan beberapa pemimpin lokal. Namun tentu saja diantara para raja-raja di Bali tidak memiliki federasi yang menghubungkan satu sama lain. Setiap raja memiliki otoritas sendiri-sendiri.

Situasi dan kondisi di Bali berbeda dengan situasi dan kondisi di Jogjakarta dan Pantai Barat Sumatra. Di Jogjakarta ada latar belakang yang mendahuluinya yakni antara persaingan Jogjakarta dan Soerakarta sejak era VOC dan era pendudukan Inggris. Sementara di Pantai Barat Sumatra situasi dan kondisi yang ada disebabkan adanya pertentangan antara kaum adat dan kaum agama (Padri). Di Bali nyaris tidak ada latar belakang yang menyebabkan situasi politik lokal dengan kehadiran Belanda kembali. Tentu saja orang-orang Belanda yang datang kembali ke Bali tidak mengetahui apa yang terjadi sejak putusnya komunikasi Belanda dengan raja-raja Bali,

Tunggu deskripsi lengkapnya

Majoor Generaal Andreas Victor Michiels Mati Konyol di Bali

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Dapatkan Info Produk Terbaru Kami

Masukan Alamat Email Kamu Disini

Gabung bersama media kami.