Sejarah Lombok (30): Orang Sasak Lombok Naik Haji Sejak Tempo Doeloe; Embarkasi Pelabuhan Ampenan Atau Laboehan Hadji?

shape image

Sejarah Lombok (30): Orang Sasak Lombok Naik Haji Sejak Tempo Doeloe; Embarkasi Pelabuhan Ampenan Atau Laboehan Hadji?

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Lombok dalam blog ini Klik Disini

Ada buku berjudul Orang Jawa Naik Haji. Juga ada kitab berjudul Orang Batak Naik Haji. Tentu saja terdapat goresan pena-goresan pena lainnya misalnya Orang Sunda Naik Haji

Bagaimana sejarah perjalanan haji orang Sasak dari pulau Lombok? Nah, itu yang menjadi inti pertanyaannya yang merujuk pada judul tulisan ini. Lalu, apakah sudah ada tulisan yang menarasikan sejarah (perjalanan) haji penduduk Sasaka? Tampaknya belum. Itulah mengapa judul tulisan di atas penting dinarasikan. Okelah, untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Laboehan Hadji di Lombok Timur

Apa dan dimana suatu tempat di pulau Lombok disebut Laboehan Hadji. Itu adalah pelabuhan di pantai barat pulau Lombok. Hanya itu saja? Tentu tidak. Munculnya pelabuhan haji di pantai timur Lombok (Laboehan Lombok) jelas tidak bersifat random (acak dan muncul tiba-tiba). Secara epistemologi,nama pelabuhan haji adalah pelabuhan para haji. Terserah apakah hajinya datang dari laut untuk mendarat atau orang dari darat mau naik (melakukan pelayaran) haji ke Mekkah. Itulah asal-usul nama pelabuhan laut Laboehan Hadji? Bagaimana itu terjadi? Catatan Cornelis de Houtman dapat dijadikan entry point.

Ekspedisi pertama Belanda yang dipimpin oleh Cornelis de Houtman pada tahun 1597 dalam catatan pelayaran mereka dicatat kehadiran mereka di pulau Lombok, suatu kampong di teluk. Pelabuhan ini mereka catat sudah lebih mendangkal jika dibanding sebelumnya. Ada lapisan lumpur yang terbawa sungai dari daratan. Apakah gunung api Rindjani telah bekerja belum lama ini? Tentu saja mereka sangat memahami soal navigasi. Mereka melakukan pengukuran kedalaman laun di teluk dengan alat tertentu.

Satu hal yang penting dala catatan mereka di teluk adalah terdapat suatu kampong [Lombok] dimana terdapat pasukan bersenjata 100 orang dimana di salah satu sudut kampong terdapat sebuah rumah yang lebih besar yang menjadi tempat pemimpinnya. Dalam catatan itu dinyatakan bahwa sejak 1593 pelabuhan ini telah menjadi koloni kerajaan {Islam) Djepara. Merek mengekspor kayu dari wilayah ini sebagai bahan yang bagus untuk pembuatan kapal. Apakah catatan Cornelis de Houtman ini mengindikasikan awal penyebaran (agama) Islam di Lombok?

Pelabuhan Laboehan Hadji diduga kuat adalah pelabuhan sekunder dari pelabuhan (Laboehan) Lombok di teluk Lombok. Pelabuhan ini terbentuk karena pedagang-pedagang dari Jawa (khususnya dari Djepara) melakukan transaksi dagang dengan penduduk Sasak. Para pedagang ini diduga telah turut menyiarkan agama Islam di Lombok. Penduduk Sasak di Lombok yang beragama Hindoe dan pagan telah menkonversi kepercayaan mereka dengan keyakinan (agama) yang baru (Islam). Dari sinilah diduga kuat bahwa penduduk Sasak di pedalaman menyebut pelabuhan ini dengan nama Laboehan Hadji (pelabuhan para haji yang menyiarkan agama Islam).

Jawa dan Lombok semakin terhubung dalam banyak hal. Pola-pola pertanian ada kemiripan demikian juga dengan seni (gamelan: Jawa, Bali, Lombok). Namun menurut seorang peneliti Eropa tahun 1847 (Heinrich Zollinger) dari sudut bahasa justru bahasa Melayu yang banyak terserap dalam bahasa Sasak. Sementara nama-nama tempat banyak yang bersesuaian nama-nama tempat di Jawa dan di Lombok. Bahkan nama pulau (Lombok) juga ada nama Lombok di Jawa. Tidak hanya itu nama-nama tempat yang lainnya juga cukup banyak antara lain Mataram, Kediri, Selong, Soerabaja, Sakra, Wanasaba dan Pohgading. Nama-nama tempat ini diduga adalah awalnya komunitas orang Jawa yang berdagang dan menetap (koloni) di pedalaman Lombok yang menjadi simpul-simpul penyebaran syiar Islam. Nama-nama tempat ini berada pada jalur-jalur utama perdagangan di pulau Lombok dari timur (Laboehan Hadji) ke barat (Mataram). Sebagaimana diketahui kerajaan Demak dan (kemudian) kerajaan Djepara adalah kesultanan Islam pertama di Jawa (yang juga menjadi pusat penyebaran syiar Islam di Jawa). Seperti dikutip di atas, Cornelis de Houtman yang berlabuh di pelabuhan Lombok tahun 1597 mencatat kerajaan Djepara telah membuka cabang pemerintahan (koloni) di (kampong) Lombok sejak 1593.

Kerajaan Selaparang di Lombok telah menjadi kerajaan besar di pulau Lombok. Hubungan yang intens diduga telah terjadi dengan kerajaan besar di Makassar (kerajaan Gowa) yang belakangan telah menjadi kesultanan Islam. Intensitas hubungan antara kerajaan Gowa dengan kerajaan-kerajaan di pulau Soembawa dan Lombok diduga karena menganut agama yang sama yang dihubungkan dengan perdagangan.

Nama-nama tempat yang terhubung dengan nama-nama di Gowa dan Lombok diduga munculnya nama-nama seperti Piejoe, Kopang dan Ampenan. Sebagai kerajaan besar, wilayah (kerajaan) Selaparang  tidak hanya pulau Lombok dan pulau-pulau kecil di sekitar tetapi juga termasuk pulau besar yang kini disebut pulau Penida (kemudian masuk Bali). Pulau Penida sebagai wilayah kerajaan Selaparang dapat diperhatikan pada Peta 1660.

Dari pelabuhan Ampenan dan pulau Penida pedagang-pedagang Gowa berstransaksi dagang dengan penduduk di pesisir timur Bali. Boeleleng di pantai utara pulau Bali diduga adalah pelabuhan penting orang-orang Gowa. Kerajaan Gowa sendiri berhasil ditaklukkan VOC pada tahun 1669. Dalam perkembangannya kerajaan Karangasem menguasai sepenuhnya (pelabuhan() Boeleleng dan pada tahap berikutnya melakukan invasi ke pulau Lombok.

Sejak jatuhnya kerajaan Gowa, Pemerintah VOC melakukan kontrak (perjanjian) dengan radja-radja di pulau Soebawa dan Lombok. Perjanjian Pemerintah VOC dengan Kerajaan Selaparang dilakukan pada tahun 1675. Pada tahun 1740 kerajaan Karangasem di Bali melakukan invasi ke pulau Lombok. Sejak itu kerajaan Selaparang meredup. Sudah barang tentu orang-orang Bali tidak menyebarkan agama (karena memiliki kasta? Kasta Waisya). Orang Bali di Lombok hanya semata-mata motif ekonomi. Pulau Lombok sangat subur yang memiliki sistem pengairan sepanjang tahun. Oleh karena itu pulau Lombok sudah sejak lama surplus beras. Orang Bali hanya sampai di (bagian barat) Bali dan tidak memperluas ekspansi ke pulau Soembawa (meski kerajaan Soembaw telah membentengi sendiri dari ancaman orang Bali). Orang-orang Soembawa keluar dari pulau Lombok sudah cukup bagi orang Bali untuk mengembangkan kerajaan baru di pulau Lombok. Awalnya hanya satu kerajaan Karangasem kemudian terbentuk tiga kerajaan lainnya yakni Mataram, Pangoetan dan Pagasangan.

Pada era Pemerintah Hindia Belanda (suksesi VOC yang bubar pada tahun 1799) hanya tersisa dua kerajaan yang berkembang di pulau Lombok yakni kerajaan Karangasem dan kerajaan Mataram. Akibat intervensi orang asing dua kerajaan Bali ini akhirnya hancur (dan tidak berdaya). Saat melemahnya kerajaan Bali di Lombok, penduduk Sasak mulai kembali mendapat peran penting yang dibimbing oleh para haji-haji yang terdapat di Lombok khsusunya di bagian tengah pulau dan pantai tiimur pulau. Marwah kerajaan Selaparang tempo doeloe yang begitu besar tumbuh dan berkembang kembali.

Intervensi asing di pulau Lombok terjadi dalam dua tahap. Pada awal Pemerintah Hindia Belanda intensitas mereka di pulau Lombok sangat rendah (karena kesibukan di tempat lain). Saat inilah secara individu pedagang-pedagang asing memainkan peran di pulau Lombok. Terjadi persaingan antara pedagang-pedagang Inggris dan pedagang-pedagang Denmark di Lombok. GP King seorang Inggris mendukung kerajaan Mataram dengan suplai senjata untuk mengalahkan kerajaan Karangasem yang didukung pedagang-pedagang Denmark. Terjadi perang saudara antara Bali di Lombok, Mataram versus Karangasem. Kerajaan Karangasem takluk. Kerajaan Mataram (Bali Selaparang) menjadi penguasa tunggal di Lombok. GP King menjadi pengusaha unggul di Lombok. Pemerintah Hindia Belanda membuat perjanjian dengan Radja Bali Selaparang pada tahun 1846 sejak adanya niat baik kerajaan Bali Selaparang turut membantu Pemerintah Hindia Belanda menghukum pangeran (kerajaan) Boeleleng yang didukung kerajaan Karangasem Bali.

Pangeran Mataram yang menggantikan ayahnya menjadi sangat padu dengan GP King. Pangeran-Radja Bali Selaparang menjadi sangat makmur. Kekuatan persenjataannnya yang semakin mumpuni menjadi ingin raja di raja tidak hanya di Lombok tetapi juga di Bali. Namun para pangeran Bali Selaparang mulai bertindak kejam terhadap penduduk Sasak. Saat inilah mulai muncul pemberontakan-pemberontkan dari penduduk Sasak yang dipimpin oleh para haji-haji. Kerajaan Soembawa yang pernah terusir dari Lombok pada tahun 1740 kembali memberi sokongan kepada penduduk Sasak. Oleh karena adanya hubungan yang baik dengan Pemerintah Hindia Belanda (perjanjian yang terus diperbaru) melarang keterlibatan Soembawa terhadap pemberontakan di Lombok. Pemerintah Hindia Belanda berharap dengan keluarnya Soembawa dari Lombok perang akan mereda. Akan tetapi tidak demikian. Penduduk Sasak sudah kepalang basah dan pemberontkan terus dilancarkan. Tentu saja para pasukan Sasak tersudut karena persenjataan Bali Selaparang dari waktu ke waktu semakin canggih dan semakin banyak jumlahnya. Saat inilah, ketika penduduk Sasak ketika ingin independen di tanah sendiri meminta Pemerintah Hindia Belanda melakukan intervensi di Lombok. Awalnya Pemerintah Hindia Belanda melakukan jalan diplomasi agar terwujud keamanan dan keadilan di Lombok. Namun ajakan damai Pemerintah Hindia Belanda tidak digubris. Salah seorang haji di Praja emiliki peran strategis dalam eskalasi politik ini. Haji tersebut disebut Goeroe Bangkol. Pasal pelanggaran perjanjian damai yang dibuat pada tahun 1846 telah banyak yang dilanggar kerajaan Bali Selaparang. Permintaan para pemimpin penduduk Sasak atas dasar pelanggaran perjanjian yang ditandatangani kerajaan Bali Selaparang lalu Pemerintah Hindia Belanda melakukan intervensi. Langkah pertama yang dilakukan adalah ultimatum, namun itu juga tidak digubris. Lalu perang antara Pemerintah Hindia Belanda yang didukung penduduk Sasak melawan kerajaan Bali Selaparang tidak terhindarkan. Awalnya Pemerintah Hindia Belanda kalah, tetapi tentu saja akan menang pada perang berikutnya. Kerajaan Bali Selaparang hancur pada tahun 1895. Penduduk Sasak tampaknya lega, dan para pemimpin Sasak mulai mendapat perang penting dalam cabang-cabang pemerintahan di Lombok.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Haji Abdoel Gani Asal Dompoe di Lombok

Seorang haji asal Dompoe yang beberapa waktu sebelumnya yang pulang dari Mekah memilih menetap di Lombok untuk berdakwah. Namanya Hadji Abdoel Gani. Namun tidak lama kemudian pendakwah ini diusir oleh para pangeran dari kerajaan Bali Selaparang (lihat Nederlandsch Indie, 26-08-1859). Disebutkan Hadji Abdoel Gani yang telah memiliki sejumlah pengikut mengungsi ke Soembawa, dimana guru haji terus meneruskan dakwahnya. Haji Abdoel Gani di Soembawa sangat dihormati. Sebelum pulang kampong, Hadji Abdoel Gani sudah terlebih dahulu berdkawah di Malaka.

Meski Hadji Abdoel Gani telah relokasi ke Soembawa, para pangeran Selaparang tetap keberatann dan keluhan mereka itu telah disampaikan kepada Pemerintah Hindia Belanda. Para pangeran beralasan karena sultan kekaisaran Soembawa membiarkan Hadji Abdoel Gani menghasutnya untuk berperang melawan Bali Selaparang. Kebenaran klaim ini tidak dikonfirmasi meskipun atas perintah Gubernur Jenderal. Namun demikian, atas inisiatif sendiri pejabat yang bertanggungjawab di Bonthain en Bulekomba pergi menyelidikinya atas persetujuan dari Gubernur Celebes. Pejabat tersebut juga mengetahui bahwa Hadji Abdoel Gani juga berdakwah di Bima. Seperti di Soembawa sang pandakwah juga sangat dihormati di Bima. Keberadaan masjid megah di Bima sudah diketahui sejak 1855.

Berdasarkan keterangan tersebut, Hadji Abdoel Gani besar dugaan adalah ulama besar. Seorang ulama yang berpengalaman di Mekkah dan Malaka yang sangat dihortmati di pulau Lombok dan pulau Soembawa. Tentu saja para pangeran Bali Selaparang sangat khawatir tentang keberadaan Haji Abdoel Gani seorang ulama besar. Pada saat itu, para pangeran Bali Selaparang sangat kejam terhadap penduduk Sasak. Antara dua belah pihak saling bertolak belakang. Hadji Abdoel Gani ini mengangkat harkat penduduk Sasak yang terdzalimi, para pangeran Bali Selaparang semakin dzalim terhadap penduduk Sasak.

Namun Haji Abdoel Gani kadung sudah sangat terkenal, sangat dihormati dan pengikutnya di Lombok bahkan ikut mengungsi ke Soembawa. Pada sumber lain diketahui bahwa pejabat di Afdeeeling Bonthain en Bulekoemba telah meminta Sultan Soembawa mengevakuasi seuluruh orang Soembawa dari Lombok. Hal ini karena pulau Soembawa termasuk wilayah Afdeeeling Bonthain en Bulekoemba. Pejabat tak ingin muncul kerusuhan di Lombok yang akan menyeret warganya dari Soembawa. Permintaan itu sudah dipenuhi Soeltan Soembawa. Akan tetapi para pengikut Hadji Abdoel Gani yang berasa; dari Lombok tentu tidak urusannya untuk mengusirnya dari Soembawa. Mungkin Soeltan Soembawa beranggapan itu urusan Radja Bali Selaparang di Lombok dengan Asisten Residen Bali en Lombok di Boeleleng. Para pengikut Hadji Abdoel Gani asal Lombok inilah yang diduga kembali ke Lombok dan mulai melakukan pemberontakan terhadap rezim Bali Selaparang.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Haji Asal Lombok

Kapal-kapal dagang Persia dan Arab lambat laun digantikan oleh kapal-kapal dagang Inggris sebagai pengangkut jamaah haji dari Nusantara (Indonesia). Kapal-kapal dagang Belanda menjadi hanya terbatas pada pelayaran jarak jauh (Batavia-Amsterdaam via Afrika Selatan).

Pemanfaatan kapal-kapal Inggris terus berlangsung hingga terjadinya pendudukan Inggris atas Jawa (1811-1816). Kapal-kapal dagang Inggris bahkan terus beroperasi hingga tahun 1824 (traktat London).

Sejak Bengkulu dan Malaka tukar guling antara Belanda dan Inggris, kapal-kapal dagang Inggris tetap menjadi salah satu pilihan utama jamaah haji untuk ke Makkah. Pelabuhan Singapoera, Malaka dan Penang menjadi simpul pelayaran haji yang utama (embarkasi haji). Kapal-kapal kecil dari berbagai penjuru nusantara mengantarkan jamaah haji ke pusat embarkasi Inggris ini.

Kapal-kapal dagang dari (jazirah) Arab dari Batavia ke Jeddah menjadi jarak pelabuhan terjauh dalam pelayaran internasional antara nusantara dan jazirah Arab. Kapal-kapal dagang Arab ini ketika berangkat ke Persia dan Arab (Jeddah) juga melakukan transaksi di pelabuhan-pelabuhan seperti Singapoera, Malaka dan Kota Radja (kini Banda Atjeh) dari sisi timur Sumatra, sedangkan dari sisi barat Sumatra juga melakukan yang sama di pelabuhan Telok Betong, Bencoelen, Padang, Pariaman, Baros, Singkel dan Meaulaboh (dan Kota Radja). Pelabuhan-pelabuhan ini juga menjadi semacam pelabuhan ‘embarkasi’ jamaah haji.

Pengaruh Belanda yang telah memudar di India (khususnya Coromandel dan Malabar) dan semakin meluasnya pengaruh Inggris di Timur Tengah menjadi faktor penting mengapa kapal-kapal dagang Inggris sebagai moda transportasi haji Nusantara. Pelabuhan Colombo di bawah Inggris menjadi pelabuhan transit.

Setelah berakhirnya VOC (1799) dan digantikan Pemerintah Hindia Belanda, belum sepenuhnya Belanda tertarik dengan bisnis pelayaran haji. Kapal-kapal Inggris masih leluasa. Embarkasi perjalanan haji berada di kampong Loear Batang (Batavia). Pemerintah Hindia Belanda yang beribukota di Batavia, lambat laun mulai melirik haji, namun tidak dalam urusan memfasilitasi tetapi lebih melihat jamaah haji yang terus meningkat dari waktu ke waktu hanya karena melihat potensi pajaknya. Kegiatan perjalanan haji (moda pelayaran) dibiarkan melalui mekanisme pasar, namun potensi pajaknya Pemerintah Hindia Belanda mulai mengendus ‘fulus’.

Pemerintah Hindia Belanda pada dasarnya adalah penganut paham liberal. Para misionaris dan organisasi-organisasi misionaris Kristen yang terus menerus mempengaruhi pemerintah tetapi Pemerintah Hindia Belanda tidak menggubrisnya. Pada tahun 1860-an paham liberal ini masih terdengar dimana-mana. Pejabat-pejabat Belanda di lapangan (di tingkat Controleur dan Asisten Residen) sering mengemukakan ‘baik Islam, Kristen maupun pagan, sama pentingnya, yang diutamakan adalah penduduk yang bersedia untuk membangun jalan dan jembatan (baca: kerjasama ekonomi). Pemerintah Hindia Belanda, seperti era VOC, tetapi mementingkan motif ekonomi (keuntungan).

Sejak 1830an Pemerintah Hindia Belanda mulai terlibat dalam pemberangkatan haji. Namun masih sebatas pengaturan, tetapi kapal-kapal yang digunakan masih menggunakan kapal-kapal Inggris (yang lalu lalang antara Jazirah Arab dan Singapoera). Tentu saja kapal-kapal Belanda tidak efisien untuk mengangkut hadji, karena kapal-kapal jarak jauh Belanda hanya Hindia Belanda dan Belanda (masih melalui Afrika Selatan). Sehubungan dengan pebukaan Terusan Suez sejak 1869, kapal-kapal Belanda mulai memaksimalkan potensi ‘fulus’ pejalanan haji Hindia Belanda ke Jeddah tersebut.

Dalam dokumen-dokumen Hindia Belanda para haji dari berbagai pulau di Hindia Belanda dikelompokkan sesuai asal agar lebih mudah. Semacam kloter meski berada di dalam satu kapal. Kloter haji Hindia Belanda yang dapat diidentifikasi antara lain kloter (kafilah) yang disebut Hadji Preanger, Hadji Malang, Hadji Pasoeroean, Atjeh, Ambon dan Bugis. Kloter lainnya antara lain Hadji Painan, Hadji Sambas, Hadji Straits Settlements (semenandjoeng Malaya, termasuk pantai timur Sumatra), Hadji Mandailing en Angkola (Tapanoeli), Selajar, Banten, Pontianak, Makassar, Lampung, Pekalongan, Batjan, Tjianjur, Banjarmasin, Baros, Palembang, Pidie, Bengkoelen, Ternate, Martapura, Banda, Idie, Mandar, Soekopoera (Garoet dan sekitarnya). Dalam daftar ini belum ada kloter Hadji Sasak atau Lombok. Boleh jadi jamaah haji dari Sasak tergabung dengan Selajar, Makassar, Bugis atau Mandar.

Jumlah jaaah haji dari tahun ke tahun terus meningkat. Oleh karena itu kapal yang mengangkut jamaah haji dari waktu ke waktu juga makin besar. Namun dalam pengaturan dan pemberangkatan jamaan haji ini Pemerintah Hindia Belanda hanya sebatas administratif dan penyediaan kapal, Untuk urusan dari Jeddah ke Mekkah dilakukan sendiri-sendiri oleh kloternya. Konsul Pemerintah Hindia Belanda yang berada di Jeddah hanya sebatas pemantauan. Oleh karena urusan perjalanan dari Jeddah ke Mekkah dan selama pelaksanaan haji kurang mendapat perhatian Pemerintah Hindia Belanda. Bahwa berapa orang yang meninggal karena sakit atau tidak kembali karena kehabisan atau kehilangan uang banyak yang bermukim di Arab.

Pada tahun 1902 seorang haji asal padang Sidempoean di kota Padang Saleh Harahap gelar Dja Endar Moeda berinisiatif untuk menyusun panduan (pedoman) perjalanan haji. Pedoman ini lalu dibuat secara rinci dan lengkap, lalu kemudian dipublikasikan di surat kabat. Pedoman ini kemudian diajukan oleh penulisnya kepada Pemerintah Hindia Belanda agar diterbitkan secara massif dan diberikan kepada semua calon jamah haji di Hindia Belanda. Kementerian Pendidikan, Budaya dan Agama lalu mengadopsinya tahun 1903. Pedoman perjalanan haji ini kemudian dikirim pemerintah pusat ke berbagai Controleur atau Asisten Residen untuk dibagikan kepada calon jamaah haji yang telah terregister. Isi pedoman buku haji ini termasuk persiapan selagi masih di kampong masing, selama di pelayaran, selama perjalanan dari Jeddah ke Mekkah dan cara-cara menyelesaiakan rukun haji di Kabah.

Beberapa embarkasi perjalanan haji berada di Batavia, Soerabaja, Makassar dan Padang. Jemaah haji asal pulau Lombok ke Soerabaja sedangkan jemaah haji asal pulau Soebawa ke Makassar. Hal ini sesuai dengan pembagian wilayah saat itu yang mana Residentie Bali en Lombok berorientasi ke Soerabaja dan Residentie Zuid Celebes meliputi pulau Soembawa. Penyelenggaraan haji terus ditingkatkan hingga berakhirnya era kolonial Belanda (1941).

Pada era pendudukan militer Jepang (1942-1945) tidak ditemukan berita atau dokumen tentang penyelenggaraan haji. Tampaknya pemerintah pendudukan militer Jepang tidak terlalu peduli urusan seperti itu. Setelah takluknya Jepang kepada Sekutu, para pemimpin Indonesia memproklamasikan kemerdekaan Indoensia pada tanggal 17 Agustus 1945. Pada awal kemerdekaan Indonesia, belum sempat memikirkan soal perjalanan haji, Belanda (NICA) telah kembali menduduki Indonesia. Pemerintah NICA memasuki pulau Lombok pada bulan Maret 1946.

Setahun setelah cabang pemerintahan NICA-Belanda di Lombok, penyelenggaraan perjalanan haji ke Mekkah dimulai lagi. Tahun 1947 adalah awal penyelenggaraan haji setelah lama vakum. Embarkasi pemberangkatan berada di tiga pelabuhan: Makassar, Tandjoeng Priok dan Ampenan. Pada tanggal 16 dan 17 September 1947 jamaah haji ke Mekkah asal Lombok diberangkatkan ke Jeddah melalui pelabuhan Ampenan (lihat Nieuwe courant, 23-09-1947). Disebutkan jumlahnya sebanyak 1.100 jamaah. Jumlah jamaah haji asal Lombok tercatat sebagai yang terbanyak. Ada dua kapal besar yang mengangkut jamaah dari pelabuhan Ampenan, yakni kapal ss Phrontis dan kapal ss Ocean.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2021 ADWORSDGOOGLE.SITE

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang