Sejarah Lombok (22): Sejarah Cakranegara; Tempo Doeloe Menjadi Pusat Kerajaan Bali Selaparang, Kini Hanya Menjadi Kecamatan

shape image

Sejarah Lombok (22): Sejarah Cakranegara; Tempo Doeloe Menjadi Pusat Kerajaan Bali Selaparang, Kini Hanya Menjadi Kecamatan

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Lombok pada blog ini Klik Disini

Cakranegara dalam masa ini hanya dicermati sebagai suatu kecamatan pada Kota Mataram. Awalnya hanya terdapat 2 kota yg berdekatan yakni (pelabuhan) Ampenan

Lantas bagaimana sejarah kota Tjakranegara sendiri sebelum menjadi sebuah kecamatan di Kota Mataram? Yang jelas jika kita dari pusat kota Mataram menuju Selong, pusat kecamatan Cakranegara akan dilewati. Lanskap kecamatan ini tampak berbeda dengan pusat kota Mataram maupun pelabuhan Ampenan. Apa perbedaannya? Perbedaan inilah yang menjadi penting untuk mengetahui sejarah (kecamatan) Cakranegara. Untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Munculnya Kota Tjakranegara

Hingga tahun 1839, tidak ada orang yang tahu apa dan bagaimana di pedalaman pulau Lombok. Bahkan nama Tjakranegara sekalipun tidak dikenal. Nama Tjakranegara hanya dikenal sebagai nama (gelar) di (pulau) Jawa. Orang asing (termasuk pedagang-pedagang Belanda) hanya berada di pelabuhan Ampenan dan pelabuhan Tandjoeng Karang. Penguasa di Mataram sangat membatasi orang asing masuk ke pedalaman. Lalu tiba-tiba merebak perseteruan antara kerajaan Karangasem (dengan pelabuhan di Tandjoeng Karang) dan kerajaan Mataram (dengan di pelabuhan Ampenan). Pada tahun 1838 tersiar berita Radja Mataram tewas, tetapi kerajaan Karangasem kalah. Radja Karangasem membunuh semua keluarganya dan termasuk dirinya ke dalam api yang menyala.

Nederlandsche staatscourant, 11-01-1839: ‘Permusuhan di pulau Lombok telah berakhir antara Radja Karang Assam dan Goestie Mataram. Goestie terbunuh tetapi pasukannya menang. Lalu Radja Karang Assam membakar bentengnya dimana istri-istrinya dibakar, anak-anaknya dan semua pengikutnya, lalu dia sendiri melemparkan dirinya ke tengah-tengah bara api dan mati’.

Setelah tiadanya Radja Mataram dan Radja Karangasem di Lombok, pasca perang sudara, lalu di Lombok sepi sendiri, dalam arti tidak ada orang asing yang mengetahuinya. Baru delapan tahun kemudian muncul berita yang tidak terduga. Pangeran Mataram (Bali Selaparang) mengirim kapal dengan pasukan di dalamnya turut membantu ekspedisi militer Pemerintah Hindia Belanda tahun 1846 untuk melawan pangeran Boeleleng yang dibantu Radja Karangasem Bali (lihat Javasche courant, 07-07-1846).

Orang-orang Belanda kaget, tanpa ada permintaan dari Pemerintah Hindia Belanda, pangeran Bali Selaparang (Mataram) mengirim bantuan ke Boeleleng. Namun tentu saja pejabat dan komandan militer Pemerintah Hindia Belanda cepat paham. Pangeran Bali Selaparang telah menjadi penguasa tunggal di pulau Lombok. Kerajaan Karangasem di Lombok sudah hancur pada tahun 1838. Pengiriman pasukan ke Boeleleng dari Bali Selaparang menjadi sinyal kepada kerajaan Karangasem di Bali. Kapal cepat yang membawa pasukan dari Ampenan ke Boeleleng juga menjadi cara pangeran Bali Selaparang untuk menunjukkan kepada raja-raja di Bali, terutama kerajaan Karangasem bahwa kerajaan Bali Selaparang sudah makmur dan memiliki armada di laut. Catatan: penduduk Bali dan juga penduduk Lombok bukan pelaut, bahkan untuk konsumsi ikan laut masih sangat tergantung dari orang asing seperti Bugis dan Mandar.

Pasca Perang Boeleleng (1846) Pemerintah Hindia Belanda menugaskan seorang Jerman Heinrich Zollinger untuk melakukan ekspedisi ilmiah ke (pedalaman) Lombok pada tahun 1847. Dari laporan Zollinger inilah segala sesuatu tentang ‘jeroan’ pulau Lombok diketahui. Laporan ini dimuat pada jurnal Tijdschrift voor Neerland's Indie edisi September 1847. Dari isi laporan ini juga terbaca ada indikasi pengaruh GP King di Lombok yang memiliki hubungan erat dengan pangeran Mataram (Radja Bali Separang saat ini). Peran GP King dihubungkan dengan meletusnya perang saudara di Lombok pada tahun 1838 dan kepemilikan kapal fregat milik Radja Bali Selaparang dalam Perang Boeleleng.

GP King adalah seorang pedagang Inggris yang mengalihkan wilayah perdagangannya dari pantai barat Sumatra ke pantai timur pulau Jawa (Banjoewangi dan Bali). GP King diketahui sudah berada di Bali pada tahun paling tidak tahun 1834 (lihat Javasche courant, 23-07-1834). Pada tahun 1837 GP King diketahui sudah merapat dan membuka usaha di pelabuhan Ampenan (lihat Javasche courant, 30-09-1837). Saat Heinrich Zollinger ke Lombok pada tahun 1847, GP King seakan menjadi juru bicara dan sekaligus menteri luar negeri kerajaan Bali Selaparang.

Banyak hal yang membuat Heinrich Zollinger bingung. Semua peta yang dimiliki Zollinger tentang pedalaman Lombok tidak satu pun yang akurat. Peta-peta tampaknya dibangun dari asumsi berdasarkan keterangan orang-orang di pantai. Zollinger ingin memperbaiki semuanya bahkan Zollinger rela untuk mendaki gunung Rindjani untuk membuktikan gambaran dalam peta tentang danau Sagara. Ini mengindikasikan bahwa selama ini tidak ada orang asing yang pernah memasuki pedalaman Lombok. Satu penelusuran nama Selaparang, Zollinger meyakini Radja Mataram telah menambahkan nama Selaparang pada judul kerajaannya: Bali Selaparang.

Menurut Heinrich Zollinger Selaparang adalah kerajaan Selaparang yang menjadi ibu kota Tanah Sasak. Pendapat Heinrich Zollinger sesuai dengan identifikasi kraton Selaparang pada Peta 1720. Heinrich Zollinger menjadi lebih bingung lagi, karena kernyataannya penduduk Sasak tidak mengenal Lombok sebagai nama pulau, kecuali nama suatu tempat di timur pulau. Pendduduk asli hanya memahami Tanah Sasak. Heinrich Zollinger berkeyakinan bahwa nama pulau disebut Lombok adalah pemberian orang asing yang merujuk pada naa kampong Lombok di teluk pantai timur.

Soal nama kerajaan Bali Selaparang, Heinrich Zollinger menulis bahwa orang Bali telah menaklukkan dan menghancurkan kerajaan Selaparang dan pemimpin mereka (orang Bali) kemudian memberi diri mereka nama kemenangan mereka (menjadi Bali Selaparang) yang kemudian menetapkan ibu kota di Mataram. Kota ini dikelilingi oleh pagar bambu tebal, ada empat pintu masuk atau gerbang utama yang ditutup pada malam hari.

Jalan dari empat pintu gerbang semua berteua di sudut kanan yang mebentuk dua jalan utama yang berpotongan tepat di tengah kota, yang berada diantara dua istana radja. Kedua istana yang ini dibangun dari pasangan bata dan tidak ada yang istimewa atau mengesankan dari luar. Rumah-rumah lain dipisahkan dalam pagar-pagar besar dengan dinding terbuat dari tanah. Rumah-rumah dibangun dari bahan yang sama dan menyerupai orang-orang di pulau Bali. Semua rumah-rumah itu ditutupi dengan atap (terbuat dari daun pohon palem). Menurut Heinrich Zollinger hampir semua penduduk (kota) Mataram adalah orang Bali.

Menurut Heinrich Zollinger pada awalnya ada empat kerajaan. Selain yang beribukota di Mataram, tiga yang lainnya ber ibu kota di Karangasem (di sebelah timur Mataram), di Pagasangan (selatan Mataram) dan di Pagoetan (terjauh dari Mataram). Dalam perang terakhir (1838, red) tiga ibu kota ini telah hancur dan hanya tinggal satu kerajaan yang beribukota di Mataram. Jalan dari (pelabuhan) Ampenan ke Mataram (3.5 pal) dan hingga Karangasem (5 pal dari Ampenan) sangat baik, dapat dilalui dengan kereta kuda karena di atas sungai-sungai dibangun jembatan.

Berdasarkan laporan Heinrich Zollinger (1847) tidak ada menyebut nama Tjakranegara. Itu berarti mengindikasikan bahwa nama tempat Tjakranegara belum ada. Gambaran yang dinyatakan oleh Heinrich Zollinger hanyalah tentang (ibu kota) eks kerajaan Karangasem.

Mataram dan Tjakranegara (Peta 1894)
Tampaknya GP King masih harus bekerja keras di (kerajaan) Bali Selaparang. Kerajaan Karangasem sudah lama tiada dan hanya tinggal kerajaan Bali Selaparang. Semua sumberdaya di (pulau) Lombok yang meliputi lahan yang subur dan populasi (Sasak) yang banyak hanya tertuju kepada kemaharajaan kerajaan Bali Selaparang yang beribukota di Mataram. GP King ingin lebih nyaman di Mataram (sementara) bisnisnya berpusat di Ampenan. Pangeran mahkota adalah satu pikiran dengannya. GP King tampaknya ingin memindahkan radja Mataram ke luar kota Mataram. Satu tempat yang ideal untuk tempat radja adalah eks kerajaan Karangase dijadikan tempat untuk membangun puri baru buat radja (tua) dan pangeran mahkota tetap bersamanya di kota Mataram. Peran GP King terus bertambah tidak hanya juru bicara dan menteri luar negeri juga merangkap menteri di bidang lain: ekonomi dan bisnis, perencanaan pembangunan dan sebagainya seperti penasehat pertahanan dan keamanan.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kota Tjakranegara Hancur Tahun 1895

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang