Sejarah Lombok (18): Sejarah Pertanian di Lombok, Tanah Sasak Nan Subur di Tengah Pulau; Bagai 'Ayam Mati di Lumbung Padi'

shape image

Sejarah Lombok (18): Sejarah Pertanian di Lombok, Tanah Sasak Nan Subur di Tengah Pulau; Bagai 'Ayam Mati di Lumbung Padi'

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Lombok dalam blog ini Klik Disini

Sejarah Lombok tidak hanya sejarah kerajaan-kerajaan

Kearifan lokal juga turut melestarikan pertanian di pulau Lombok. Kebiasaan menyimpan hasil panen di lumbung, ketika terjadi letusan gunung Tambora tahun 1815, memang korban langsung tidak banyak (seperti di Sumbawa) tetapi pertanian yang lumpuh hampir enam tahun di Lombok, lumbung telah berkontribusi meminimalkan kematian dari bahaya kelaparan. Setelah humus letusan gunung Tambora selama enam tahun menjadi pupuk, pertanian Lombok bangkit kembali (hingga sekarang). Untuk menyiasati iklim, daerah-daerah yang rentan musim kemarau, penduduk meningkatkan ketersediaan air dengan membangun embung. Lumbung dan embung adalah istrumen survive penduduk Lombok yang pernah mengalami stagnasi pertanian selama enam tahun tempo doeloe. Lumbung dan embung adalah suatu kearifan lokal penduduk Lombok dari hasil belajar dari kesulitan yang pernah ditimbulkan oleh alam.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Pertanian di Lombok dan Letusan Gunung Tambora

Satu perahu penduduk asli dari Bali Selaparang membawa 250 picol beras, 13 picol kulit kerbau, 40 picol kacang, satu picol kulit rusa, 15 picol sirip ikan, 14 picol ikan kering, 1 picol ikan merah, dan 2450 st. kerang (lihat Javasche courant, 24-12-1845). Inilah salah satu gambaran produk yang diekspor (dari pelabuhan Ampenan, Lombok) ke Batavia. Dua produk pertanian dari pulau Lombok adalah beras dan kacang (tanah). Ini mengindikasikan bahwa pulau Lombok surplus beras.

Pada tahun 1847 Heinrich Zollinger kali pertama melihat suburnya Tanah Sasak di Lombok, melihat sawah-sawah begitu luas dan memiliki pengairan yang teratur di pedalaman Lombok. Dia membayangkan penduduk Sasak sangatlah makmur. Ini ibarat seorang anak kota berkunjung ke pedesaan melihat padi menguning bakal pemiliknya akan segera memiliki uang banyak. Tapi si anak tidak begitu paham arti ijon di pedesaan. Persepsi Heinrich Zollinger mulai berbeda dengan kesuburan Tanah Sasak ketika ia banyak melakukan investigasi dari satu desa ke desa lainnya. Para petani memiliki banyak beban: pajak tanah, pemotongan harga jual hasil dan upeti-upeti lainnya kepada radja di Mataram. Kesuburan tanah tidak berbanding lurus dengan kemakmuran penduduk.

Lantas mengapa setiap penduduk membuat lumbung? Ini sepintas mengesankan bahwa penduduk memiliki kelebihan beras. Ini tentu berbanding terbalik dengan pengamatan Heinrich Zollinger bahwa pengusahaan sawah sepanjang tahun (dua kali setahun) karena pengairan yang cukup tersedia yang didukung oleh danau Sagara di musim kemarau. Jika perdagangan ekspor beras terjadi hingga jauh ke Batavia dari tanah yang subur dan berpengairan yang baik sepanjang tahun, lalu mengapa penduduk yang bertani (pemilik dan penggarap) membangun lumbung. Apakah ini suatu strategi adaptasi penduduk untuk survive? Besar dugaan adanya lumbung-lumbung penduduk bukan lambang kemakmuran tetapi untuk kebutuhan untuk berjaga-jaga (dari bahaya kelaparan).

Menurut Heinrich Zollinger penduduk Sasak di pulau Lombok sangat menderita ketika terjadi bencana gunung Tambora meletus pada tahun 1815. Selama enam tahun pasca bencana tanah tidak bisa ditanami.Produksi pertanian mati total. Tidak ada yang membantu saat kekurangan pangan. Kematian penduduk terdapat dimana-mana dari kelaparan. Menurut Heinrich Zollinger jika tidak ada lumbung, penduduk Sasak akan lebih banyak lagi yang akan menemui kematian. Lumbung menjadi sarana bertahan hidup dan prasarana untuk menghambat laju mortalitas.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Di Tanah Subur Juga Terjadi Kesulitan Hidup, Bagaikan Anak Ayam Mati di Lumbung Padi

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Jasa Whatsapp Blast | Adwordsgoogle.site

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang
close
Jual Software Whatsapp Bulk Sender Blaster Anti Banned