Sejarah Lombok (17): Sejarah Taliwang Tempo Doeloe di Sumbawa Barat; Selat Alas, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa

shape image

Sejarah Lombok (17): Sejarah Taliwang Tempo Doeloe di Sumbawa Barat; Selat Alas, Pulau Lombok dan Pulau Sumbawa

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Lombok dalam blog ini Klik Disini

Taliwang dalam masa ini adalah mak kota kabupaten Sumbawa Barat (kabupaten pemekaran dari kabupaten Sumbawa). Nama Taliwang menjadi penting lantaran dijadikan nama ibu kota kabupaten. Dalam interaksi inilah, sejarah Taliwang tempo doeloe diharapkan perhatian. Namun nama (kerajaan) Taliwang nir sehebat kerajaan-kerajaan lainnya dalam pulau Sumbawa (Bima, Dompu, Sumbawa & Tambora). Kerajaan Taliwang masuk dalam kategori kerajaan-kerajaan mini misalnya Sanggar, Sape & Pekat.

Nama Sumbawa & nama Alas tentulah sangat penting pada masa lampau. Nama Sumbawa telah diidentifikasi sebagai nama pulau & nama Alas diidentifikasi sebagai nama selat. Selat Alas merupakan perairan yg memisahkan pulau Lombok

Kerajaan Taliwang adalah salah satu vassal dari kerajaan Soembawa. Sebagai kerajaan kecil, namanya baru muncul belakangan. Nama Taliwang baru dicatat ketika VOC mulai membina perdagangan di pantai barat pulau Sumbawa (lihat Verhandelingen van het Bataviaasch genootschap, der konsten en weetenschappen, 1786). Okelah, untuk menambah pengetahuan dan meningkatkan wawasan sejarah nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Peta 1675
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Alas dan Taliwang

Deskripsi (pulau) Sumbawa dapat dibaca pada Verhandelingen van het Bataviaasch genootschap, der konsten en weetenschappen edisi tahun 1786. Disebutkan di (pulau) Sumbauwa terdapat enam Raja yang independen, yaitu: Bima. Sumbauwa, Dompo, Tambora,  Sanggar dan Papekat. Kerajaan Sombawa terbilang kuat, mereka memiliki benteng yang tebal dindingnya enam kaki. Disebutkan, orang pemberani di pulau Soembawa selain Soembawa adalah Tambora, Satu-satunya yang mereka waspadai adalah Bali yang 50 tahun sebelumnya merebut Selaparang (Lombok), Pedagangan Soembawa awalnya ke Selaparang semasih berkuasa (di Lombok). Pemerintah VOC pada tahun 1684 pernah menempatkan setingkat residen di Bali (sekarang residen hanya di Bima).

Verhandelingen van het Bataviaasch, 1786.
Nama-nama kerajaan ini sudah sejak lama dicatat di dalam catatan harian kasteel Batavia (Daghregister). Yang kali pertama dicatat adalah kerajaan Bima, kemudian menyusul kerajaan Dompu, Tambora dan kemudian kerajaan Soembawa. Kerajaan-kerajaan Sanggar dan Pekat menyusul kemudian. Urutan ini mengindikasikan urutan kepentingan perdagangan bagi pemerintah VOC. Dua orang Moor memainkan peran penting terhubungnya kerajaan-kerajaan ini dengan pemerintah VOC. Kedua Moor tersebut adalah Codja Roeboe dan Codja Derwis.

Pemerintah VOC kurang intens di pantai barat pulau Soebawa, karena jauhnya jangkauan residen yang berada di Bima. Di wilayah ini pedagang-pedagang Inggris lalu lalang. Sebelumnya pedagang-pedagang VOC juga mencakup Allas, Taliwang dan Oetang. Semasih Selaparang berkuasa, masih mengirimkan barang dagangan ke Batavia (kayu cendana). Namun setelah terjadi penaklukkan Bali terhadap Selaparang, arus perdagangan tidak ada lagi. Tampaknya VOC menghindar dari pantai barat pulau Soembawa karena menghindari gesekan dengan Inggris.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Kerajaan Taliwang (Sumbawa) dan Laboehan Hadji (Lombok)

Pada awalnya pulau Soembawa menjadi bagian dari Residentie Zuid Celebes. Setelah terjadi bencana letusan gunung Tambora tahun 1815, ekonomi perdagangan jatuh. Situasi dan kondisi yang kurang menguntungkan di pulau Soembawa dan jarak yang lebih jauh ke Sulawesi, maka wilayah pulau Soembawa disatukan dengan pulau-pulau lain yang berdekatan ke dalam satu residentie, Province Celebes en Onderhoorigheden: Residentie Timor en Onderhoorigheden. Pulau Soembawa menjadi satu afdeeeling yang mana terdiri dari tiga onderafdeeeling: Bima, Soembawa dan Taliwang.

Sejak terbentuknnya pemerintahan di Bali, mulai muncul inisiatif Soeltan Bima untuk bergabung dalam satu administrasi wilayah dengan Pemerintah Hindia Belanda. Ini bermula pasca Perang Lombok (1895), yang mana di Residentie Bali en Lombok, pulau Lombok dipisahkan dari Bali (Karangasem) sebagai satu afdeeeling sendiri yang membentuk onderfadeeeling Oost Lombok dan Wesr Lombok namun kemudian ditambahkan dengan membentuk onderafdeeeling Midden Lombok. Setelah terjadi Perang Badoeng (1906) dan Perang Kolongkong (1908) dibentuk afdeeeling Zuid Bali dengan ibu kota Denpasar. Dengan demikian seluruh Residentie Bali en Lombok sudah terbentuk cabang pemerintahan. Sebelumnya muncul inisiatif  Soeltan Bima untuk bergabung dengan Pemerintah Hindia Belanda. Namun district Ngali menolak bergabung pada bulan Oktober 1907. Sementara penduduk district Taliwang ingin membentuk pemerintahan sendiri. Atas persetujuan Soeltan Bima, gouverneur van Celebes en Onderhoorigheden pada bulan Februari 1908 mengirim satu pasukan terdiri dari militer dan polisi ke Ngali dan kemudian ke Taliwang (18 Maret 1908). Perlawanan di district Djarewe baru berakhir pada tanggal 14 April yang dengan demikian seluruh keamanan di pulau Soembawa berhasil dipulihkan pada tangga 8 Mei. Dalam hal ini Perang Kloengkong (di Bali) bersamaan dengan Perang Taliwang (dua perang terakhir di Bali dan Soembawa). Itulah mengapa afdeeling Soembawa terbagi ke dalam tiga onderafdeeeling: Bima, Soembawa dan Taliwang.

Lantas mengapa tiga nama tersebut yang dinominasikan menjadi nama tiga onderafdeeeling di pulau Soembawa? Banyak faktor dan sejarah perjalanannya cukup panjang. Kerajaan Bima sejak kehadiran VOC terus eksis hingga Pemerintah Hindia Belanda. Kerajaan Bima di mata Pemerintah Hindia Belanda di pulau Soebawa sebagai primus inter pares (sebagaimana bahasa Melayu sebagai lingua franca. Kerajaan Soembawa setelah bencana letusan gunung Tambora tahun 1815 tampaknya lebih cepat pulih daripada kerajaan Dompu (kedua kerajaan ini sama-sama menanggung bencana yang relatif sama dari dampak Tambora.

Kabupaten Sumbawa dan Kabupaten Bima (Now)
Menurut Heinrich Zollinger yang pernah berkunjung ke pulau Soebawa pada tahun 1847, jarak 32 tahun setelah bencana 1815, kerajaan Tambora dan kerajaan Pekat yang paling dekat dengan situs gunung Tambora tampaknya tidak bangkit lagi (tidak kondusif untuk pemukiman dan pertanian). Kerajaan-kerajaan lain tetangganya mengklaim dua wilayah eks kerajaan kecil (Tambora dan Pekat). Kerajaan Sanggar coba mengklaim wilaya eks kerajaan Tambora, tetapi menurut Zollinger, kerajaan Soembawa juga mengklaim wilayah kerajaan Pekat dan Tambora. Tentu saja kerajaan Dompu lambat laun bangkit lagi. Sebagaimana pada masa ini, pulau Soembawa terdiri dari tiga kabupaten (Bima, Sumbawa dan Dompu) yang kemudian kabupaten Sumbawa dimekarkan dengan membentuk kabupaten Sumbawa Barat.

Jauh sebelum terjadi perlawanan kerajaan Taliwang Terhadap inisiatif Radja Bima agar pulau Soembawa bergabung dengan Pemerintah Hindia Belanda, gerakan perlawanan penduduk Sasak di Lombok berujung pada terjadinya Perang Lombok (antara Pemerintah Hindia Belanda dengan kerajaan Bali-Selaparang) pada tahun 1895. Pasca perang ini wilayah Lombok (Residentie Bali en Lombok) dipisahkan dari (pulau) Bali dengan membentuk afdeeeling sendiri di Lombok yang terdiri dari onderfadeeeling West Lombok (ibu kota di Mataram) dan onderafdeeeling Oost Lombok (ibu kota di Laboehan Hadji).

Pada awal era VOC sesungguhnya sudah tercapai kemakmuran di pulau Lombok (kerajaan Selaparang, di sekitar Pringgabaya yang sekarang).. Kerajaan Soembawa bahkan berkiblat ke kerajaan Selaparang. Namun situasi berubah, kerajaan Karangasem Bali menganeksasi kerajaan Selaparang (pulau Lombok) pada tahun 1740. Kerajaan Selaparang tamat dan muncul bentuk kerajaan baru yang disebut kerajaan Bali Selaparang yang ber ibu kota di Mataram (vassal dari kerajaan Karangasem). Kerajaan Soembawa sambil membentengi diri dari kemungkinan serangan dari Bali-Selaparang, orientasi perdagangannya bergeser ke arah timur (pelabuhan Bima). Pergeseran ini menyebabkan kerajaan Bima (dimana VOC telah membangun pos perdagangan) berada di atas angin. Lalu kemudian muncullah bencana baru meletusnya gunung Tambora pada tahun 1815.

Kerajaan Bima lebih cooperative dengan Pemerintah Hindia Belanda. Tidak demikian halnya dengan kerajaan Karangasem (Bali) yang bersaudara dengan kerajaan Boeleleng. Akumulasi perseteruan Bali dengan Pemerintah Hindia Belanda mulai terbuka pada tahun 1846. Kerajaan Boeleleng (yang juga telah menginvasi kerajaan Djembrana) yang didukung kerajaan Karangasem Bali mulai dihukum oleh Pemerintah Hindia Belanda, tidak hanya soal pelanggaran perjanjian damai antara kedua belah pihak juga soal Tawang Karam. Ultiatum yang tidak digubris Boeleleng akhirnya Pemerintah Hindia Belanda mengirim ekspedisi militer ke Bali (Boeleleng) pada tahun 1846. Anehnya kerajaan Bali Selaparang turut membantu Pemerintah Hindia Belanda (dan juga persetujuan kerajaan-kerajaan Bali lainnya seperti Kloengkong, Gianjar dan Badong). Lantas mengapa Bali Selaparang juga turut menghukum Boeleleng (plus Karangase Bali)? Itu bermula pada tahun 1838. Terjadi perang saudara di Lombok antara kerajaan Karangasem Lombok (yang terhubung dengan kerajaan Karangase Bali) dengan kerajaan Bali Selaparang (Mataram). Kerajaan Karangasem Lombok berhasil dihancurkan kerajaan Bali Selaparang. Sejak itu kerajaan Bali Selaparang menjadi kerajaan tunggal di Lombok. Atas dasar inilah diduga kerajaan Bali Selaparang di Lombok berpartisipasi dalam menghukum kerajaan Boeleleng (yang didukung kerajaan Karangasem Bali).

Sejak terjadinya Perang Bali 1846, seorang Eropa-Jerman yang bekerja untuk Peerintah Hindia Belanda, Heinrich Zollinger melakukan ekspedisi ilmiah ke (pulau) Lombok dan pulau Soembawa. Laporan-laporan Zollinger telah menambah pengetahuan Peerintah Hindia Belanda tentang kedua pulau tersebut (juga pulau Bali). Satu hal yang penting dalam laporan Zollinger di Lombok karena kehadiran seorang pedagang Inggris bernaa CP King (orang yang dianggap turut berperan dalam menghancurkan kerajaan Karangase Lombok oleh kerajaan Bali Selaparang di Mataram. Sejak kehadiran King inilah pantai barat pulau Soembawa para pedagang-pedagang Inggris lalu lalang. Kerajaan-kerajaan kecil di pantai barat Soembawa mulai intens terhubung dengan pelabuhan Laboehan Hadji (Lombok) yang lagi naik daun. Penduduk Sasak di Lombok yang beragama Islam mulai terhubung dengan penduduk di pulau Soembawa (yang umumnya beragama Islam). Lalu terjadilah riak-riak kebencian penduduk Sasak terhadap kerajaan Bali Selaparang yang berujung pada munculnya pemberontakan. Para pemimpin penduduk Sasak meminta intervensi Pemerintah Hindia Belanda di Lombok. Gayung bersambut. Seperti halnya Boeleleng, kerajaan Bali Selaparang dianggap telah melanggar perjanjian tahun 1846 (termasuk pembentukan Residentie Bali en Lombok) dan tentu saja, meski tidak dinyatakan, kehadiran orang-orang Inggris di perairan seputar Lombok, khususnya GP King di Mataram dianggap telah menggangu otoritas Pemerintah Hindia Belanda. Akhirnya terjadi Perang Lombok pada tahun 1894 yang berakhir pada November 1895 (setelah kerajaan Bali Selaparang hancur). Pada tahun 1895 boleh dikatakan awal kemerdeakaan penduduk Sasak di Lombok sejak 1740.

Inisiatif Radja Bima agar semua kerajaan di pulau Soembawa bergabung dengan Pemerintah Hindia Belanda di satu sisi ada benarnya (memperhatikan situasi dan kondisi politik kawasan Bali, Lombok dan Soembawa), tetapi di sisi lain tidak semua kerajaan dapat menerimanya. Lalu muncul perlawanan di Taliwang. Atas restu Radja Bima, pemerintah Hindia Belanda di Makassar dikirim satu ekspedisi ke pantai barat pulau Soebawa (Taliwang).

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang