Sejarah Bogor (58): Kampong Tanah Sareal Kini Jadi Nama Kecamatan; Diakuisisi oleh Pemerintah untuk Bangun Jalan Jembatan - JagoMarketing | Jasa Whatsapp Blast

Sejarah Bogor (58): Kampong Tanah Sareal Kini Jadi Nama Kecamatan; Diakuisisi oleh Pemerintah untuk Bangun Jalan Jembatan

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Nama Tanah Sareal tidak hanya pada Bogor tetapi jua di Jakarta. Nama kampong Tanah Sareal tempo doeloe di Buitenzorg sekarang dijadikan nama kecamatan di Kota Bogor. Sementara nama kampong Tanah Sareal tempo doeloe dalam Batavia kini sebagai nama kelurahan pada kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Kecamatan Tanah Sareal (yg sekarang masuk Kota Bogor) awalnya dibuat menurut pemekaran kecamatan Kedung Halang (Kabupaten Bogor).

Kampong Tanah Sareal, Buitenzorg (Peta 1900)
Pada masa ini Kecamatan Tanah Sareal terdiri dari 11 kelurahan, yaitu: Cibadak,    Kayu Manis, Kebon Pedes, Kedung Badak, Kedung Jaya, Kedung Waringin, Kencana, Mekarwangi, Sukadamai, Sukaresmi dan Tanah Sareal. Diantara nama kelurahan ini nama paling tua adalah kampong Kedong Waringin (since 1701), lalu disusul kampong Kedong Badak (since 1745) dan baru kemudian menyusul nama-nama kampong Tanah Sareal (1810) dan kampong Kebon Pedes.

Lantas apa hebatnya kampong Tanah Sareal pada Buitenzorg dibandingkan kampong Tanah Sareal dalam Batavia? Yang jelas sebagian huma berdasarkan land Kedong Badak dibeli pemerintah buat pembebasan lahan pada rangka pembangunan jalan

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Kampong Tanah Sareal

Pada tahun 1866 (laporan pemerintah) batas-batas district Buitenzorg diketahui telah diukur secara tegas (tidak diketahui sejak kapan pengukurannya). Secara garis besar berbatasan langsung dengan sungai Tjiliwong di timur dan sungai Tjisadane di selatan. Batas di sebelah utara berbatasan dengan land Kedongbadak (Perceel No. 38). Batas ini didefinisikan mulai dari sungai Tjiliwong dan sepanjang jembatan toll (tollbrug) dan sepanjang sungai Tjipakantjilan, kampong Tjiwaringin, batas kampong Paboearan dan kampong Tjelendek (ke sungai Tjisadane). Land Kedong Badak masuk ke wilayah district Paroeng (bersama land Tjilebout).

Petra 1857
Areal lahan pemerintah, antara sungai Tjiliwong, berbatasan dengan land Kedonghalang Perceel 10)) dan sungai Tjipakantjilan (berbatasan dengan land Kedongbadak dan land Tjilebout) hingga (kampong) Pilar. Pada area inilah kemudian  diketahui terdapat kampong Tanah Sareal dan kampong Kebon Pedes. Dalam hal ini tidak diketahui persis batas-batas antara kampong Tanah Sareal dengan kampong Kebon Pedes, tetapi diduga jalan dari Buitenzorg ke Tjileboet yang pada masa ini antara Air Mancur, jalan Pemuda dan jalan Kebon Pedes. Lahan pemerintah yang masuk district Buitenzorg ini dibeli oleh pemerintah pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811).

Land Kedong Badak luasnya terbilang kecil antara sungai Tjipakantjilan dengan sungai Tjiliwong serta sungai Tjileboet hingga batas tertentu sebelum landhuis Tjileboet. Dalam perkembangannya batas-batas district Buitenzorg diperluas hingga mencakup land Kedongbadak dan land Kedonghalang. Dengan demikian, land Kedong Badak dipisahkan dari district Paroeng dan dimasukkan ke district Buitenzorg (lihat Peta 1900).

Meski dua land ini dimasukkan ke district Buitenzorg, statusnya tetap sebagai tanah partikelir  seperti halnya land Bantar Pete (Perceel No. 64). Mengapa land Kedongbadak ini tidak dibeli pemerintah tempo doeloe? Hal ini karena areanya lebih sesuai dengan rural (pertanian) jika dibandingkan untuk keperluan urban. Mengapa land Kedong Badak dimasukkan ke district Buitenzorg? Alasannya karena merujuk pada land Bloeboer (mengembalikan ke batas-batas tradisional). Tidak hanya land Kedongbadak yang dimasukkan ke district Buitenzorg juga kampong Tjiwaringin dan kampong Paboeran.

Lantas kapan muncul nama (kampong) Tanah Sareal di lahan pemerintah? Apakah nama kampong Tanah Sareal sudah eksis sebelum dilakukan pembelian oleh pemerintah pada era Daendels? Tidak-belum diketahui secara pasti.

Mengapa disebut Tanah Sareal? Diduga terkait dengan ukuran uang, sareal atau sereal. Nilai uang sareal nilainya setara sekitar f2 (lihat De locomotief : Samarangsch handels- en advertentie-blad, 14-12-1866). Nama-nama kampong atau nama land selain nama ukuran uang juga dengan ukuran lainnya, seperti Tanah Doearatoes di district Bekasi. Nama Tanah Sareal uang pertama diketahui berada di Batavia, paling tidak sudah diberitakan pada tahun 1834 (lihat Javasche courant, 03-05-1834), Pada tahun 1863 wilayah kampong Tanah Sareal sudah diidenntifikasi sebagai area urban atau wijk (lihat Bataviaasch handelsblad, 20-05-1863). Nama kampong inilah kelak dijadikan nama kelurahan di kecamatan Tambora, Jakarta Barat.

Nama kampong Tanah Sareal di Buitenzorg paling tidak sudah diketahui pada tahun 1870 (lihat Java-bode: nieuws, handels- en advertentieblad voor Nederlandsch-Indie, 23-04-1870). Disebutkan bahwa diadakan perlombaan pacuan kuda se-Buitenzorg di Tanah Sareal. Dari berita ini mengindikasikan nama kampong Tanah Sareal sudah lama ada. Arena pacuan kuda ini (race) sudah barang tentu dibangun di areal tanah pemerintah.

Peta 1883
Pada tahun 1871 diketahui bahwa satu persil lahan di Tanah Sareal dijual oleh pemiliknya melalui Kantor Lelang Buitenzorg (lihat Bataviaasch handelsblad, 27-11-1871). Disebutkan persil lahan dijual dimana terdapat air mengalir dan sangat cocok untuk membangun rumah di tanah pemerintah (gouvernement ground) di kampong Tanah Sareal, hoofdplaat Buitenzorg yang memiliki nilai pajak sebesar f2.500 atau disewa dengan f25 per bulan. Dalam daftar lelang ini juga disebutkan sebuah bangunan yang terbuat dari bambu beratap gedek di tanah pemerintah di kampong Tanah Sareal dengan nilai pajak f300. Peta 1883

Tunggu deskripsi lengkapnya

Perkembangan Tanah Sareal

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

Dapatkan Info Produk Terbaru Kami

Masukan Alamat Email Kamu Disini

Gabung bersama media kami.