Sejarah Bogor (50): Bupati Kampong Baroe di Land Bloeboer, Buitenzorg; Tingkatan Gelar Para Bupati pada Era VOC-Belanda

shape image

Sejarah Bogor (50): Bupati Kampong Baroe di Land Bloeboer, Buitenzorg; Tingkatan Gelar Para Bupati pada Era VOC-Belanda

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Bupati Kampong Baroe diangkat Pemerintah VOC pada hulu sungai Tjiliwong bermula saat dibentuk perjanjian (plaacaat) 20 Juli 1687. Perjanjian ini dilakukan sehari sebelum diadakan ekspedisi ke hulu sungai Tjiliwong yang dipimpin sang Luitenant Patingi & Sergeant Pieter Scipio. Rencana pengangkatan bupati ini dilakukan sesudah adanya perjanjian VOC memakai Mataram pada penyerahan wilayah dalam barat Tjimanoek. Bupati yg pertama diakui sang Pemerintah VOC merupakan bupati Sumedang. Oleh lantaran dalam pengangkatan bupati, Pemerintah VOC berkoordinasi menggunakan bupati Sumedang. Bupati-bupati yg telah eksis diantaranya bupati Tjiandjoer dan bupati Bandoeng.

Bupati Kampong Baroe adalah bupati baru, posisi bupati (Kampong Baroe) yg dibuat sehubungan menggunakan kebijakan Pemerintah VOC buat berakibat penduduk sebagai subjek (berafiliasi dengan VOC pada memimpin penduduk sendiri). Ibu kota daerah yang dipimpin oleh bupati baru berkedudukan dalam kampong yang baru: Kampong Baroe (dekat Kampong Halang). Yang sebagai daerah (ulayat) bupati merupakan area diantara sungai Tjiliwong

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Wilayah Bupati Kampong Baroe

Pada era VOC para bupati yang memimpin wilayah masing-masing bersifat otonom. Pemerintah VOC bekerjasama (dalam bentuk placaat) dengan masing-masing bupati secara terpisah-pisah. Kerjasama dalam berbagai kontrak yang disepakati seperti penanaman kopi, lada dan sebagainya termasuk perihal perdagangannya.

Bupati Kampong Baroe, karena dekat dengan Batavia, kerap datang ke Batavia. Pelantikan bupati Kampong Baroe pada tahun 1687 di Batavia. Dengan semakin intensnya komunikasi antara pejabat VOC dengan para bupati, pada tahun 1713 Gubernur Jenderal VOC     Abraham van Riebeeck bertemu dengan bupati Tjiandjoer dan bupati Bandoeng di Tjiandjoer. Abraham van Riebeeck sendiri semasih menjadi Direktur, pada tahun 1703 telah bertemu dengan bupati Tjiandjoer di Tjiseroea. Dalam kunjungan Gubernur Jenderal pada tahun 1713 rute yang dilalui melalui Buitenzorg, Tjisaroea, Tjipanas dan Tjiandjoer. Pada tahun 1776 Gubernur Jenderal Jeremias van Riemsdijk berkunjung ke Goenoeng Parang dan bertemu dengan bupati Tjiandjoer. District Goenoeng Parang kelak menjadi Soekaboemi.

Setelah VOC dibubarkan pada tahun 1799, Kerajaan Belanda membentuk Pemerintah Hindia Belanda. Pada awal pemerintahan ini, wilayah antara sungai Tjimanoek dan sungai Tjikandie dibagi ke dalam dua province: Prepect Jakatrasche en Bobenlanden dan Prefect Chirebonsche en Bovenlanden. Pada era pendudukan Inggris (1811-1816) wilayah Jawa dibagi ke dalam 16 residentie termasuk dua diantaranya Residentie Buitenzorg dan Residentie Preanger Regerntscahppen.

Pada tahun 1823 Pemerintah Hindia Belanda menata kembali wilayah administratif pemerintahan. Wilayah kebupatian di Buitenzorg dibagi dua, bupati di wilayah lahan-lahan pemerintah dan bupati di lahan-lahan partikelir. Sementara di wilayah tanah-tanah partikelir lainnya dibentuk demangschap, yakni Djasinga, Paroeng, Tjibinong, Tjibaroesa dan Tjitrap. Peta 1818

Sejak pembagian wilayah administratif pemerintahan yang baru pada tahun 1823, bupati Kampong Baroe yang selama ini berkedudukan di Kampong Baroe direlokasi dengan membangun ibu kota baru di Empang.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Gelar Para Pejabat Pribumi

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Jasa Whatsapp Blast | Adwordsgoogle.site

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang
close
Jual Software Whatsapp Bulk Sender Blaster Anti Banned