Sejarah Bogor (48): Villa/Istana Buitenzorg, Gempa dan Letusan Gunung Salak; Kebun Raya Diperluas ke Sisi Utara S Tjiliwong

shape image

Sejarah Bogor (48): Villa/Istana Buitenzorg, Gempa dan Letusan Gunung Salak; Kebun Raya Diperluas ke Sisi Utara S Tjiliwong

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Kota Bogor yg sekarang, dalam masa lampau tidak jarang menghadapi ancaman. Pada tahun 1699 terjadi letusan gunung Salak & gempa besar . Pada tahun 1745 sebuah villa dibangun pada area sungai Tjiliwong & sungai Tjisadane. Villa ini menjadi cikal bakal Istana Bogor yang kini . Beberapa tahun sehabis villa tersebut dibangun pada tahun 1752 terjadi serangan dari Banten. Villa yang dipercaya Villa Buitenzorg terbakar & rusak (kemudian dibangun pulang).

Menurut asal lain gunung Salak pernah meletus dalam tahun 1761. Gunung Salak kembali meletus pada tahun 1780. Sementara itu gunung Gede pernah meletus kurang lebih tahun 1747

Lantas seperti apa dampak yang ditimbulkan letusan gunung Salak dan gempa yang terjadi bagi villa-istana Buitenzorg? Sudah banyak penulis yang membicarakannya. Namun kisah antara villa-istana Buitenzorg dengan letusan gunung dan gempa tetaplah menarik untuk disimak lagi karena masih banyak fakta dan data yang belum terinformasikan. Untuk menambah pengetahuan yang ada, mari kita telusuri lagi sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Gempa Bumi di Buitenzorg

Tidak semua gempa dicatat oleh Pemerintah VOC maupun Pemerintah Hindia Belanda. Dari sejumlah kejadian gempa di daerah aliran sungai Tjiliwong (Batavia dan Buitenzorg), hanya beberapa kejadian yang dicatat dalam buku Almanak.

Pada buku Almanak 1816 (era pendudukan Inggris) hanya beberapa kejadi yang dicata. Gempa bumi pertama dicatat tanggal 13 Februari 1684. Selanjutnya, terjadi gempa bumi pada 4 Januari 1699, 25 Januari 1769, 10 Mei 1772 dan pada tanggal 22 Januari 1775. Gempa bumi berikutnya yang dicatat pada tanggal 19 Maret 1805. Pada era pendudukan Inggris, tahun 1815 terjadi kembali gempa bumi beruntun, yakni: tanggal 10 April 1815 lalu keesokan harinya tanggal 11 April dan empat hari kemudian terjadi lagi tepatmya tanggal 15 April 1815.

Boleh jadi kejadian-kejadian tersebut dicatat karena telah menimbulkan dampak yang besar di Batavia dan di Buitenzorg. Dua kota ini sangat penting bagi Pemerintah VOC maupun Pemerintah Hindia Belanda (karena terdapat villa-istana Gubernur Jenderal, bangunan besar yang rentan terhadap gempa).

Pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) villa Buitenzorg diakuisi oleh pemerintah dan direnovasi untuk istana Gubernuer Jenderal Pemerintah Hindia Belanda. Pada era pendudukan Inggris (1811-1816) adakalanya Letnan Jenderal Raffles menempatinya. Pada tahun 1818 villa ini diperbesar dan dipercantik oleh Gubernur Jenderal van der Capellen.

Pada tahun 1834 terjadi gempa bumi yang terbilang gempa bumi terbesar yang pernah terjadi di (Residentie) Batavia. Gempa bumi ini tercatat telah menghancurkan Istana Buitenzorg. Padahal istana ini merupakan salah satu bangunan yang dibuat kokoh dan tahan lama karena tempat kediaman Gubernur Jenderal. Kejadian gempa yang terjadi pada tanggal 10 Oktober 1834 tersebut gempa bumi mengguncang akibat meletusnya Gunung Salak.

Javasche courant, 22-11-1834
Gempa yang berpusat di Mega Mendoeng, telah menimbulkan beberapa kawah di atas Gunung Gede. Gempa yang sangat dahsyat ini bahkan dirasakan hingga ke Lampoeng (Soematra) di sebelah barat dan Tagal di sebelah timur. Bangunan yang terbuat dari batu hancur, rumah yang terbuat dari kayu dan bambu terjungkal, jalan pos antara Buitenzorg dan Tjiandjoer di sana sisi mengalami keretakan parah yang menimbulkan longsor. Disebutkan Istana Buitenzorg hancur. Bangunan utama lainnya yang hancur adalah bangunan kantor/rumah Residen Buitenzorg (di sebarang istana), suatu bangunan baru yang didirikan tahun 1821. Bangunan batu pasar (Babakan Pasar, Chinese Kampement) juga runtuh. Demikian berita resmi dari pemerintah setelah sebulan kejadian sebagaimana dilaporkan surat kabar Javasche courant, 22-11-1834.

Di Depok dan sekitarnya juga mengalami dampak yang besar. Bangunan yang terbuat dari batu landhuis Tjilangkap, landhuis Krangan, landhuis Tjimangis dan landhuis Pondok Tjina rusak berat dan runtuh sebagian. Sementara landhuis Tjiliboet, landhuis Pondok Terong, landhuis Sawangan, landhuis Tjineri, landhuis Koeripan (Paroeng) dan lainnya rusak ringan. Berita resmi tentang peristiwa gempa yang dimuat surat kabar Javasche courant, 22-11-1834 baru bulan Maret 1935 dilansir oleh sejumlah surat kabar di Eropa seperti Utrechtsche courant, 09-03-1835, Vlissingsche courant, 12-03-1835.

Pada tahun 1850, Istana Buitenzorg dibangun kembali, tetapi tidak bertingkat lagi karena disesuaikan dengan situasi daerah yang sering gempa itu. Pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Albertus Jacob Duijmayer van Twist (1851-1856) bangunan lama sisa gempa itu dirobohkan dan dibangun dengan mengambil arsitektur Eropa abad ke-19. Sejak tahun 1870, Istana Buitenzorg dijadikan tempat kediaman resmi dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Penghuni terakhir Istana Buitenzorg adalah Gubernur Jenderal Tjarda van Starkenborg Stachourwer (yang kemudia dikuasai oleh pemerintah pendudukan militer Jepang).

Gunung Salak dan Kebun Raya: Pendaki Pertama Gunung Gede Radermacher 1777 dan Pendaki Pertama Gunung Pangrango Michiel Ram dan Cornelis Coops

Ada tiga gunung tinggi yang selalu menjadi ancaman di sekitar Batavia dan Buitenzorg. Tiga gunung tersebut adalah gunung Pangrango, gunung Gede dan gunung Salak. Namun selalu ada tantangan bagi para penakluk gunung (pendaki) untuk memuncakinya. Ibarat kata: Dalamnya laut dapat diselami, tingginya gunung dapat didaki. Orang pertama yang mendaki gunung Salak adalah seorang Jerman Profesor Caspar Georg Karl Reinwardt pada tahun 1819 (lihat Rotterdamsche courant, 07-10-1819).

Profesor Reinwardt yang telah bertugas di kebun raya Buitenzorg tidak hanya tertantang untuk menaklukkan ketinggian gunung Salak, tetapi sanga Profesor beranggapan bahwa di gunung Salak akan banyak tanaman yang bisa dipelihara di kebun raya. Disebutkan Profesor Reinwardt memulai pendakian dari barat gunung Salak. Profesor Reinwardt adalah pendaki pertama gunung Salak. Menurut perhitungannya tinggi gunung Salak sekitar 7.000 kaki.

Dalam laporan yang dibseritakan Rotterdamsche courant, 07-10-1819, Profesor Reinwardt juga mendaki gunung Gede. Perhitungan sang Profesor tinggi gunung Gede sekitar 8.400 kaki. Menurutnya puncak Gedé, yang disebut Seda Ratoe seluruhnya tertutup dengan kayu dan tanaman. dari Seda Ratoe ke ketinggian yang sama yang dipisahkan oleh lembah yang dalam dan luas hanya ditumbuhi semak-semak kecil dan tanaman rendah. Disebutkan dari pendakiannya di dua gunung ini banyak tanaman yang telah dikirim ke kebun raya Buitenzorg.

Namun sejatinya yang kali pertama mendaki gunung Gede adalah Jacob CM Radermacher pada tahun 1777. Radermacher adalah pendiri dan ketua lembaga ilmu dan pengetahuan Batavia. Pendakian yang dilakukan Radermacher ini berangkat dari Tjipanas. Keterangan ini baru diketahui hampir seabad kemudian pada tahun 1870 di dalam buku catatannya yang ditemukan.

Jauh sebelum Radermacher mendaki gunung Gede, dua orang pertama yang mendaki gunung Pangrango adalah Michiel Ram dan Cornelis Coop pada tahun 1701. Mereka berdua dikirim oleh Gubernur Jenderal karena permintaan Heer XVII di Belanda karena dua tahun sebelumnya gunung Salak meletus dan terjadi kerusakan besar di muara sungai Tjiliwong di Batavia (endapan lumpur dan batang-batang kayu besar yang terbawa arus dari hulu). Oleh karena sungai Tjiliwong bermuara di gunung Pangrango, maka penyelidikan tersebut dilakukan hingga puncak gunung Pangrango.

Pendakian-pendakian gunung lainnya terus dilakukan. Sebagaimana maksud Profesor Reinwardt untuk memperkaya khasanah kebun raya, pendakian gunung juga dimaksudkan untuk menambah pengetahuan. Pendaki gunung terkenal selanjutnya adalah FW Jung Huhn.

Pendakian gunung pertama di Sumatra kali pertama dilakukan di gunung Ophir (pantai barat Sumatra di Pasaman). Sejak awal era VOC nama Ophir sudah dikenal secara luas di Eropa dan dianggap bahwa gunung Ophir adalah tertinggi di Hindia. Setelah pendakian gunung di Jawa, kembali seorang Jerman Mr .Horner tertantang untuk mengukur tinggi gunung Ophir (lihat Leydse courant, 19-11-1838). Disebutkan Mr. Horner yang dibantu Krusenstern mengukur ketinggian gunung Pasaman (Ophir) dan puncak tertinggi 2.927 M yang disebut Talamau. Bagaimana kisah Horner ini dalam menaklukkan gunung Ophir dapat dibaca pada Tijdschrift voor Neerland's Indie, 1839.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang