Sejarah Bogor (45): Ekspedisi Jacob CM Radermacher, 1777; Buitenzorg, Tjisaroea, Tjiandjoer, Goenoeng Parang, Tjitjoeroek

shape image

Sejarah Bogor (45): Ekspedisi Jacob CM Radermacher, 1777; Buitenzorg, Tjisaroea, Tjiandjoer, Goenoeng Parang, Tjitjoeroek

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Ekspedisi pada tempo doeloe ke suatu wilayah baru dalam satu sisi bertujuan buat membuka ruang daerah

Ekspedisi-ekspedisi ke hulu sungai Tjiliwong
Catatan ekspedisi pertama ke hulu sungai Tjiliwong dilakukan pada tahun 1687 yang dipimpin oleh Luitenant Patinggi dan Sergeant (Belanda) Pieter Scipio. Laporan ekspedisi dari kedua orang tersebut telah ditemukan dua abad kemudian dan telah diekstrak oleh penulis-penulis Belanda. Catatan ekspedisi kedua dilakukan dibuat oleh Michiel Ram dan Cornelis Coops pada tahun 1701. Catatan ini masih terbilang utuh, sebagaimana Pieter Scipio, dilengkapi dengan peta (rute) perjalanan. Setelah itu berbagai ekspedisi dilakukan, yang terpenting ekspedisi yang dilakukan oleh Abraham van Riebeeck tahun 1703 semasih menjabat Direktur VOC yang kemudian disusul pada tahun 1710 (sebagai Guburnur Jenderal VOC).dan ekspedisi yang dilakukan oleh Jeremias van Riemsdijk (Gubernur Jenderal VOC 1775-1777). Ekspedisi Jacob Cornelis Mattheus Radermacher dilakukan setelah Jeremias van Riemsdijk.

Selain itu, apa keutamaan ekspedisi Jacob Cornelis Mattheus Radermacher? Pertama, Jacob Cornelis Mattheus Radermacher adalah seorang ilmuwan (bergelar Ph.D) yang menjadi pendiri Lembaga Ilmiah VOC (Bataviasche Genootschap van Kusten en Westenscappen). Kedua, sebagai seorang sarjana, yang sangat berminat pada ilmu dan pengetahuan, membuat catatan yang terbilang lengkap (detail tentang yang diperlukan). Sungguh beruntung kita masih menemukan catatan perjalanan ekspedisi Jacob Cornelis Mattheus Radermacher. Catatan ini masih dalam bentuk primer. Dalam artikel ini kita sarikan untuk mendapatkan gambaran ruang wilayah seputar gunung Gede-Pangrango pada tahun 1777.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Riwayat Jacob Cornelis Mattheus Radermacher (1741-1783)

Jacob Cornelis Mattheus Radermacher datang ke Hindia tahun 1757 pada usia yang masih belia enam belas tahun. Bekerja sebagai pedagang junior (onder-koopman). Karirnya sebagai pedagang VOC naik hingga menjadi pedagang senior (opper-koopman) pada tahun 1762. Posisi ini didapatkan setelah menikah tahun sebelumnya dengan putri seorang pejabat VOC yang berpengaruh. Karir yang terbuka tidak dimanfaatkannya, tetapi lebih memilih untuk kembali ke Eropa untuk meningkatkan pengetahuannya, yang tertunda karena kepergian ke Hindia. Setelah selesai studi kembali ke Hindia.

Jacob Cornelis Mattheus Radermacher meninggalkan Hindia pada 1763. Dalam tiga tahun Radermacher kemudian dipromosikan menjadi doktor (Ph.D) di bidang hukum di Harderwijk pada tahun 1766. Setelah studinya selesai Radermacher kembali ke Hindia pada bulan Januari 1767. Segala jambatan semakin terbuka baginya.

Jacob Cornelis Mattheus Radermacher di Batavia pengabdian yang semakin berkembang dicurahkan untuk perluasan peradaban dan sains di Hindia. Sebagai ilmuwan, Radermacher mulai merintis lembaga ilmiah dan mempelopori pendirian Bataviasche Genootschap van Kusten en Westenscappen pada tahun 1778.

Pendirian lembaga ilmiah di Hindia (Bataviasche Genootschap van Kusten en Westenscappen) adalah salah satu tonggak penting dunia ilmu pengetahuan pada pada masa ini di Indonesia. Lembaga ini telah banyak menerbitkan karya tentang Indonesia (baca: Hindia), Karya-karya tersebut kini menjadi sumber sejarah yang penting di Indonesia.  Dalam hal ini, Radermacher ingin melanjutkan tradisi yang sudah dimulai oleh para pendahulu mereka satu abad sebelumnya. Beberapa orang yang dapat disebut adalah Georg Eberhard Rumphius (di Ambon), Isaac Saint Martin (di Kemajooran, Tjinere dan Pondok Terong-Tjitajam), Cornelis Chastelein (di Seringsing dan Depok) dan Francois Valentjn (di Ambon).

Pada awal pendirian lembaga ilmiah, Radermacher menulis serangkaian risalah yang diterbitkan oleh lembaga tersebut. Esai-sainya menghiasi setiap edisi. Namun Jacob Cornelis Mattheus Radermacher tidak berumur panjang. Pada sebuah kapal  tahun 1783 terjadi kericuhan yang menyebabkan dirinya terluka parah dan meninggal di laut pada tanggal 24 Desember 1783, Jacob Cornelis Mattheus Radermacher meninggal dalam usia masih muda, 42 tahun.

Salah satu warisannnya yang juga penting, diantara kertas-kertas yang ditinggalkan oleh Mr. Redermacher adalah ditemukan sebuah notebook yang beriasi catatan-catatan perjalanan yang pernah dilakukannya ke hulu sungai Tjiliwong (Buitenzorg dan bagian barat Priangan). Catatan ini dibuat tidak lama setelah diangkat sebagai dewan luar biasa Hindia di era Gubernur Jenderal Jeremias Riemsdijk pada bulan Mei 1776, Pada bulan Agustus tahun yang sama, Radermacher melakukan perjalanan ke Buitenzorg. Pada bulan Oktober 1777 Radermacher melakukan perjalanan kedua ke tempat yang lebih jauh, Catatan inilah yang akan disarikan dalam artikel ini.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sari Catatan Ekspedisi Jacob Cornelis Mattheus Radermacher, 1777

Kami meninggalkan Batavia dengan kereta kuda pada hari Rabu tanggal 5 November pukul 5 lewat 15 menit, tetapi baru tiba di Buitenzorg pada siang hari karena hal-hal buruk di tengah jalan. Kami menempuh perjalanan selama 45 menit dari Batavia ke Meester Cornelis pada paal 9, ke Tandjong paal 18, ke Sigoenoeg paal 25. Sejauh ini, antara sungai besar [Tjiliwong] dan Slokhaan (kanal) yang dilewati berkendara ke Tjimangies di paal 28. Di pos Tjibinong pada paal 36 bisa melihat Goenong Putri jalan menuju Tjitrap. Perjalanan berkendara ke Tjiloar di paal 44.

Sungai yang dilewati sungai Tjiloar pada paal 44 lalu Tjibolo (Tjiboeloeh) pada paal 45 dan [Kali] Bata pada paal 46. Ketiga sungai ini semuanya jatuh di sungai Tjiiiwong. Goedong Badak ada di paal 47. Kami melewati sungai besar lalu mengikuti kanal baru yang digali dari Sidanie (Tjisadane) ke Goedong-Badak belum buka. Dari sana kami berkendara ke Buitenzorg di paal 50. Kami disambut oleh Sergeant komandan militer setempat, Tommegong Buitenzorg, Aria Sukkaradja dan Aria dari Tangerang dan Grinding.

Setiba di Buitenzorg, kami semua terbakar oleh panas dan tidak akan menyarankan siapa pun untuk melakukan cara kami yang sekaligus apalagi jika hujan hanya sedikit saja itu menjadi sangat buruk. Anda cukup sampai di Tandjong atau Timangies, 3 atau 4 etape kuda sudah cukup.

Pada sore harinya kami mengalami guntur dan hujan. Kami memeriksa berbagai peralatan seperti teleskop, barometer dan termometer dan menyesuaikannya dan menggunakannya. Pada malam hari, angin selatan yang kencang bertiup.

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang