Sejarah Bogor (36): Sejarah Katulampa, Cimahpar, Sukaraja; Bendungan Kanal dan Pos Pantau Ketinggian Air di Kedong Badak

shape image

Sejarah Bogor (36): Sejarah Katulampa, Cimahpar, Sukaraja; Bendungan Kanal dan Pos Pantau Ketinggian Air di Kedong Badak

*Untuk melihat seluruh artikel Sejarah Bogor pada blog ini Klik Disini

Nama Katulampa adalah nama antik? Di (kampong) Katoelampa masih ada suatu bendungan kuno yg mengairi areal persawahan pada sisi timur-utara sungai Tjiliwong. Kanal antik ini lambat laun dianggap (sungai) Tjiloear. Bendungan antik Katoelampa ditingkatkan menjadi bendungan modern dalam era Pemerintah Hindia Belanda. Pada era VOC pos pantau ketinggian air sungai Tjiliwong berada di Kedongbadak (jembatan Warung Jambu yg kini ).

Katoelampa (Peta 1900), Katulampa Jagorawi (Now)
Pada era kerajaan Padjadjaran diduga telah terbentuk dua kanal besar untuk kebutuhan pengairan. Kanal pertama berada di sisi selatan sungai Tjiliwong. Kanal ini kini dapat diidentifikasi sebagai sungai Tjipakantjilan. Kanal kedua sebagai wujud perluasan pengembangan wilayah pertanian dibangun bendungan di Katoelampa dengan mengalirkan airnya dengan membangun kanal ke arah hilir yang kini dapat diidentifikasi sebagai sungai Tjiloear. Areal persawahan ini boleh jadi sangat disukai oleh Radja Pakwan-Padjadjaran yang penggilingan padinya berada di Soekasari. Pada era VOC dua kanal ini diintervensi untuk meingkatkan kapasitas air dan jangkauan pengaliran (pengairan). Pemerintah VOC dan Pemerintah Hindia Belanda hanya melanjutkan yang sudah ada. Dua kanal ini adalah kearifan lokal (warisan) sejarah masa lampau (Dinu Kiwari Ngancik nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga).

Kini, Katulampa sangat terkenal. Warga Jakarta ketika musim hujan ingat Katulampa tetapi bukan ingat Sejarah Katulampa. Akan tetapi seberapa tinggi air sungai Ciliwung di (bendungan) Katulampa. Tinggi rendahnya air permukaan sungai Ciliwung menjadi indikator untuk mengantisipasi dampak banjir di Jakarta. Warga Bogor boleh jadi lebih merindukan Sejarah Katulampa daripada memperhatikan catatan ketinggian air di bendungan Katulampa. Okelah, untuk memenuhi dua kebutuhan itu dan untuk meningkatkan pengetahuan serta wawasan nasional, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Nama Katoelampa: Bendungan dan Kanal

Katulampa adalah nama kampong lama di sisi sungai Tjiliwong. Nama kampong Katoelampa paling tidak sudah diidentifikasi pada Peta 1701. Pemetaan ini dilakukan sehubungan dengan terjadinya letusan gunung Salak dan gempa besar pada tanggal 4 Januari malam tahun 1699 yang menghancurkan termasuk pendangkalan muara sungai Tjiliwong. Dalam Peta 1701 letak Katoelampa berada di sisi selatan sungai Tjiliwong sebagai tempat penyeberangan.

Untuk melakukan pemetaan ke hulu sungai Tjiliwong dilakukan ekspedisi yang dipimpin oleh Landdrost Michiel Ram dan Chief Officer Cornelis Coops. Tim ekspedisi ini berhasil mencapai lereng gunung Pangrango (hulu dari sungai Tjiliwong). Tim ekspedisi ini juga telah menyelidiki eks tempat tinggal Radja di Padjadjaran suatu sisa-sisa kuno yang masih ada.

Area penyeberangan sungai bukan karena adanya jembatan, tetapi karena daerah aliran sungai Tjiliwong di area ini paling lebar. Lebar sungai di area datar menyebabkan arus air menyebar, dangkal yang menyebabkan mudah dilalui oleh orang dan kuda beban atau kendaraan lain seperti pedati. Kampong Katoelampa ini tampaknya suatu area interchange di masa lampau dari berbagai arah; dari arah timur gunung Pangrango (daerah Puncak yang sekarang); dari selatan Rantjamaja, Tjibadak dan daerah aliran sungai Tjimandiri (Palaboehan Ratoe); dari arah barat Kedongwaringin (Kedongbadak).

Sebelum ekspedisi ini sudah pernah dilakukan ekspedisi ke hulu sungai Tjiliwong yang dilakukan pada tahun 1687 yang dipimpin oleh Sersan Pieter Scipio dan Luitenant Ambon Patingi. Hasil ekspedisi ini telah dipetakan oleh Isaac de Graaff yang dipublikasikan pada tahun 1695. Pada Peta 1695 rute yang dilalui dari Batavia (Meester Cornelis, Tjiloear, Kedong Halang) hingga muara sungai Tjimandiri melalui Kelimenteng, melewati sungai Tjiliwong, Tjipakoe, Tjitjoeroek dan Tjikembar.

Kampong Katoelampa sebagai tempat penyeberangan sungai Tjiliwong dari sisi utara sungai ke sisi selatan (atau sebaliknya) menjadi penanda navigasi penting. Sebagai salah satu (yang utama) tempat penyeberangan sungai Tjiliwong yang terdapat di Katoelampa diduga telah digunakan sejak lama dan bahkan sejak era kerajaan Pakwan-Padjadjaran. Katoelampa adalah hulu sungai Tjiloear (bekas kanal).

Jika memperhatikan peta wilayah di Katoelampa (Peta 1900), di kampong Katoelampa sungai Tjiliwong disodet yang menjadi muara sungai Tjiloear. Dengan memperhatikan Peta 1697 dan Peta 1701 sudah diidentifikasi nama sungai dan nama tempat Tjilioear, diduga kuat bahwa sungai Tjiloear adalah sungai buatan yang sudah bermur lama. Satu-satunya kekuatan yang mampu melakukan penyodetan sungai Tjiliwong dan membangun kanal (yang kemudian disebut sungai Tjiloear) adalah kerajaan Pakwan-Padjadjaran dua abad sebelum ekspedisi VOC ini.

Bendungan kuno Katoelampa (sebenarnya Batoelampa) dibangun untuk mengairi persawahan di sisi timur sungai Tjiliwong dengan membangun kanal irigasi. Pada era VOC (boleh jadi didasarkan hasil ekspedisi tahun 1687 dan 1701) kembali dikirim ekspedisi ke hulu sungai Tjiliwong dan menyelidiki reruntuhan kerajaan Pakwan-Padjadjaran yang dipimpin oleh David Andreas Stier pada pada 1730. Penyelidikan kerajaan Pakwan-Padjadjaran menjadi starting point dalam pengembangan wilayah hulu sungai Tjiliwong yang dimulai sejak era Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff (1743-1750).

Gubernur Jenderal van Imhoff diduga telah memanfaatkan informasi-informasi terdahulu tentang pemetaan hulu sungai Tjiliwong dan situasi dan kondisi eks kerajaan Pakwan-Padjadjaran. Sebagaimana diketahui van Imhoff pada tahun 1845 membangun villa di dekat benteng Fort Padjadjaran (muncul nama Buitenzorg). Sehubungan dengan keberadaan villa, van Imhoff mulai membangun pertanian di sekitar yakni dengan meningkatkan bendungan Katoelampa dan mengembangkan kanal irigasi termasuk kanal lama (sungai Tjilioear). Proyek bendungan dan kanal ini diintegrasikan dengan pembangunan jalan utama antara Batavia-Buitenzorg. Dalam pembangunan jalan utama ini akses menuju benteng Fort Padjadjaran dan villa Buitenzorg dibangun jembatan baru di Kedong Badak (kini jembatan Warung Jambu). Jembatan ini untuk menggantikan jembatan akses terdahulu di jembtan Otista yang sekarang.

Kampong Katoelampa tidak hanya sekadar penemuan bendungan dan kanal, Katoelampa adalah awal dimulainya era baru di daerah hulu sungai Tjiliwong yang berpusat di villa Gubernur Jenderal van Imhoff. Dalam hal ini, bendungan Katulampa yang sudah menjadi memori kolektif warga Jakarta, bendungan Katoelampa juga harus menjadi memori kolektif warga Bogor. Sebab bendungan Katoelampa adalah starting point pembangunan kota Bogor di masa lampau. Ingat Katoelampa, ingat bagaimana kota Bogor dibangun dari awal (era VOC-Buitenzorg).

Proyek pembangunan di hulu sungai Tjiliwong yang berada di Buitenzorg (sejak era van Imhoff) adalah peningkatan kanal sungai Tjipakantjilan. Proyek ini diintegrasikan dengan pembangunan bendungan baru untuk mengangkat air sungai Tjipakantjilan untuk mengairi persawahan di sekitar sungai. Bendungan-bendungan ini diduga menjadi asal-usul daerahn Bondongan (areal persawahan yang luas di era VOC). Dengan memperhatikan wujud sungai Tjipakantjilan, diduga sungai Tjipakantjilan ini dulunya (di era kerajaan Pakwan-Padjadjaran) adalah kanal buatan untuk pengembangan irigasi. Dalam hal ini Pemerintah VOC membangun bendungan (Bondongan) hanyalah merevitalisasi karya-karya kerajaan Pakwan-Padjadjaran. Namun demikian, Pemerintah VOC juga memiliki andil dalam pembangunan kanal lanjutan dengan cara menaikkan air sungai Tjipakantjilan yang jatuh ke sungai Tjisadane (yang menjadi asal-usul kampong Empang) dengan membangun kanal baru melalui Paledang dan jembatan merah untuk pencetakan sawah baru di dilir Buitenzorg di Kedongwaringin (Kedongbadak) dan Tjileboet.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Bendungan Katoelampa dan Ketinggian Air Sungai

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Google Ads | Jasa Whatsapp Blast

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang