Sejarah Bogor (31): Sejarah Ciawi, dari Bogor, Cianjur, Sukabumi ke Ciawi; Jalan Tol Jagorawi dan Universitas Djuanda

shape image

Sejarah Bogor (31): Sejarah Ciawi, dari Bogor, Cianjur, Sukabumi ke Ciawi; Jalan Tol Jagorawi dan Universitas Djuanda

*Untuk melihat semua artikel Sejarah Bogor dalam blog ini Klik Disini

Apakah ada sejarah Ciawi Bogor? Ada dong. Namun sangat disayangkan tidak terinformasikan. Apabila kita search ?Sejarah Ciawi? Di google tidak satu pun situs yg terdapat yg mendeskripsikan sejarah Ciawi. Itulah nasib Sejarah Ciawi yg tidak dicatat oleh jaman baru. Sejarah Ciawi masa lampau tenggelam pada sungai Tjiawi.

Ciawi (Peta 1901) dan Gadok (1865)
Ciawi Bogor hanya ‘tersinggung sedikit’ yang dihubungkan dengan pembangunan jalan tol Jakarta-Bogor dan Ciawi (JaGorAwi) yang dimulai tahun 1973. Ciawi Bogor sedikit tersungging dengan pendirikan universita UNIDA (Universitas Djuanda) di ujung jalan tol di Ciawi. Lalu, apa lagi? Tidak ada lagi. Ciawi hanya muncul teriakan sesaat ketika bis dari Bogor ke Cianjur atau Sukabumi melewati Ciawi atau bis dari Jakarta lewat tol ke Bandung atau Sukabumi. Ciawi hanya dianggap perlintasan. Lalu apakah karena itu Sejarah Ciawi hanya ditulis selintas saja? Entahlah!

Sudah waktunya kita menggali data Sejarah Ciawi yang berada di dasar sungai Tjiawi. Jika perhatikan data-data tersebut, Sejarah Ciawi ternyata sangat luar biasa. Sebagai penanda navigasi Sejarah Ciawi tempo doeloe berangkat dari Buitenzorg (Bogor) ke Tjiandjoer. Dalam perkembangannya terbuka jalur dari Tjiandjoer ke Soekaboemi. Pihak Soekabomilah yang kemudian meminta dihubungkan dengan Tjiawi agar menjadi lebih dekat dengan Buitenzorg (menjauh dari Tjiandjoer). Sejak itu Tjiawi sebagai interchange menjadi sangat penting. Sejarah baru Tjiawi dimulai. Nah, untuk menengok bagaimana Sejarah Ciawi berlangsung, mari kita telusuri sumber-sumber tempo doeloe.

Kecamatan Ciawi, Bogor (Now)
Sumber utama yang digunakan dalam artikel ini adalah ‘sumber primer’ seperti surat kabar sejaman, foto dan peta-peta. Sumber buku hanya digunakan sebagai pendukung (pembanding), karena saya anggap buku juga merupakan hasil kompilasi (analisis) dari sumber-sumber primer. Dalam penulisan artikel ini tidak semua sumber disebutkan lagi karena sudah disebut di artikel saya yang lain. Hanya sumber-sumber baru yang disebutkan atau sumber yang sudah pernah disebut di artikel lain disebutkan kembali di artikel ini hanya untuk lebih menekankan saja*.

Sejarah Awal Tjiawi

Kampong Tjiawi bermula bukanlah di persimpangan empat yang sekarang. Kampong Tjiawi juga bukan di jalan utama ke arah Gadok tempat kantor Kecamatan Ciawi yang sekarang. Kampong Tjiawi bermula di jalan menuju Sukabumi yang sekarang di sebelah kanan jalan yang menjadi lokasi dimana kantor Kepala Desa Ciawi berada. Akses jalan ini dibuka pada era VOC (dari jalan utama, persimpangan empat yang sekarang) ke land Tjikoppo yang (kebetulan) melalui kampong Tjiawi. Kampong Tjiawi yang awalnya memiliki jalan setapak ke jalan raya menjadi lebar (karena menjadi jalan tanah partikelir).

Pada era VOC land Tjikoppo adalah tanah partikelir yang sangat luas.Suatu land yang berada di sisi timur land Bloeboer (Buitenzorg) ke arah Tjisaroea. Landhuis (ibu kota) land Tjikoppo sendiri berada di Gadok. Siapa pemilik land Tjikoppo tidak diketahui secara jelas. Namun yang jelas pada awal era Pemerintah Hindia Belanda (VOC dibubarkan pada tahun 1799), Johannes van den Bosch, pemilik land Pondok Gede (district Bekasi) membeli sebagian land Tjikoppo di daerah aliran sungai Tjisoesoepan. Land van den Bosch yang secuil ini kemudian disebut land Pondok Gede. Meski demikian, kampong Tjiawi masih termasuk land Tjikoppo. Land Pondok Gede ini berpangkal di jalan pos (Buitenzorg-Tjisaroea). Johannes van den Bosch adalah orang yang memimpin ekspedisi ke Priangan pada era Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811) sebelum terjadi pendudukan Inggris (1811-1816). Kelak, setelah Pemerintah Hindia Belanda berkuasa kembali, pasca perang Jawa Johannes van den Bosch menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1830-1833), gubernur yang terkenal dengan kebijakan koffiestelsel.

Tijdschrift voor Neerland's Indie, 1842 dan Peta 1901
Land Pondok Gede tidak terlalu luas untuk ukuran land. Land Pondok Gede milik Johannes van den Bosch diduga hanya ditujukan untuk tempat peristirahatan. Sebab di land Pondok Gede (district Bekasi) yang berhawa panas dan kurang sehat. Meski lahannya kecil sudah barang tentu ada budidaya yang diusahakan seperti kopi. Dimana posisi landhuis land Pondok Gede milik Johannes van den Bosch diketahui berada di kampong Bandoengan (di sisi sungai Tjimenteng). Jaraknya dari kota Buitenzorg 6.5 pal dengan ketinggian 1.720 kaki dpl (lihat Tijdschrift voor Neerland's Indie, 1842).

Dalam perkembangannya lahan dari land Tjikoppo di sisi barat land Pondok Gede dijual pemiliknya yang kemudian terbentuk land baru yang disebut land Tjiawi. Disebut land Tjiawi karena di land yang terjepit antara land Bloeboer dan land Pondok Gede terdapat nama sungai dan nama kampong Tjiawi. Siapa pemilik land Tjiawi tidak begitu jelas, tetapi diduga kuat keluarga Johannes van den Bosch.

Regentschap Buitenzorg Pert. Landen
Setelah nama kampong Tjiawi ditabalkan menjadi nama land, nama Tjiawi di Buitenzorg (Bogor) secara perlahan mulai terkenal. Sebelumnya nama Tjiawi hanya terkenal di District Soemedan-Limbangan. Tjiawi Buitenzorg dan Tjiawi Limbangan mulai bersaing di tingkat nasional. Limbangan kelak lebih dikenal dengan nama Tasikmalaja.

Untuk mengefektifkan jalannya pemerintahan di seluruh Hindia Belanda, pada tahun 1826 pemerintahan pusat melakukan penataan ulang pemerintahan dan membentuk cabang-cabang pemerintahan yang baru termasuk di Afdeeling Buitenzorg (lihat Bataviasche courant, 04-10-1826). Residentie Buitenzorg dilebur ke Residentie Batavia. Di Afdeeling Buitenzorg ditempatkan seorang Asisten Residen yang berkedudukan di Buitenzorg. Sejak pendudukan Inggris status Buitenzorg adalah sebuah Residentie yang dipimpin oleh seorang Residen.

Staatsblad van Nederlandsch-Indie voor 1864
Sehubungan dengan pengangkatan Asisten Resident Buitenzorg (beserta perangkatnya), juga diangkat Bupati (beserta perangkatnya, seperti kepala penghoeloe dan djaksa). Selain itu dibentuk empat district yang masing-masing dikepalai oleh seorang Demang, Keempat district tersebut adalah Tjibinong, Paroeng, Djasinga dan Tjibaroesa. Secara keseluruhan Asisten Residen Buitenzorg membawahi dua Bupati dan empat demang. Dua bupati tersebut berada di (district) Buitenzorg. Bupati pertama memimpin penduduk di tanah-tanah pemerintah (gouvernementslanden) yang meliputi ibu kota Buitenzorg atau Bogor (di Empang), Pasar, Bloeboer dan Kampong Baroe; sedangkan bupati yang kedua mencakup wilayah-wilayah tanah partikelir di Buitenzorg yakni Tjisaroea, Pondok Gede, Tjikopo, Tjiawi, Tjitjoeroek,Tjiomas dan Dramaga.

Pada tahun 1864 pemilik land Tjikoppo dan pemilik land Pondok Gede diizinkan pemerintah untuk membangun pasar berdasarkan Staatsblad No 84 tahun 1864 (lihat Staatsblad van Nederlandsch-Indie voor 1864). Dalam staatsblad ini disebutkan lokasi pasar land Tjikoppo ini berada di dekat kamping Pasir Moentjang (buka setiap hari Rabu dan hari Sabtu yang tutu sebelum petang). Untuk pasar land Pondok Gede berada di land Tjiawi jalan ke arah Srogol yang buka setiap hari Kamis dan tutup sebelum petang dan di land Tjiedjeroek dekat kampong Srogol yang buka setiap hari Sabtu dan tutup sebelum petang.

Land Tjoetak Tjidjeroek dan land Tjikoppo (Peta 1870)
Dari keterangan ini diduga kuat bahwa land Tjiawi dan land Tjidjeroek telah dikuasai oleh pemilik land Pondok Gede (keluarga Johannes van den Bosch). Sebagaimana diketahui Johannes van den Bosch meninggal dunia di Den Haag ketika berobat. Namun demikian, lahan land Pondok Gede (district Bekasi) dan land Pondok Gede (district Buitenzorg) masih dikuasai oleh keluarga almarhum. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa pemilik land terkenal di Buitenzorg timur adalah keluarga van den Bosch, sementara di Buitenzorg barat adalah keluarga van Motman.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Perkembangan di Soekaboemi: Jalan Terhubung ke Tjiawi

Jalan yang pertama dibangun di Sukabumi bukanlah jalan pos (post-weg), tetapi jalan yang dirintis oleh Andries de Wilde. Jalan yang dirintis oleh pemilik land Goenong Parang (Soekaboemi) kemudian dijadikan jalan pos (post-weg) dari arah timur di kota Tjiandjoer menuju Soekaboemi dan dari kota Soekaboemi terus ke Palaboehan (Palaboehan Ratoe). Dalam perkembangannya dibangun jalan post dari arah barat di Buitenzorg menuju Soekaboemi.

Lokasi pasar di Pasir Montjang dan di Srogol (Peta 1901)
Resolutie di dalam Staatsblad 1836 No 6 ditambahkan (lihat Staatsblad van Nederlandsch Indie voor 1872). Disebutkan bahwa untuk melengkapi Pasal 3 yang diinginkan dari Resolusi 28 Januari tahun 1836 No. 24 untuk menentukan bahwa kelas jalan pertama di Afdeeling Buitenzorg (Residentie Batavia) termasuk dari Buitenzorg di land-land Pondok Gede, Tjiawi, Srogol ke Preaitger Regtntxcliappen.

Permintaan dari Soekaboemi ini sudah lama ada namun tidak pernah terealisasi. Sejak 1870 status Controleur di Soekaboemi telah ditingkatkan menjadi Asisten Residen. Sehubungan dengan pembangunan jalan pos baru dengan pemindahan jalan militer Buitenzorg-Tjiandjoer via Tjisaroea (Megamendoeng) menjadi via Soekaboemi, realisasi pembukaan jalan antara Soekabomi dan Buitenzorg ini menjadi (lebih cepat) terwujud. Jalan pos yang tersambung dari Buitenzorg dan Tjiandjoer ini menjadi jalan utama di Soekaboemi. Namun peruntukkan jalan ini bukan untuk umum (hanya diutamakan untuk pergerakan militer). Para pengusaha di Soekaboemi cukup kecewa.

Kebijakan yang tidak mendukung para pengusaha planter di Soekaboemi sempat menimbulkan protes. Jalan pintas yang diidam-idamkan oleh para planter Soekaboemi yang dimotori oleh pengusaha kuat Eekhout ternyata telah diambilalih untuk keperluan militer. Pemerintah pusat tetap menganjurkan pengusaha Soekaboemi mendorong jalur produksi ke Pelaboehan Ratoe. Pemerintah akan mendukung dengan mengatur kapal paket post secara reguler dari Batavia ke Soekaboemi (Pelaboehan Ratoe).

Kekecewaan para pengusaha di Soekaboemi, meski agak telat, mulai terobati dengan adanya kebijakan pemerintah pusat untuk meneruskan pembangunan jalur kereta api dari Buitenzorg ke Bandoeng via Soekaboemi en Tjiandjoer. Jalur kereta api Batavia-Buintenzorg mulai beroperasi pada tahun 1873. Sedangkan jalur kereta api Buitenzorg-Bandoeng ruas pertama yang dioperasikan antara Buitenzorg dan Soekaboemi pada tahun 1882.

Tunggu deskripsi lengkapnya

Tjiawi dalam Perkembangan Lebih Lanjut

Tunggu deskripsi lengkapnya

Sejarah Ciawi di Era Republik Indonesia

Tunggu deskripsi lengkapnya

*Akhir Matua Harahap, penulis artikel di blog ini adalah seorang warga Kota Depok sejak 1999 hingga ini hari. Pernah menjadi warga Kota Bogor (1983-1991) dan Jakarta Pusat (1991-1999). Disamping pekerjaan utama sebagai dosen dan peneliti di Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, saya memiliki hobi berkebun di seputar rumah--agar lingkungan tempat tinggal segar dan hijau. Menulis artikel di blog hanya dilakukan saat menonton sepakbola atau waktu senggang, utamanya jelang tidur..Saya sendiri bukan sejarawan (ahli sejarah), tetapi ekonom yang memerlukan aspek sejarah dalam memahami ekonomi dan bisnis Indonesia. Artikel-artikel sejarah dalam blog ini hanyalah catatan pinggir yang dibuang sayang (publish or perish). Korespondensi: akhirmh@yahoo.com

© Copyright 2020 Jasa Whatsapp Blast | Adwordsgoogle.site

Form WhatsApp

Pesan anda akan segera kami proses.

Pesan Sekarang
close
Jual Software Whatsapp Bulk Sender Blaster Anti Banned